Yakin itu cinta?

6e4909a87686350c015328a6b5e0d677

Source: pinterest.

Kebanyakan orang mendefinisikan cinta sebagai suatu kisah kebersamaan. Di mana ada rasa nyaman di dalamnya, hingga ada satu keputusan “aku ingin memilikinya, aku ingin dimilikinya”. Iya. Kebanyakan cinta didefinisikan sebagai suatu jalinan yang tumbuh di dalamnya rasa ingin membelai, ingin selalu bersama, ingin mendapatkan perhatian darinya… Ingin memiliki.

Begitukah?

Kemarin, ada seorang teman yang memberi sebuah pernyataan yang super banget terkait definisi cinta. Namanya Rizka, teman satu kelas gue di kampus. Menurutnya, cinta itu terlalu spesifik, ngga bisa digeneralisasiin. Tiap orang punya definisi cintanya masing-masing. Dan tugas kita di dunia adalah untuk menemukan definisi cinta kita masing-masing.

Lalu bagaimana kamu mendefinisikan cinta?

Gue sih masih mencari definisi yang sesuai untuk diri gue sendiri, jujur saja. Sepengamatan gue sebagai orang yang hanya memiliki setitik pengalaman dalam bercinta, cinta itu ya… seperti yang sudah gue sebutkan tadi. Ingin memiliki, ingin merasa dimiliki… oleh orang yang kita cintai.

Buktinya?

Ada yang namanya “pacaran”. Kalau sudah pacaran, seseorang cenderung merasa bahwa pacarnya ya… one step closer lah untuk menjadi miliknya (bahkan ada yang bener-bener sampe men-cap pacarnya sebagai miliknya). Ia akan menjadi lebih protektif. Penasaran keberadaan pasangannya, penasaran apa yang sedang dilakukan pasangannya, penasaran pasangannya berhubungan sama siapa aja.. Wah jadi serba penasaran pokoe. Begitu kan? *nanya sama orang yang lagi pacaran*

Satu bukti lagi.

Pernikahan. Ini bukti paling konkret dari mencintai, menurut gue. Ketika kamu ingin menghabiskan waktu bersama pasanganmu sampai tak ada lagi yang dapat memisahkan kalian berdua kecuali kematian. Saat kamu ingin menciptakan bibit-bibit unggul hasil pergulatan semalam dengan pasanganmu, dan kamu ingin mendidiknya sepenuh hati, karena itu bukti cinta kalian berdua, dan kamu bertanggung jawab untuk menjaganya.

Di atas versi jujur, versi yang tidak menantang norma.

Lalu bagaimana kalau orang yang kamu bilang mencintaimu, tidak melakukan dua hal di atas? Atau… Kalau kamu bilang mencintainya, namun kamu tidak melakukan dua hal di atas?

Itukah cinta?

Ketika kamu ingin menciumnya setiap saat, tapi kamu tidak ingin bersamanya karena kamu bukan orang yang ingin terikat?

Ketika kamu ingin selalu dekat dengannya, namun rasa-rasanya kamu tidak tertarik dengan bokongnya?

Ketika kamu menjadikannya kekasihmu, namun kamu selalu merasa kosong?

Apakah itu cinta?

Well, we’re gonna discuss that things above now!

***

Cinta memilki tiga komponen yaitu intimacy, passion, dan commitmet (Sternberg, 1988). Gampangnya, intimacy adalah “Oh, kita dekat deh kayaknya. Kamu bisa mendengarkan aku, kamu care, aku merasa kamu perhatian”. Passion itu… “Omaygattt! Aku ingin melumat bibirmu yang merah dan basah. Aku ingin menciumi tengkukmu yang wangi. Aku ingin mencumbumu di atas sofa tempat biasa kita nonton film bersama.” Sedangkan komitmen… “Oke, aku berjanji akan mencintaimu tiap saat, dalam keadaan apapun. Aku akan berusaha untuk selalu bersamamu sepanjang hidupku.”

Got it?

Intimacy atau keintiman adalah rasa ketika kita merasa dekat dan terikat secara emosional, passion atau gairah adalah daya tarik seksual, sedangkan commitment adalah keputusan untuk saling bersama mempertahankan satu sama lain.

Jadi cinta harus selalu punya tiga komponen itu? Tentu tidak. Ini yang akan kita bahas. Menurut Sternberg, berdasarka tiga komponen yang sebelumnya sudah dibahas, terdapat tujuh tipe cinta.

1484126805589

Triangular theory of love by Robert Sternberg (1988)

Liking

Liking atau menyukai hanya melibatkan satu elemen, yaitu intimacy di mana ketika kamu menyukai seseorang, kamu hanya merasakan kedekatan secara emosi saja. Kamu hanya merasa dia perhatian pun kamu juga perhatian kepadanya, kamu merasa kalian dekat karena sering bercerita satu sama lain. Di luar itu, kamu tidak memiliki hasrat untuk making love with him/her, pun tidak memiliki keinginan untuk bertahan bersamanya menghabiskan sepanjang hidup bersama.

Biasanya, orang yang berteman atau bersahabat memiliki tipe cinta ini.

Empty Love

Cinta yang kosong. Hanya ada keinginan untuk mempertahankan kebersamaan namun tidak ada komponen keintiman dan gairah seksual di dalamnya. Cinta yang begini nih yang awalnya gue pikir bukan cinta. Tapi ternyata ada cinta jenis ini.

Hm… Siti Nurbaya, mungkin mengalami cinta tipe ini. Atau siapapun yang dijodohkan paksa maybe? Ketika kamu tidak mencintai orang yang dijodohkan denganmu, apalagi memiliki keinginan untuk tidur bersamanya, tapi kamu tetap bertahan demi mempertahakan nama keluarga, bisa jadi cintamu jenis ini.

Infatuation

Wow. Tipe ini ada rupanya. Dalam tipe ini, hanya ada komponen passion aja, di mana ia hanya menginginkan seseorang untuk dicium, dicumbu, diunyel-unyel pokoe untuk memenuhi kebutuhan seksualnya saja.

Tipe ini bisa kita temukan pada orang yang suka fwban (Friends with Benefit) atau one night stand. Kebayang? Ini termasuk cinta juga lho.

Companionate

Orang yang mencintai dengan tipe ini memiliki dua komponen cinta, yaitu intimacy dan commitment. Ketika kita merasa memiliki kedekatan yang sangat dengan pasangan, lalu kita memiliki komitmen untuk tetap bersama pasangan kita, namun kita tidak memiliki dorongan seksual untuk mencumbunya.

Tipe ini kerap dialami oleh mereka yang sangat cinta keluarga, di mana orang dengan tipe ini akan mempertahankan kedekatan dan komitmennya dalam membangun hubungan baik dengan keluarganya yang lain.

Tipe ini juga bisa terjadi pada teman yang sangat dekat sekali.

Fatuous Love

Hanya ada passion dan komitmen dalam cinta tipe ini.

Contohnya… sudah menikah, tapi hanya memikirkan gimana caranya menyalurkan hasrat seksual (maka itu dia harus menikah), tapi dia ngga pernah memikirkan perasaan satu sama lain. Secara emosi mungkin dia tidak mengenali siapa pasangannya.

Romantic Love

Ada kedekatan emosional dan ada gairah. Aku tahu kamu, kamu tahu aku. Aku ingin mencumbu kamu, kamu pun.

Cinta tipe ini biasanya terjadi pada mereka yang HTS, atau seseorang yang sudah menikah, tapi selingkuh terus selingkuhannya ngga diakui (dia sama selingkuhannya ini yang tipe cintanya romantic).

Consummate Love

Ini dalah bentuk yang sempurna dalam cinta. Tipe ini merepresentasikan hubungan yang ideal. Karena untuk mencintai secara sempurna, kita harus merasakan kedekatan emosi, memiliki gairah, pun rasa tanggung jawab untuk bersama-sama menjalani hidup.

Cinta sejati, mungkin ya, namanya.

Mungkin emak babeh kita tipe yang ini? Atau kakek nenek kita?

***

Iya. Jenis-jenis cinta yang sudah dijabarkan di atas bisa jadi membantu pembaca sekalian untuk mendefinisikan cinta sesuai dengan yang kamu alami. Bisa juga menjawab pertanyaan, “emang ini cinta ya?” Analisis saja dengan tiga komponen yang sudah dengan sangat apik dijelaskan oleh Sternberg.

Buat kamu yang nyaman sama dia, lalu kamu merasa ingin menciumnya juga menjaga hatinya, ingin terus bersamanya hingga akhir hayat, bisa jadi kamu dan dia adalah gambaran kesempurnaan cinta.

Tapi buat kamu yang ketika bersamanya hanya ingin membahagiakan dia karena dia mati-matian mencintaimu, dan kamu tidak merasakan kepuasan yang haqiqi ketika bercinta dengannya, hati-hati… jangan-jangan itu hanya cinta yang kosong saja.

Well, sudah menemukan jawabannya?

Jadi yakin itu cinta?


Source:

Triangular Theory of Love.

Advertisements

Thought: What Do You Think About Love?

af0sf2os5s5gatqrkzvp_silhoutte

Source: this.

Well, hari ini gue sedang diberi dorongan untuk berpikir lebih, jadilah tulisan ini yang sesungguhnya gue sangat tidak suka membahasnya. Yay, I like to write about sexuality more than this fucking cheesy word I ever heard: love.

Gue bukan ngga percaya cinta, sih. Gue hanya tidak sedang percaya. Lebih tapatnya, setelah mengetahui beberapa kegagalan cinta yang orang terdekat gue hadapi, pun gue, dan itu semua membuat gue bertanya-tanya apa itu cinta.

Dan OK, mari kita mulai!

“Love is a force of nature.”

Deborah Anapol, PhD

That’s not about peeing or defecating, like we used to do in everyday morning routines. Love is a different ‘force’ that we have to others in our life… 

Katanya cinta itu bisa bikin buta. Not in physical, but beyond our mind.  Cinta yang akan kita bahas konteksnya adalah cinta ke sesama manusia ya, bukan ke makhluk selain manusia, karena akan berbeda.

