Lantunan Sepi

Aku, lagi-lagi menulis. Perihal sepi yang tak kunjung ramai.

Aku kesepian. Terus saja begini sampai lupa. Tapi rasanya terus-terusan dan belum habis sepinya, maka aku belum lupa.

Maka sepi masih dirasa.

Adakah satu waktu yang adil? Yang mempertemukanku dengan ramainya malam tanpa kelam.Yang membasuhiku dengan deringan rasa bahagia saking terlalu keras tertawa. Yang membawaku pada pengharapan: aku tak akan pernah sendiri lagi.

Punggungku kelu berharap ada yang paham bahwa ia butuh usap, begitupun rambut yang selalu kutata serapih mungkin, juga bibir yang selalu kujaga kelembabannya.

Adakah satu hari yang adil?

Aku kesepian.

Aku butuh perangai. Agar sepi mampu kusamar. Apa lagi?

Adakah satu hari yang adil?

Satu hari saja, agar aku tak menangisi kepedihanku sendirian.

Adakah satu hari yang adil?

Yang membuatku merasa dunia selalu baik, tak pernah kejam.

Adakah satu hari yang adil?

Jika iya,

biarkanlah ramai rasa di dada dengan debaran kata,

“Terima kasih, Tuhan.

Aku tak sendiri lagi.”

Advertisements

Aku berbohong.

broken_heart_by_lovingstarlights-d62lbip

Aku berbohong.

Janjiku tuk tidak lagi menuliskanmu dalam tiap bait tulisanku, kuingkari sudah.

Entah. Rasanya kau memang sumber inspirasi.

Bagaimana mungkin kasih yang tak terbalas bisa sangat terdengar begitu fantastis?

Ini kisah biasa. Banyak pula yang mengalaminya, aku yakin.

Namun kau bukan hanya sebuah nama di hatiku, bahkanaku tak terpengaruh saat yang lain mencerca, menjadikan bahan guyon untuk memperlihatkan betapa kurangnya engkau. Atau sebaliknya?

Canda macam itu begitu mengusik, meski ingin saja kuakhiri. Ya. Canda malam itu.

Aku tak tahu, rasamu di dalam, tak pernah tahu.

Tapi mengapa ekspresimu jauh membuatku sakit saat kau berada di sampingnya? Perempuan yang katanya kau suka.

Begitu terlihat.

Aku tak tahu, apa perlakuan baikmu padanya, sungguh tak tahu.

Tapi mengapa rasanya berspekulasi sungguh semenyedihkan ini?

Membuat pikiran sendiri, lalu meyakininya.

Lalu bilang, “Lihat buktinya! Dia tak akan pernah sebahagia ini denganmu.”

Kau tahu?

Aku sudah berada dalam fase di mana siap untuk pergi, siap untuk melenyapkanmu dalam pikirku. Nyatanya? Tak semudah itu, Bung!

Kau benar-benar memenuhi relung ini dengan segala kenangan. Ya. Lagi-lagi hasil pikirku. Spekulasiku sendiri. Kala itu di perpustakaan, di kelas, di kantin. Semua hanya dari sisiku. Sisimu? Apa aku perlu tahu?

Tak perlu.

Aku tak ingin mengakui apapun, selain berkata “Aku baik-baik saja.” Aku canggung ketika di dekatmu, dan itu tidak pernah benar. Ya. Kau temanku. Kita berteman saja sampai maut memisahkan. Bukan begitu yang kau ingin?

Aku tidak.

Namun sungguh aku tak berarti ibarat satu bulir gula yang terlihat putih dalam toples. Ya. Terlihat sama tiada berbeda dari yang lain.

Aku begitu di matamu bukan?

Sebagai pengagum –yang bukan lagi rahasia, semestinya aku kunci rapat rasaku untukmu. Sikapmu terlampau jelas, sikapmu terlampau terbaca.

Takkan pernah sedikitpun aku memikatmu.

Kau punya standar. Dan aku tak ingin menjadi standarmu. Aku akan tetap diriku walau mencintaimu rela membuatku haus dan sengsara.

Aku mengagumimu, sekali lagi, entah apanya –pertanyaan yang sulit kujawab. Dan sebagai pengagum, harusnya aku tak memaksamu tinggal lebih dalam di inti jantungku.

Karena sakit jika nyata terus kosong.

Muak.

Mataku menajam, bak ujung tombak. Dahi penuh kerutan, alis bak menjadi satu. Aku marah. Aku muak.

Dadaku berdesir. Bukan desir yang menyejukkan. Seperti terimpit. Seperti tulang rusukku diremuk dengan satu tangan besar. Membuatku susah bernapas.

Aku marah. Aku muak.

Perutku sakit. Rasa-rasanya ada yang aneh, seperti seluruh isi perut siap naik.

Aku mual, aku muak.

Bibirku bungkam. Begitu tertutup rapat bak dijahit dengan besi berkarat. Sakit untuk berkata.

