Peluh: Imajinasi.

kb_Wall_Josephine-Love_is_in_the_Air

Source: HERE!

Jenjang tubuhnya kusentuh lemah. Pelan, dari atas ke bawah. Ia masih tertawa, sambil meninju dadaku manja. Ia, perempuan manis berwarna rambut denim, rambut yang menjadi trend di tahun ini. Pikir dan tampilannya yang berbeda, membuatku jatuh cinta bukan kepayang.

Rias di wajahnya nampak tipis, tak mampu menutupi merah pipinya kala kusentuh bagian depan tubuhnya. Indah, wangi tubuhnya membuatku terkecoh. Cantik macam apa ini? Manusia atau malaikat? Meski kutak yakin seberapa indah wajah malaikat, yang di depan mataku kini nampak begitu bersinar.

Kurengkuh tubuhnya, kusalami dengan kecupan lembut.

“Ahh…” pekiknya.

Matanya memejam, napasnya mulai terbata. Kugalakkan kecupan, meninggalkan bekas merah pada tubuhnya. Leher, bagian yang paling kusuka. Sedap wanginya semakin menusuk, begitu memacu adrenalin, membuat tubuhku semakin terasa mendidih.

Oh…

Ia, wanitaku kini berbalik. Tubuhnya di atasku kini, begitu menikmati kecupannya pada tiap bagian tubuhku. Dengan pola sama. Dari atas ke bawah membuatku berdesis geli tak karuan. Kecupan macam apa ini?

Aku berbalik, tak tahan akan perlakuan baiknya padaku.

“Sekarang?” Aku menatap mata kecilnya yang sayup-sayup, sambil memindahkan poni tipis yang menutupi sebagian wajahnya. Benar. Aku ingin menikmati pipi merahnya.

Ia mengangguk, memberiku pintu masuk merasuki tubuhnya.

“Aaaah…” kami meraung, merasakan begitu hebatnya memasuki tubuh satu sama lain. Maju, mundur. Kurasakan sentuhan lembut bagian tubuhku yang menempel padanya, membuatku tak dapat merasakan apapun kecuali tautan tubuh kami yang bak tak mau lepas.

Aku memeluknya, ia mencengkram tubuhku hebat. Kuciumi bibirnya, lehernya, dadanya. Begitu indah kurasakan debar jantungnya yang begitu cepat secepat debarku. Kami bukan berlomba. Kami bekerja sama menyatukan irama kenikmatan dalam satu atmosfer yang sama. Langit malam.

Erangannya semakin kuat, membuatku tak ingin beranjak. Membuatku semakin tertantang untuk memenangkan permainan ini. Permainan yang membuat candu pemainnya.

“Kam…..hu…can..thik..” terbata, aku mengucapkannya selayaknya lelaki yang sedang hangover terlalu banyak minum vodka. Ia jawab dengan raungan, dengan matanya yang dipejamkan membuat dahinya berkerut, dengan bibirnya yang mengeluarkan nada indah pembangkit adrenalin.

“The…rusin?” lagi, dengan mata setengah memejam dan rambut yang perlahan basah, aku bertanya padanya.

“Jang…han…berhenti. Ceph…etin.” jawabnya, tak kalah melayang. Lampu hijau menyala, kupercepat tempo peraduan kami, membuat suara kami semakin beringas, bukan lagi berupa desisan.

“Ma..hu..kheluar.”  entah sudah berapa lama, rasanya titik tumpu hidupku saat ini ingin memuntahkan seluruh isinya. “Bha….reng!” Ia mengangguk pasrah, tak kuat lagi berkata-kata.

“Aaaaaaaah!” erangan panjang itu, disertai tangannya yang menjambak lembut rambutku, juga pelukan eratku padanya sambil merasakan sisa-sisa buaian detik itu, akhirnya mengakhiri peraduan panjangku dengannya, perempuan manis berwarna rambut denim.

