Aku Sayang Kakak

01f6c95e8d4e2959a90788979713f1d1

Source: here.

Halo, namaku… sebut saja Riko. Mungkin aku seorangg lelaki yang berusia… entah. Mungkin 15, mungkin 20, atau lebih. Aku menemukan diriku kembali terpaku pada layar gawai yang sehari-hari menjadi temanku. Bentuknya tentu sama seperti yang kalian punya. Persegi panjang, dengan tubuh yang ringan. Maka aku senang membawanya kemana-mana.

Namaku Riko, dan ini kisah pemburuanku.

Aku menemukannya berada di balik layar gawai, nama yang cukup menarik perhatian, entah mengapa. Ia terlihat mudah berbaur. Sedetik saja ada yang bertanya, sedetik pula ia menanggapi, memberikan jawaban.

Namanya Ara.

Ia seorang perempuan berkerudung biru, setidaknya itu yang sedang kulihat sekarang, melalui foto yang ia pasang di profilnya. Ia berusia 25 tahun, mungkin lebih tua dariku. Ia mudah dekat dengan banyak orang karena ia dapat dengan mudahnya menyesuaikan diri dan membuat orang nyaman.

Aku bertemu dengannya di salah satu grup di media sosial yang kumasuki. Entah untuk apa, aku berharap mendapatkan sesuatu dari grup dengan total penghuni lebih dari 40 orang itu. Dan aku menemukannya, sedang menjawab pertanyaan dari salah satu penghuni grup.

Singkat cerita, lalu aku berusaha mengambil hatinya. Aku menariknya ke dalam kehidupanku yang bahkan aku sendiri pun tak tahu seperti apa. Apa pekerjaanku, aku tak tahu pasti. Begitupun siapa orang tuaku. Apalagi informasi perihal kehidupanku yang lain? Aku tak tahu. Jangan kau tanya.

Yang kutahu hanya bagaimana cara mengambil hati Ara, yang kemudian kupanggil “Kak”. Aku mendengar suaranya kemudian, di malam itu. Suaranya terdengar asing, namun begitu ia sudah menunjukkan ketertarikannya padaku kala kubilang, “Aku suka kakak.”

Terlalu dini memang. Terlalu dini untuk mendefinisikan rasa ini. Tapi aku tak mau membuatnya salah sangka. Aku tak mau hal ini membuatnya kaget, maka aku samarkan saja pernyataan ini menjadi sebuah guyon. Tak berhasil. Ia dengan jelasnya mendengarkan apa yang kukatakan, dan ia akan memberiku jawaban kemudian.

Kak Ara, aku mengaguminya. Ia adalah sosok perempuan hebat, yang mampu membuatku dan orang sekitar nyaman di sisinya. Ia pintar, mungkin cocok untuk mendidik anak-anakku kelak. Apalagi mendidik otakku yang bebal, jujur saja.

Aku banyak tak mengerti apa yang ia maksud, meski sudah jelas ia katakan. Di hari kedua dekat dengannya pun aku sudah berdebat dengannya. Bebal memang aku. Aku merasa bahwa ia tak cukup memberiku perhatian, maka aku dengan mudahnya marah, pun berkata yang bukan-bukan padanya. Katanya, aku salah paham. Selalu saja begitu.

Aku menemukan diriku tidak benar, kemudian. Ini salah. Apa yang kukatakan pada dunia di luar sana keliru. Bahwa aku menemukan diriku bertelanjang dada, dan itu bukan aku. Aku menemukan diriku bukan aku, dibalik jemari yang kuketuk pada layar gawai yang menemaniku tiap saat.

Aku menemukan bahwa ada kejanggalan pada diriku. Lagi-lagi… bahwa diriku bukan aku. Bahwa yang Kak Ara kenal, dan beberapa orang yang tahu aku, mungkin aku adalah bukan aku yang sebenarnya.