Ketika kita mencintai seseorang, dunia kita akan cenderung mengaitkan diri ke dunianya. Kita akan berusaha menyesuaikan diri kita dengan dirinya. Ngobrol, chatting, makan bareng, apapun bareng deh, dengan harapan akan lebih bisa menyesuaikan diri dengan orang yang kita cintai.

Ketika kita mencintai seseorang, kita akan mengeluarkan segala usaha untuk mendapatkan perhatiannya. Lewat chat yang jarang sekali gue lakukan, seperti bertanya, “hai kamu apa kabar? lagi ngapain? lagi dimana? udah sholat? udah makan?”

Ketika kita mencintai seseorang… dia, orang yang kita citai akan menjadi satu-satunya tokoh utama dalam hidup kita di dunia, mengalahkan diri kita sendiri. Tak heran, orang yang sedang dimabuk cinta rela mengluarkan air matanya untuk menangisi orang yang dicintai ketika ia telah tiada.

Kalau ngga ketemu, rasanya rindu. Kalau ngga berkabar, khawatir sampai rasanya dada sesak kehabisan napas pengen mati. Kalau liat dia sama orang lain rasanya ingin membunuh saja dirinya dan orang itu. Kalau lihat dia cuek, rasanya ingin berakhir saja dunia.

Gitu ngga sih?

Cinta itu bukan perkara dia ada untuk kita cumbu tiap saat. Bukan perkara hadirnya untuk kita unyel-unyel tiap saat. Bukan perkara harus jalan bareng kemana-mana tiap saat. Bukan perkara harus kangen-kangenan tiap saat.

Itu hanyalah bumbu dalam cinta.

Cinta itu ketika kita dapat menerima dia beserta hidupnya.

Apakah kamu menerima dia yang pengangguran untuk menjadi pasanganmu? Apakah kamu menerima dia yang tidak bisa masak menjadi pasanganm? Apakah kamu menerima dia yang hobi hura-hura menjadi pasangan hidupmu? Apakah kamu menerima kelauarganya yang berbeda status dengan keluargamu? Apakah kamu menerima dia yang cuma bisa tidur-tiduran di kasur sebagai pasangan tidur malammu?

Logis.

Cinta itu bicara masa depan. Kalau kamu tidak memikirkan masa depan dengan pasanganmu, jangan pernah kamu sebut itu cinta. Mungkin kamu hanya ingin kelaminnya, mungkin kamu hanya ingin bibirnya yang jago melumat kelaminmu, mungkin kamu hanya ingin pantatnya untuk kamu sakiti dengan kelaminmu, mungkin kamu hanya ingin lidahnya yang lihai menari di atas payudaramu.

Logis.

Cinta bukan hanya perkara seks. Cinta itu logis. Orang yang mencinta aja yang kadang ngga logis. Bego.

Mengibaratkan seseorang menjadi segalanya dalam hidup. Pas pasangannya ketahuan main sama orang lain, baru aja gelimpungan, kayak pengen mati.

Kalau pakai logika, pacar ketangkap basah selingkuh, ya udah. Putusin aja. Evaluasi diri. Siapa tahu memang diri kita tidak mampu membuat dia puas. Siapa tahu memang kelamin selingkuhannya lebih sempit dan/atau lebih panjang dan besar. Siapa tahu memang lebih menjanjikan masa depan.

Logis.

Tapi cinta bukan hanya perkara logika. Cinta itu pakai perasaan. Kalau cinta hanya perkara logika, pacarmu akan meminta ganti uang bensin tiap kali selesai mengantarmu pulang. Pacarmu akan meminta ganti rugi kakinya yang pegal dan keringat yang keluar dari dahinya kala kau mengajaknya pergi menyusuri jalanan kota.

Pacarmu akan meminta kembali perawan yang sudah kamu ambil. Pacarmu akan meminta bayaran tiap sodokan kelaminnya ke kelaminmu. Pacarmu akan menuntutmu terus untuk hal yang tidak kamu suka.

Tapi bukan begitu kerja cinta, yang gue tahu dan sudah gue rasakan.

Cinta itu lebih membingungkan dari permainan rubik (bener ngga sih ini namanya?) yang bahkan gue tidak pernah sekalipun berhasil memainkannya. Susah emang orang yang ngga punya logika kek gue. Haha.

Cinta itu menyebalkan. Rasanya ingin memaki diri sendiri ketika tidak mampu membahagiakan orang yang kita cinta. Rasanya ingin yasudahlah, toh dia sudah pergi bersama orang lain. Da aku mah apa atuh?

Cinta itu… gue ngga ngerti lagi deh. Cinta itu membingungkan. Mau pergi karena dia ngga cinta balik sama kita tapi kita cinta mati-matian sama dia dan dia membutuhkan kita, dan yaudah kita ngga bisa apa-apa selain tinggal. Mau marah ke dia karena ngga perhatian, tapi kasian mukanya capek ngurusin skripsi, yaudah ngga jadi marah.

Mau bilang cinta sama seseorang, tapi dianya udah punya.

Mau bilang putus, tapi yaudahlah coba lagi aja.

Mau bilang, maukah engkau menikah denganku, tapi keluarganya ngga sepakat.

Sebingung itu cinta.

Dan gue sedang bingung sekarang. Beneran bingung, ngga bohong. Kenapa ada lagu dengan lirik, ‘cinta ini kadang-kadang tak ada logika’? Mengapa ada pasangan menikah pun bahkan yang belum menikah masih tetap bertahan dengan pasangannya walau sudah disakiti berkali-kali? Mengapa ketika dia meghianati kita, jelas-jelas jahat banget menghianati kita, kita masih saja rindu sosoknya?

Dan gue rasa gue sudah tidak terlalu mampu berpikir. Tapi gue akan cari jawaban dari pertanyaan, why is love so confusing?

Tapi sebelumnya…. what do you think about love?

I’m open-minded enough, kok. So, if you wanna discuss something related with this post, just chat me okk?!


Source:

What is Love and What isn’t it? from click to open.

Apa yang kamu pikirkan tentang pernikahan?

cara-mengelola-keuangan-keluarga-baru-menikah

Source: HERE!

Di postingan kali ini gue akan banyak mengungkapkan pendapat gue terkait pernikahan. Buat kamu dengan usia 20-an tentunya sudah harus mulai memikirkan ini yagaksih?

Dan. Hal ini yang benar-benar mendasari beribu pertanyaan di otak gue. Pernikahan.

Bicara pernikahan, kita ngga hanya akan bicara mengenai satu hal. Tapi berbagai hal. Yang terduga maupun tidak. Yang bisa dibayangkan maupun tidak. Yang positif maupun tidak. Pun bukan hanya bicara satu orang. Tapi banyak.

Tanyakan ini pada dirimu masing-masing sebelum memutuskan untuk menikah.

Pertama. Untuk apa kamu menikah?

Kalau hanya untuk memenuhi kebutuhan kelaminmu saja lebih baik kamu cari teman yang bisa diajak ena ena. Media online banyak. Kamu bisa menemukan orang dengan interest yang sama. Chatting sama stranger, ketemu, bercinta satu malam. Urusanmu akan selesai seketika. Jangan memaksakan menikah atau kehidupan rumah tanggamu akan seperti sayur asam yang tidak asam. Mana greget?

Kalau untuk memenuhi permintaan orang tua, lebih baik kamu suruh orang tuamu saja yang menikah.

Kalau agar tidak digunjing lagi sama tetangga karena jadi perjaka/perawan tua, lebih baik kamu sering-sering main keluar rumah.

Kalau untuk memenuhi sunnah rasul? (wait. nikah itu sunnah rasul apa kewajiban?) Jawaban ini mungkin sedang trend seiring pertambahan penduduk dan kampanye “pantaskan diri” dari berbagai pihak, juga istilah ta’aruf yang marak diperbincangkan juga oleh banyak perempuan muda. Versi lelakinya hanya tahu sedikit dari seeorang haha.

Untuk konsep ini gue tidak paham (atau tidak mau paham?), jadi gue akan membahasnya dari perspektif lain. Semua tergantung perspektif, bukan? Gue akan mengungkapkan isi kepala gue, jika ada yang ingin meluruskan menurut perspektif manapun, gue terima. Tapi memang perlu gue garis bawahi dengan keras, gue penganut paham liberal. Sangat terbuka pada arus globalisasi, mengutamakan kebebasan berpikir dan berekspresi, individualis (kalau ini sih lebih ke “maunya sih”).

Inti dari pertanyaan pertama, sejauh kamu memandang masa depan yang ingin kamu ukir dalam sejarah hidupmu, kamu perlu tahu terlebih dahulu tujuanmu untuk menikah itu untuk apa. Kalau kamu sama sekali tidak bisa menjawabnya karena kebingungan, lebih baik kamu urungkan dulu keinginanmu untuk menikah.

Cari tahu dulu untuk apa. Tentukan tujuan, keluarannya akan seperti apa, serta planning cara mencapainya gimana. Bikin matriks kalau perlu. Sekalian indikator WK.

Tapi benar. Untuk kamu orang yang idealis kadang ngga realistis seperti gue, rasa-rasanya membuat matriks untuk perancangan kehidupan pernikahan dirasa perlu. Karena dengan itu kamu jadi tahu di mana letak ke-tidak-realistis-an pikirmu, dan kamu bisa sedikit berbelok.

Bocoran sedikit, gue pun begitu. Nyesek sih. Tapi itulah hidup. Akan berbeda antara ideal dan realistis.

Di sini kita akan bicarakan idealnya. Realitanya tergantung diri masing-masing inginnya seperti apa. Dan silahkan wujudkan. Kalau gue sih ngga sekarang.