Peluh menetes, kurasakan seketika tetesannya di paha kananku yang telanjang. Kusapu lembut sisa kenikmatan malam itu dengan tissue yang selalu bertengger manis di sebelah kiriku, lalu kubuang ke tempat sampah di pojok dekat pintu. Kutekan tombol kecil di atas toilet perlahan. Air keluar, lalu disedot kembali.

“Kurang lama, Bang!” kaget, kudapati adik kecilku meyambut di depan pintu.

“Sakit perut. He.” aku tersenyum padanya, sambil memegangi perutku, berpura-pura.

“Sakit banget ya, Bang, sampai basah gitu kepalanya.”

“Ba-nget.” aku tersenyum lagi, meminta pengertiannya.

Aaaah. Aku bisa tidur nyenyak malam ini!

Advertisements

Peluh: Keyakinan Macam Apa.

Aku selalu bangun di tengah malam. Terseok, seperti diselimuti hampa maka berat tuk beranjak.

Mengelabui pagi, maka aku terjaga hingga kantung mata menghitam. Apa ini kesepian?

Dibuai oleh masa lalu, maka aku mengenang. Sampai kapan?

Sepi. Kenangan. Maka tinggal menunggu mati.

Berpeluh minyak di wajah tanda tak pandai merawat diri. Ya. Tak ada yang membuat hati begitu sayang pada diri sendiri.

Berpeluh debu, maka semakin kusam. Mana ada yang ingin menoleh?

Tak apa.

Peluhku menerjam keras masa sekarang ditambah bayangan masa lalu akan terbayar segera.

 

Peluh: Main Kata.

Peluh.

Dipeluh, peluh, peluh *gaya tukang kemoceng pinggir jalan. PILIH!

Seeepilih tahun sudah *nyanyi. PULUH!

Dipuluh Bang, dipuluuh.. Enak, Bang. Asik, Bang. Dipuluuuh *nyanyi. BELAH!

Belah kasih. BELAS!

Adek gue belas tiga SMA. KELAS!

Kelas balik. KILAS!

Biasa aja, kilas. KELES!

Keles ah, mau bobo! KESEL!

Peluh: Gergaji.

Lagi-lagi kugaruk batangnya dengan runcingku. Berserat. Mengeluarkan bunyi yang buat dahi menyernyit. Kali ini ukurannya tak seberapa besar, tajam runcingku terselamatkan. Namun, ah, batang ini sedikit basah, membuatku terpeleset beberapa kali.

Tersengal, tangan di ujung tubuhku berhenti. Mengambil napas sedalam yang ia bisa, kemudian mengesap kuat rokok di tangan kirinya. Tangan kanannya masih setia memegang ujung tubuhku.

Ia menggerakkanku lagi. Maju, mundur. Membuat gusi runcingku beradu dengan batang berserat ini. Mengeluarkan bunyi, lagi.

“Pak tua!” aku terhenti, tangan itu melepasku, membuatku terkapar di atas pahanya. “Sudah malam. Waktunya kau pulang!”

“Tak apa.” gerakan di dahinya seketika mengeluarkan cairan yang menghujam dingin tubuhku. Peluhnya, jerih payahnya. “Tanggung. Lumayan biar dapat lima ribu lagi.” Ia tersenyum sambil mengatur napasnya. Lagi-lagi lelehan di dahinya jatuh.

Peluhnya, jerih payahnya.

Peluh: Prajurit.

4cab744b4b607cfc0d60c4a25b795a72_XL

Source: Here.

Hujam, lagi kau tikam dengan parangmu yang tajam bekas diasah semalaman.

Hujam, lagi kau robek nadi hingga napas bau rokok menyembul. Tercekat.

Hujam, lagi kau sileti dada bidang di depanmu.

Berpeluh, berdarah, tak henti kau ulangi tugasmu.

Membunuh prajurit dari kubu musuh.

Bersenjatakan sniper, kau tetap berani maju.

Merobek mulut hingga leher terbelah.

Berpeluh, kau tak apa.

Ia terjatuh, kau semakin berpeluh dan bernapas tersengal,
justru membuatmu bangga.