Aku menemukan bahwa segala kata yang kuketik dan ucapkan hanya kosong belaka. Namun egoku tinggi. Tidak benar aku salah. Yang salah adalah mereka yang tak menghargaiku. Adalah mereka yang tak menghiraukanku. Adalah mereka yang meragukanku.

Maka aku terus memohon pada Kak Ara tercinta untuk memberiku kesempatan. Setidaknya biarlah waktu yang menjawab siapa aku sebenarnya. Biarlah waktu yang membuktikan kebenaran bahwa aku memanglah aku yang aku perkenalkan pada orang-orang di balik jemariku di sana.

Kak Ara, Riko sayang Kak Ara. Kak Ara tak tahu siapa sebenarnya Riko bukan? Maka bolehkan Riko esok hari menjemput Kak Ara, dan membuktikan bahwa mungkin Kak Ara yang salah. Bahwa ada Riko, dibalik jemari yang tiap waktu diketukkan atas nama yang Kak Ara tahu benar, di layar gawai Kak Ara.

Riko sayang Kak Ara. Perkenankan Riko untuk membuktikan bahwa kata-kata ini bukan kosong. Riko sayang Kak Ara. Malam nanti entah kapan, Riko akan datang. Mungkin dengan nama yang sama, mungkin tidak. Mungkin dengan sosok yang sama, mungkin tidak.

Riko sayang Kak Ara. Semangat S2-nya Kak!

.

.

Dari yang kau kenal dengan nama Riko.

Advertisements

Lelaki Berkelamin Mini

Hai, namaku Bianca. Panggil aku “B” (dibaca be). Umurku mungkin sama seperti kalian yang membaca. Ada di rentang usia 20 hingga 25 tahun. Sebut saja usia siap bercinta, namun belum matang. Mengapa kubilang begitu?

Karena aku belum ingin menikah. Aku belum bekerja, agamaku… entahlah. Dan aku tidak memiliki kekasih.

Namaku Bianca. Dan aku ingin bercerita. Perihal lelaki yang hampir meniduriku dari belakang namun tak jadi, karena kelaminnya yang tak dapat menjangkau punyaku.

Kami sengaja bertemu, di siang itu, untuk yang pertama kalinya lewat perkenalan di udara. Nama lelaki itu “G” (dibaca Ge). Tentu saja itu hanya nama panggilan. Nama panjangnya… hm lebih baik tak kuberi tahu. Usianya jauh lebih tua dariku, mungkin 10 tahun atau lebih. Tapi dia tak terlihat seperti om-om atau bapak-bapak. Bahkan awalnya kupikir usianya ada di rentang 25 hingga 28.

Kami berkenalan lewat udara. Aku merabanya lewat beberapa foto yang ia pasang di akun miliknya. “Lumayan”, satu kata yang berbunyi di dadaku kala itu, kala membaca pesannya untuk pertama kali, dan dengan sigap kubuka juga profilnya.

Singkat cerita, aku bertemu dengannya, dan tak terjadi apa-apa hingga perjanjian di malam harinya, sehabis pertemuan pertama. Malam itu, setelah ia pulang membawa lebih dari seribu kesan positif, ia meminta tubuhku.

Katanya kelaminnya hampir keluar dari celana kalau saja celananya tak dikancing, kala matanya melihat bagian tubuhku yang berkelok. Aneh ya, lelaki. Yang lihat matanya, yang bangun bagian dalam celananya. Haha. Well, I know that biological effect too much. Karena G bukan lelaki pertama untukku. Kalau lelaki yang pada akhirnya masuk ke dalam hatiku lalu berusaha kubuang jauh, iya, mungkin ia yang pertama.

***

Perjanjian akhirnya disepakati. Kurang lebih aku meminta untuk kelaminnya jangan pernah masuk punyaku, karena aku belum yakin betul dengannya. Pun di pertemuan awal harusnya tak ada kontak fisik bukan? Apalagi kontak kelamin. Aku minta, permainan kita hanya di permukaan saja.

Dua hari kemudian kami berjumpa lagi.

