Peluh: Imajinasi.

kb_Wall_Josephine-Love_is_in_the_Air

Source: HERE!

Jenjang tubuhnya kusentuh lemah. Pelan, dari atas ke bawah. Ia masih tertawa, sambil meninju dadaku manja. Ia, perempuan manis berwarna rambut denim, rambut yang menjadi trend di tahun ini. Pikir dan tampilannya yang berbeda, membuatku jatuh cinta bukan kepayang.

Rias di wajahnya nampak tipis, tak mampu menutupi merah pipinya kala kusentuh bagian depan tubuhnya. Indah, wangi tubuhnya membuatku terkecoh. Cantik macam apa ini? Manusia atau malaikat? Meski kutak yakin seberapa indah wajah malaikat, yang di depan mataku kini nampak begitu bersinar.

Kurengkuh tubuhnya, kusalami dengan kecupan lembut.

“Ahh…” pekiknya.

Matanya memejam, napasnya mulai terbata. Kugalakkan kecupan, meninggalkan bekas merah pada tubuhnya. Leher, bagian yang paling kusuka. Sedap wanginya semakin menusuk, begitu memacu adrenalin, membuat tubuhku semakin terasa mendidih.

Oh…

Ia, wanitaku kini berbalik. Tubuhnya di atasku kini, begitu menikmati kecupannya pada tiap bagian tubuhku. Dengan pola sama. Dari atas ke bawah membuatku berdesis geli tak karuan. Kecupan macam apa ini?

Aku berbalik, tak tahan akan perlakuan baiknya padaku.

“Sekarang?” Aku menatap mata kecilnya yang sayup-sayup, sambil memindahkan poni tipis yang menutupi sebagian wajahnya. Benar. Aku ingin menikmati pipi merahnya.

Ia mengangguk, memberiku pintu masuk merasuki tubuhnya.

“Aaaah…” kami meraung, merasakan begitu hebatnya memasuki tubuh satu sama lain. Maju, mundur. Kurasakan sentuhan lembut bagian tubuhku yang menempel padanya, membuatku tak dapat merasakan apapun kecuali tautan tubuh kami yang bak tak mau lepas.

Aku memeluknya, ia mencengkram tubuhku hebat. Kuciumi bibirnya, lehernya, dadanya. Begitu indah kurasakan debar jantungnya yang begitu cepat secepat debarku. Kami bukan berlomba. Kami bekerja sama menyatukan irama kenikmatan dalam satu atmosfer yang sama. Langit malam.

Erangannya semakin kuat, membuatku tak ingin beranjak. Membuatku semakin tertantang untuk memenangkan permainan ini. Permainan yang membuat candu pemainnya.

“Kam…..hu…can..thik..” terbata, aku mengucapkannya selayaknya lelaki yang sedang hangover terlalu banyak minum vodka. Ia jawab dengan raungan, dengan matanya yang dipejamkan membuat dahinya berkerut, dengan bibirnya yang mengeluarkan nada indah pembangkit adrenalin.

“The…rusin?” lagi, dengan mata setengah memejam dan rambut yang perlahan basah, aku bertanya padanya.

“Jang…han…berhenti. Ceph…etin.” jawabnya, tak kalah melayang. Lampu hijau menyala, kupercepat tempo peraduan kami, membuat suara kami semakin beringas, bukan lagi berupa desisan.

“Ma..hu..kheluar.”  entah sudah berapa lama, rasanya titik tumpu hidupku saat ini ingin memuntahkan seluruh isinya. “Bha….reng!” Ia mengangguk pasrah, tak kuat lagi berkata-kata.

“Aaaaaaaah!” erangan panjang itu, disertai tangannya yang menjambak lembut rambutku, juga pelukan eratku padanya sambil merasakan sisa-sisa buaian detik itu, akhirnya mengakhiri peraduan panjangku dengannya, perempuan manis berwarna rambut denim.

Peluh menetes, kurasakan seketika tetesannya di paha kananku yang telanjang. Kusapu lembut sisa kenikmatan malam itu dengan tissue yang selalu bertengger manis di sebelah kiriku, lalu kubuang ke tempat sampah di pojok dekat pintu. Kutekan tombol kecil di atas toilet perlahan. Air keluar, lalu disedot kembali.

“Kurang lama, Bang!” kaget, kudapati adik kecilku meyambut di depan pintu.

“Sakit perut. He.” aku tersenyum padanya, sambil memegangi perutku, berpura-pura.

“Sakit banget ya, Bang, sampai basah gitu kepalanya.”

“Ba-nget.” aku tersenyum lagi, meminta pengertiannya.

Aaaah. Aku bisa tidur nyenyak malam ini!

Peluh: Gergaji.

Lagi-lagi kugaruk batangnya dengan runcingku. Berserat. Mengeluarkan bunyi yang buat dahi menyernyit. Kali ini ukurannya tak seberapa besar, tajam runcingku terselamatkan. Namun, ah, batang ini sedikit basah, membuatku terpeleset beberapa kali.

Tersengal, tangan di ujung tubuhku berhenti. Mengambil napas sedalam yang ia bisa, kemudian mengesap kuat rokok di tangan kirinya. Tangan kanannya masih setia memegang ujung tubuhku.

Ia menggerakkanku lagi. Maju, mundur. Membuat gusi runcingku beradu dengan batang berserat ini. Mengeluarkan bunyi, lagi.