Yang perlu selalu diingat ketika keinginan menikah seringkali muncul seiring sexual drive yang menggebu-gebu, pernikahan bukan hanya berbicara tentang satu hal, sekali lagi. Bukan bicara kesenangan kelamin semata, bukan bicara kesenangan pasangan semata, orang tuanya, keluarganya, teman-temannya, tetangga, anak-anak yang dilahirkan nanti, tapi semuanya.

Kedua. Siapkah kamu untuk tidak lagi menjadi dirimu sendiri? Sepenuhnya menjadi diri yang mungkin sebelumnya bukan kamu?

Pada mertuamu nanti, kamu harus menunjukkan sisi terbaikmu. Jika kamu perempuan, kamu harus pintar masak, harus pintar cuci baju, harus keibuan… idealnya sih gitu, menurut para ibu-ibu dengan anak lelaki. Ralat. Menurut gue jika gue jadi ibu dengan anak lelaki. Ada yang mau punya menantu perempuan yang ngga bisa masak? Yang ngga bisa ngurus rumah tangga? Ngurus anak? Anjir nyusahin.

Jika kamu perempuan seperti itu, silahkan berkaca dan tanyakan: “Pantaskah saya menikah?”

Kan ada pembantu? Ya. Kalau kamu kaya dan suamimu bisa bayar pembantu mah sok aja. Tapi jadi perempuan yang ngga bisa apa-apa malu kali. Ngga berguna rasanya hidup. Lagi pula, dengan kamu yang ngga bisa apa-apa, nantinya kamu akan menciptakan pribadi yang ngga bisa apa-apa lagi.

Untuk lelaki juga sama. Harus punya penghasilan untuk memenuhi kebutuhan istri dan orang tua. Tanggung jawabmu bertambah jika kamu menikah, wahai lelaki. Pengeluaran bukan hanya sekedar untuk beli rokok atau pulsa internet. Tapi tagihan listrik, cicilan mobil, cicilan rumah, uang sekolah anak, lipstik istri, bedak istri, bedak anak, make up istri, tunjangan untuk orang tua, pecingan untuk sanak saudara, daaaann banyak. Udah punya duit? Udah punya bekal untuk cari duit?

Kamu juga tidak bisa hura-hura lagiHidupmu sepenuhnya harus kamu dedikasikan untuk anak dan keluargamu. Kamu harus jadi full-time-mother/father agar anakmu merasakanmu. Buat yang memutuskan untuk bekerja, silahkan siasati caranya agar anak-anakmu tetap merasa punya orang tua. Di sini yang gue maksud bukan uang. Tapi afeksi. Perhatian, kasih sayang.

Kamu juga harus pintar-pintar meregulasi emosimu di depan anakmu. Ah. Juga pasangan. Jangan sampai anak-anakmu melihat kamu bertengkar dengan pasangan, pun orang lain. Kalau iya, kamu hanya akan menanam benih kekecewaan dan perasaan tidak nyaman dalam diri anakmu. Kamu hanya akan mengajarkan cara meneriaki maling, pada anakmu. Dengan judge, dengan bentakan, dengan gumpala tangan siap memukul.

Jangan juga sering-sering menampakkan muka sedang tidak mood. Muka kesal, muka mengamuk siap memaki, muka diam, muka cemas. Kamu harus bisa menanggapi anak-anakmu dengan baik dan bijaksana. Kalau di umur 20-an masih sulit meregulasi emosi, lebih baik kamu belajar. No. Kita sama-sama belajar.

Perlu ditekankan. Hal kedua setelah kamu menentukan tujuanmu untuk menikah. Masih satu subbab siap menjadi orang lain atau tidak, yaitu: Siapkah kamu berhadapan dengan anak-anak hasil peraduan antara kamu dengan pasanganmu nanti? Itu tadi. Segala tingkahmu, apapun itu bisa jadi stimulus yang siap membentuk pribadi anakmu. Kamu harus hati-hati bersikap dengan anak-anakmu agar anak-anakmu menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan dicintai masyarakat.

Kalau tidak?

Kasus MBA banyak. Narkoba, miras, sex party, tawuran, bullying, pembunuhan, pemerkosaan. Banyak. Dan gue belum tahu secara pribadi bagaimana menanggulanginya. Ya. Sampai sekarang pun gue masih mempertanyakan diri gue terkait kesiapan memiliki anak, pun kesiapan menikah, jujur aja. Anjir jujur banget.

Anak itu ibarat tabung kosong siap dimasuki apapun. Dia meniru perilaku orang di sekitarnya. Kalau kamu belum siap menjadi orang tua, ke depannya kamu akan merasa selalu kewalahan ngurus anak. Mukamu cemberut aja tiap dia rewel ngga bisa diem. kamu marah, dan impactnya… wah macem-macem.

Kamu juga harus bijak mengontrol apapun yang dimiliki anakmu. Kamu harus pandai memilah-milah barang yang dia inginkan apakah baik untuknya atau sebaliknya. Kamu harus punya kontrol pada anakmu. Kamu harus tegas BUT jangan sampai membuat dia menjadi tidak mandiri. Susah ya? Gue sih ngebayanginnya susah.

Anak semakin besar mintanya semakin segala macem. Gimana kita memberikan kebijakan dan membuat dia bertanggung jawab itu susah. Minta beli hp, besok temennya megang laptop eh dia minta laptop. Temennya naik motor, dia minta motor. Besoknya lagi temennya bawa mobil, dia ikutan pengen bawa mobil.

Gimana? Turutin jangan?

Dan yang terpenting. Penting banget. Sebelum kejauhan bahas cara mengurus anak yang sebenarnya gue cuma sok tahu aja bahasnya dari tadi, kamu juga harus persiapkan diri kamu untuk menghasilkan bibit unggul.

You know…. pendidikan, kesehatan baik fisik mental, agama kalau bagimu itu penting, pemahaman akan norma sekitar…

Rahim wanita bukan hanya tempat tempel benih, begitupun sperma lelaki bukan hanya ibarat sampah yang bisa dibuang di mana pun secara bebas. Bahkan sampah pun ada tempat pembuangannya.

Perlu dijaga kekuatan dan kesehatannya. Hindari rokok, hindari alkohol, drugs, agar anakmu tumbuh jadi anak yang sehat dan kuat. Perempuan harus jaga pola makan dan olahraga rutin kalau ingin membuat rahim menjadi lokasi subur bagi benih yang akan tertanam nanti. Pun lelaki, harus bisa menjaga kualitas spermanya agar benih yang tertanam fit sampai lahir, pun sampai ia tiba dan beradu dengan kejamnya dunia.

Dan ini yang harus dipikirkan. Sudahkah kamu menjaga kesehatan fisik dan mental kamu, wahai pujangga yang ingin menikah? Gue sih belom, masih obes dan kalau maksa punya anak saat ini juga akan menurunkan beberapa persen kemungkinan penyakit yang sama ke anak gue. Makanya mau kurus dulu sebelum kawin wkwk.

Pendidikan juga utama. Teknologi semakin canggih. Kita sudah menjajaki era millenium di mana dunia media merajai. Anakmu nanti pasti jauh lebih pintar darimu. Gizinya lebih cukup (jaman sekarang makanan apa aja ada), semua kegiatan terfasilitasi (yang hobi nyanyi ada aplikasi smule, yang hobi nulis ada blog, yang suka main games segala games di android banyak, dll).

Dan siapkah kamu mendidiknya?

Bisakah kamu menjawab pertanyaan “ma, kok ade bisa di perut? terus nanti keluarnya lewat mana ma?” atau “ma ini ada apa di bawah? (sambil nunjuk penisnya)”

Pertanyaan pertama biasanya di jawab, “iya, mama abis bikin kue bayi, terus mama makan. jadi deh dede di dalem. mm keluarnya nanti mama tinggal ngeden aja dari perut kayak ee.” (lalu yang dipikirkan anakmu, adiknya nanti keluar dari pusar. atau literally “kayak eek?” WK).

Pertanyaan kedua dijawab, “itu burung, sayang. jadi harus selalu disangkarin biar ngga kemana-mana.”

Gitu ngga sih? Emang itu jawaban yang seharusnya dia tau?

Atau, parah lagi ketika anakmu mulai beranjak  ramaja dan bertanya, “pa, kalau abang liat cewek kok burung abang suka aneh gitu ya rasanya?” ataau “maaaaa, ini di apem ade kok ada buluuuuu?”

Ketika dia beranjak remaja, kamu harus pintar menjelaskan banyak hal, terutama terkait perubahan pada diri anakmu. Untuk perempuan: cara memakai pembalut yang benar, cara membersihkan dan menjaga kelaminnya agar selalu sehat, cara berpakaian yang benar (dari batas mana saja yang boleh diperlihatkan orang lain dan yang engga), membimbingnya untuk belajar menggunakan miniset lalu bra, kenapa ada bagian berbulu ada ngga, kenapa harus mandi yang bersih dan cuci muka. Uh, dan banyak.

Kalau dia lelaki: cara ia menghilangkan desiran ketika testosteronnya mulai bekerja, kasih edukasi tentang bahaya video ena ena, uh dan gue ngga tahu lagi apa yang harus gue ajari ke anak gue kalau dia lelaki dan mulai tumbuh menjadi remaja.

Bahkan belajar perkembangan beberapa semester pun bisa aja terasa kurang expert kalau berhadapan langsung dengan objeknya. Apalagi kalau nilainya C?  Well, gue belum pernah merasakan sih, punya anak. Tapi apalagi yang mengandalkan, “udaaah jalani aja dulu. lama-lama juga biasa.”?

Dan itu ketakutan gue.

Jadi orang tua harus smart. Ngga bisa kita kasih jawaban “ngga tahu” atau anak kita akan malas bertanya, malas mencari tahu, dan hidupnya tidak akan bergairah, atau sebaliknya. Parahnya lagi, karena emak babehnya ngga bisa jawab, dia cari di internet dengan keyword “kalau ada aneh-aneh di burung harus ngapain?”

