Jika Kau Menginginkanku

Jika kau menginginkanku…

Siapkah kau tuk jadi yang pertama? Merengkuh tubuh ini dengan kecupan tiada ampun.
Menjadikan bibir ini dapat merasakan sentuh dan hangat.
Menjadikan pinggang ini selayaknya pengait ketika berjalan bersama.

Jika kau menginginkanku…
Siapkah kau untuk kucinta tiada habis?
Siapkah kau tuk kuberi segalanya?

Jika kau menginginkanku…
Siapkah kau untuk menjaga dan tak pergi selayaknya burung terbang yang setia pada angin?

Jika iya…
Pastikan kau benar-benar menginginkanku..
Maka kita harus berjumpa dan bercumbu manis semanis kopi dengan susu yang diseruput malam-malam…

Biarkan Aku Terbang

024515e75bbcdc332e14c1a42a3ecc68

Biarkan aku terbang ke angkasa, lalu tak pernah kembali.

Namaku Mikhayla. Umurku 23 tahun. Aku bekerja di salah satu institusi pendidikan di Jakarta….

Aku Mikhayla. 23 tahun dan sedang menangisi pedih saking merinding di puncak sepi yang dingin. Ya. Namaku Mikhayla, yang tak pernah bisa meninggalkan gincu  merah yang selalu menempel di bibir. Gaya artisku, katanya.

Aku bukan wanita yang terkenal. Aku buta, selalu buta akan sentuhan. Sebab aku tak pernah mengerti bagaimana cara sentuhan bekerja menjalari tubuh lalu menjadi sebuah cinta nan tulus,  selain gairah.

Aku selalu haus akan bayang bercinta di malam remang dalam ruang sempit,  sembari kaki terangkat ke tembok saat penetrasi. Menghasilkan kenikmatan mendalam tanpa ruang untuk beralih.

Namaku Mikhayla. Sesosok sumbu yang jika terbakar akan memancarkan kobaran nestapa juga perih saking murahnya kujual harga diri.

Aku Mikhayla, yang berharap dicumbu oleh laut pasang yang datang tak setiap hari. Menghasilkan desir halus pasir pantai yang ditodong ombak laut asin.

Di sana aku akan bercinta, bercumbu satu malam dengan bulan nan kusanjung seperti idolaku sendiri. Ya. Idola yang jago bermain lidah serta goyangan pinggang membuat tak ada celah antar selangkang, lalu mampu membuat mani memuncrat.

Kau, bulan. Di malam ke-21 itu pada akhirnya kita memutuskan untuk berkelana menyerang tubuh telanjang satu sama lain, lalu bak anjing gila kau memangsa seluruh tubuhku mulai dari leher, dadaku yang tak seberapa besar, hingga kemaluanku yang masih rapat.

Kau yang pada malam itu akhirnya membuatku terbuai dengan tatapan singa lapar.

Aku hanya kelinci imut nan polos, malam itu, namun akhirnya berhasil kau buat basah juga dengan liur dan cairan kelamin yang diciptakan untuk menduplikasi kita di masa selanjutnya.

Maka malam itu malam terindah, malam tak pernah kulupa, dan tak ingin kulupa. Kau, daratan yang diharap laut untuk saling bergesekan dan menghasilkan deburan-deburan halus nan dinanti.

Malam itu, malam panjang.

Kau menyentuhku pelan, perlahan, hingga kutak tahu mana waras mana tidak. Hingga akhirnya kubiarkan kau merasuki tubuhku yang masih belum tersentuh.

Kau, malam pertamaku.

Biarkan aku melayang sekali lagi. Biarkan tubuhku kau selami dengan kelaminmu yang tak henti kubayangkan betapa nikmatnya saat ia masuk.

Berilah aku stimulus agar aku dapat bergerak bebas dan menikmati malam lagi bersama engkau. Ralat. Menikmati kelaminmu yang masuk dalam balutan lemak berambut di bawah selangkanganku.

Biarkan aku terbang, sekali lagi. Jangan biarkan aku kembali ke dunia. Agar kulupa caranya berlari. Agar aku tak lelah lagi membayangkan asap kebul yang kubuang demi menekan hasrat bercumbu.

Biarkan ku terbang sekali lagi…

Agar kudapat tidur nyenyak sepanjang hari hingga kulupa bahwa aku harus terbangun tuk tunjukan pada dunia bahwa aku masih kokoh berdiri meski angin melenyapkanku seperti kumpulan debu tak berarti…

Dariku, Mikhayla yang merindukan kelaminmu.

