Yakin itu cinta?

6e4909a87686350c015328a6b5e0d677

Source: pinterest.

Kebanyakan orang mendefinisikan cinta sebagai suatu kisah kebersamaan. Di mana ada rasa nyaman di dalamnya, hingga ada satu keputusan “aku ingin memilikinya, aku ingin dimilikinya”. Iya. Kebanyakan cinta didefinisikan sebagai suatu jalinan yang tumbuh di dalamnya rasa ingin membelai, ingin selalu bersama, ingin mendapatkan perhatian darinya… Ingin memiliki.

Begitukah?

Kemarin, ada seorang teman yang memberi sebuah pernyataan yang super banget terkait definisi cinta. Namanya Rizka, teman satu kelas gue di kampus. Menurutnya, cinta itu terlalu spesifik, ngga bisa digeneralisasiin. Tiap orang punya definisi cintanya masing-masing. Dan tugas kita di dunia adalah untuk menemukan definisi cinta kita masing-masing.

Lalu bagaimana kamu mendefinisikan cinta?

Gue sih masih mencari definisi yang sesuai untuk diri gue sendiri, jujur saja. Sepengamatan gue sebagai orang yang hanya memiliki setitik pengalaman dalam bercinta, cinta itu ya… seperti yang sudah gue sebutkan tadi. Ingin memiliki, ingin merasa dimiliki… oleh orang yang kita cintai.

Buktinya?

Ada yang namanya “pacaran”. Kalau sudah pacaran, seseorang cenderung merasa bahwa pacarnya ya… one step closer lah untuk menjadi miliknya (bahkan ada yang bener-bener sampe men-cap pacarnya sebagai miliknya). Ia akan menjadi lebih protektif. Penasaran keberadaan pasangannya, penasaran apa yang sedang dilakukan pasangannya, penasaran pasangannya berhubungan sama siapa aja.. Wah jadi serba penasaran pokoe. Begitu kan? *nanya sama orang yang lagi pacaran*

Satu bukti lagi.

Pernikahan. Ini bukti paling konkret dari mencintai, menurut gue. Ketika kamu ingin menghabiskan waktu bersama pasanganmu sampai tak ada lagi yang dapat memisahkan kalian berdua kecuali kematian. Saat kamu ingin menciptakan bibit-bibit unggul hasil pergulatan semalam dengan pasanganmu, dan kamu ingin mendidiknya sepenuh hati, karena itu bukti cinta kalian berdua, dan kamu bertanggung jawab untuk menjaganya.

Di atas versi jujur, versi yang tidak menantang norma.

Lalu bagaimana kalau orang yang kamu bilang mencintaimu, tidak melakukan dua hal di atas? Atau… Kalau kamu bilang mencintainya, namun kamu tidak melakukan dua hal di atas?

Itukah cinta?

Ketika kamu ingin menciumnya setiap saat, tapi kamu tidak ingin bersamanya karena kamu bukan orang yang ingin terikat?

Ketika kamu ingin selalu dekat dengannya, namun rasa-rasanya kamu tidak tertarik dengan bokongnya?

Ketika kamu menjadikannya kekasihmu, namun kamu selalu merasa kosong?

Apakah itu cinta?

Well, we’re gonna discuss that things above now!

***

Cinta memilki tiga komponen yaitu intimacy, passion, dan commitmet (Sternberg, 1988). Gampangnya, intimacy adalah “Oh, kita dekat deh kayaknya. Kamu bisa mendengarkan aku, kamu care, aku merasa kamu perhatian”. Passion itu… “Omaygattt! Aku ingin melumat bibirmu yang merah dan basah. Aku ingin menciumi tengkukmu yang wangi. Aku ingin mencumbumu di atas sofa tempat biasa kita nonton film bersama.” Sedangkan komitmen… “Oke, aku berjanji akan mencintaimu tiap saat, dalam keadaan apapun. Aku akan berusaha untuk selalu bersamamu sepanjang hidupku.”

Got it?

Intimacy atau keintiman adalah rasa ketika kita merasa dekat dan terikat secara emosional, passion atau gairah adalah daya tarik seksual, sedangkan commitment adalah keputusan untuk saling bersama mempertahankan satu sama lain.

Jadi cinta harus selalu punya tiga komponen itu? Tentu tidak. Ini yang akan kita bahas. Menurut Sternberg, berdasarka tiga komponen yang sebelumnya sudah dibahas, terdapat tujuh tipe cinta.

1484126805589

Triangular theory of love by Robert Sternberg (1988)

Liking

Liking atau menyukai hanya melibatkan satu elemen, yaitu intimacy di mana ketika kamu menyukai seseorang, kamu hanya merasakan kedekatan secara emosi saja. Kamu hanya merasa dia perhatian pun kamu juga perhatian kepadanya, kamu merasa kalian dekat karena sering bercerita satu sama lain. Di luar itu, kamu tidak memiliki hasrat untuk making love with him/her, pun tidak memiliki keinginan untuk bertahan bersamanya menghabiskan sepanjang hidup bersama.

Biasanya, orang yang berteman atau bersahabat memiliki tipe cinta ini.

Empty Love

Cinta yang kosong. Hanya ada keinginan untuk mempertahankan kebersamaan namun tidak ada komponen keintiman dan gairah seksual di dalamnya. Cinta yang begini nih yang awalnya gue pikir bukan cinta. Tapi ternyata ada cinta jenis ini.

Hm… Siti Nurbaya, mungkin mengalami cinta tipe ini. Atau siapapun yang dijodohkan paksa maybe? Ketika kamu tidak mencintai orang yang dijodohkan denganmu, apalagi memiliki keinginan untuk tidur bersamanya, tapi kamu tetap bertahan demi mempertahakan nama keluarga, bisa jadi cintamu jenis ini.

Infatuation

Wow. Tipe ini ada rupanya. Dalam tipe ini, hanya ada komponen passion aja, di mana ia hanya menginginkan seseorang untuk dicium, dicumbu, diunyel-unyel pokoe untuk memenuhi kebutuhan seksualnya saja.

Tipe ini bisa kita temukan pada orang yang suka fwban (Friends with Benefit) atau one night stand. Kebayang? Ini termasuk cinta juga lho.