Tatapannya masih sama, seperti pada pertemuan pertama. Bedanya, mungkin karena aku pun sedang ingin, tanpa berbasa-basi kami memulai. Tentu dia yang tak sabar akan tubuhku. Aku tak ingin memperlihatkan diri bahwa ini yang sedang kuingin juga.

Ia menciumku. Di bibir, yang cukup lama. Dan saat itu pula kurasakan bibirnya yang lembut. Bibirnya berwarna merah muda dan kenyal, tidak pecah-pecah, tidak bau.. Karena ia tidak merokok. Akunya, terakhir ia merokok yaitu ketika ia bekerja dulu sekali.

Ini yang paling kusuka darinya. Ciumannya basah. Ia menyapu bibirku dan dalam bibirku, lalu kedua pipiku, lalu leherku, dan membuatku seperti habis memakai krim pelembab wajah. Dan ia langsung tahu titik terlemahku: leher. Ketika sampai situ, aku tak berhenti berdesis, sungguh.

Perjanjian malam sebelumnya tak ada artinya, pada akhirnya. Ia membuat tanganku masuk ke dalam celananya, dan kudapati benda kecil yang meringkuk minta keluar. Coba kau kepal longgar tanganmu. Sebesar dalam kepalan itulah kelaminnya. Jari-jariku bahkan masih dapat menempel sempurna pada bantalan telapak tanganku saat mengenggamnya. Panjangnya pun tak lebih dari lima jariku, bahkan ketika dimasukkan ke mulut pun tak kurasakan ujungnya menempel pada dinding tenggorokanku.

Maka ia kusebut lelaki berkelamin mini.

Aku sempat kecewa. Bahkan daging mini itu tak menampakkan kegagahannya. Meringkuk saja di tempat. Lembek seperti daging ayam yang dibiarkan dua hari.

Tapi ia dapat memberiku sensasi yang berbeda, bukan dari kelamin mininya itu. Tapi perlakuannya yang lembut padaku. Kau tahu? Kami bercinta dengan kata. Ia menggodaku, sehabis lidahnya menyapu payudaraku, “enak ngga?”

Aku pun demikian. Membiarkan diriku berbicara sambil menggodanya dengan kerlingan mataku. Kata orang, aku memang pandai mengoda, maklum saja.

Ya. Di persetubuhan pertama, nikmat itu aku rasakan. Bahwa jika bersetubuh nikmat jika ada penghargaan. Dari nilai kepuasan yang dilontarkan, misalnya. Tak peduli ukuran kelamin, jika kau mencari rasa, kau aka temukan juga kepuasan pada kelamin mini lainnya –tentu saja kelamin mini satu ini milikku- asal kau tahu bagaimana menghargainya.

Ah! Aku jadi ingat hal pertama yang ia tayakan padaku, ketika dengan tidak tahu malunya ia mengeluarkan kelamin mininya itu. “Kecil, ya?”

Tentu aku punya penilaian, seperti yang kulontarkan sebelumnya. Tapi aku tak ingin membuat kelamin mini itu semakin meringkuk dalam, lalu kubilang, “Disyukuri aja.” sambil tersenyum padanya. Kemudian ia melanjutkan misinya: mengeluarkan maninya —yang pada akhirnya kutahu baunya seperti apa. Iya. Aku penasaran seperti apa mani itu, maka kuambil tissue bekas ia membersihkan kelaminnya yang sudah kering dan kekuningan warnanya beberapa jam kemudian. Pesing. Seperti bau kencing yang dibiarkan mengerak di tembok wc umum.

Pertemuan selanjutnya terjadi, dengan kisah yang semakin tak diduga. Dan aku baru menyadari bahwa ada yang kurang benar dari otak sang pemilik kelamin mini itu. Aku menemukannya menyukai persetubuhan yang penuh dengan ikat mengikat –yang sejujurnya ilmu ikat mengikat ini hanya kudapat dari pramuka saat sekolah  dulu, lalu pukulan dan pecutan, lalu menstimulasi kelamin perempuan dengan segala benda tak masuk akal –demi apapun aku melihat dalam file yang ia bawa, mic yang biasa kau lihat di genggaman penyanyi-penyanyi di televisi, masuk ke liang wanita. Bagaimana rasanya dapat kau bayangkan?