Lantunan Sepi

Aku, lagi-lagi menulis. Perihal sepi yang tak kunjung ramai.

Aku kesepian. Terus saja begini sampai lupa. Tapi rasanya terus-terusan dan belum habis sepinya, maka aku belum lupa.

Maka sepi masih dirasa.

Adakah satu waktu yang adil? Yang mempertemukanku dengan ramainya malam tanpa kelam.Yang membasuhiku dengan deringan rasa bahagia saking terlalu keras tertawa. Yang membawaku pada pengharapan: aku tak akan pernah sendiri lagi.

Punggungku kelu berharap ada yang paham bahwa ia butuh usap, begitupun rambut yang selalu kutata serapih mungkin, juga bibir yang selalu kujaga kelembabannya.

Adakah satu hari yang adil?

Aku kesepian.

Aku butuh perangai. Agar sepi mampu kusamar. Apa lagi?

Adakah satu hari yang adil?

Satu hari saja, agar aku tak menangisi kepedihanku sendirian.

Adakah satu hari yang adil?

Yang membuatku merasa dunia selalu baik, tak pernah kejam.

Adakah satu hari yang adil?

Jika iya,

biarkanlah ramai rasa di dada dengan debaran kata,

“Terima kasih, Tuhan.

Aku tak sendiri lagi.”

Peluh: Imajinasi.

kb_Wall_Josephine-Love_is_in_the_Air

Source: HERE!

Jenjang tubuhnya kusentuh lemah. Pelan, dari atas ke bawah. Ia masih tertawa, sambil meninju dadaku manja. Ia, perempuan manis berwarna rambut denim, rambut yang menjadi trend di tahun ini. Pikir dan tampilannya yang berbeda, membuatku jatuh cinta bukan kepayang.

Rias di wajahnya nampak tipis, tak mampu menutupi merah pipinya kala kusentuh bagian depan tubuhnya. Indah, wangi tubuhnya membuatku terkecoh. Cantik macam apa ini? Manusia atau malaikat? Meski kutak yakin seberapa indah wajah malaikat, yang di depan mataku kini nampak begitu bersinar.

Kurengkuh tubuhnya, kusalami dengan kecupan lembut.

“Ahh…” pekiknya.

Matanya memejam, napasnya mulai terbata. Kugalakkan kecupan, meninggalkan bekas merah pada tubuhnya. Leher, bagian yang paling kusuka. Sedap wanginya semakin menusuk, begitu memacu adrenalin, membuat tubuhku semakin terasa mendidih.

Oh…

Ia, wanitaku kini berbalik. Tubuhnya di atasku kini, begitu menikmati kecupannya pada tiap bagian tubuhku. Dengan pola sama. Dari atas ke bawah membuatku berdesis geli tak karuan. Kecupan macam apa ini?

Aku berbalik, tak tahan akan perlakuan baiknya padaku.

“Sekarang?” Aku menatap mata kecilnya yang sayup-sayup, sambil memindahkan poni tipis yang menutupi sebagian wajahnya. Benar. Aku ingin menikmati pipi merahnya.

Ia mengangguk, memberiku pintu masuk merasuki tubuhnya.

“Aaaah…” kami meraung, merasakan begitu hebatnya memasuki tubuh satu sama lain. Maju, mundur. Kurasakan sentuhan lembut bagian tubuhku yang menempel padanya, membuatku tak dapat merasakan apapun kecuali tautan tubuh kami yang bak tak mau lepas.

Aku memeluknya, ia mencengkram tubuhku hebat. Kuciumi bibirnya, lehernya, dadanya. Begitu indah kurasakan debar jantungnya yang begitu cepat secepat debarku. Kami bukan berlomba. Kami bekerja sama menyatukan irama kenikmatan dalam satu atmosfer yang sama. Langit malam.

Erangannya semakin kuat, membuatku tak ingin beranjak. Membuatku semakin tertantang untuk memenangkan permainan ini. Permainan yang membuat candu pemainnya.

“Kam…..hu…can..thik..” terbata, aku mengucapkannya selayaknya lelaki yang sedang hangover terlalu banyak minum vodka. Ia jawab dengan raungan, dengan matanya yang dipejamkan membuat dahinya berkerut, dengan bibirnya yang mengeluarkan nada indah pembangkit adrenalin.