Companionate

Orang yang mencintai dengan tipe ini memiliki dua komponen cinta, yaitu intimacy dan commitment. Ketika kita merasa memiliki kedekatan yang sangat dengan pasangan, lalu kita memiliki komitmen untuk tetap bersama pasangan kita, namun kita tidak memiliki dorongan seksual untuk mencumbunya.

Tipe ini kerap dialami oleh mereka yang sangat cinta keluarga, di mana orang dengan tipe ini akan mempertahankan kedekatan dan komitmennya dalam membangun hubungan baik dengan keluarganya yang lain.

Tipe ini juga bisa terjadi pada teman yang sangat dekat sekali.

Fatuous Love

Hanya ada passion dan komitmen dalam cinta tipe ini.

Contohnya… sudah menikah, tapi hanya memikirkan gimana caranya menyalurkan hasrat seksual (maka itu dia harus menikah), tapi dia ngga pernah memikirkan perasaan satu sama lain. Secara emosi mungkin dia tidak mengenali siapa pasangannya.

Romantic Love

Ada kedekatan emosional dan ada gairah. Aku tahu kamu, kamu tahu aku. Aku ingin mencumbu kamu, kamu pun.

Cinta tipe ini biasanya terjadi pada mereka yang HTS, atau seseorang yang sudah menikah, tapi selingkuh terus selingkuhannya ngga diakui (dia sama selingkuhannya ini yang tipe cintanya romantic).

Consummate Love

Ini dalah bentuk yang sempurna dalam cinta. Tipe ini merepresentasikan hubungan yang ideal. Karena untuk mencintai secara sempurna, kita harus merasakan kedekatan emosi, memiliki gairah, pun rasa tanggung jawab untuk bersama-sama menjalani hidup.

Cinta sejati, mungkin ya, namanya.

Mungkin emak babeh kita tipe yang ini? Atau kakek nenek kita?

***

Iya. Jenis-jenis cinta yang sudah dijabarkan di atas bisa jadi membantu pembaca sekalian untuk mendefinisikan cinta sesuai dengan yang kamu alami. Bisa juga menjawab pertanyaan, “emang ini cinta ya?” Analisis saja dengan tiga komponen yang sudah dengan sangat apik dijelaskan oleh Sternberg.

Buat kamu yang nyaman sama dia, lalu kamu merasa ingin menciumnya juga menjaga hatinya, ingin terus bersamanya hingga akhir hayat, bisa jadi kamu dan dia adalah gambaran kesempurnaan cinta.

Tapi buat kamu yang ketika bersamanya hanya ingin membahagiakan dia karena dia mati-matian mencintaimu, dan kamu tidak merasakan kepuasan yang haqiqi ketika bercinta dengannya, hati-hati… jangan-jangan itu hanya cinta yang kosong saja.

Well, sudah menemukan jawabannya?

Jadi yakin itu cinta?


Source:

Triangular Theory of Love.

Advertisements

Thought: What Do You Think About Love?

af0sf2os5s5gatqrkzvp_silhoutte

Source: this.

Well, hari ini gue sedang diberi dorongan untuk berpikir lebih, jadilah tulisan ini yang sesungguhnya gue sangat tidak suka membahasnya. Yay, I like to write about sexuality more than this fucking cheesy word I ever heard: love.

Gue bukan ngga percaya cinta, sih. Gue hanya tidak sedang percaya. Lebih tapatnya, setelah mengetahui beberapa kegagalan cinta yang orang terdekat gue hadapi, pun gue, dan itu semua membuat gue bertanya-tanya apa itu cinta.

Dan OK, mari kita mulai!

“Love is a force of nature.”

Deborah Anapol, PhD

That’s not about peeing or defecating, like we used to do in everyday morning routines. Love is a different ‘force’ that we have to others in our life… 

Katanya cinta itu bisa bikin buta. Not in physical, but beyond our mind.  Cinta yang akan kita bahas konteksnya adalah cinta ke sesama manusia ya, bukan ke makhluk selain manusia, karena akan berbeda.

Ketika kita mencintai seseorang, dunia kita akan cenderung mengaitkan diri ke dunianya. Kita akan berusaha menyesuaikan diri kita dengan dirinya. Ngobrol, chatting, makan bareng, apapun bareng deh, dengan harapan akan lebih bisa menyesuaikan diri dengan orang yang kita cintai.

Ketika kita mencintai seseorang, kita akan mengeluarkan segala usaha untuk mendapatkan perhatiannya. Lewat chat yang jarang sekali gue lakukan, seperti bertanya, “hai kamu apa kabar? lagi ngapain? lagi dimana? udah sholat? udah makan?”

Ketika kita mencintai seseorang… dia, orang yang kita citai akan menjadi satu-satunya tokoh utama dalam hidup kita di dunia, mengalahkan diri kita sendiri. Tak heran, orang yang sedang dimabuk cinta rela mengluarkan air matanya untuk menangisi orang yang dicintai ketika ia telah tiada.

Kalau ngga ketemu, rasanya rindu. Kalau ngga berkabar, khawatir sampai rasanya dada sesak kehabisan napas pengen mati. Kalau liat dia sama orang lain rasanya ingin membunuh saja dirinya dan orang itu. Kalau lihat dia cuek, rasanya ingin berakhir saja dunia.

Gitu ngga sih?

Cinta itu bukan perkara dia ada untuk kita cumbu tiap saat. Bukan perkara hadirnya untuk kita unyel-unyel tiap saat. Bukan perkara harus jalan bareng kemana-mana tiap saat. Bukan perkara harus kangen-kangenan tiap saat.

Itu hanyalah bumbu dalam cinta.

Cinta itu ketika kita dapat menerima dia beserta hidupnya.

Apakah kamu menerima dia yang pengangguran untuk menjadi pasanganmu? Apakah kamu menerima dia yang tidak bisa masak menjadi pasanganm? Apakah kamu menerima dia yang hobi hura-hura menjadi pasangan hidupmu? Apakah kamu menerima kelauarganya yang berbeda status dengan keluargamu? Apakah kamu menerima dia yang cuma bisa tidur-tiduran di kasur sebagai pasangan tidur malammu?

Logis.