Aku baru ingat kemudian. Bahwa dalam persetubuhan kemarin –entah secara sadar atau tidak, beberapa kali ia mengayunkan tangannya pelan pada payudaraku. Lalu dia perlakukan payudaraku seperti saat kau mengeringkan pakaian yang baru kau cuci dengan memerasnya sampai tak ada sebutir air pun yang jatuh.

Dan kau tahu? Aku tiba–tiba mengingat wajah busuknya, sehabis perlakuan itu. Senyumnya seperti joker –atau apalah, badut mungkin? Menyeramkan. Seperti aku adalah makanannya, dan ia puas seketika melahap diriku. Lebih dari puas. Ia bangga melakukan itu padaku.

Di malam selanjutnya aku bertanya padanya, dan ia langsung mengakuinya. Ya. Dia senang memperlakukan wanita yang ia setubuhi dengan cara tak normal itu. Ia memintaku untuk menuruti permintaannya kemudian. Diikat di bagian tangan dan kaki, juga payudara –agar lebih menonjol katanya, juga menjepit payudara dengan jepit jemuran, dan membekap mulut dengan lakban.

Apa itu cara bersetubuh?

***

Aku menemukan diriku di tempat tidur kemudian. Lelaki itu sedang di kamar mandi, membersihkan tubuh kotornya. Bagaimana mungkin aku mau diperlakukan seperti itu? Menahan sakit ketika payudara sebelah kiriku dijepit –lebih sakit lagi saat penjepit dilepas kemudian payudara ditekan-tekan, lalu dicekik sambil ditunggangi. Sungguh ia lakukan itu padaku, meski tangan dan kakiku bebas tanpa diikat.

Ia lakukan itu sambil menggesek-gesekkan punyanya pada punyaku. Di luar, tidak pernah masuk. Meski aku tak yakin kelamin sekecil itu mampu menembus selaput daraku dan membuatnya berdarah, aku tak ingin lebih dalam melukai hatiku.

Sudah cukup aku menelan hinanya diri diperlakukan seperti karung beras yang bebas dilempar tanpa memikirkan berapa banyak air mata yang jatuh. Memang tidak di depannya, tidak juga di sela persetubuhan, tapi setelah tubuh ini bersih dan wangi.

***

Aku sudah meninggalkan dia sekarang. Aku pernah mencintainya, tentu saja. Bahkan aku mengatakan ini padanya. Bagaimanapun, kesan pertama aku padanya sangat baik. Namun pikirannya pasih terpaku saja pada kelaminku yang ia sukai saat sedang basah. Maka ia tak pernah memberi jawaban apapun terkait masa depan.

Kami berdua juga pernah makan dan nonton bersama. Bisa dihitung dengan jari, kami melakukan hal normal seperti orang yang sedang berkencan begini.

Tapi tetap, perjalanan kami menyelami diri masing-masing, selama aku mencoba untuk bertahan dan memperjuangkan rasaku, ia masih sama. Tidak peduli.

Terima kasih, hal itu amat memudahkanku, karena membuatku sadar bahwa kelaminmu mungkin terlalu mini maka ia tak pernah puas –saking susahnya bangun dan lekas tidur kemudian.

Kau tak pantas untukku, maka untuk apa aku bertahan?

Yang kau tanyakan selalu kan, “B di kos?” Dan aku tahu apa artinya itu.

Selamat jalan lelaki berkelamin mini! Semoga di ujung tahun nanti kau termukan orang lain yang bisa memuaskanmu dengan kelamin minimu itu, orang yang mau bertahan tanpa kepastian, orang yang mau bertahan ditunggangi di siang hari tapi bahkan kau tak mengerti cara menghargainya.

.

.

Terima kasih sudah membuatku belajar.

.

.

Wanita yang gagal kau setubuhi dari belakang,

Bianca.