Ini jawabannya!

1468785806105

ANJAY! Lihat baris headline kedua. Bisa jadi dia pikir dia akan segera meninggal!

Susah ya?

Kenapa lagi gue contohin seksualitas mulu? Yha karena perihal seksualitas yang masih dianggap tabu sehingga sangat sulit untuk dijelaskan. Kalau yang nanya umurnya 25 tahun sih ngga apa. Lah kalau anak lima tahun?

Punya anak itu ngga gampang, guys.

Kita juga harus beri pengertian dia akan Tuhan yang sampai kapan pun ngga akan penah bisa ia lihat wujudnya (dalam beberapa keyakinan). Kita harus ajarkan dia cara berdoa, dan banyak.

Hm.

Setelah tahu tujuan, dan kesiapan memiliki anak, sila tanyakan lagi pada dirimu, “modal?”

Menikah idealnya harus ada selebrasinya atau kamu akan dicap “naon sih rahasia-rahasiaan. bunting duluan ya?” Ada biaya buat penghulu, makan tamu, undangan, baju, aaahh banyak.

Bukan hanya selebrasi ketika menikah, kamu juga harus mempersiapkan modal masa depan. Tadi udah diomongin masalah rumah dan tetek bengeknya, kendaraan, dll. Utamanya lagi adalah modal untuk anakmu mencapai cita-cita setinggi langitnya. Modal untuk menyekolahkannya sampai ia memiliki modal untuk fit di dunia sebenarnya.

Ada lagi. Hal yang bagi gue sangat penting adalah cinta –yang sejujurnya definisinya bagi gue masih abu-abu. Benarkah pilihanmu tepat?

Menikah adalah menyatukan dua insan dalam satu mahligai rumah tangga yang ngga bisa dijalani masing-masing. Harus ada kompak dan kerja samanya. Harus ada toleransi dan saling pengertiannya. Harus ada rasa saling diuntungkan. Bohong banget kalau ada yang bilang, “yang penting sama kamu, aku siap memberikan apapun ke kamu.” diporotin lu namanya.

Dan siapkah kamu berbagi rasa dengan siapapun itu yang akhirnya kamu pilih? Yakin kah kamu bahwa dia yang terbaik dari yang paling baik?

Proses.

Sampai kapanpun kita ngga akan pernah tahu jawabannya, karena hati mudah berubah.

Jadi masih ingin menikah?

.

.

Atau ikutan bikin kotak-kotak isi perencanaan dulu kayak gue?

So, apa yang kamu pikirkan tentang pernikahan, readers? Open for any ideas or critics or feelings. And contact me if you wanna share anything you want 🙂



Catatan:

Pemikiran ini memang berbelit. Bikin over thinking banget. Tapi percayalah. Untuk memulai sesuatu yang menjanjikan, harus dimulai dengan persiapan matang. Jangan sampai menyesal!

##ini bukan ajakan anti menikah##

Thought: What Do You Think About Masturbation?

Setelah beberapa lama ngga menulis, dan OK, gue merasa sekarang gue butuh untuk menuangkan segala kekacauan di kepala gue karena kelemahan gue dalam menjaga diri untuk sistematis sehingga apa yang ada di pikiran susah banget gue tuangkan.

Re: Gue lagi bingung banget menyusun kata-kata untuk rancangan penelitian gue, kalau boleh jujut. HELP ME LORD!

Kita bicara seksualitas lagi, OK? Mungkin 5000 orang di luar sana bertanya-tanya, kenapa sih Amel bahas seksualitas mulu? Yes, of course, the answer is… gue tertarik dan memang itu hal yang menarik bagi semua orang (maybe), sejak gue tahu “Apa itu hubungan seksual dan bagaimana melakukannya dan apa hasilnya…”

Bicara seksualitas secara umum, gue sudah pernah menulis mengenai perbedaannya dengan seks bukan? Gue menulisnya di sini.

Oke recall sedikit. Seks itu alat kelamin, emak gue punya vagina, bapak gue punya penis.

Seksualitas itu lebih luas. Ketertarikan emak dan bapak gue satu sama lain hingga fungsi seksnya bangkit dan berhasil menciptakan dua lagi manusia yang sama seperti mereka, gue dan adik gue, dalam balutan pernikahan. So hard to talked about it. Jadi mari kita kerucutkan pertanyaannya!

Kita akan membahas sesuatu yang mungkin dianggap tabu bagi sebagian orang, tapi masih dilakukan juga, karena “itu” adalah kebutuhan.

Masturbation.

Apa itu masturbation?

Masturbation is the self-stimulation of the genitals to achieve sexual arousal and pleasure, usually to the point of orgasm (sexual climax).

Ratini, 2014.

Ngeseks by yourself, coy! Caranya dengan menstimulasi bagian “sensitif” tubuh sampai kamu mengalami orgasme. Bisa dengan tangan aja dibantu sabun maybe, biasanya kalau lelaki. Atau kalau perempuan mengunakan jari-jari manisnya, bahkan sextoy.

Desire

Kaplan’s sexual response cycle, ilustrated by me on HERE.

Masih ingat bagan di atas? Baca ini, biar inget lagi haha.

Intinya, bagan di atas menunjukkan fase-fase pergulatan tubuh yang dialami oleh manusia terkait desire yang dia miliki. Ada fase desire di mana dari awalnya diem ngga jelas lalu tiba-tiba muncul bayangan-bayangan erotis yang serba porno… naik lagi, bayangan itu semakin terlihat nyata, membuat kita semakin panas dingin… sampai akhirnya kita merasa melayang di atas langit ke tujuh karena merasakan sensasi ketika akhirnya kebutuhan kita terlampiaskan. Ya. Orgasme. Lalu kita lemas seketika dan tertidur.

Nah dari tahapan-tahapan itu, untuk mencapai tahap paling atas yang membuat kita melayang-layang bisa melalui dua cara. Beneran melampiaskannya bareng sama pasangan, i mean you both making love under the moon, bergulat bersama dalam satu waktu. Atau… melalui cara yang kamu ngga perlu repot-repot mencari pasangan (buat yang belum menikah), yaitu dengan masturbasi.

Caranya? Ya tadi. Self-stimulation. Kamu menstimulasi tubuh kamu atau bagian tubuh tertentu, terutama bagian genital sampai akhirnya kamu merasa melayang.

Gue.. entah sejak kapan gue terjerumus dalam dunia gelap media sosial, jadi lebih paham mengenai kebutuhan ini. Bukan, bukan karena akhirnya gue bisa memenuhi kebutuhan ini pada diri gue, tapi karena gue banyak menemukan orang berkebutuhan ini dan mereka mencari cara untuk bisa memenuhinya.

Salah satunya dengan melakukan aktivitas virtual seperti chat sex, phonesex, bahkan video sex. Aktivitas ini sering kali dilakukan oleh orang yang mencari pemuas kebutuhan lewat dunia maya. Yap. Memanfaatkan teknologi tingkat tinggi ini maybe can be the best way to reach your orgasm, bagi kamu yang malu-malu kucing untuk ajak orang di sekitarmu buat sama-sama bergulat. Atau mungkin masih mau mempertahankan keoriginalitasan diri? Atau memang ngga ada kesempatan?

Beda-beda motifnya.

Gue pernah iseng melakukan survey kecil-kecilan terkait fenomena: “seringnya cowok-cowol yang main media sosial online X mencari cewek untuk diajak desah bareng” melalui salah satu media chatting online. Gue menanyakan pertanyaan simple: kenapa masturbasi?

Jawabannya beragam.

Fyi, gue menanyakan ini ke banyak orang sampai gue lupa dia siapa dan di mana, tapi gue ngga lupa detil jawabannya kok haha. Fyi lagi, semua yang gue tanyai belum menikah. Tapi di sini gue hanya akan menjabarkan jawaban dari dua orang.

Orang 1.

Pepaya (sebut saja), lelaki 27 tahun, sudah pernah melakukan hubungan seksual sebanyak 6 kali dengan pacarnya yang sekarang sudah jadi mantan.

“Ya.. lagi pengen.”

“Emang ngga bisa kalau ngga dikeluarin?” (you know the function of masturbation is to produce something juicy kan?)

“Engga. Rasanya aduh…”

“Tidur aja kali.”

“Ngga bisa, ngga akan nyenyak…”

Orang 2.

Apel, lelaki 23 tahun, katanya sih baru hampir mau ML sama pacarnya.

“Udah penuh… Udah hampir sebulan ngga dikeluarin.”

“Lah emang kenapa kalo ngga dikeluarin?”

“Ngga enak….” (Gue hanya bisa meraba-raba dengan tidak pasti definisi enak menurutnya apa. Someone can help me maybe?)

Selanjutnya gue menanyakan, “Kenapa harus sambil chatsex, phonesex atau videosex?” 

Penjabarannya akan sedikit panjang, jadi dihayati ya haha.

Orang 1, Si Pepaya.

“Ya…Biar bisa ngebayangin.”

“Jadi kalau ngga ada suara-suaranya ngga bisa ngebayangin?”

“Bisa. Tapi jadi seakan lebih nyata.”

“Emang bisa kalau lewat suara doang?”

“Bisa banget.”

“Kok aku ngga bisa?”

“Nah itu imajinasi kamu bermasalah.”

“Oooh. Sambil ngebayangin apa?

“Ya.. Sambil ngebayangi ML beneran.”

“Kenapa sih denger suara aja bisa?” (Seriously gue ngga tahu letak imajinasi anak lelaki di mana, seliar apa sampai suara aja bisa membantunya)

“Ya bisa. Jadi kayak beneran.”

“Kayak beneran gimana?”

“Ya kayak ML beneran.”

“Lah kok bisa?”

“Bisa, lah.”

“Kenapa?”

“Ya karena sambil dibayangin.”

“Oh.”