Cinta itu bicara masa depan. Kalau kamu tidak memikirkan masa depan dengan pasanganmu, jangan pernah kamu sebut itu cinta. Mungkin kamu hanya ingin kelaminnya, mungkin kamu hanya ingin bibirnya yang jago melumat kelaminmu, mungkin kamu hanya ingin pantatnya untuk kamu sakiti dengan kelaminmu, mungkin kamu hanya ingin lidahnya yang lihai menari di atas payudaramu.

Logis.

Cinta bukan hanya perkara seks. Cinta itu logis. Orang yang mencinta aja yang kadang ngga logis. Bego.

Mengibaratkan seseorang menjadi segalanya dalam hidup. Pas pasangannya ketahuan main sama orang lain, baru aja gelimpungan, kayak pengen mati.

Kalau pakai logika, pacar ketangkap basah selingkuh, ya udah. Putusin aja. Evaluasi diri. Siapa tahu memang diri kita tidak mampu membuat dia puas. Siapa tahu memang kelamin selingkuhannya lebih sempit dan/atau lebih panjang dan besar. Siapa tahu memang lebih menjanjikan masa depan.

Logis.

Tapi cinta bukan hanya perkara logika. Cinta itu pakai perasaan. Kalau cinta hanya perkara logika, pacarmu akan meminta ganti uang bensin tiap kali selesai mengantarmu pulang. Pacarmu akan meminta ganti rugi kakinya yang pegal dan keringat yang keluar dari dahinya kala kau mengajaknya pergi menyusuri jalanan kota.

Pacarmu akan meminta kembali perawan yang sudah kamu ambil. Pacarmu akan meminta bayaran tiap sodokan kelaminnya ke kelaminmu. Pacarmu akan menuntutmu terus untuk hal yang tidak kamu suka.

Tapi bukan begitu kerja cinta, yang gue tahu dan sudah gue rasakan.

Cinta itu lebih membingungkan dari permainan rubik (bener ngga sih ini namanya?) yang bahkan gue tidak pernah sekalipun berhasil memainkannya. Susah emang orang yang ngga punya logika kek gue. Haha.

Cinta itu menyebalkan. Rasanya ingin memaki diri sendiri ketika tidak mampu membahagiakan orang yang kita cinta. Rasanya ingin yasudahlah, toh dia sudah pergi bersama orang lain. Da aku mah apa atuh?

Cinta itu… gue ngga ngerti lagi deh. Cinta itu membingungkan. Mau pergi karena dia ngga cinta balik sama kita tapi kita cinta mati-matian sama dia dan dia membutuhkan kita, dan yaudah kita ngga bisa apa-apa selain tinggal. Mau marah ke dia karena ngga perhatian, tapi kasian mukanya capek ngurusin skripsi, yaudah ngga jadi marah.

Mau bilang cinta sama seseorang, tapi dianya udah punya.

Mau bilang putus, tapi yaudahlah coba lagi aja.

Mau bilang, maukah engkau menikah denganku, tapi keluarganya ngga sepakat.

Sebingung itu cinta.

Dan gue sedang bingung sekarang. Beneran bingung, ngga bohong. Kenapa ada lagu dengan lirik, ‘cinta ini kadang-kadang tak ada logika’? Mengapa ada pasangan menikah pun bahkan yang belum menikah masih tetap bertahan dengan pasangannya walau sudah disakiti berkali-kali? Mengapa ketika dia meghianati kita, jelas-jelas jahat banget menghianati kita, kita masih saja rindu sosoknya?

Dan gue rasa gue sudah tidak terlalu mampu berpikir. Tapi gue akan cari jawaban dari pertanyaan, why is love so confusing?

Tapi sebelumnya…. what do you think about love?

I’m open-minded enough, kok. So, if you wanna discuss something related with this post, just chat me okk?!


Source:

What is Love and What isn’t it? from click to open.

Apa yang kamu pikirkan tentang pernikahan?

cara-mengelola-keuangan-keluarga-baru-menikah

Source: HERE!

Di postingan kali ini gue akan banyak mengungkapkan pendapat gue terkait pernikahan. Buat kamu dengan usia 20-an tentunya sudah harus mulai memikirkan ini yagaksih?

Dan. Hal ini yang benar-benar mendasari beribu pertanyaan di otak gue. Pernikahan.

Bicara pernikahan, kita ngga hanya akan bicara mengenai satu hal. Tapi berbagai hal. Yang terduga maupun tidak. Yang bisa dibayangkan maupun tidak. Yang positif maupun tidak. Pun bukan hanya bicara satu orang. Tapi banyak.

Tanyakan ini pada dirimu masing-masing sebelum memutuskan untuk menikah.

Pertama. Untuk apa kamu menikah?

Kalau hanya untuk memenuhi kebutuhan kelaminmu saja lebih baik kamu cari teman yang bisa diajak ena ena. Media online banyak. Kamu bisa menemukan orang dengan interest yang sama. Chatting sama stranger, ketemu, bercinta satu malam. Urusanmu akan selesai seketika. Jangan memaksakan menikah atau kehidupan rumah tanggamu akan seperti sayur asam yang tidak asam. Mana greget?

Kalau untuk memenuhi permintaan orang tua, lebih baik kamu suruh orang tuamu saja yang menikah.

Kalau agar tidak digunjing lagi sama tetangga karena jadi perjaka/perawan tua, lebih baik kamu sering-sering main keluar rumah.

Kalau untuk memenuhi sunnah rasul? (wait. nikah itu sunnah rasul apa kewajiban?) Jawaban ini mungkin sedang trend seiring pertambahan penduduk dan kampanye “pantaskan diri” dari berbagai pihak, juga istilah ta’aruf yang marak diperbincangkan juga oleh banyak perempuan muda. Versi lelakinya hanya tahu sedikit dari seeorang haha.

Untuk konsep ini gue tidak paham (atau tidak mau paham?), jadi gue akan membahasnya dari perspektif lain. Semua tergantung perspektif, bukan? Gue akan mengungkapkan isi kepala gue, jika ada yang ingin meluruskan menurut perspektif manapun, gue terima. Tapi memang perlu gue garis bawahi dengan keras, gue penganut paham liberal. Sangat terbuka pada arus globalisasi, mengutamakan kebebasan berpikir dan berekspresi, individualis (kalau ini sih lebih ke “maunya sih”).