Peluh: Imajinasi.

kb_Wall_Josephine-Love_is_in_the_Air

Source: HERE!

Jenjang tubuhnya kusentuh lemah. Pelan, dari atas ke bawah. Ia masih tertawa, sambil meninju dadaku manja. Ia, perempuan manis berwarna rambut denim, rambut yang menjadi trend di tahun ini. Pikir dan tampilannya yang berbeda, membuatku jatuh cinta bukan kepayang.

Rias di wajahnya nampak tipis, tak mampu menutupi merah pipinya kala kusentuh bagian depan tubuhnya. Indah, wangi tubuhnya membuatku terkecoh. Cantik macam apa ini? Manusia atau malaikat? Meski kutak yakin seberapa indah wajah malaikat, yang di depan mataku kini nampak begitu bersinar.

Kurengkuh tubuhnya, kusalami dengan kecupan lembut.

“Ahh…” pekiknya.

Matanya memejam, napasnya mulai terbata. Kugalakkan kecupan, meninggalkan bekas merah pada tubuhnya. Leher, bagian yang paling kusuka. Sedap wanginya semakin menusuk, begitu memacu adrenalin, membuat tubuhku semakin terasa mendidih.

Oh…

Ia, wanitaku kini berbalik. Tubuhnya di atasku kini, begitu menikmati kecupannya pada tiap bagian tubuhku. Dengan pola sama. Dari atas ke bawah membuatku berdesis geli tak karuan. Kecupan macam apa ini?

Aku berbalik, tak tahan akan perlakuan baiknya padaku.

“Sekarang?” Aku menatap mata kecilnya yang sayup-sayup, sambil memindahkan poni tipis yang menutupi sebagian wajahnya. Benar. Aku ingin menikmati pipi merahnya.

Ia mengangguk, memberiku pintu masuk merasuki tubuhnya.

“Aaaah…” kami meraung, merasakan begitu hebatnya memasuki tubuh satu sama lain. Maju, mundur. Kurasakan sentuhan lembut bagian tubuhku yang menempel padanya, membuatku tak dapat merasakan apapun kecuali tautan tubuh kami yang bak tak mau lepas.

Aku memeluknya, ia mencengkram tubuhku hebat. Kuciumi bibirnya, lehernya, dadanya. Begitu indah kurasakan debar jantungnya yang begitu cepat secepat debarku. Kami bukan berlomba. Kami bekerja sama menyatukan irama kenikmatan dalam satu atmosfer yang sama. Langit malam.

Erangannya semakin kuat, membuatku tak ingin beranjak. Membuatku semakin tertantang untuk memenangkan permainan ini. Permainan yang membuat candu pemainnya.

“Kam…..hu…can..thik..” terbata, aku mengucapkannya selayaknya lelaki yang sedang hangover terlalu banyak minum vodka. Ia jawab dengan raungan, dengan matanya yang dipejamkan membuat dahinya berkerut, dengan bibirnya yang mengeluarkan nada indah pembangkit adrenalin.

“The…rusin?” lagi, dengan mata setengah memejam dan rambut yang perlahan basah, aku bertanya padanya.

“Jang…han…berhenti. Ceph…etin.” jawabnya, tak kalah melayang. Lampu hijau menyala, kupercepat tempo peraduan kami, membuat suara kami semakin beringas, bukan lagi berupa desisan.

“Ma..hu..kheluar.”  entah sudah berapa lama, rasanya titik tumpu hidupku saat ini ingin memuntahkan seluruh isinya. “Bha….reng!” Ia mengangguk pasrah, tak kuat lagi berkata-kata.

“Aaaaaaaah!” erangan panjang itu, disertai tangannya yang menjambak lembut rambutku, juga pelukan eratku padanya sambil merasakan sisa-sisa buaian detik itu, akhirnya mengakhiri peraduan panjangku dengannya, perempuan manis berwarna rambut denim.