Bukan hanya Pepaya, Apel pun beranggapan sama. Menurutnya, dengan adanya stimulasi suara desahan wanita akan sangat membantunya dalam menuntaskan gairahnya yang sudah di ujung.

Hal ini masih gue pertanyakan hingga barusan, ketika gue menemukan jawabannya dalam textbook berjudul ‘Sexuality Now: Embracing Diversity, Fourth Edition, International Edition’ karangan Janel L. Carrol yang gue temukan di Perpustakaan Kampus gue.

“Men’s sexual fantasies tend to be more active and aggressive than women’s (Zurbriggen & Yost, 2004). They are often more frequent and impersonal, dominated by visual images.

Fantasi seksual pria lebih aktif dan agresif dibanding wanita. Lelaki lebih sering berfantasi seksual, didominasi oleh gambaran visual (Carrol, 2013). Jadi, ketika lelaki sedang berfantasi seksual, seringkali yang dibayangkan itu gambaran tubuh wanita, posisi bercinta, dapet pasangan yang agresif, oral sex, melakukan hubungan seksual dengan pasangan baru, juga melakukan hubungan seksual di pantai (Maltz & Boss, 2001, dalam Carrol, 2013) dan banyak lagi yang tergambar dalam satu bayangan visual.

Itu sebabnya, for getting happily ever after orgasm with masturbation, akan lebih mudah baginya melakukannya sambil membayangkan yang ena-ena ditambah adanya stimulus yang membuatnya semakin kuat membayangkan sesuatu yang ena-ena itu. Makanya, banyak lelaki yang candu video porno, candu phone sex video sex… 

Kalau perempuan?

Gue pribadi, ketika berfantasi yang ena-ena, lebih membayangkan sesuatu yang emosional seperti: ketika pasangan gue membelai rambut gue lalu dia mengucapkan kata-kata manis yang membuat gue tersenyum geli lalu dia menciumi tubuh gue perlahan dari mulai kening, kedua mata gue, hidung gue, bibir, lalu leher…. sampai ke bawah-bawah.

Yang telah gue jabarkan di atas selaras banget sama kata-kata ini, “Overall, women’s sexual fantasies tend to be more emotional than men’s and include more touching, feeling, partner response, and ambiance (Zurbriggen & Yost, 2004, dalam Carrol 2013).”

Kalau pada perempuan, seringkali yang dibayangkan lebih ke hal yang romantis seperti ketika bercinta dengan pasangan, membayangkan pengalaman seksual sebelum-sebelumnya, pertempuran dalam berbagai posisi, having sex di ruangan lain selain kamar, dan having sex di atas lantai bercarpet (Maltz & Boss, 2001, dalam Carrol, 2013).

Such a romantic moment  gitu ngga sih? Menurut gue sih iya.

Next question, what is the function of masturbation?

Experts view masturbation as a strategy to improve sexual health, reduce unwanted pregnancy, and avoid sexually transmitted infections (STIs; Kaestle & Allen, 2011, dalam Caroll 2013).

Masturbasi diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan orang-orang dalam berbagai usia, dan itu merupakan cara yang ampuh untuk mengurangi ketegangan dan kecemasan serta menyalurkan fantasi seksual (Carrol, 2013). As you know, kalau kita lagi pengen kan bawaannya panas dingin tuh, dan masturbasi sangat efektif untuk membuat diri lega kembali.

Dengan masturbasi, kita juga dapat mengeksplor tubuh lebih dalam untuk mengidentifikasi bagian mana nih yang potensial alias bagian sensitif pada tubuh, untuk selanjutnya diinformasikan kepada pasangan kita, untuk diberi intervensi lebih. You know what I mean.

Yang sangat menarik, masih berdasarkan textbook dari Carrol, disebutkan bahwa ternyata eh ternyata, mayoritas pria dan wanita belajar masturbasi dari media sosial dan teman-teman dekatnya, bukan dari orang tua mereka (Kaestle & Allen, 2011, dalam Carrol 2013). Hal ini menjawab kebingungan gue, dan membuat gue mengangguk seketika. Iya juga, ya.

Terus… pertanyaan selanjutnya: apa efek dari masturbasi? 

NSSHB (National Survey of Sexual Health and Behavior) menemukan bahwa masturbasi tidak berhubungan dengan kesehatan seseorang atau status hubungan seseorang (Herbenick et al., 2010, dalam Carrol, 2013).

Jadi seringnya masturbasi bukan berarti seseorang akan semakin sehat, pun sebaliknya. Namun berdasarkan satu sumber, masturbasi bisa jadi satu cara untuk terapi penyembuhan bagi orang yang memiliki disfungsi seksual. Masturbasi juga bisa menjadi satu pelajaran penting untuk lelaki agar dia ngga mengalami premature ejaculation atau ejakulasi dini, karena dengan masturbasi, lelaki bisa belajar untuk mengontrol apa ya disebutnya… pokoknya mengontrol dirinya biar ngga terlalu cepat mengalami orgasm. 

Dan kalau ada yang nanya: jomblo sering masturbasi ya?

Sudah terjawab. Ngga ada hubungannya. Yang sudah menikah pun, kalau dia udah ngga kuat tapi pasangannya jauh, atau pasangannya lagi ngga mood atau lagi in period, bisa aja tuh masturbasi. 

Kalau keseringan masturbasi gimana?

Seringnya seberapa dulu. Kalau intensitasnya sampai 50 kali sehari jelas ngga sehat. Capek, brow, sist!

So, whaddayathink about masturbation? Chat me if you wanna ask and/or discuss about this.


Sources:

Carrol, L. Jannel. 2013. Sexuality Now Embracing Diversity, Fourth Edition, international edition. Canada: Wadsworth, Cengage Learning. | Are there any side effects of masturbation? (Sex query) | Thought: What Do You Think About Desire?

Thought: What Do You Think About Desire?

6571a99ec7e6b7ad768f6851bba5615f_large

Source : HERE.

Ini judul yang sangat berani, sejujurnya. Diawali rasa penasaran berlebih akan “apa itu cinta?” yang selalu gue pertanyakan pada dunia, dan akhirnya… sampai sekarang belum menemukan penjelasan kongkrit tentang cinta. Ya iyalah… secara cinta memang sesuatu yang abstrak, yang sulit diraba, sulit dideskripsikan.

Dan gue pikir cinta selalu terkait dengan satu hal ini: desire. Ini yang sedang gue pertanyakan: What do you think about desire? Apa yang kamu pikirkan tentang gairah? Apa itu gairah? Apakah sesuatu yang porno? Kewajaran? Ketidakwajaran?

Of course sebagai orang yang sudah dewasa, kita semua mengerti, gairah seperti apa yang dimaksud di sini. Gairah yang bukan perkara keinginan untuk makan minum mandi, bukan perkara kebutuhan untuk berteman apalagi menjalin persahabatan, tapi desire yang muncul ketika kamu ingin memeluk seseorang, meraba, merasakannya dalam tubuh kamu.

Kebayang?

Sebelum membahas lebih jauh tentang gairah, yuk bedakan dulu antara sex and sexuality yang kerapkali di-sama-artikan. Awalnya pun gue ngga tahu bahwa dua hal ini berbeda. Tapi sekarang gue tahu, seiring rasa penasaran gue yang begitu dalam mengenai hal terkait seksualitas (dulu gue bilangnya seks).

Seks adalah jenis kelamin, secara biologis. Perempuan punya vagina, laki-laki punya penis. Sedangkan seksualitas itu luas banget cakupannya. Ada secara biologis yang berkaitan dengan organ reproduksi dan alat kelamin; terus psikologis yang berkaitan dengan perilaku manusia sebagai makhluk seksual, perannya, serta dinamikanya terhadap seksualitas itu sendiri; terus sosial yang erat kaitannya dengan hubungan seksual yang muncul dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat, seberapa berpengaruh di lingkungan; lalu kultural yang menunjukkan bahwa perilaku seksual merupakan bagian dari suatu budaya (dalam sini).

Luas banget. Pokoknya kalau ngomongin seksualitas bisa terkait banyak hal deh.

Intermezzo sebentar. Gue tetiba teringat bahwa dulu gue pernah mendeklarasikan diri gue sebagai “pakar seks”. Gue pikir ngga aneh, tapi setelah gue tahu perbedaannya… masa iya gue pakar alat kelamin? Gue bukan mau jadi dokter spesialis kelamin, dan memang bukan itu yang gue maksud.

Oke, lanjut lagi.

Bicara tentang gairah, yang wajib semua tahu adalah bahwa gairah yang sedari tadi dimaksud itu ngga ujug-ujug muncul. Ini murni datang dari bawaan kita sebagai manusia, bukan sebuah kesalahan. Normal terjadi pada manusia.

Dan ini diteliti oleh banyak peneliti, salah satunya Masters dan Johnson yang melakukan penelitian dengan mengumpulkan langsung data observasi dan pengukuran psikologis dari orang yang masturbating dan melakukan hubungan seksual (dalam buku Abnormal Psychology Edisi 12 nya Prof. Kring dkk, halaman 365).

Masters dan Johnson (1966) ini mengemukakan siklus respon seksual manusia lewat penelitian yang mereka lakukan. Model ini terkenal dan banyak dipakai di pertengahan tahun 60-an. Dalam siklus respon seksual ini, Masters dan Johnson membaginya ke dalam empat fase, exitement, plateau, orgasm dan resolution. Fase ini terjadi dalam satu garis lurus dimana tiap fase terjadi setelah fase lainnya (dalam sini).

Singkatnya, Kaplan (1974) mengkritik dan menyempurnakan pendapat Masters dan Johnson, serta mengidentifikasi bahwa ada empat fase dalam siklus respon seksual seseorang, dan bentuknya tidak linear, tapi seperti ini:

Desire

Kaplan’s sexual response cycle, ilustrated by me on HERE.

Desire Phase.

Fase ini ditandai dengan munculnya ketertarikan seksual atau gairah seksual yang terasosiasi dengan fantasi seksual atau pikiran-pikiran porno. Ini adalah gairah yang sebelumnya kita maksud, dimana gairah ini muncul secara alami, normal pada semua manusia.