Inti dari pertanyaan pertama, sejauh kamu memandang masa depan yang ingin kamu ukir dalam sejarah hidupmu, kamu perlu tahu terlebih dahulu tujuanmu untuk menikah itu untuk apa. Kalau kamu sama sekali tidak bisa menjawabnya karena kebingungan, lebih baik kamu urungkan dulu keinginanmu untuk menikah.

Cari tahu dulu untuk apa. Tentukan tujuan, keluarannya akan seperti apa, serta planning cara mencapainya gimana. Bikin matriks kalau perlu. Sekalian indikator WK.

Tapi benar. Untuk kamu orang yang idealis kadang ngga realistis seperti gue, rasa-rasanya membuat matriks untuk perancangan kehidupan pernikahan dirasa perlu. Karena dengan itu kamu jadi tahu di mana letak ke-tidak-realistis-an pikirmu, dan kamu bisa sedikit berbelok.

Bocoran sedikit, gue pun begitu. Nyesek sih. Tapi itulah hidup. Akan berbeda antara ideal dan realistis.

Di sini kita akan bicarakan idealnya. Realitanya tergantung diri masing-masing inginnya seperti apa. Dan silahkan wujudkan. Kalau gue sih ngga sekarang.

Yang perlu selalu diingat ketika keinginan menikah seringkali muncul seiring sexual drive yang menggebu-gebu, pernikahan bukan hanya berbicara tentang satu hal, sekali lagi. Bukan bicara kesenangan kelamin semata, bukan bicara kesenangan pasangan semata, orang tuanya, keluarganya, teman-temannya, tetangga, anak-anak yang dilahirkan nanti, tapi semuanya.

Kedua. Siapkah kamu untuk tidak lagi menjadi dirimu sendiri? Sepenuhnya menjadi diri yang mungkin sebelumnya bukan kamu?

Pada mertuamu nanti, kamu harus menunjukkan sisi terbaikmu. Jika kamu perempuan, kamu harus pintar masak, harus pintar cuci baju, harus keibuan… idealnya sih gitu, menurut para ibu-ibu dengan anak lelaki. Ralat. Menurut gue jika gue jadi ibu dengan anak lelaki. Ada yang mau punya menantu perempuan yang ngga bisa masak? Yang ngga bisa ngurus rumah tangga? Ngurus anak? Anjir nyusahin.

Jika kamu perempuan seperti itu, silahkan berkaca dan tanyakan: “Pantaskah saya menikah?”

Kan ada pembantu? Ya. Kalau kamu kaya dan suamimu bisa bayar pembantu mah sok aja. Tapi jadi perempuan yang ngga bisa apa-apa malu kali. Ngga berguna rasanya hidup. Lagi pula, dengan kamu yang ngga bisa apa-apa, nantinya kamu akan menciptakan pribadi yang ngga bisa apa-apa lagi.

Untuk lelaki juga sama. Harus punya penghasilan untuk memenuhi kebutuhan istri dan orang tua. Tanggung jawabmu bertambah jika kamu menikah, wahai lelaki. Pengeluaran bukan hanya sekedar untuk beli rokok atau pulsa internet. Tapi tagihan listrik, cicilan mobil, cicilan rumah, uang sekolah anak, lipstik istri, bedak istri, bedak anak, make up istri, tunjangan untuk orang tua, pecingan untuk sanak saudara, daaaann banyak. Udah punya duit? Udah punya bekal untuk cari duit?

Kamu juga tidak bisa hura-hura lagiHidupmu sepenuhnya harus kamu dedikasikan untuk anak dan keluargamu. Kamu harus jadi full-time-mother/father agar anakmu merasakanmu. Buat yang memutuskan untuk bekerja, silahkan siasati caranya agar anak-anakmu tetap merasa punya orang tua. Di sini yang gue maksud bukan uang. Tapi afeksi. Perhatian, kasih sayang.

Kamu juga harus pintar-pintar meregulasi emosimu di depan anakmu. Ah. Juga pasangan. Jangan sampai anak-anakmu melihat kamu bertengkar dengan pasangan, pun orang lain. Kalau iya, kamu hanya akan menanam benih kekecewaan dan perasaan tidak nyaman dalam diri anakmu. Kamu hanya akan mengajarkan cara meneriaki maling, pada anakmu. Dengan judge, dengan bentakan, dengan gumpala tangan siap memukul.

Jangan juga sering-sering menampakkan muka sedang tidak mood. Muka kesal, muka mengamuk siap memaki, muka diam, muka cemas. Kamu harus bisa menanggapi anak-anakmu dengan baik dan bijaksana. Kalau di umur 20-an masih sulit meregulasi emosi, lebih baik kamu belajar. No. Kita sama-sama belajar.

Perlu ditekankan. Hal kedua setelah kamu menentukan tujuanmu untuk menikah. Masih satu subbab siap menjadi orang lain atau tidak, yaitu: Siapkah kamu berhadapan dengan anak-anak hasil peraduan antara kamu dengan pasanganmu nanti? Itu tadi. Segala tingkahmu, apapun itu bisa jadi stimulus yang siap membentuk pribadi anakmu. Kamu harus hati-hati bersikap dengan anak-anakmu agar anak-anakmu menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan dicintai masyarakat.

Kalau tidak?

Kasus MBA banyak. Narkoba, miras, sex party, tawuran, bullying, pembunuhan, pemerkosaan. Banyak. Dan gue belum tahu secara pribadi bagaimana menanggulanginya. Ya. Sampai sekarang pun gue masih mempertanyakan diri gue terkait kesiapan memiliki anak, pun kesiapan menikah, jujur aja. Anjir jujur banget.

Anak itu ibarat tabung kosong siap dimasuki apapun. Dia meniru perilaku orang di sekitarnya. Kalau kamu belum siap menjadi orang tua, ke depannya kamu akan merasa selalu kewalahan ngurus anak. Mukamu cemberut aja tiap dia rewel ngga bisa diem. kamu marah, dan impactnya… wah macem-macem.