“Pak tua!” aku terhenti, tangan itu melepasku, membuatku terkapar di atas pahanya. “Sudah malam. Waktunya kau pulang!”

“Tak apa.” gerakan di dahinya seketika mengeluarkan cairan yang menghujam dingin tubuhku. Peluhnya, jerih payahnya. “Tanggung. Lumayan biar dapat lima ribu lagi.” Ia tersenyum sambil mengatur napasnya. Lagi-lagi lelehan di dahinya jatuh.

Peluhnya, jerih payahnya.

Bumi Kepada Bulan, Katanya.

4 Hal yang Akan Terjadi Jika Bulan Meninggalkan Bumi

“Definisi cowok keren, menurutmu apa?”

“Hm… ngga lebay.”

“Maksudnya lebay?”

“Yaaa. Ngga drama.”

“Yang drama kan biasanya cewek.”

“Jadi kamu bilang aku drama?”

“Ih kok langsung ngambil kesimpulan gitu?”

“Habis ngelirik-lirik ngga jelas gitu sih.”

“Kan sayang.”

“Tuh kan lebay kaaan.”

“Jadi, cowok keren menurut kamu definisinya apa?”

“Hm… Apa ya? Dia… Dia sayang sama ibunya.”

“Kenapa?”

“Kalau dia sayang sama ibunya, bisa dipastikan kalau dia ngga akan nyakitin hati perempuan manapun.”

***

Ada yang bisa dimakan waktu, lalu hilang dan tak kembali. Saat lalu. Momentum apapun. Di saat berbunga ketika berduaan sama pacar, misalnya. Kalau udah putus, mau gimana? Mesra-mesraan udah bukan kewajiban dan… yaa buat apa mesra-mesraan tapi tanpa status? Yang ada bikin batasan baru. Saya di sini, bebas dengan yang lain, Anda di sana pun begitu. Ada batasan.

“Bulan,” katanya waktu itu, masih di atmosfer yang sama yang selalu membuatku ingin mengulang kejadian yang sama setiap hari. Aku hanya menengok dan memicingkan mataku padanya tanda aku tahu keberadaannya. Dia duduk di sebelahku, lalu melanjutkan kata-katanya, “Kenapa bulan diciptakan untuk mengelilingi bumi?”

Aku berpura-pura berpikir. Bukan bulan dan bumi yang semua tahu pada umumnya, yang pasti. Tapi aku, Bulan, dan dia, Bumi. “Biar keadaannya seimbang.”

“Pasang surut air laut, kalau bulan ngga peduli, Bumi jadi kacau.” Kami menyebutnya bersamaan. Dengan kata dan intonasi yang persis sama. Dia Bumi, aku Bulan.

“Kamu udah pernah nanya ini.”

“Biar kamu ngga lupa jawabannya.” katanya, dengan ekspresi yang sama. Menyenangkan. Jawaban itu memang jawaban yang terlontar dari bibirnya kala itu, beberapa bulan sebelum akhirnya kami resmikan hubungan kami di 17 Agustus 1998, saat kami masih duduk di bangku SMA, saat upacara 17 agustus, di barisan tengah. Aku berdiri di barisan perempuan paling belakang, ia berdiri di barisan lelaki paling depan, tepat di belakangku.

Iya. Hampir 18 tahun yang lalu. Klasik. Penuh kenangan.

“Ngelamun mulu.” suara berat datang, membuat bahuku tersentak. Suamiku.

“Nanti malam mau makan apa?”

“Capcay udang enak kayaknya.” Ia tersenyum, dengan senyum yang khas yang memunculkan satu lubang di pipi sebelah kanannya, orang pertama yang membuatku keheranan. Ternyata lesung pipi bisa cuma ada satu. “Ah! Tambah bakwan jagung.” tambahnya kemudian.

Aku segera membuat list bahan yang kubutuhkan untuk membuat capcay udang dan bakwan jagung. Ia bukan tipe suami yang susah makan, sebenarnya. Makan apa saja suka. Eh. Kecuali ikan bandeng. Susah dimakan, katanya. Banyak tulangnya.

***

“Bumi, kamu ngga main sepak bola sama yang lain?” siang itu, di siang yang terik di bulan September, hampir 18 tahun yang lalu, di bangku bambu depan kelas yang langsung mengarah ke lapangan.

“Bosen.”

“Kenapa?”

“Habis mainnya gitu-gitu aja. Lari sambil nendang bola, masukin bola ke gawang lawan, dan yang paling banyak masukin bola ke gawang lawan itu yang menang.”

“Lah emang itu aturannya bukan?”

“Maka dari itu. Membosankan. Segala yang penuh aturan itu membosankan.”

“Tapi tanpa aturan semua ngga akan jelas.”

“Ada teori yang menjelaskan.”

“Teori itu adalah buah pikiran. Buah pikiran tercipta dari aturan. Sistematis.”

“Ngomong sama kamu kayak ngomong sama ilmuan…. Tapi tetep aja, yang begitu selalu membosankan. Coba bisa bikin aturan sendiri.”

“Bisa. Kalau kamu main sendiri.”

“Adam aja diciptakan hidup dengan hawa.”

“Itu tahu. Ngga bisa sendiri kan?”