Agar lebih mudah memahami dan membedakan tiap fasenya, gue membuat sebuah ilustrasi lucu yang cukup menggambarkan siklus ini. Desire itu ibarat kelinci yang sedang kelaparan, lalu melihat wortel. Dia jadi mupeng, jadi tambah pengen banget makan wortel. Keinginan itulah yang dimaksud desire atau gairah.

Pada manusia jelas, desire datang diiringi bisikan-bisikan dahsyat yang membuat kita membayangkan hal-hal porno seperti naked man/woman, kissing, necking, atau fantasi perilaku seksual apapun. Seperti kelinci yang kelaparan, se-ingin-itu-loh “makan” wortel.

Excitement Phase

Pada fase ini, fantasi seksual menyenangkan yang ada dalam pikiran tadi, semua itu berhasil membuat aliran darah meningkat ke organ genital. Pada pria, aliran darah menuju satu titik, yaitu penis, membuatnya mengalami ereksi. Pada wanita, meningkatnya aliran darah ini mempelopori munculnya tanda-tanda fisik seperti menegangnya payudara, serta lelehnya cairan lubrikasi dalam vagina.

Di sini kenaikan garis diartikan sebagai hubungan secara biologis terhadap tubuh seseorang. Di mana pada fase ini, tubuh semakin menegang dan semakin memunculkan hawa-hawa “ingin menyalurkan” keinginannya, ingin membuat dirinya terlepas dari kegelisahan.

Digambarkan sebagai burung yang menuju awang-awang, fase ini pun begitu. Seperti burung yang sedang beranjak ke tingkat tertinggi, se-sulit-itu untuk “menahan” gejolak dalam fase ini. Apalagi untuk pria, karena tanda-tanda biologisnya begitu jelas. Iya nggak, dude?

Orgasm Phase.

Ini adalah fase yang membawa kita ke surga, ke dalam suatu kesenangan yang sangat. Fase ini merupakan puncaknya kenikmatan. Sesuai ilustrasi, dalam fase ini kita serasa di bawa ke atas langit, bertemu bulan dan bintang, begitu indah dirasa.

Fase ini ditandai ejakulasi pada pria, dan konstraksi dinding vagina pada wanita.

Resolution Phase.

Fase terakhir merupakan fase relaksasi, di mana perasaan bahagia dan kesejahteraan muncul karena lepasnya hormon kesenangan dari otak dan menyebar ke seluruh bagian tubuh. Setelah di bawa ke awang-awang, ke surga, ke bulan dan bintang, fase relaksasi muncul, mengingatkan bahwa kita masih di bumi, kita harus istirahat.

Dan yang namanya siklus, fase-fase ini terus berulang selama manusia masih hidup.

Itu dia keempat siklus pergairahan… Hm… Sexual Response Cycle dari Kaplan intinya gitu. Dan itu dijelaskan secara ilmiah, membuat kita mengerti bahwa ini semua normal dihadapi manusia, buat yang sudah menikah ataupun belum.

Dewasa ini… *Maaf formal dikit, biar agak ilmiah wkwk* kita sering dikejutkan oleh banyak permasalahan terkait desire —yang muncul dan disalurkan belum pada waktunya– dalam lingkungan sehari-hari. Contoh, seks bebas di luar nikah. Ini sangat memprihatinkan, melihat Indonesia adalah negara dengan budaya bermoral.

Rabu 2 maret 2016 lalu, gue mengikuti sebuah pembahasan yang sangat menarik minat gue terkait seksualitas yang diadakan oleh DKM Ath-Tholibin dari Fakultas Psikologi Unpad yang menghadirkan sumber hebat di bidangnya. Tema dari diskusi ini adalah “Fitrah Seksual”. Di sini kita membahas seputar fenomena terkait desire dan pemuasan yang belum pada waktunya, khususnya di Jatinangor, juga pertanyaan-pertanyaan yang kerapkali muncul dalam benak kami –gue pribadi.

Beberapa contoh kasus dibahas:

(T= Tanggapan oleh dosen)

S : Saya melihat teman saya (pria), mantan anak pesantren, bawa perempuan ke kostnya. Bahkan saya mendengar bahwa di sini, itu sudah biasa.


T : Memang. Fenomena ini ada di sekitar kita, terbukti, ada satu fakta menarik tentang selokan mampet. Di desa *tuut* pernah ada kasus selokan mampet, dan ketika di cek, ternyata isinya kondom-kondom telah pakai. Banyak. Ini menjadi sesuatu yang sangat mengejutkan, melihat bahwa kita hidup di lingkungan belajar, lingkungan kampus. Merasa bebas, bisa jadi ini yang membuat anak rantau bersikap demikian. Beda. Di rumah dia diawasi, di tempat yang jauh dari rumah? Dan apa yang terjadi ketika keinginan itu muncul? Ya dilampiaskan begitu saja, tanpa pikir panjang, pokoknya “di sini aing bebas”, maka terjadilah.

Lagi…

A: Saya menemukan kejadian yang mengagetkan di Pau* yaitu dua orang wanita berciuman. Bagaimana saya menangapinya?

B: Bahkan saya pernah lihat di masjid. Apa yang harus saya lakukan?

C: Saya punya teman, dia mengaku pada saya bawa dia seorang lesbian. Dia memasang foto mesra dengan pacar lesbiannya, dan berganti-ganti pasangan. Tapi dia juga main sama lawan jenis, dan perpindahannya begitu cepat. Dia tinggal serumah dengan lawan jenisnya, itu pacarnya, dan mengaku mereka sering melakukan hubungan intim. Saya pikir dia sudah kembali sesuai kodratnya, perempuan dengan lelaki. Namun beberapa bulan kemudian, dia kembali berpacaran dengan sesama jenisnya. Kok bisa perpindahannya semudah itu? Bahkan saat dia berhubungan sesama jenis, sering dia gonta ganti pacar.


T1: Artinya kebebasan itu makin bebas, ya. Fenomena berhubungan sesama jenis ini sudah menjadi trend, ngga bisa disembunyikan, bahkan sudah ditoleransi yang membuat kontrol sosial hilang. Yang namanya toleransi, sekalinya ada yang namanya toleransi, perbuatan itu semakin diulang lagi diulang lagi sehingga nilai-nilai moral sosial budaya bergeser.

T2: Cara kasih taunya gimana? Contoh kasus temanya C, coba kasih tahu yang benar. Kita lihat tanggapannya. Kalau dia merespon dengan cukup baik, artinya merasa bahwa itu juga benar, lanjutkan. Kasih tahu ilmu-ilmu yang benar, data yang benar, agar dia sadar dan keluar dari lingkarannya. Kalau dia denial, bahkan marah, yasudah. Biarkan.

Lagi…

T1: Kalau sudah muncul hasrat, keinginan seksual, desire, ditambah godaan mendalam dari luar. Gimana? Kalau di sini, insyaallah ya masih baik gitu, masih bisa menahan. Kenapa bisa tahan? Caranya?


L: Kalau saya (laki-laki) ingat aja tujuan di sini kuliah, ingin membuat orang tua bangga, jadi sebisa mungkin saya menahan, agar tidak membuat orang lain apalagi orang tua sendiri kecewa.

K: Kalau saya (laki-laki), iya sama seperti L, tapi saya juga melihat bahwa diluar kebebasan yang tersaji di tempat rantau ini, ada loh yang mengawasi kita dari dekat. Tuhan.

C (C ini adalah orang yang sangat jujur dan terbuka): Saya (perempuan)… Boleh ngga saya bilang karena memang ngga ada kesempatan? Karena begini. Keinginan itu, saya pribadi merasa, ada banget dalam diri saya. Tapi selama ini, dari SMP SMA, teman-teman saya, sahabat-sahabat saya “kebetulan” orang-orang baik semua, yang membawa saya pada kebaikan. Jadi secara ngga langsung saya menyadari bahwa, oh ini ngga baik, jangan. Bahkan bukan hanya keinginan negatif untuk melampiaskan hasrat seksual saja, seperti keinginan merokok, minum, ngedrugs, saya enggan karena teman-teman baik saya yang… ya… yang baik-baik.

T1: Nah, bagus. Ungkapan-ungkapan tadi artinya apa? Ada kontrol diri dan kontrol sosial. L dan K, bisa mengontrol dirinya sendiri atas pilihan pribadi. “Saya enggan, karena saya ingin membahagiakan orang tua. Saya enggan, karena Tuhan.” Itu dasar. Kalau pada C, “teman-teman saya membawa kebaikan” kontrol sosial kan ya? Peers gitu. Peers kita yang mengontrol tingkah laku kita, sehingga kita enggan. Lingkungan seperti itulah yang diharapkan ya, sedikit banyak bisa menyirami “orang dengan perilaku seks bebas” dengan kebaikan. Pelan-pelan saja, nanti lama kelamaan dia akan ikutan baik.

T2: Berbicara diulang lagi, diulang lagi seperti yang terjadi pada temannya C. Berhubungan lagi, putus nyambung. Kenapa susah lepas? Karena adanya conditioning. Kaya nonton video porno deh. Sekali, dua kali, lama-lama kecanduan, membuatnya menjadi sebuah habit. Ada kebutuhan. Ketika kita terkondisikan untuk melihat lagi, melihat terus-terusan, neurotransmitter dalam otak kita jadi terpaku pada hal itu. Akhirnnya kita kebayang terus, berputar terus di dalam otak kita.

Cara gilanginya gimana? Kalau saya pakai One Day One Juz. Jadi baca alquran, minimal sehari satu juz. Susah banget memang untuk membiasakannya. Tapi sama seperti conditioning tadi.. Ketika kita melakukannya terus, mengulang lagi, mengulang lagi, lama kelamaan kita akan terbiasa.