Kamu juga harus bijak mengontrol apapun yang dimiliki anakmu. Kamu harus pandai memilah-milah barang yang dia inginkan apakah baik untuknya atau sebaliknya. Kamu harus punya kontrol pada anakmu. Kamu harus tegas BUT jangan sampai membuat dia menjadi tidak mandiri. Susah ya? Gue sih ngebayanginnya susah.

Anak semakin besar mintanya semakin segala macem. Gimana kita memberikan kebijakan dan membuat dia bertanggung jawab itu susah. Minta beli hp, besok temennya megang laptop eh dia minta laptop. Temennya naik motor, dia minta motor. Besoknya lagi temennya bawa mobil, dia ikutan pengen bawa mobil.

Gimana? Turutin jangan?

Dan yang terpenting. Penting banget. Sebelum kejauhan bahas cara mengurus anak yang sebenarnya gue cuma sok tahu aja bahasnya dari tadi, kamu juga harus persiapkan diri kamu untuk menghasilkan bibit unggul.

You know…. pendidikan, kesehatan baik fisik mental, agama kalau bagimu itu penting, pemahaman akan norma sekitar…

Rahim wanita bukan hanya tempat tempel benih, begitupun sperma lelaki bukan hanya ibarat sampah yang bisa dibuang di mana pun secara bebas. Bahkan sampah pun ada tempat pembuangannya.

Perlu dijaga kekuatan dan kesehatannya. Hindari rokok, hindari alkohol, drugs, agar anakmu tumbuh jadi anak yang sehat dan kuat. Perempuan harus jaga pola makan dan olahraga rutin kalau ingin membuat rahim menjadi lokasi subur bagi benih yang akan tertanam nanti. Pun lelaki, harus bisa menjaga kualitas spermanya agar benih yang tertanam fit sampai lahir, pun sampai ia tiba dan beradu dengan kejamnya dunia.

Dan ini yang harus dipikirkan. Sudahkah kamu menjaga kesehatan fisik dan mental kamu, wahai pujangga yang ingin menikah? Gue sih belom, masih obes dan kalau maksa punya anak saat ini juga akan menurunkan beberapa persen kemungkinan penyakit yang sama ke anak gue. Makanya mau kurus dulu sebelum kawin wkwk.

Pendidikan juga utama. Teknologi semakin canggih. Kita sudah menjajaki era millenium di mana dunia media merajai. Anakmu nanti pasti jauh lebih pintar darimu. Gizinya lebih cukup (jaman sekarang makanan apa aja ada), semua kegiatan terfasilitasi (yang hobi nyanyi ada aplikasi smule, yang hobi nulis ada blog, yang suka main games segala games di android banyak, dll).

Dan siapkah kamu mendidiknya?

Bisakah kamu menjawab pertanyaan “ma, kok ade bisa di perut? terus nanti keluarnya lewat mana ma?” atau “ma ini ada apa di bawah? (sambil nunjuk penisnya)”

Pertanyaan pertama biasanya di jawab, “iya, mama abis bikin kue bayi, terus mama makan. jadi deh dede di dalem. mm keluarnya nanti mama tinggal ngeden aja dari perut kayak ee.” (lalu yang dipikirkan anakmu, adiknya nanti keluar dari pusar. atau literally “kayak eek?” WK).

Pertanyaan kedua dijawab, “itu burung, sayang. jadi harus selalu disangkarin biar ngga kemana-mana.”

Gitu ngga sih? Emang itu jawaban yang seharusnya dia tau?

Atau, parah lagi ketika anakmu mulai beranjak  ramaja dan bertanya, “pa, kalau abang liat cewek kok burung abang suka aneh gitu ya rasanya?” ataau “maaaaa, ini di apem ade kok ada buluuuuu?”

Ketika dia beranjak remaja, kamu harus pintar menjelaskan banyak hal, terutama terkait perubahan pada diri anakmu. Untuk perempuan: cara memakai pembalut yang benar, cara membersihkan dan menjaga kelaminnya agar selalu sehat, cara berpakaian yang benar (dari batas mana saja yang boleh diperlihatkan orang lain dan yang engga), membimbingnya untuk belajar menggunakan miniset lalu bra, kenapa ada bagian berbulu ada ngga, kenapa harus mandi yang bersih dan cuci muka. Uh, dan banyak.

Kalau dia lelaki: cara ia menghilangkan desiran ketika testosteronnya mulai bekerja, kasih edukasi tentang bahaya video ena ena, uh dan gue ngga tahu lagi apa yang harus gue ajari ke anak gue kalau dia lelaki dan mulai tumbuh menjadi remaja.

Bahkan belajar perkembangan beberapa semester pun bisa aja terasa kurang expert kalau berhadapan langsung dengan objeknya. Apalagi kalau nilainya C?  Well, gue belum pernah merasakan sih, punya anak. Tapi apalagi yang mengandalkan, “udaaah jalani aja dulu. lama-lama juga biasa.”?

Dan itu ketakutan gue.

Jadi orang tua harus smart. Ngga bisa kita kasih jawaban “ngga tahu” atau anak kita akan malas bertanya, malas mencari tahu, dan hidupnya tidak akan bergairah, atau sebaliknya. Parahnya lagi, karena emak babehnya ngga bisa jawab, dia cari di internet dengan keyword “kalau ada aneh-aneh di burung harus ngapain?”

Ini jawabannya!

1468785806105

ANJAY! Lihat baris headline kedua. Bisa jadi dia pikir dia akan segera meninggal!

Susah ya?

Kenapa lagi gue contohin seksualitas mulu? Yha karena perihal seksualitas yang masih dianggap tabu sehingga sangat sulit untuk dijelaskan. Kalau yang nanya umurnya 25 tahun sih ngga apa. Lah kalau anak lima tahun?

Punya anak itu ngga gampang, guys.

Kita juga harus beri pengertian dia akan Tuhan yang sampai kapan pun ngga akan penah bisa ia lihat wujudnya (dalam beberapa keyakinan). Kita harus ajarkan dia cara berdoa, dan banyak.

Hm.

Setelah tahu tujuan, dan kesiapan memiliki anak, sila tanyakan lagi pada dirimu, “modal?”

Menikah idealnya harus ada selebrasinya atau kamu akan dicap “naon sih rahasia-rahasiaan. bunting duluan ya?” Ada biaya buat penghulu, makan tamu, undangan, baju, aaahh banyak.