Percakapan singkat dibumbui adu pendapat yang lucu. Bumi yang kekanakan dan tak mau kalah. Bumi yang selalu bisa membuatku berpikir untuk mematahkan argumennya, meski terkadang memang semudah itu dipatahkan.

“Dara pulaang!” suara yang sangat kukenal muncul dibarengi suara dentuman pintu yang pelan namun mengusik. Anakku. Addara, 8 tahun. Ia menghampiriku, menyalamiku, lalu memelukku. Aku mencium kepala dan pipinya.

“Yayah?”

“Oh iya. Katanya Yayah harus buru-buru ke kantor, Ma.” Ia meletakkan tasnya, aku mengangguk.

“Abang?”

“Mamaaa!” Aku tersentak. Ia, dengan kaki yang mulai jenjang berlari. Si sulung yang selalu penuh semangat. Galendra, 9 tahun. Kulakukan hal yang sama. Memeluk lalu mencium kepala dan pipinya.

“Mamaaaa, tadi abang beli es!” kata si Adik dengan muka jail yang segera dibalas cepat dengan muka khawatir oleh si Abang, “Bohong, Ma!” Aku menahan senyum.

“Jangan bilang-bilang.” Bisiknya pada si Adik.

“Tuh, tuh, Ma!” tak mau kalah, ia tertawa dan berlari sambil menunjukkan lidahnya tanda ledekan. Abang mengejar, Adik semakin kencang berlari.

***

Aku dan Bumi, berjalan bersama setiap pulang sekolah. Terkadang, ia membawa sepeda ontel milik Ayahnya kalau Ayahnya sedang di rumah. Lebih seringnya tidak. Membicarakan banyak hal.

“Kenapa bisa cinta, ya?” katanya seperti berbisik, sore itu, di jalan setapak menuju rumahku. Rumah kami berlainan arah. Kewajiban, katanya, maka tiap hari ia mengantarku pulang.

“Hah?” Aku memandanginya heran.

“Kenapa aku bisa cinta kamu, ya?”

“Emang iya?”

“Emang engga?”

“Mana ku tahu. Kamu yang ngerasain.”

“Kamu engga?”

Dua detik, satu menit, kami hanya diam.

“Aku tahu!” Ia tersenyum. “Karena bulan diciptakan untuk menemani bumi….”

“Kalau engga, nanti ngga seimbang. Pasang surut air laut jadi kacau.” bersamaan lagi, kami lanjutkan. Tertawa, seakan memang itu jawaban yang tepat.

“Iya, jadi bumi harus mencintai bulan. Biar tahu diri.” lanjutnya lagi. Aku tersenyum, tersipu. Bulan akan terus mencintai bumi, tenang saja.

Tersenyum lagi aku, bak terhipnotis tawanya. Ia selalu begitu. Tipe pemikir yang ulum, dan pecinta yang jauh dari kata angkuh. Hangat, melindungi. Kami bertahan lama di bawah atmosfer berwarna biru. Tenteram, damai, nyaman.

Lima tahun, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk beranjak dan pergi. Tanpa alasan, membuat batasan yang jelas terlihat. Katanya, kami berdua tidak ditakdirkan mengarungi lautan dengan kapal yang sama. Percuma, akan tenggelam. Bumi tak lagi membutuhkan bulan, katanya.

 Bumi yang berlari, menjauh meninggalkan Bulan

Apa ia dapat hidup?

Bumi yang pergi, menjauh meninggalkan Bulan

Yakin?

Bumi yang pergi…

Satu detik, dua detik, lima menit, satu hari, dua tahun…

Tak kembali, walau raga utuh

Bumi yang pergi, merelakan Bulan

Atau sebaliknya?

Aku memutuskan untuk menikahi lelaki yang katanya mencintaiku. Aku mengenalnya tak lebih dari dua bulan, sebelum akhirnya ia melamarku. Kami bertemu di tempat kerja, di tahun 2006. Ia atasanku. Katanya ia mencintaiku, itu mengapa ia memberanikan diri datang memintaku.

Aku tidak mengelak, tidak ingin berdebat.

Tidak ingin menunggu.

Aku merelakan.

Bumi tak kembali. Aku tahu raganya masih menyimpan hangat. Bahagianya, aku tahu. Ia belum menikah katanya. Bumi tak mencari, pun menambatkan hatinya, katanya. Ia ingin sendiri, entah sampai kapan.

Bumi, yang tak akan lagi menemukan bulannya. Atau karena tidak mencari?

Bumi yang memutuskan untuk pergi.

Bulan tak tahu. Tahunya hanya sebatas pengorbanan Bumi yang membuat Bulan bahagia, walau tanpanya.

Bumi, sampai kapan pun akan mengalah pada takdir,

pada bahagianya.

Aku tak menyesal, sekalipun. Aku bahagia dengan suamiku. Ia awanku, yang membatasi beda aku dan bumi. Ia membuat bumi tak terlihat, terlupakan perlahan. Ia membantuku menyembunyikan bumi dari pandangan. Awanku, sekatku pada bumi. Awanku yang rela mematut janji dan menunggu hingga aku menjadikannya duniaku.

Awanku, yang menganggap bahagiaku adalah bahagianya.

Awanku, yang perlahan menerobos masuk, dan aku tak berharap ia keluar.

Aku mencintainya.

3R (Vol. 8) — Midnight Pleasure

Rami

“Should we do…?”