Peluh menetes, kurasakan seketika tetesannya di paha kananku yang telanjang. Kusapu lembut sisa kenikmatan malam itu dengan tissue yang selalu bertengger manis di sebelah kiriku, lalu kubuang ke tempat sampah di pojok dekat pintu. Kutekan tombol kecil di atas toilet perlahan. Air keluar, lalu disedot kembali.

“Kurang lama, Bang!” kaget, kudapati adik kecilku meyambut di depan pintu.

“Sakit perut. He.” aku tersenyum padanya, sambil memegangi perutku, berpura-pura.

“Sakit banget ya, Bang, sampai basah gitu kepalanya.”

“Ba-nget.” aku tersenyum lagi, meminta pengertiannya.

Aaaah. Aku bisa tidur nyenyak malam ini!

Peluh: Gergaji.

Lagi-lagi kugaruk batangnya dengan runcingku. Berserat. Mengeluarkan bunyi yang buat dahi menyernyit. Kali ini ukurannya tak seberapa besar, tajam runcingku terselamatkan. Namun, ah, batang ini sedikit basah, membuatku terpeleset beberapa kali.

Tersengal, tangan di ujung tubuhku berhenti. Mengambil napas sedalam yang ia bisa, kemudian mengesap kuat rokok di tangan kirinya. Tangan kanannya masih setia memegang ujung tubuhku.

Ia menggerakkanku lagi. Maju, mundur. Membuat gusi runcingku beradu dengan batang berserat ini. Mengeluarkan bunyi, lagi.

“Pak tua!” aku terhenti, tangan itu melepasku, membuatku terkapar di atas pahanya. “Sudah malam. Waktunya kau pulang!”

“Tak apa.” gerakan di dahinya seketika mengeluarkan cairan yang menghujam dingin tubuhku. Peluhnya, jerih payahnya. “Tanggung. Lumayan biar dapat lima ribu lagi.” Ia tersenyum sambil mengatur napasnya. Lagi-lagi lelehan di dahinya jatuh.

Peluhnya, jerih payahnya.

Bumi Kepada Bulan, Katanya.

4 Hal yang Akan Terjadi Jika Bulan Meninggalkan Bumi

“Definisi cowok keren, menurutmu apa?”

“Hm… ngga lebay.”

“Maksudnya lebay?”

“Yaaa. Ngga drama.”

“Yang drama kan biasanya cewek.”

“Jadi kamu bilang aku drama?”

“Ih kok langsung ngambil kesimpulan gitu?”

“Habis ngelirik-lirik ngga jelas gitu sih.”

“Kan sayang.”

“Tuh kan lebay kaaan.”

“Jadi, cowok keren menurut kamu definisinya apa?”

“Hm… Apa ya? Dia… Dia sayang sama ibunya.”

“Kenapa?”

“Kalau dia sayang sama ibunya, bisa dipastikan kalau dia ngga akan nyakitin hati perempuan manapun.”

***

Ada yang bisa dimakan waktu, lalu hilang dan tak kembali. Saat lalu. Momentum apapun. Di saat berbunga ketika berduaan sama pacar, misalnya. Kalau udah putus, mau gimana? Mesra-mesraan udah bukan kewajiban dan… yaa buat apa mesra-mesraan tapi tanpa status? Yang ada bikin batasan baru. Saya di sini, bebas dengan yang lain, Anda di sana pun begitu. Ada batasan.

“Bulan,” katanya waktu itu, masih di atmosfer yang sama yang selalu membuatku ingin mengulang kejadian yang sama setiap hari. Aku hanya menengok dan memicingkan mataku padanya tanda aku tahu keberadaannya. Dia duduk di sebelahku, lalu melanjutkan kata-katanya, “Kenapa bulan diciptakan untuk mengelilingi bumi?”

Aku berpura-pura berpikir. Bukan bulan dan bumi yang semua tahu pada umumnya, yang pasti. Tapi aku, Bulan, dan dia, Bumi. “Biar keadaannya seimbang.”