Bukan hanya selebrasi ketika menikah, kamu juga harus mempersiapkan modal masa depan. Tadi udah diomongin masalah rumah dan tetek bengeknya, kendaraan, dll. Utamanya lagi adalah modal untuk anakmu mencapai cita-cita setinggi langitnya. Modal untuk menyekolahkannya sampai ia memiliki modal untuk fit di dunia sebenarnya.

Ada lagi. Hal yang bagi gue sangat penting adalah cinta –yang sejujurnya definisinya bagi gue masih abu-abu. Benarkah pilihanmu tepat?

Menikah adalah menyatukan dua insan dalam satu mahligai rumah tangga yang ngga bisa dijalani masing-masing. Harus ada kompak dan kerja samanya. Harus ada toleransi dan saling pengertiannya. Harus ada rasa saling diuntungkan. Bohong banget kalau ada yang bilang, “yang penting sama kamu, aku siap memberikan apapun ke kamu.” diporotin lu namanya.

Dan siapkah kamu berbagi rasa dengan siapapun itu yang akhirnya kamu pilih? Yakin kah kamu bahwa dia yang terbaik dari yang paling baik?

Proses.

Sampai kapanpun kita ngga akan pernah tahu jawabannya, karena hati mudah berubah.

Jadi masih ingin menikah?

.

.

Atau ikutan bikin kotak-kotak isi perencanaan dulu kayak gue?

So, apa yang kamu pikirkan tentang pernikahan, readers? Open for any ideas or critics or feelings. And contact me if you wanna share anything you want 🙂



Catatan:

Pemikiran ini memang berbelit. Bikin over thinking banget. Tapi percayalah. Untuk memulai sesuatu yang menjanjikan, harus dimulai dengan persiapan matang. Jangan sampai menyesal!

##ini bukan ajakan anti menikah##

Berapa banyak waktu yang terbuang untuk tidak ngapa-ngapain?

027332700_1442458979-1

Source: HERE!

Gue ingin membeberkan betapa banyak waktu berharga yang kita punya namun seringkali kita sia-siakan. Mungkin berbeda bagi setiap orang. Tapi yuk, kita sama-sama coba mengalkulasikannya.

Satu hari ada 24 jam, ngga bisa diganggu gugat. Seminggu ada 7 hari, 168 jam. Setahun ada paling sedikit 8760 jam. Betul? Gue manual nih ngitungnya.

Sehari kita punya waktu sama. Semua orang. Masih mau mengeluh soal kesibukan dan ketidakmampuan untuk membagi waktu? Talk to person in front of the mirror, please. Ourself!

Kita mulai sekolah sekitar umur 6 tahun. Sebelum itu, kita ngga ngapa-ngapain kecuali main ayunan dan jungkat-jungkit –yang ngga pernah menjadi jungkat-jungkit bagi gue karena gue selalu di bawah. Produktivitas kita hanya sebatas menghasilan air kencing dan eek, juga coret-coret di buku atau dinding. Kalau emak gue sih ngga nyimpen buktinya, jadi gue anggap gue memiliki 6 tahun yang tidak produktif di 6 tahun pertama hidup gue. Alias gue tidak ngapa-ngapain.

Tapi jangan salah! Manusia belajar paling banyak dan keras saat ia masih kecil, menurut gue. Sisanya belajar tambahan sesuai selera. So, kita sama sejak dulu guys, jadi jangan merasa hina sendiri atau susah sendiri. Fyi, nampaknya gue yang lebih sering merasa begitu deh. Refleksi banget ini tulisan.

Okela. Next….

Kita membuang waktu kita selama 52.560 jam di 6 tahun pertama hidup kita. Paling sedikit karena gue ngga ngitung tahun kabisat. Gila ngga sih guyyss!??

Gue rasa, hidup setelah tahun ke-6 itu lebih berarti. Kita tidak lagi “ngga ngapa-ngapain”. Ada sekolah yang siap menguras tenaga, pikiran, dan afeksi kita. Ya. Belajar, berteman. Boleh lah dirata-rata. Kelas 1 SD dan kelas 2 SD tahun paling santai dalam hidup yagakseh? Masuk jam 7 pulang jam 11. Cuma 4 jam, pemirsah! Sisanya, selama 20 jam kita ngga ngapa-ngapain.

Selama sebulan ada paling sedikit 4 hari minggu. Yang berarti, 216 (96 jam dari 4 kali hari minggu, 120 jam dari hari biasa dikali 20 jam) jam kita ngga ngapa-ngapain selama seminggu. Paling main rumah-rumahan, main masak-masakan –biasanya kalau perempuan ala-ala jadi emak-emak sambil gendong boneka. Yang cowok main kelereng dan layangan. Menghasilkan apa? Kesenangan iya.

Satu bulan paling sedikit ada 4 minggu, so, kita menghabiskan waktu selama 864 jam ngga ngapa-ngapain, paling sedikit. Lagi. Selama dua tahun, dari kelas 1 SD sampai kelas 2 SD, kita ngga ngapa-ngapain selama 10.368 jam. Paling sedikit, ngga dihitung libur karena gue bingung ngitungnya.

Selama 8 tahun kita hidup, selama 62.928 jam kita ngga ngapa-ngapain. Itu paling sedikit.

SETDAH! Kayak ngitung utang gue lama-lama.

Empat tahun setelah itu, kita semakin sibuk di sekolah dasar. Makin sedikit liburnya. Masuk jam 7, pulang jam 1. Cuma 6 jam. Kita ngga ngapa-ngapain dalam sehari selama 18 jam. Dalam seminggu ada 132 jam. Sebulan kita ngga ngapa-ngapain selama 528 jam. Dalam 4 tahun paling sedikit kita ngga ngapa-ngapain selama 25.344 jam.

Selama 12 tahun kita hidup di dunia, kita ngga ngapa-ngapain udah 88.272 jam. Benar-benar kayak ngitung utang ini daaah.

CAN WE JUST STOPPPP?!!! WKWK.

Ngga deh. Lanjut.