Romi

Aku mencium satu-satunya wanita yang aku inginkan sekarang, my Arami, dalam keheningan malam ditemani angin dan deburan ombak yang terdengar lirih. Lirih, sangat lirih, bahkan hampir tak terdengar. Aku hanyut dalam kedalaman malam.

Ia melepas ciumanku. Mukanya memerah seperti udah rebus yang sangat nikmat dimakan, apalagi dengan bumbu kacang. Ia menarik napas panjang, lalu berkata, “Aku haus.” Kemudian ia bangun, dan mengambil botol air mineral yang tinggal setengah dan menenggaknya hingga habis.

Aku mencoba mengatur napasku agar stabil kembali, pun agar dapat berpikir jernih. Aku berdiri, lalu mengambil handphone di kasur, hingga akhirnya, ia berjalan ke arahku dan menyerangku dengan napas yang menggebu. Tidak setenang tadi.

Dorongan tubuhnya membuatku terjatuh ke atas kasur. Ia di atasku. Masih menciumku. Aku mengelus rambutnya perlahan, membuat ia memelankan irama permainan lips to lips kami malam itu.

I’m a dominant.

Rami

Ia menggulingkan tubuhku, membuat posisi kami berubah. Tubuhnya di atasku sekarang. Napas kami beradu. Kurasakan dadanya yang naik turun, seiring pertambahan panas tubuhnya.

I’m going crazy. His lips so… Ah! Seperti permen yupi yang kenyal, yang ketika ditekan akan kembali ke bentuknya semula. Pun rasanya yang manis. Aku suka permen yupi, seperti aku menyukai bibirnya, lelaki muda yang aku cintai, satu-satunya lelaki yang aku inginkan malam ini.

Romi

Rasanya semua indra yang kupunya sudah terfokus pada satu tubuh. My Lovely Arami. Ombak dan angin di luar sudah tidak terdengar sama sekali. Hanya terdegar lirih lagu adele berjudul all I ask dari playlist handphoneku.

Ia melepaskan ciumanku lagi. Mata kami bertemu, namun kami diam.

If this is my last night with you
Hold me like I’m more than just a friend
Give me a memory I can use
Take me by the hand while we do what lovers do
It matters how this ends
Cause what if I never love again?

“Why?” Kataku akhirnya memulai.

Ia diam, seperti sedang mendengar dan menghayati makna lagu dalam bungkam. Napasnya memelan. Matanya masih menatap mataku. Bukan, bukan dengan tatapan yang kosong, tapi tatapan yang tak bisa aku artikan.

“You know I love you, right?” Kataku, tak tahu harus berkata apa lagi. Matanya menyiratkan keraguan yang dalam. Mungkin ia takut? Mungkin ia tak percaya padaku?

“Men…” Ia berhenti sejenak, “who want to making love with her girlfriend always says that, huh?” Ia menatapku tajam. Dadanya naik turun, seperti siap memuntahkan segala rasa yan bergejolak di dalam.

“Kamu masih inget Ken?” Aku berhenti sejenak, “dan mama kamu?” Akhirnya keluar kata-kata ini juga.

“Jangan sebut mereka.” Ia tak membentak. Ia berbicara dalam diam. Ia, my Arami menangis.

“Oh, come on! I’m sorry.” 

Ia masih diam. Aku bangun, mengambil jaketku, dan bersiap untuk keluar. Sejauh mungkin, agar dapat menjernihkan pikiran.

“Kemana?”

“Cari rokok.”

Rami

Sudah empat tahun berlalu sejak kejadian itu, dan bertahun-tahun juga aku takut. Takut itu terulang. Dikhianati. Dibohongi. Dipakai hanya untuk kesenangan semata.

“Kemana?” Kataku ketika melihatnya mengambil jaket siap untuk keluar.

“Cari rokok.” Jawabnya sangat singkat, tak seperti biasanya.

“I’m sorry.” Kataku lagi, tak kuat menahan tangis. “Jangan ngerokok. Nanti bau.” Entah mengapa, kata-kata itu yang keluar dari bibirku.

Ia berbalik, kembali ke arahku. Menghapus air mataku, kemudian mengecupnya dalam. Aku memeluknya. Aku aman bersamanya.

“Jalan-jalan?” Ia tersenyum, aku bahagia.

“Yuk.” Kataku dengan anggukan. “Tapi mau cuci muka dulu.”

“Iyaaa. Sana biar seger mukanya, ngga kayak bakpau kesiram air gini.”

“Lebay.”

“Jangan lupa jaket. Di luar banyak angin.”

Romi

Aku tidak sedikitpun kecewa akan perlakuan Rami tadi. Tapi satu hal yang mengganjal dalam kepalaku adalah bahwa memori buruknya itu masih terngiang. Memori paling menyakitkan, paling menjijikan, masih berputar di kepalanya bahkan sampai hampir empat tahun setelah peristiwa itu terjadi.

Kami berjalan menyusuri tepi pantai yang gelap, hanya disinari bulan purnama dan sinar lampu beberapa kedai dengan jarak terdekat sejauh tujuh meter.

Dinginnya air pantai yang perlahan-lahan menyapu kaki kami bukan masalah, pun angin yang sangat kencang menyapu tubuh kami. Kami berjalan berangkulan. Aku merangkul pundaknya, ia memeluk pinggangku.

