Si Pendendam

2

Background pict by pinterest.

Aku menjelma menjadi ketiadaan. Semata karena lari dari penyiksaan sadis yang tak disadari. Bahwa kecewa sebegini sakitnya, meninggalkan luka perih yang terus menganga, bahkan semakin lebar kemudian.

Bedanya, mungkin kau tak pernah memandang perih ini menjadi satu kisahmu sendiri. Karena yang kau lihat mungkin hanya amarah yang tak dapat direda, padahal hati ini hanya butuh penyejuk sekecil lantunan maaf yang keluar dari bibirmu, bahkan tak apa dari jarimu yang lihai memijit gawai.

Kau bermetamorfosa menjadi ratu yang diidamkan, yang dikagumi. Mungkin takdirmu. Maka kulihat kau semakin pandai bersolek memamerkan wajahmu yang dipoles dengan berbagai riasan. Dan yang kau temukan adalah raut tersembunyi dari pedihnya dirimu yang tak banyak diketahui orang.

Sayangnya, semakin kau tunjukkan siapa dirimu, semakin mempengaruhi hatiku yang kacau. Kuakui aku yang paling kehilangan. Aku yang mungkin paling kecewa karena aku yang paling menumpuk harap. Bahwa memang tak ada lagi yang mampu mengerti aku selain mata dan bibirmu yang cantik.

Aku adalah ketiadaan, kemudian bermetamorfosa menjadi cacing di tanah. Menggeliat tanpa tahu malu saking tak kuat menahan kerasnya tanah yang bergesekan dengan tubuh. Kau tahu artinya? Aku tak mampu menerima kenyataan. Bahwa diriku tak sampai separuh di hatimu, padahal hatiku bahkan pikirku aku pertaruhkan untukmu.

Aku benci membandingkan diriku dengan orang lain, apalagi sosok yang sudah merampas kau, yang makin ke sini semakin kusadari menjadi salah satu alasan aku berbahagia.

Sebeginikah hebatnya kau?

Aku benci mengakui kehebatanmu, karena tak ada yang lebih menjijikan dari segala bentuk penghinaan kecuali engkau yang pernah menempatkanku pada satu kenyataan pahit: menjadi tidak dipilih.

Pernahkah kau ada di posisi itu?

Aku pernah menjadi opsi nomor dua hingga ke-sekian. Dan menjadi tidak dipilih adalah hal tersakit. Maka bolehkah kukatakan bahwa aku kecewa? Kau adalah salah satu manusia yang kupilih untuk berbagi kisah perihal isi kepala hingga ingin kemaluanku.

Lalu kau lebih memilih untuk menjadi pengecut dan berpura-pura lupa. Kau memilih untuk tidak mengatakan yang kau rasa, padahal kuyakin kau paling mudah untuk itu, jika rasa itu untuk lelakimu.

Di dunia ini, hidup bukan hanya perihal kau, lelakimu, serta kelamin kau dan dia. Ada lebih banyak kebahagiaan yang bisa kau ciptakan jika saja kau menolak lupa. Bahwa kebahagiaanmu mungkin saja tercipta dari jari yang mengetuk gawai lalu mengirim pesan untuk memohon ampun. Atau barangkali dari bibirmu yang diam mendengar kawanmu bercerita.

Atau memang kebahagiaanmu bukan disitu?

***

Normalnya manusia memiliki tiga wajah, katanya. Wajah yang ditunjukkan pada dunia, wajah yang tidak ditunjukkan, dan wajah yang sama sekali tak diketahui. Kau bagaimana?

Akan kujelaskan wajah-wajahku padamu. Pertama, wajah yang kutunukkan pada dunia, wajah yang selama ini kau kenal sebagai periang, si easy going tak mau pusing, yang selalu memandang segala hal mudah. Kedua, wajah yang tak ditunjukkan, setidaknya tidak padamu, karena kau tahu jelas wajah ini. Wajah penuh dendam. Ketika, yang bahkan tak kuketahui, namun seringkali kurasakan. Wajah seorang anak kecil yang meminta pulang.

Lalu kau bagaimana?

Kita semua punya cerita yang rumit, aku tahu. Bedanya, aku lebih suka membahas kekacauan diriku sebagai manusia, sedang kau lebih suka membahas kau dan lelakimu. Iya. Kau punya objek untuk kau cumbu tiap kau butuh, meski hanya dengan pikirmu ketika kau jauh dengannya.

Maka aku paham betul posisiku.