SMP, kita bertambah aktif. Makin sibuk ditandai bau badan yang mulai merajalela mengganggu seluruh kalangan, tapi waktu itu kita masih merasa biasa aja. Keringet dimana-mana dari jidat, atas bibir, leher, ketek, selangkangan, sela-sela lengan, belakang lutut, dimana-mana. Makin disibukkan oleh jam pelajaran yang padat, ditambah lagi kegiatan ekstrakulikuler.

Gimana ini aing ngitungnya ya?

Dari hari senin sampai sabtu, minimal kita ikut kegiatan wajib pramuka di SMP sehari setiap minggu, di hari jumat. Sehari sekolah dari jam 7 sampai minimal jam 2, waktu kelas 7 sampai 8 SMP. Ada 7 jam. Selama 6 hari, kita ngga ngapa-ngapain paling sedikit selama 102 jam, dikurangi kegiatan pramuka selama 2 jam, di kelas 7 jadi 100 jam. Kalo udah naik tingkat pasti lebih lama lagi di sekolah.

Sat set sat set, jadi selama setahun di kelas 7 SMP, kita ngga ngapa-ngapain selama 5.952 jam. Selama kelas 8 jadi bertambah waktu pramukanya , jadi 5.904 jam. Paling sedikit, sekali lagi.

Di kelas 9, bukan lagi sibuk pramuka, tapi persiapan ujian di 6 bulan terakhir. Aing sama ratain aja lah pusing. Kurang lebih jam tambahan itu sampai jam 4, maka kita ngga ngapa-ngapain selama setahun paling sedikit selama 5.472 jam.

Hidup kita selama 15 tahun, selama paling sedikit 105.600 jam. GILA! 100 rebu aja bagi aing itu udah utang banyak bet lah haha.

LANJUT KAGAA GUA PUSINGGGG???!!

Lanjut deh.

Lagi. Selama SMA juga kita sibuk banget sama kegiatan yang bejibun. Kalo dulu gue masuk OSIS, jadi gue ngerasa sibuk banget sih karena ngurusin acara. Yang lain mungkin, dengan kegiatan masing-masing juga. Ngeband –eksis banget kan dulu anak band. Mau booming atau engga, keren atau engga, yang penting latihan, terus ada yang ikutan sanggar tari, macem-macem.

Jadi lebih enak ganti aja pertanyaannya gimana? Jadi. Waktu yang kita punya selama 3 tahun di SMA WKWK untuk selain belajar di sekolah.

Sekolah mulai jam 7, balik jam 2. Ada 7 jam. Kita punya waktu sisanya selama 17 jam. Selama seminggu kita punya waktu selama 126 jam. Sat set sat set. Dari kelas 10 sampai kelas 11 SMA kita punya waktu paling sedikit 12.096 jam.

Kelas 3, karena udah sibuk UN, sat set sat set, selama setahun kita punya waktu paling sedikit 5.184 jam.

Jika kita memilih untuk tidak ngapa-ngapain (of sourse selain sekolah karena sekolah itu kewajiban), kita punya waktu gabut dalam 18 tahun kita hidup selama paling sedikit 122.800 jam.

MASIH MAU NGITUNG KAGAK MEEEELLL? *nanya diri sendiri 😦

Gue udah semester akhir kupret anjay. Ya ampun cepet amat ya? Ngga nyangka. Selama hampir 3 tahun dikit lagi aakkk gue kuliah, gue merasa sudah banyak membuang waktu SHO gue males ngitung!!!!

Nih. Kuliah dari awal ampek akhir semester kemarin gue cuma ambil mata kuliah pilihan 1 matkul aja, teman-teman. Padahal jaman dulu, ketika nilai gue masih lumayan, gue bisa setidaknya mengambil 2 mata kuliah pilihan tiap semester, sampai semester 4 which mean…. akan mengurangi SKS gue dan membuat gue cepat lulus.

Tapi penyesalan apa boleh dikata. Gue terlalu jumawa dengan bilang, “Ah nanti aja. Semester depan aja, masih banyak waktu kok.” YAY NJAY MASIH BANYAK. Gila selama 18 tahun lo idup aja waktu gabut lo sebanyak 122.800 jam, AMELIYAAHHHH!!!

Kita hitung deh, biar rasa penyesalan semakin dalam. Kalau kamu mau ikut ngitung juga, better sambil buka akun pacis kamu, deh. Lihat sesuai berapa banyak SKS yang kamu ambil. Silahkan perhitungkan berapa kali kamu bolos juga biar rasa menyesal semakin jadi.

Satu semester paling lama 4 bulan. Kuliah dari semester satu gue udah ambil 118 SKS. Gue itung semuanya SKS biasa bukan praktek, biar memudakan (sebenernya karena gue lupa berapa banyak itungan mata kuliah praktek gue sih haha). Berarti, untuk kuliah selama tiga tahun rata-rata perminggunya gue menggunakan paling sedikit 5310 menit. Ya sekitar 89 jam lah. Artinya, selama tiga tahun gue menghabiskan waktu untuk belajar di kampus hanya 8.544 jam (89 x 4 minggu x 4 bulan x 6 semester).

Gue punya 17.736 jam bebas. Paling banyak selama tiga tahun gue kuliah. Dan gue ngapain? Kamu ngapain???

Jika ditotal total, selama hidup gue punya waktu tidak ngapa-ngapain selama 140.536 jam. Atau setara dengan 16 tahun. Yang artinyaaa. Hidup gue yang ngapa-ngapain cuma LIMA TAHUN. LIMA. LIMA.

Selama 16 tahun ternyata waktu “ngga ngapa-ngapain” yang kita punya (sesuaikan dengan itungan kamu). Dan kita ngapain? Kita sudah menghasilkan apa? Itu yang perlu kita tahu jika kita menanyakan apa yang kita lakukan. Apa yang bisa kita hasilkan? Emang bermanfaat buat orang lain? Atau cuma menghasilkan bau jigong di bantal dan piring kotor setiap saat alias tidur dan makan aja? Answer this Qs by yourself, guys.