“Mau berenang!” Katanya tiba-tiba.

“No! Dingin. Ngga boleh. Lagian ini udah mau jam 11 malem. Nanti sakit.”

“Hp mana?” Tanyanya.

“Ngga bawa. Kan perjanjian kita sebelum sampe sini, ngga boleh bawa hp kalau jalan-jalan.”

“Nah! Bagus! Lets go swimmiiingggg!” BYUUUUUR.  Ia menceburkanku dalam sekali dorongan. Seketika kami sudah berada di dalam air laut yang dingin.

Ia tertawa kencang, saaangat kencang, membuatnya terlihat begitu bahagia. Kami menghabiskan waktu berdua untuk berenang bersama, dan tertawa geli bersama sampai entah jam berapa. Aku mengajaknya kembali ke kamar saat kurasa kulitku sudah sangat keriput, saking lamanya di dalam air.

Rami

Puas bermain air, aku setuju untuk kembali ke kamar. Senang rasanya menghabiskan malam bersamanya, my only boy, Romi.

Sampai di kamar, ia mengambil gerakan cepat menuju kamar mandi untuk mengisi bathup dengan air hangat. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 23:55.

“Ladies first.” Katanya sambil bergaya seperti ajudan yang memperlakukan seorang putri.

“Thank you.” Jawabku tersenyum. Aku menarik tangannya, menenggelamkan tubuhnya dan tubuhku ke dalam bathup. Hangat dirasa di sekujur tubuh. Aku menciumnya dalam, ia pun begitu.

Ia melepaskan ciumanku. Menatapku bulat-bulat, “Kita belum lepas baju.” Katanya, membuatku tertawa, pun dirinya sendiri.

Aku melepaskan seluruh pakaianku di depannya. Ia terdiam. “Aku udah.”

Ia membuka bajunya, masih di dalam bathup berisi air hangat. Ia kembali menciumku, buru-buru aku menghindar. “Balik.”

“Hah?” Katanya penuh dengan tanda tanya.

“Sini punggungnya aku sabunin.”

Romi

What the hell! Apa lagi Rami? Ocehku dalam-dalam, tapi masih juga kuturuti perintahnya. Aku membalikkan tubuhku. Begitu pelan dan lembut usapannya. Bau wangi dari sabun tercium, membuatku sepenuhnya menahan panas tubuh yang sudah benar-benar memuncak.

Kadang aku berpikir, apa ia sengaja menyiksaku? Atau ia terlalu polos? Atau ia lupa bahwa kami bukan bocah umur 10 tahun? Please, Arami. Stop.

“Udaah! Gantian!” Ia memintaku berbalik.

Kini kutemui punggungnya yang benar-benar halus, dipenuhi oleh bulu-bulu kecil yang hampir tidak terlihat. Tengkuknya, seperti kataku sebelumnya, sangat indah. Aku mengambil sabun, dan menyapukannya perlahan ke punggungnya.

Shit!

Aku tak mampu lagi menahan untuk tidak menariknya ke dalam pelukanku, dan menciumi dirinya hingga habis seluruh tubuhnya dalam dekapanku.

Ia yang terlihat kaget ketika kutarik ke belakang, hingga tubuh kami benar-benar menyatu, segera dapat menyesuaikan diri. Aku mulai mengeksplorasi satu persatu bagian tubuhnya dari belakang, menciumi dan menggigit perlahan lehernya seperti seekor macan yang sedang membawa buruannya, membuat ia mengeluarkan suara lirih yang memabukkan pria manapun yang mendengar.

Aku bangun, kemudian menyalakan shower. Kami bermain dengan bibir satu sama lain, sambil membersihkan diri. Kami benar-benar menikmati sensasi guyuran air yang menusuk.

Aku menuntunya keluar dari bathup. Ia mengambil handuk, menyapukan handuknya ke tubuhnya, lalu tubuhku.

Ini bukan saatnya untuk berlama-lama.

Aku menariknya keluar kamar mandi, dan menjatuhkan tubuhku di atas tubuhnya, sambil terus menjelajai tubuhnya yang sempurna. Mulai dari lehernya, turun ke dadanya, hingga ke bagian khasnya, lalu turun ke telapak kakinya.

Seolah tak ingin puas sendiri, ia mendorongku sekuat tenaga, membuat posisi kami berbalik sekarang. Tubuhnya yang indah menindih tubuhku. Sama seperti apa yang kulakukan, ia mengeksplorasi seluruh tubuhku perlahan, membuatku geli saking nikmatnya.

Ia tahu benar caranya memanjakan seseorang. Ia tahu benar di mana diri ini benar-benar ingin disentuh.

Aku membalikkan tubuhnya, menindihnya lagi, bersiap untuk membawanya ke alam di mana hanya kami berdua yang dapat merasakan satu sama lain.

“Do..” Napasnya tergesa-gesa, mencoba sekuat tenaga untuk mengatakan kalimat selanjutnya. “Do you bring a condom?” Katanya kemuadian.

I don’t need it. You safe.” Jawabku seperti orang mabok. Benar. Aku benar-benar mabok. Rasanya kekuatanku benar-benar bertumpu pada satu titik, membuatku merinding.

Ia menatapku seperti bingung, seperti ingin berkata, How?

“Tenang.” Aku mencoba menarik napas, mengumpulkan kekuatan agar dapat meneruskan kalimatku untuknya, “Ada tekniknya. Kamu aman.” Aku berhenti sejenak, menatap matanya.