Aku terlalu muak.

Memaki, aku ingin. Lebih dari inginku yang kerapkali membuatku menangis kala tak kudapat. Ingin semua kata keluar. Tapi sekali besi berkarat ini kutarik paksa, rasa-rasanya kata yang keluar hanya akan membuatku tambah sakit.

Aku marah. Aku muak.

Aku benci dengan takdir Tuhan yang kini telah melekat. Hidup dengan hutang dan dihutangi. Hidup dengan anjing gila yang ingin selalu melahap makanan di meja. Hidup dengan sepasang kumbang dalam satu bunga namun hinggap berjauhan.

Setiap hari, setiap saat aku muak.

Aku merasa tak ada kedamaian di sini, di tempat yang seharusnya menjadi pelindungku. Tak ada rumah di sini. Tempat ini bak kerangkeng yang memenjarai orang-orang tak punya otak di dalamnya. Semua ingin menangis. Semua marah. Semua bajingan,

termasuk diriku.

Jikalau aku bisa menentukan takdirku sendiri,

jikalau aku bisa merayu Tuhan, memohon pada-Nya….

Yang kuminta hanya satu.

Tak terlahir dari garis keturunan keluarga ini.

Siap tempur atau siap pergi lagi?

Tulisan yang tak jadi.

Kau menyuruhku bungkam, wahai lelaki dengan imajinasi tingkat tinggi.

Jadi, biarkan kisah kita yang tak terjadi tertiup angin dan tersangkut di pepohonan lalu terkikis debu dan bebatuan kecil yang terbang.

Ya.

Sudah terjawab.

Kau sudah siap pergi bahkan ketika kita belum memulai, sekali lagi.

Dan benar-benar pergi.

Peluh: Prajurit.

4cab744b4b607cfc0d60c4a25b795a72_XL

Source: Here.

Hujam, lagi kau tikam dengan parangmu yang tajam bekas diasah semalaman.

Hujam, lagi kau robek nadi hingga napas bau rokok menyembul. Tercekat.

Hujam, lagi kau sileti dada bidang di depanmu.

Berpeluh, berdarah, tak henti kau ulangi tugasmu.

Membunuh prajurit dari kubu musuh.

Bersenjatakan sniper, kau tetap berani maju.

Merobek mulut hingga leher terbelah.

Berpeluh, kau tak apa.

Ia terjatuh, kau semakin berpeluh dan bernapas tersengal,
justru membuatmu bangga.

Rahasia Selamanya

danbo-in-rain

Source: HERE.

Pada akhirnya, yang tahu diri sendiri, karena orang lain ngga akan pernah mengerti bagaimana rasanya  kebingungan kalau dia sendiri pun tak pernah merasakan hal yang sama.

Pada akhirnya, yang berjalan ya diri sendiri, dengan kedua kaki sendiri, bukan dengan kaki orang lain yang ketika dia lelah, dia bisa mundur begitu saja tanpa mengunggu persetujuan.

Pada akhirnya, kita terkubur dalam diam seorang diri, tanpa orang lain, tanpa kesenangan.

Pada akhirnya… yang berputar di kepala kita hanya kita yang tahu dan bisa prediksi, karena hati adalah ladang teka-teki penuh kerahasiaan, kecuali pada diri sendiri yang memiliki akses ke dalamnya

Pada akhirnya… semua akan menjadi rahasia.

Karena manusia diciptakan dengan kapasitas hati dan pikiran yang berbeda, sehingga mereka akan sulit mengerti jika tidak ada koneksi di antaranya. Bahkan… pun jika ada koneksi, bisa jadi koneksi putus atau terhambat oleh banyak hal.

Pada akhirnya….. semua akan menjadi rahasia antar pribadi masing-masing.

Karena yang paling mengerti dalamnya hati dan pikir hanya diri sendiri.

Hujan Malam Minggu

danbo hujan

Kalau ada hujan,

dan ini malam minggu

Seperti malam biasa yang tanpa kesenangan berlebih,

ini dia malam minggu

Aku akui diri ini kesepian setengah mampus

Tapi beberapa detik sebelum  ini, diri ini masih yakin bahwa…

bahwa hidup tidak membutuhkan siapa-siapa kecuali diri sediri,

dan oke, Tuhan

Kalau ada hujan,

dan ini malam minggu

Aku masih ingin berharap pada apapun itu, Beyond the world,

bahwa aku masih ingin memiliki rasa percaya pada orang lain,

yang membuatku yakin sepenuh jiwa, percaya,

ia jauh lebih mengharapkanku

Hujan, rintik,

dan ini malam minggu

Kesendirian memang hal bangsat di muka bumi,

merindukan kasih, pun sama

Berharap juga

Hujan, rintik,

dan ini malam minggu

Terima kasih masih berputar, hingga aku masih dapat merasakan malam minggu,

dan hujan.


Picture by HERE.