Gue, yang sebentar lagi beranjak ke 21 tahun, dengan hitung-hitungan ini menjadi tersadar betapa banyaknya waktu yang terbuang, dan gue ngga menghasilkan apapun yang besar sebesar Mark Zuckerberg yang bisa menghasilkan uang ampek tujuh turunan ngga habis-habis karena facebook, atau teori evolusi yang terkenal dimana-mana milik Darwin, ke luar negri ikut internship atau semacamnya engga, bahkan buku yang gue cita-citakan untuk terbit pun belum.

JADI SELAMA HIDUP INI KITA UDAH NGAPAIN AJA, WAHAI ANAK GENERASI SEMBILANPULUHAAAAN?

Pertanyaan ini, yuk tanyakan pada diri sendiri! 🙂


Postingan kali ini didedikasikan khusus untuk “mahasiswa tingkat akhir”.

Daydreaming

Daydreaming  (‘melamun’ in indonesian) is a fantasy especially in pleasure, a story about plans of life that not happened in real world, a condition when your fantasy or imagination are surrounded over your mind.

Daydreaming, adalah sebuah fantasi atau imajinasi yang lo buat sendiri di dalam pikiran lo. Pernah kan lagi diem di kamar tiba-tiba lo mikir, ‘pendamping hidup gue nanti lagi apa ya? doi kayak gimana ya? nanti punya anak berapa ya?’ pernah? Gue sih pernah. Sering. Atau, contoh lagi nih. Lo lagi di kelas dengerin dosen ngajar, lo membayangkan diri lo lagi berkelana di padang pasir, terus ketemu goblin, dia minta bekal lo terus lo kasih eehh mendadak dia berubah jadi peri cantik. Pernah? Itulah saat-saat dimana lo sedang mengalami daydreaming.

Menurut gue, terkadang melamun itu perlu. Asal ngga kebanyakan, ngga terus-terusan. Karena kalo hidup lo isinya melamun terus, bisa jadi lo mengalami Maladaptive Daydreaming. Mau tau apa? Sok googling. heheuhuuu. Terkadang memang gue ngga menawarkan solusi.

Menurut gue sih daydreaming itu perlu. Daydreaming dibutuhkan untuk kita merancang masa depan, mau gimana ke depannya, bagusnya gimana. Asaaalll. Kita tulis dan kita wujudkan! Bagi gue yang suka bermimpi sih, hal ini yang biasa gue lakukan, dan itu perlu. Walaupun terkadang gue ngga yakin bisa merealisasikanya atau engga, yaaa namanya juga daydreaming. Hahahahaa..

Paan sih tulisan w ngga penting ya? :” hiks

Ternyata eh ternyata, setelah gue banyak mencari sumber, gue menemukan bahwa: Benar, daydreaming ada manfaatnya. Ngga selamanya melamun itu buruk dan bikin kesurupan.

Menurut salah satu sumber yang gue baca, studi baru yang dipublish dalam Psychological Science by researchers from the University of Wisconsin and the Max Planck Institute for Human Cognitive and Brain Science, menunjukkan bahwa pikiran yang berkelana (wandering mind) berkorelasi positif dengan kemampuan working memory. Daydreaming di sini tidak berfokus hanya pada ketidaksadaran kita pada dunia nyata, tapi bagaimana kita memiliki pengalaman berimajinasi itu sendiri.

Ada fakta menarik dari penelitian ini! Kenapa orang yang melamun cenderung memiliki kapasitas working memory yang besar? Jawabannya adalah: “Karena ada ruang kerja mental ekstra yang dilakukan, seperi menjumlahkan dua angka sekaligus,” menurut Daniel Levinson, seorang psikolog di University of Wisconsin-Madison (Beliau juga meneliti mengenai daydreaming. Asumsi gue, beliau juga peneliti yang sama sesuai penelitian di atas, tapi gue belum memastikan. Pendapat ini gue ambil dari sumber yang berbeda.).

Menurut sang peneliti Jonathan Smallwood, “What this study seems to suggest is that, when circumstances for the task aren’t very difficult, people who have additional working memory resources deploy them to think about things other than what they’re doing,”

Yang studi ini tunjukkan adalah ketika keadaan untuk tugas tidak terlalu sulit, orang yang memiliki extra working memory menggunakannya untuk memikirkan hal lain selain apa yang dilakukan. Jadi, pikiran daydreamer ini berkelana karena sesungguhnya mereka memiliki kapasitas yang berlebih pada working memory-nya yang sayang jika hanya digunakan untuk mengerjakan tugas.

Itulah mengapa orang yang suka melamun dan tugasnya selalu beres bisa dikatakan multitasking.

Daydreamer atau orang yang mengalami daydreaming biasa menggunakannya sebagai cara untuk sejenak melarikan diri dari masalah di dunia nyata, mengatasi situasi frustrasi atau hanya sekedar memenuhi keinginan yang terselubung. Hampir semua orang mengalami hal ini. Dalam intensitas yang berbeda-beda tentunya. Ada yang sedikit melamun, karena tidak sempat, ada juga yang kerjaannya melamun sepanjang hari dikarenakan kurang kerjaan, atau mungkin mengalami Maladaptive Daydreaming seperti yang gue jelaskan sebelumnya.

Kalau lo udah bingung membedakan gambaran mental atau yang hanya di pikiran lo dan itu tidak nyata dengan kenyataan, itu bisa disebut halusinasi, bukan lagi daydreaming. Jadi, seorang daydreaming masih dapat membedakan mana yang nyata mana yang engga.

Daydreaming, masih menurut sumber yang gue dapat, ngga berbahaya. Selama tadi, lo maih bisa bedain mana yang ada di pikiran lo dan mana yang nyata dan ketika lamunan lo ngga membuat lo melupakan hal-hal yang seharusnya ngga lo lupakan seperti tugas, plan masa depan lo, pacar, gitu-gitu deh.

So, selama ngga mengganggu, lamunan lo sah-sah aja. Kalo ada yang bilang, “His! Jangan ngelamun ntar kesurupan!”, mungkin doi hidup di jaman 60an, jaman di mana hal-hal mistis masih berpengaruh a.k.a jaman simbah kita masih muda.

Sources: 

http://www.smithsonianmag.com/science-nature/the-benefits-of-daydreaming-170189213/?no-ist

http://psychology.jrank.org/pages/163/Daydreaming.html

http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/12/03/18/m12xkr-sering-keasyikan-melamun-pertanda-otak-cerdas