“Udah pernah nyoba?” Tanyanya membuatku gemas.

“Ini lagi mau nyoba.” Jawabku seadanya. “Trust me. Sumbernya jelas kok, bukan dari wikipedia.” Tambahku, membuatnya tersenyum, menahan tawa dan gelisahnya yang hadir bersamaan.

Ia memejamkan mata sejenak, kemudian mengangguk. “I love you.” Katanya kemudian, memberiku peluang untuk benar-benar masuk ke dalam tubuhnya.

“I love you.” 

Rami

Di bawah bulan purnama, ditemani desiran halus ombak pantai dan angin yang menyapu pelan, napas kami saling berburu seperti tak mau kalah satu sama lain.

Kami benar-benar melakukannya.


Read this!

Vol. 1 Vol. 2 Vol. 3 Vol. 4 Vol. 5 Love Letter Replied Vol. 6 Vol. 7

3R (Vol.7) — The Desire

Romi

Libur semester ganjil tiba. Aku dan Rami sudah merencanakan pertemuan ini awal masuk semester lalu. Beberapa jam lagi, kami sampai di Surabaya, destinasi awal perjalanan kami selama satu minggu ke depan.

“Bawa apa lagi ya?” Kataku sambil garuk-garuk kepala, bingung saking sedikitnya barang bawaan yang kubawa. Malam ini aku dan Rami sedang packing bersama di kamar kostku untuk perjalanan esok pagi.

Rami yang sedang sibuk menyetrika baju, menoleh. “Hmm.. Ini baju kamu belum masuk sama sekali hei.” Ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Oh iya. Haha.”

“Ah! Aku udah bikin list barang bawaan yang harus kita bawa.”

“Loh, bukannya udah ada? Ini apa?” Kataku melihat list barang yang beberapa hari lalu Rami buatkan. Ia memang penuh dengan persiapan.

“Itu belum semuaa. Udah gih ambil catatannya tuh di atas dispenser.” Katanya masih sambil menyibukkan diri dengan baju-baju yang sedang ia setrika. Idaman.

“Cadbury dairy milk fruit and nut,” Kataku memastikan apa yan ia tulis. “Coklat lagi?” Aku menoleh ke arahnya.

“Iya. Kemarin kamu belinya yang biasa, yang ngga ada isinya. Jadi kurang nendang gitu looh.” Aku menggeleng-gelengkan kepala mendengar jawabannya.

“Dada ayam tanpa kulit, brokoli, kentang…” Aku menyernyitkan dahi. Kami memang sudah merencanakan untuk mengadakan barbeque party di tempat wisata yang akan kami kunjungi berdua. “Ini bisa dibeli di sana, yang. Ngapain bawa berat-berat?”

“Iya itu kan aku udah mark di bawahnya pake spidol merah, beli di sana. Ih teliti dong.”

Aku melihat bagian bawah kertas. “Oiya. Lagian kamu disatuin. Harusnya dipisahin mana yang dibawa dari sini, mana yang beli di sana. Biar ngga bingung.” Aku menarik napas, membaca list itu kembali. “Senter?” Aku berpikir sejenak. “Oh, buat jalan-jalan malam.” Kataku sambil membayangkan perjalanan malam di pantai yang sudah kami rencanakan.

“Kondom.” Dadaku panas seketika. “Hah kondom?” Mataku terbelalak. Aku memang sempat membayangkan hal yang negatif. Bercinta dengannya sepanjang malam, di atas pasir pantai. Tapi aku tidak berpikir untuk benar-benar melakukannya. “Buat?”

Ia meletakkan baju yang habis disetrika ke tumpukkan baju di sebelah kanannya, lalu menoleh ke arahku. “Buat nampung air hujan.” Satu detik, dua detik. “Of course for having sex with me, boy!” Aku menelan ludah.

Ia bangun, berjalan ke arahku dengan tatapan mata yang tajam, siap mencabik-cabik dadaku. Ia mencium bibirku perlahan, dengan lembut. Aku membalasnya dengan mendekapnya hingga tubuhnya menempel sepenuhnya dengan tubuhku.

“Just kidding.” Katanya setelah melepaskan bibir indahnya, lalu mengambil kertas yang kupegang, dan menuju kotak pulpen di atas dispenser. Ia mengambil salah satu di antaranya, lalu menorehkan tinta tepat di atas kata kondom.

“Nih. Jangan lama-lama ya. Cuma beli coklat doang.” Katanya kemudian. Aku masih terdiam tak habis pikir. Rasanya hampir copot jantungku beberapa menit yang lalu. “Mau aku anter? Yuk deh. Sekalian aku laper banget mau beli nasi goreng pinggir jalan.”

Aku menelan ludah, sekali lagi. Menatapnya setajam yang kubisa. “What are you doing?” Aku tak tahan lagi untuk tidak mengatakannya. Ia tak pernah membiarkanku melakukan sesuatu yang buruk padanya, bahkan menyentuhnya jika ia tidak menginginkanya, namun ia selalu berhasil melakukan itu padaku sesuka hatinya.

Membuatku panas, lalu berlalu begitu saja. “I’m a man. I have a very very very big fucking desire to fuck you. Every day, every night. I’m not a boy, Rami. Don’t do this to me.” Kataku menahan kesal, mencoba sebisa mungkin untuk tidak membentaknya.