T1: Benar sih, hadist yang bilang bahwa bentengnya surga itu semua hal yang tidak enak, sebaliknya.. benteng neraka adalah semua hal yang enak-enak. Jadi jalan menuju surga ya semua yang dilarang, semua yang tidak nikmat. Kadang orang kan ngelihatnya yang enak-enak aja ya. Dia ngga sadar bahwa detik itu juga dia sedang melangkah ke neraka.

Got the points?

Mari kita bahas. Pertama, gue tidak ingin membahas terlalu banyak tentang agama, sekali lagi, karena ilmu agama gue masih sangatlah cetek. Tapi satu yang jelas, salah satu dari banyak cara untuk menahan gairah adalah dengan mendekatkan diri pada Tuhan. Secara langsung, kalau kita berbuat demikian, benteng pertahanan dari dalam akan terbangun.

Gue bicara dari perspective gue, ditambah dengan beberapa sumber, termasuk diskusi kemarin. Dalam diskusi jelas banget menyatakan bahwa “fenomena seks bebas di Indonesia, di Jatinangor, sudah bukan hal yang rahasia lagi”. Kenapa?

  1. Bergesernya nilai-nilai karena adanya toleransi. Human right, human well-being, ini dia yang sedikit banyak menjadi penyebab hilangnya nilai-nilai di masyarakat. Orang Indonesia kini, gue akui banyak yang mulai berpaham liberal seperti gue wkwk, sehingga kepedulian akan pencegahan masih sangat kurang. Kalau sudah kejadian, sudah ketahuan, sudah ada hasilnya, baru ribut. Tapi untuk kepedulian permasalahan seks bebas or all about sexuality, gue sih sangat peduli. Paling engga buktinya lewat tulisan ini. Oke deh passion orang berbeda. Nah, toleransi nih….
  2. Adanya kebutuhan berlebih karena sudah terlanjur tersuruk. Ini bahasanya… Terlanjur masuk lubang, maksud gue. Yang kecanduan masturbating, yhaa karena sudah terlanjur sekali dua kali masturbating. Yang kecanduan ngeseks, yhaa karena sudah terlanjur ngeseks. Padahal ngajak seseorang untuk “itu” tidak segampang nonton video porno.

Honestly, Si C adalah gue. Gue mengaku, gue merasakan sendiri desire itu, terlebih karena gue sudah merasa di usia yang cukup untuk kedatangan gejolak semacam itu. Gue sudah terkontaminasi pikiran kotor sejak SD, fyi, berawal dari pelajaran reproduksi di akhir kelas 5, juga karena teman-teman SD gue otak porno semua.

Well, gue rasa, kamu yang membaca punya pengalaman sendiri terkait desire ini. Ketika dia datang, bagaimana kita memperlakukannya… Menikmati atau dengan teguhnya bersabar dan memaki agar itu hilang. Atau sungguh-sungguh mengusirnya dengan segala macam cara, seperti melakukan aktifitas positif (kalo gue biasanya nulis atau nonton. Nonton drama korea ya, bukan nonton blue film), atau dengan berwudhu dan baca alquran buat yang muslim.

Banyak cara dan kita masing-masing tahu bahwa untuk menghilangkan desire itu bukan hanya dengan melakukan seks “dengan partner” –gue ngga tahu pasti sih kalau ngga ada partnernya disebut ngeseks juga apa engga. Tapi yang jelas itu pun perilaku seksual. Jadi kayaknya iya…. *kok jadi ngga yakin gini?* well, masalah redaksi aja kok– secara bebas, tanpa ikatan resmi yang diakui negara dan agama, tapi banyak caranya.

Kita hidup dalam-ketidak-bebasan, dan itu takdir menjadi orang Indonesia. Jadi, say no to free sex! (((Jadi kampanye gini))) Kalau engga:

  1. Jika ketahuan, kamu akan malu setengah mampus, bisa jadi dikucilkan. Karena? Kamu tingal di Indonesia dengan mayoritas penduduk yang paham betul bahwa kumpul kebo, MBAfree sex, apapun itu sebutannya merupaka hal yang negatif.
  2. “Ngga akan ada lagi kesucian melakukan ITU di malam pertama kamu dengan istri/suami kamu.” Kata Kang Gimmy, salah satu dosen yang terlibat dalam diskusi kemarin. Ini paling penting, sih. Karena apa? Ya… Melakukan ITU sudah menjadi biasa buat kamu –paling engga sudah bukan lagi suatu kejutan, jadi ngga akan ada sensasi geli-geli lagi. Padahal momen malam pertama itu kan ya begitu… Momen sakral, yang… ya, you now what I mean.
  3. Harga kamu sebagai manusia akan hilang. Bukan buat orang lain, tapi buat diri kamu sendiri.

Desire itu wajar banget kok. Kalau ngga ada gairah, itu tandanya kamu belum gede, atau bisa jadi tidak normal. Kita manusia, dan memang diciptakan untuk melakukan hubungan seksual ._. no no no, tapi bukan itu satu-satunya tujuan manusia di bumi. Manusia punya akal, yang bisa membedakan mana yang boleh, mana yang engga.

So now, whadday think about desire?

Open discussion, nih. Feel free to talk with me, ok? I’m open minded and positive enough, kok 🙂


Sources:

Kring, Ann M., et al. 2013. Abnormal Psychology Twelfth edition. Hoboken: John Wiley & Sons, Inc. | Diskusi “Fitrah Seksual” ditemani oleh tiga dosen ahli Fakultas Psikologi Unpad | What We Can Learn From Sexual Response CyclesA Definition of Sexuality | Definition of Terms: Sex, Gender, Gender Identity, Sexual Orientation | Pengertian Seks dan Seksualitas

Thought: What Do You Think About LGBT?

rainbow-pride-gay-lgbt-flag

Ini adalah salah satu postingan paling tidak direncanakan, yang pada awalnya gue bingung akan judul yang harus diberikan. Intinya sih, gue ingin mengemukakan pendapat gue tentang isu yang tiba-tiba hangat (lagi) setelah sempat redup–ini gue ngga tahu sih awal mulanya kenapa ini jadi HOT banget (lagi) sekarang. Someone please tell me the beginning. In fact! (Kasihanilah orang yang di kostnya ngga ada teve ini hikss.)

Sejujurnya, gue sudah mengerti istilah LGBT ini sudah lama, jauh sebelum gue jadi anak psikologi. Waktu gue SMA, sering banget gue mendengar istilah ‘maho’ alias manusia homo yang dijadikan bahan lelucon, dan sempat membuat gue bertanya-tanya, “Apa lucunya?” Bukan mau buka kedok, gue punya orang terdekat yang mengalami persoalan ini. Jadi gue paham betul bahwa masalah orientasi seksual apapun itu namanya, bukan hal yang patut ditertawakan.

Jadi, apa itu LGBT?

Singkatnya…

LLesbian, cewek suka cewek.

GGay, cowok suka cowok.

BBisexual, suka cewek juga cowok.

TTransgender, cewek jadi cowok atau cowok jadi cewek.

Sebelumnya, kalau ada tokoh agama yang baca, atau orang straight yang selalu apa-apa bawa agama, sorry to say, gue bukan mau menghardik pendapat kalian, tapi selayaknya kepercayaan yang akhirnya memetakan kita dalam agama-agama tertentu, LGBT juga demikian. Rasa itu, menjadi seseorang dengan orientasi seksual yang berbeda dengan norma yang berlaku dalam lingkungannya, juga merupakan kepercayaan bahkan kebenaran yang dirasakan di luar kemampuan batas manusia itu sendiri.

Agama, gue sudah pernah mengemukakan pendapat gue tentang itu sebelumnya, bahwa agama itu beyond our spirituality. Kepercayaan bukan sesuatu yang harus diperbincangkan pun dipertanyakan, karena masing-masing orang punya hak untuk menentukan kepercayaannya. Lewat apa? Orang tua kita? Jangan salah. Banyak orang yang pindah agama. Dan itu adalah hati yang memilih.

Sama seperti LGBT, mereka punya hak untuk memilih sesuai dengan kehendak hati mereka. Di luar kemampuan mereka, di luar batas mereka, dan itu pilihan mereka.

Sebelum bicara terlalu banyak –gue sendiri pun sangat berhati-hati membicarakan ini karena ini opini yang gue punya, setelah membaca banyak bacaan lewat internet dan memutar otak untuk mengingat materi yang pernah disampaikan dosen gue terkait ini–yuk ketahui dulu beberapa perbedaan mendasar dari beberapa hal di bawah ini:

genderbread

Source: HERE.

  1. Gender identity

Gender merujuk pada satu peran dalam lingkungan sosial. Laki-laki berperan sebagai kepala keluarga dengan bekerja, mencari nafkah –artinya dia bersifat maskulin, lalu perempuan berperan feminim — lemah lembut. Gender identity ini bukan jenis kelamin, ingat! Dia adanya di atas, di kepala manusia. Artinya, gender identity adalah apa yang kamu pikirkan tentang diri kamu, peran seperti apa yang akan kamu jalani dalam kehidupan kamu.

Gender identity terbagi menjadi tiga. Man ketika dia  berperan sebagai pria–mencari nafkah, lalu woman ketika dia perperan sebagai wanita –masak; bersih-bersih rumah; cuci baju; menjaga anak, dan genderqueer ketika dia merasa bahwa identitas dirinya tidak sesuai dengan norma yang ada di lingkungan sosialnya. Si genderqueer ini seringkali bingung dengan identitas dirinya sehingga tidak dapat memastikan perannya dalam lingkungan sosial. Mereka tidak dapat mengidentifikasikan diri sebagai lelaki atau perempuan sejati, itu mengapa mereka ada di tengah-tengah.

Tapi orang dengan gender identity yang berkebalikan dengan jenis kelaminnya belum tentu LGBT. Contoh: Mas-mas di salon kecantikan. Biasanya suka ada kan cowok yang kerja di salon? Kadang ada yang bener-bener masih mas-mas, ada juga yang udah bapak-bapak. Bekerja di salon dianggap normal bagi kaum wanita, namun tidak untuk lelaki. Tapi faktanya, mas-mas salon juga ada yang punya istri dan anak.