“The…rusin?” lagi, dengan mata setengah memejam dan rambut yang perlahan basah, aku bertanya padanya.

“Jang…han…berhenti. Ceph…etin.” jawabnya, tak kalah melayang. Lampu hijau menyala, kupercepat tempo peraduan kami, membuat suara kami semakin beringas, bukan lagi berupa desisan.

“Ma..hu..kheluar.”  entah sudah berapa lama, rasanya titik tumpu hidupku saat ini ingin memuntahkan seluruh isinya. “Bha….reng!” Ia mengangguk pasrah, tak kuat lagi berkata-kata.

“Aaaaaaaah!” erangan panjang itu, disertai tangannya yang menjambak lembut rambutku, juga pelukan eratku padanya sambil merasakan sisa-sisa buaian detik itu, akhirnya mengakhiri peraduan panjangku dengannya, perempuan manis berwarna rambut denim.

Peluh menetes, kurasakan seketika tetesannya di paha kananku yang telanjang. Kusapu lembut sisa kenikmatan malam itu dengan tissue yang selalu bertengger manis di sebelah kiriku, lalu kubuang ke tempat sampah di pojok dekat pintu. Kutekan tombol kecil di atas toilet perlahan. Air keluar, lalu disedot kembali.

“Kurang lama, Bang!” kaget, kudapati adik kecilku meyambut di depan pintu.

“Sakit perut. He.” aku tersenyum padanya, sambil memegangi perutku, berpura-pura.

“Sakit banget ya, Bang, sampai basah gitu kepalanya.”

“Ba-nget.” aku tersenyum lagi, meminta pengertiannya.

Aaaah. Aku bisa tidur nyenyak malam ini!

Peluh: Keyakinan Macam Apa.

Aku selalu bangun di tengah malam. Terseok, seperti diselimuti hampa maka berat tuk beranjak.

Mengelabui pagi, maka aku terjaga hingga kantung mata menghitam. Apa ini kesepian?

Dibuai oleh masa lalu, maka aku mengenang. Sampai kapan?

Sepi. Kenangan. Maka tinggal menunggu mati.

Berpeluh minyak di wajah tanda tak pandai merawat diri. Ya. Tak ada yang membuat hati begitu sayang pada diri sendiri.

Berpeluh debu, maka semakin kusam. Mana ada yang ingin menoleh?

Tak apa.

Peluhku menerjam keras masa sekarang ditambah bayangan masa lalu akan terbayar segera.

 

Peluh: Main Kata.

Peluh.

Dipeluh, peluh, peluh *gaya tukang kemoceng pinggir jalan. PILIH!

Seeepilih tahun sudah *nyanyi. PULUH!

Dipuluh Bang, dipuluuh.. Enak, Bang. Asik, Bang. Dipuluuuh *nyanyi. BELAH!

Belah kasih. BELAS!

Adek gue belas tiga SMA. KELAS!

Kelas balik. KILAS!

Biasa aja, kilas. KELES!

Keles ah, mau bobo! KESEL!

Peluh: Gergaji.

Lagi-lagi kugaruk batangnya dengan runcingku. Berserat. Mengeluarkan bunyi yang buat dahi menyernyit. Kali ini ukurannya tak seberapa besar, tajam runcingku terselamatkan. Namun, ah, batang ini sedikit basah, membuatku terpeleset beberapa kali.

Tersengal, tangan di ujung tubuhku berhenti. Mengambil napas sedalam yang ia bisa, kemudian mengesap kuat rokok di tangan kirinya. Tangan kanannya masih setia memegang ujung tubuhku.

Ia menggerakkanku lagi. Maju, mundur. Membuat gusi runcingku beradu dengan batang berserat ini. Mengeluarkan bunyi, lagi.

“Pak tua!” aku terhenti, tangan itu melepasku, membuatku terkapar di atas pahanya. “Sudah malam. Waktunya kau pulang!”

“Tak apa.” gerakan di dahinya seketika mengeluarkan cairan yang menghujam dingin tubuhku. Peluhnya, jerih payahnya. “Tanggung. Lumayan biar dapat lima ribu lagi.” Ia tersenyum sambil mengatur napasnya. Lagi-lagi lelehan di dahinya jatuh.

Peluhnya, jerih payahnya.