Ia terdiam, lalu berkata. “You wanna fuck me? I’m not a bitch!”

“Stop flirting me, kalo gitu.” Kataku menurunkan nada bicaraku, seperti berbisik. Sedikit lebih tenang.

Ia diam. Bibirnya seperti menahan sesuatu yang berat. Matanya memerah siap untuk mengeluarkan air mata. Rasanya aku ingin menarik kembali kata-kataku dari relung terdalamnya.

“I’m sorry.” Kataku mencoba memegang tangannya yang mengepal.

“Don’t!” Ia berlalu menuju tasnya, dan memasukkan satu persatu barang yang sudah dipersiapkan untuk dibawa besok.

“Aku pergi. Nasi goreng biasa kan?”

“Yang pedes banget!” Katanya sambil menghentakkan barang yang dipegangnya ke dalam tas. “Kalo perlu beliin abon cabe sekalian biar tambah HOT!” Katanya sambil menahan sesengukkan. Ia menekankan kata hot, membuatku ingin tertawa melihat ekspresi ngambeknya.

“Do you need a tampon? Kamu PMS kayaknya.” Kataku kemudian menggodanya.

“GOOOO!” Teriaknya sambil melemparkan baju yang baru ia setrika. Aku berlalu sambil menahan tawa. My Arami itu… lucu.

Rami

“Mi… Udah sampai.” Suara berat itu membangunkanku dari tidur panjangku. Aku berkedip sambil mengucek mataku yang terasa gatal. “Jangan, nanti sakit.” Katanya kemudian, lalu meniup mataku perlahan.

Bau mint menyerbu seketika, membuat aku sepenuhnya sadar. Aku  mengambil tas dan beranjak keluar kereta. Lelaki ini adalah lelaki yang dua hari lalu membuatku kaget karena kumis dan jambangnya yang dibiarkan tumbuh memanjang di wajahnya. Like a real man. I like it!

“Habis kita liburan kamu cukuran ya.” Ia menoleh. “Seminggu lagi pasti bakal kayak kyai tu jenggot.” Tambahku.

“Ngga mungkin lah. Kalau kyai mah bertahun-tahun. Ini baru ngga cukuran dari mmm….” Ia seperti mengingat-ingat sesuatu, lalu melanjutkan kata-katanya, “dari terakhir kita ketemu. Semester lalu.”

Aku menarik tangannya dan berhenti. Kami bertatapan. “Biar kalau masuk kuliah nanti, kamu ngga aneh dengan bekas cukuran di atas bibir.” Kami berdua tertawa, melanjutkan perjalanan.

Romi

Kami menginjakkan kaki di salah satu tempat bersejarah di Surabaya. Tugu Pahlawan. Monumen ini dibangun untuk memperingati peristiwa pertempuran 10 November 1945 antara arek-arek Suroboyo dengan pasukan sekutu bersama Belanda yang ingin menjajah kembali Indonesia.

Bangunannya unik, seperti paku terbalik. Ada museum di dalamnya, membuat pengunjung terbayang jelas peristiwa puluhan tahun yang lalu itu.

“Are you happy?” Kataku pada wanita berambut panjang yang sedari tadi kugenggam tangan lembutnya, sambil berkeliling Tugu Pahlawan.

“I’m starving.” Wajahnya memelas seketika, seperti muka kucing yang sedang merayu majikannya untuk segera diberi whiskas.

Aku tersenyum, kukecup bibirnya yang sedang manyun. “Yuk, cari makan.”

Ia mengeluarkan handphonenya. “Sate klopo enak deh kayaknya, Yang.” Katanya sambil melihat salah satu artikel berisi kuliner-kuliner di Surabaya dengan handphonenya.

“Sate enak dimakan malem ah.” Aku melihat layar handphone yang sedang ia scroll ke bawah. “Nasi goreng jancuk enak tuh.” Kataku melihat gambar nasi goreng super pedas yang bikin ngiler.

“Jangan ah nanti sakit perut. Lagian masa ke Surabaya cuma makan nasi goreng?” Katanya mengelak, lalu melanjutkan bacaannya lagi. “Ah, nasi krawu nih, nih.” Katanya antusias sambil memperlihatkan artikel berisi gambar seporsi nasi dengan beberapa lauk di atasnya. Cukup menggiurkan.

“Nah nah, jangaann. Tuh. Katanya enak dimakan pagi-pagi. Sekarang udah hampir jam empat sore.”

“Iya juga.” Katanya kecewa.

“Nah!” Kata kami bersama, tepat ketika melihat gambar bebek goreng dengan sambal yang terlihat sangat menggiurkan.

“Bebek goreng tugu pahlawan! Yuk kayaknya deket dari sini.” Katanya, segera menggenggam tanganku, dan menariknya dengan antusias.

Rami

Kami memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama berkeliling Surabaya sebelum tepat pukul 11 malam nanti pergi meninggalkan kenangan indah hari ini menuju Pelabuhan Ketapang, tempat kami mengukir memori selanjutnya.

Kami berdua, duduk bersebelahan dengan diam di tempat yang mengarah lansung ke jembatan Suramadu yang memancarkan warna yang indah dalam gelapnya malam. Ia menyandarkan kepalaku di atas bahunya, dan memeluk pinggangku. Hangat seketika menyelimuti.