Jadi kalau ada yang bilang bahkan sampai men-cap seperti, “Ih cowok kok suka masak? Dasar gay!” atau “Ih kok cowok jadi designer baju perempuan? Dasar gay!” itu tandanya pikiran itu masih perlu diluruskan.

2. Gender expression

Ada ngga yang pernah bilang gini, “Ih, lekong!” ke orang yang ngga sengaja ditemui di tempat umum? Nah, lekong ini pasti kamu lihat dari tampilannya kan? Lelaki dengan cara berjalan yang gemulai, pakai baju warna pink, gesture keperempuanan. Ini yang dinamakan dengan gender expression. Tampilan –apa yang dilihat, yang membuat dia seolah-olah tampak seperti lelaki atau perempuan.

Gender expression ini dibagi tiga: Feminine, masculine, dan androgynous –di tengah-tengah, bisa jadi keduanya.

Seseorang yang terlihat ke-lelaki-an atau-ke-perempuan-an, mereka juga belum tentu masuk ke dalam salah satu kategori LGBT. Bisa jadi memang penampilannya seperti itu. Bisa jadi memang dia (seorang laki-laki) menyukai warna pink, sehingga dia sering memakai kemeja dengan warna itu ke manapun dia pergi. Bisa jadi, penampilannya adalah tuntutan kerja yang mau ngga mau harus dia jalani.

Contoh orang dengan Gender expression yang berkebalikan dengan jenis kelaminnya yaitu Ivan Gunawan. Seperti yang semua tahu, tampilannya ke-perempuan-an kan? Seringkali dia tampil di muka publik dengan memakai pakaian model perempuan, berjalan lenggak lenggok gemulai, cara bicaranya ngondek. Tapi faktanya? Dulu doi pacaran sama Rossa, dan dia juga pernah digosipkan dekat dengan beberapa perempuan.

Satu lagi deh, contohnya. Mitha The Virgin. Cewek kan dia? Tapi penampakannya cowok banget kan? Itu dia ekspresi gendernya. Dan sekali lagi, belum tentu dia lesbian.

Jadi, kalau sampai saat ini masih ada yang berpikir orang yang terlihat sejenis dengan Ivan Gunawan dan Mitha The Virgin itu pasti LGBT, yaa coba cari-cari banyak jurnal deh, biar bisa berpikir lebih ilmiah.

3. Biological sex

Ini dia penandaan seseorang lelaki atau perempuan melalui biologisnya, yaitu melihat dari jenis kelaminnya. Lelaki memiliki Mr. P dan perempuan memiliki Miss V. Tanda biologis ini juga ditandai dengan adanya hormon-hormon dalam tubuh manusia. Ada testosteron pada lelaki, dan estrogen juga progesteron pada perempuan, yang secara alamiah membuat seseorang terlihat seperti lelaki maupun perempuan.

Dan ini adalah takdir yang tidak bisa dielakkan.

Jenisnya ada tiga. Male, female dan intersex. Intersex ini yang dikenal dengan kelamin ganda.

4. Sexual Orientation

Nah ini dia! Dari sini baru deh kita dapat mengidentifikasi/mencap/ melabeli/menyebut seseorang itu sebagai LGBT atau bukan. Bukan dari tampilannya, peran sosialnya, apalagi jenis kelaminnya, seseorang disebut LGBT dilihat dari orientasi seksualnya.

Orientasi seksual adalah kepada siapa kamu secara fisik, seksual, dan emosional tertarik baik dengan lawan jenis maupun sejenis.

Sexual orientation ini ada tiga. Pertama, heteroseksual. Ini adalah jenis hubungan yang dianggap paling normal yang diakui oleh dunia. Menyukai lawan jenis, artinya lelaki tertarik secara fisik, seksual, dan emosional kepada perempuan, begitu juga sebaliknya.

Kedua dan ketiga, homoseksual dan biseksual. Di sini LGBT berada. Homoseksual adalah mereka yang secara fisik, seksual, dan emosional tertarik dengan sejenis. Ketika lelaki menyukai lelaki (gay) dan perempuan menyukai perempuan (lesbian). Lalu biseksual, ketika seseorang menyukai lawan jenisnya, pun orang sejenisnya. Mereka inilah yang sekarang sedang digembar-gemborkan publik (lagi).

NAH!

Dari sini kita bisa melihat bahwa untuk menebak-nebak apakah seseorang itu LGBT tidak semudah mengidentifikasi buah melon di dalam deretan buah semangka (artinya ya emang ngga ada kan? karena kita tahu melon itu bentuknya beda dari semangka). Makanya kalau ada yang menebak-nebak sesorang sampai mencapnya sorang LGBT, itu adalah pikiran awam.

Dan untuk mengaku pada dunia bahwa mereka punya keanehan dalam normanya, itu sulit. Ada beberapa tahapan yang harus mereka lewati dengan kebimbangan dan banyak pertimbangan. Mungkin bagi mereka hidup adalah bagian tersulit dari hanya sekedar bernapas, bahkan jauh lebih sulit.

Gue sebagai manusia biasa –yang sedang berusaha “mengenal” manusia lain lewat belajar di Fakultas Psikologi, sekaligus manusia yang menghargai perbedaan dan kebebasan, menganggap bahwa fenomena LGBT itu sudah biasa, makanan sehari-hari, dan itu bukan masalah. Bukan gue ngga peduli, justru sebaliknya. Itu cara gue menghargai seseorang. Bukan dengan stigma tertentu, bukan berdasarkan idealisme tertentu.

Fenomena LGBT sudah ada sejak dahulu kala. Dan yang namanya fenomena ya sudah menyebar meraja lela ke penjuru. Ibarat gas, fenomena itu sudah menyebar dan menyatu ke udara. Mau diberantas, mau diilangin, ya susah pol. Mau orang-orang demo, apalagi hujat yang bersangkutan juga perkara itu ngga akan hilang dengan mudah. Dia butuh semua merasakannya, seperti gas yang minta orang menerimanya dengan menghirupnya tanpa batuk, tanpa tutup hidung. Dan mau ngga mau orang juga harus terima kan kalau ngga mau mati karena saking kuatnya nahan napas?

Begitu. Yang namanya ketertarikan dan cinta itu mekanisme otak yang semua orang alami kok. Tanpa terkecuali. LGBT juga sama seperti kita yang memiliki orientasi seksual dengan lawan jenis. Dia juga manusia yang terlahir dengan mekanisme biologis yang sama seperti semua manusia di muka bumi ini. Dari mulai pencernaan, pernapasan, sampai mekanisme yang membuatnya tertarik kepada orang lain even itu kepada sesama jenisnya.

Love is psychological reaction when our lymbic system is active and

our frontal cortex stops.

— Kang Aul, 2016

Kang Aul ini adalah salah satu dosen favorit di kampus, spesialisnya health psychology. Beliau menyampaikan kata-kata indah di atas ketika menjelaskan materi terkait mata kuliah metpen II di kelas, membuat kami sekelas mengangguk serentak. Ada yang sambil senyum, ada yang dengan semangatnya bilang “Nah! Iya bener juga.”, ada yang kebingungan + bertanya-tanya penasaran kayak gue karena kelupaan apa fungsi sistem limbik dan frontal cortex… HEHE ._.

Hmmm… Setelah gue cari-cari,

Sistem limbik itu tempat amygdala berada. Ya, dialah empunya emosi. Di sini pengaturan emosi seperti marah, sedih, senang, semua diatur. Selain ada amygdala, sistem limbik juga mengatur fungsi mental yang lebih tinggi seperti belajar dan memori. Sedangkan bagian frontal cortex ini terletak di bagian depan otak kita yang berperan penting dalam membuat keputusan, juga pemecahan masalah.

Itu dia kenapa keluar istilah “cinta itu buta”, karena seringkali orang yang jatuh cinta tidak dapat mengambil keputusan dengan benar, bahkan cenderung berpikir irrasional —menghalalkan segala cara. Yang penting, “Da aku mah kieu sama dia”. Kalau cinta ya udah. Pokoknya dia segalanya buat aku. Gitu kan? Dan ini dijelaskan secara ilmiah.

Ketika kita jatuh cinta atau tertarik dengan seseorang, sistem limbik kita menggebu-gebu –membuat diri kita dipenuhi oleh berbagai emosi yang “tidak dapat kita definisikan” sendiri sebenarnya emosi macam apa itu–sedangkan otak bagian depan kita berhenti, hingga kita kebingungan, dibutakan, membuat diri sendiri seringkali kurang tepat dalam mengambil keputusan.

Itulah sebabnya mengapa proses itu —even pada LGBT– normal dialami oleh seluruh manusia di muka bumi ini. Mekanisme biologis kita sama, dan itu ngga aneh walaupun orientasinya ke sesama jenis. Karena yang namanya ketertarikan ngga bisa dikotak-kotakan hanya karena kita ingin atau karena norma yang berlaku di sekitar, tapi itu semua sudah tertata dalam mekanisme otak kita.

Dan kebutaan itulah yang terjadi pada LGBT. Sama seperti kita (bukan LGBT) yang tergila-gila dengan kekasih pujaan hatinya kan? Mau jelek, mau selengekan, mau bodok, kalo udah jatuh cinta kita bisa apa?

So, apa bedanya LGBT dengan manusia lainnya?

Ngga ada.

Now, whaddaya think about LGBT?

Contact me for more discussionsI’m avaliable and open minded enough, kok 🙂


Source:

The Genderbread PersonThe Limbic System | Frontal Lobe | Frontal Lobe | Urban DictionaryLectured by Mbak Rosi dan Mbak Eka di kelas Temu Ilmiah Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran | Lectured by Kang Aul di kelas Metodologi Penelitian II | Flag |