“Pasang surut air laut, kalau bulan ngga peduli, Bumi jadi kacau.” Kami menyebutnya bersamaan. Dengan kata dan intonasi yang persis sama. Dia Bumi, aku Bulan.

“Kamu udah pernah nanya ini.”

“Biar kamu ngga lupa jawabannya.” katanya, dengan ekspresi yang sama. Menyenangkan. Jawaban itu memang jawaban yang terlontar dari bibirnya kala itu, beberapa bulan sebelum akhirnya kami resmikan hubungan kami di 17 Agustus 1998, saat kami masih duduk di bangku SMA, saat upacara 17 agustus, di barisan tengah. Aku berdiri di barisan perempuan paling belakang, ia berdiri di barisan lelaki paling depan, tepat di belakangku.

Iya. Hampir 18 tahun yang lalu. Klasik. Penuh kenangan.

“Ngelamun mulu.” suara berat datang, membuat bahuku tersentak. Suamiku.

“Nanti malam mau makan apa?”

“Capcay udang enak kayaknya.” Ia tersenyum, dengan senyum yang khas yang memunculkan satu lubang di pipi sebelah kanannya, orang pertama yang membuatku keheranan. Ternyata lesung pipi bisa cuma ada satu. “Ah! Tambah bakwan jagung.” tambahnya kemudian.

Aku segera membuat list bahan yang kubutuhkan untuk membuat capcay udang dan bakwan jagung. Ia bukan tipe suami yang susah makan, sebenarnya. Makan apa saja suka. Eh. Kecuali ikan bandeng. Susah dimakan, katanya. Banyak tulangnya.

***

“Bumi, kamu ngga main sepak bola sama yang lain?” siang itu, di siang yang terik di bulan September, hampir 18 tahun yang lalu, di bangku bambu depan kelas yang langsung mengarah ke lapangan.

“Bosen.”

“Kenapa?”

“Habis mainnya gitu-gitu aja. Lari sambil nendang bola, masukin bola ke gawang lawan, dan yang paling banyak masukin bola ke gawang lawan itu yang menang.”

“Lah emang itu aturannya bukan?”

“Maka dari itu. Membosankan. Segala yang penuh aturan itu membosankan.”

“Tapi tanpa aturan semua ngga akan jelas.”

“Ada teori yang menjelaskan.”

“Teori itu adalah buah pikiran. Buah pikiran tercipta dari aturan. Sistematis.”

“Ngomong sama kamu kayak ngomong sama ilmuan…. Tapi tetep aja, yang begitu selalu membosankan. Coba bisa bikin aturan sendiri.”

“Bisa. Kalau kamu main sendiri.”

“Adam aja diciptakan hidup dengan hawa.”

“Itu tahu. Ngga bisa sendiri kan?”

Percakapan singkat dibumbui adu pendapat yang lucu. Bumi yang kekanakan dan tak mau kalah. Bumi yang selalu bisa membuatku berpikir untuk mematahkan argumennya, meski terkadang memang semudah itu dipatahkan.

“Dara pulaang!” suara yang sangat kukenal muncul dibarengi suara dentuman pintu yang pelan namun mengusik. Anakku. Addara, 8 tahun. Ia menghampiriku, menyalamiku, lalu memelukku. Aku mencium kepala dan pipinya.

“Yayah?”

“Oh iya. Katanya Yayah harus buru-buru ke kantor, Ma.” Ia meletakkan tasnya, aku mengangguk.

“Abang?”

“Mamaaa!” Aku tersentak. Ia, dengan kaki yang mulai jenjang berlari. Si sulung yang selalu penuh semangat. Galendra, 9 tahun. Kulakukan hal yang sama. Memeluk lalu mencium kepala dan pipinya.

“Mamaaaa, tadi abang beli es!” kata si Adik dengan muka jail yang segera dibalas cepat dengan muka khawatir oleh si Abang, “Bohong, Ma!” Aku menahan senyum.

“Jangan bilang-bilang.” Bisiknya pada si Adik.

“Tuh, tuh, Ma!” tak mau kalah, ia tertawa dan berlari sambil menunjukkan lidahnya tanda ledekan. Abang mengejar, Adik semakin kencang berlari.