Aku menatapnya dalam-dalam. Berusaha mengingat wajahnya sedetil mungkin yang kubisa. Ia yang menjadi kesayanganku seutuhnya, lelaki yang bisa kuandalkan. I love him to the moon and back, to the moon and back again 50 ribu kali.

Matanya mengarah ke depan, penuh dengan ekspresi keoptimisan, namun diam. Entah apa yang ia pikirkan. Ia menoleh membuat mata kami bertatapan. Canggung menyelimuti seketika. Ia mencium bibirku, aku membalas.

Kurasakan peri cinta sedang menembak kami dengan racun hatinya, membuat kami menggilai satu sama lain. Membuat kami lupa bahwa ini tempat umum. Aku mencintainya.

Romi

“Wooohoooo LOMBOOKK!” Katanya sambil berlari ke arah Pantai Senggigi, destinasi utama liburan kami kali ini. She just a little girl. I love her. Pikirku sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan wanita di depanku yang kini sedang berputar sambil berteriak, merasakan asinnya bau angin di sekitar.

Aku meletakkan tas kami di kamar penginapan yang sudah kami pesan dua bulan yang lalu. Alhasil, kami mendapatkan penginapan terdekat dengan pantai. Pemandangan dari sini begitu indah, seindah Arami, yang kini berjalan ke arahku dengan senyum lebar yang memancar.

Ia menciumku. “Thanks. It’s… All of this such a little heaven, hon!” Katanya dengan antusias. “Yuk ke pantai! Seru deh anginnya kenceng.”

Aku tersenyum, mengikuti langkahnya sambil menggenggamnya erat. Kami menghabiskan waktu tiga jam untuk menikmati pantai. Dari mulai duduk di atas pasir, lalu cebur-ceburan, lempar-lemparan pasir basah. Like a little girl and boy who loves playing together.

Lengket di badan karena air laut yang hampir mengering tak jadi masalah. Kami duduk dengan damai sambil melihat beberapa anak memainkan layangan dengan latar langit berwarna jingga. Arami memeluk pingangku, aku balik merangkul pundaknya, sambil sesekali membelai rambutnya yang hampir kering.

Rami

Aku duduk di atas selendang tipis yang sengaja difungsikan menjadi karpet. Ia, my love sedang asyik membolak balikkan daging sapi, jagung bakar, dan kentang berlapis aluminium foil yang berjajar rapih di atas arang sambil menggerakkan kipas bambu dengan kecepatan sedang agar didapatkan bara yang sesuai. Aku menyiapkan bir dingin yang kami beli di bar dekat penginapan beberapa menit yang lalu.

Malam ini akan menjadi malam yang sangat mengenyangkan!

Kami menikmati makan malam dengan latar bulan purnama dan beberapa bintang, disertai suara deburan ombak yang menyejukkan. Dingin lantaran angin yang kencang bukan penghalang. Kami menikmatinya dalam diam. Begitu damai, hingga kami tak menghitung sudah berapa jam yang kami habiskan bersama.

Romi

Jam dinding menunjukkan pukul 11 malam. Ngga kerasa. Saking menyenangkannya, mungkin. Aku sedang duduk di lantai sambil menyandarkan diriku ke pinggiran kasur sambil membaca majalah otomotif yang tersedia di kamar kami. Rami sedang terlentang di atas kasur sambil melihat foto melalui layar kamera yang kami bawa.

Kepala kami bersentuhan. Aku dapat merasakan pergerakan kepalanya yang halus, juga mendengar komentar-komentarnya pada foto-foto yang ia lihat.

Aku memutar lagu untuk memecah keheningan. Close to you dari The Carpeters menjadi lagu pembuka.

“Gila! Liat nih, yang. Keren banget ini fotonya!” Ia memutarkan badannya, membuat pipi kami saling menempel satu sama lain. Dengan antusias ia menunjukkan satu fotoku berlatar pasir pantai dan ombak laut setinggi pinggang. Lucunya lagi, ada dua jarinya yang sedang mengapit kepalaku. Aku terlihat sangat kecil di antara dua jari itu.

“Jari kamu lucu?”

“Kamu lucu. Ekspresinya bener-bener lucu. AAA.” Katanya sambil mengikuti gaya mulutku yang terbuka lebar di foto.

Ooh, now let’s get down tonight 

Baby I’m hot just like an oven

I need some lovin’

Playlist di handphoneku memutar lagu Sexual Healing milik Marvin Gaye.

And baby, I can’t hold it much longer

It’s getting stronger and stronger

And when I get that feeling

I want Sexual Healing

Aku mematung. Kini kulihat Rami sudah duduk bersandar di pinggiran kasur. Tepat di sebelahku. Matanya menatap ke depan.

Sexual Healing, oh baby

Makes me feel so fine

Helps to relieve my mind

Damn! Why she looks like too damn fucking gorgeous tonight GOD! Rambutnya dicepol membuat tengkuknya terlihat. Kumis tipis di bibirnya, dan bulu tipis di lengan dan kakinya yang sekarang… entah mengapa terlihat begitu sexy.

She’s like a cheese on the top of pizza. Melted.

Rami

“Should we do that?”


Read this!

Vol. 1 Vol. 2 Vol. 3 Vol. 4 Vol. 5 Love Letter Replied Vol. 6