***

Aku dan Bumi, berjalan bersama setiap pulang sekolah. Terkadang, ia membawa sepeda ontel milik Ayahnya kalau Ayahnya sedang di rumah. Lebih seringnya tidak. Membicarakan banyak hal.

“Kenapa bisa cinta, ya?” katanya seperti berbisik, sore itu, di jalan setapak menuju rumahku. Rumah kami berlainan arah. Kewajiban, katanya, maka tiap hari ia mengantarku pulang.

“Hah?” Aku memandanginya heran.

“Kenapa aku bisa cinta kamu, ya?”

“Emang iya?”

“Emang engga?”

“Mana ku tahu. Kamu yang ngerasain.”

“Kamu engga?”

Dua detik, satu menit, kami hanya diam.

“Aku tahu!” Ia tersenyum. “Karena bulan diciptakan untuk menemani bumi….”

“Kalau engga, nanti ngga seimbang. Pasang surut air laut jadi kacau.” bersamaan lagi, kami lanjutkan. Tertawa, seakan memang itu jawaban yang tepat.

“Iya, jadi bumi harus mencintai bulan. Biar tahu diri.” lanjutnya lagi. Aku tersenyum, tersipu. Bulan akan terus mencintai bumi, tenang saja.

Tersenyum lagi aku, bak terhipnotis tawanya. Ia selalu begitu. Tipe pemikir yang ulum, dan pecinta yang jauh dari kata angkuh. Hangat, melindungi. Kami bertahan lama di bawah atmosfer berwarna biru. Tenteram, damai, nyaman.

Lima tahun, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk beranjak dan pergi. Tanpa alasan, membuat batasan yang jelas terlihat. Katanya, kami berdua tidak ditakdirkan mengarungi lautan dengan kapal yang sama. Percuma, akan tenggelam. Bumi tak lagi membutuhkan bulan, katanya.

 Bumi yang berlari, menjauh meninggalkan Bulan

Apa ia dapat hidup?

Bumi yang pergi, menjauh meninggalkan Bulan

Yakin?

Bumi yang pergi…

Satu detik, dua detik, lima menit, satu hari, dua tahun…

Tak kembali, walau raga utuh

Bumi yang pergi, merelakan Bulan

Atau sebaliknya?

Aku memutuskan untuk menikahi lelaki yang katanya mencintaiku. Aku mengenalnya tak lebih dari dua bulan, sebelum akhirnya ia melamarku. Kami bertemu di tempat kerja, di tahun 2006. Ia atasanku. Katanya ia mencintaiku, itu mengapa ia memberanikan diri datang memintaku.

Aku tidak mengelak, tidak ingin berdebat.

Tidak ingin menunggu.

Aku merelakan.

Bumi tak kembali. Aku tahu raganya masih menyimpan hangat. Bahagianya, aku tahu. Ia belum menikah katanya. Bumi tak mencari, pun menambatkan hatinya, katanya. Ia ingin sendiri, entah sampai kapan.

Bumi, yang tak akan lagi menemukan bulannya. Atau karena tidak mencari?

Bumi yang memutuskan untuk pergi.

Bulan tak tahu. Tahunya hanya sebatas pengorbanan Bumi yang membuat Bulan bahagia, walau tanpanya.

Bumi, sampai kapan pun akan mengalah pada takdir,

pada bahagianya.

Aku tak menyesal, sekalipun. Aku bahagia dengan suamiku. Ia awanku, yang membatasi beda aku dan bumi. Ia membuat bumi tak terlihat, terlupakan perlahan. Ia membantuku menyembunyikan bumi dari pandangan. Awanku, sekatku pada bumi. Awanku yang rela mematut janji dan menunggu hingga aku menjadikannya duniaku.

Awanku, yang menganggap bahagiaku adalah bahagianya.

Awanku, yang perlahan menerobos masuk, dan aku tak berharap ia keluar.

Aku mencintainya.