Sebagai yang tidak dipilih. Sebagai yang diam menunggu di bawah hujan berharap kau akan datang, padahal kau di sana sedang sibuk bernegosiasi dengan lelakimu untuk pergi atau tinggal, dan akhirnya kau memilih tinggal. Maka aku hanyalah perempuan konyol yang saat itu menyebrang jalan yang ramai dengan rambut basah dan kaki penuh cipratan air bercampur tanah.

Dan tak ada kata yang keluar dari mulutmu untuk memperbaiki keadaan bahkan sampai sekarang. Aku bukan Dewa yang serba tahu dalamnya hati seseorang. Aku bukan orang suci yang mudah melupakan apalagi memaafkan.

Maka bolehkah aku marah?

***

Kau menjelma menjadi kenangan. Menutup mata dari segala celoteh dunia. Padahal kau tahu ada sosok yang kau lukai.

Bagiku kau hanyalah omong kosong. Segala tentangmu. Kau hanya butiran pasir yang datang lalu mengendap dan ingin kusapu seketika. Rumit memang untuk membersihkanmu, menghilangkan jejakmu dalam diriku. Tapi bukan aku namanya kalau tak berhasil.

Maka kau hanyalah berupa kenangan yang lewat, yang ketika kuingat nanti hanya akan aku tertawakan. Adil bukan? Kau mencoba untuk menutup dirimu dan menjadi pengecut di depanku, sedang di depan orang lain kau hebat. Tidak bagiku, tentu saja.

Dan pada akhirnya nanti, kau hanya tinggal duduk diam dan menerima apa yang kau lakukan, hingga kau mati perlahan mengering karena darahmu pun tak sanggup menyembuhkanmu.

Advertisements

Hello, night!

3e5c34a36da33ce81906bf583734416f

Source: Here.

Ini kali kedua aku berada di tempat seperti ini. Penuh samar-samar siluet tubuh orang-orang yang tidak sedang diam. Ada yang duduk sambil memegang gelas wine dengan anggunnya bergaunkan hitam selutut, ada yang duduk manis sambil memandang lurus dan sesekali menghisap rokok yang dibakar, ada yang berdansa mengikuti irama musik yang tak pernah pelan.

Terima kasih, Kak. Aku suka berada di sini.

Setidaknya minuman yang bartender campur ke dalam gelas kosong itu, yang ketika kosong kemudian dengan inisiatifnya diisi lagi oleh kawanmu (tentunya sekarang kawanku juga) –yang membuat kita berdua berada di sini, dapat membuatku lupa sejenak dengan mimpi yang pernah kubuat: bercumbu di ujung sofa sana, sambil menengguk satu botol vodka atau apalah, dengan seseorang yang sangat ingin kutemui.

Sebetulnya bukan minuman yang kuminum itu –yang ketika kutengguk, kurasakan sensasi… entahlah, yang membuatku ingin bercerita tentang ini. Rasanya tenggorokanku dingin lalu panas seketika meminum itu, meski pelan-pelan. Katamu aku harus bisa mengontrol diri agar tidak pulang dengan tubuh yang sempoyongan, bukan? Pun minuman itu membuat dadaku berdebar lebih cepat. Dan aku merasa sedikit lebih bahagia.

Dan kegilaan itu muncul.

Lalu kutemukan diriku sangat menikmati irama musik yang itu-itu saja. Mungkin dulu aku terlalu suka dengan musik ini, hingga sekarang aku bosan. Aku beberapa kali mengibaskan rambutku yang tak panjang –yang mulai basah, karena rasanya tiap kutengguk minuman itu, metabolisme tubuhku mendadak menjadi lebih cepat. Sambil bergerak kanan kiri atas bawah, sambil melakukan atraksi lincah bak lumba-lumba yang tentunya jika saja aku waras aku akan malu melakukannya, aku mulai pelan-pelan mendekatkan diriku pada seorang lelaki tinggi di dekatku. Jarak kami hanya terpisah satu orang saja.

Ia mengenakan topi hijau. Lengannya bertato. Ia memiliki mata kecil dan hidung lancip. Kulitnya pucat, dengan rambut pirang. Ya. Ia adalah seseorang yang jelas bukan dari ras manapun yang ada di Indonesia. Kupikir ia berasal dari Amerika… atau mungkin Australia? Entah.

Tak pernah kudapati matanya. Ia selalu memandang lurus ke depan, sambil sesekali mengesap rokok di tangan kanannya, juga meneguk botol beer yang ia pegang di tangan kirinya. Sesekali aku melihatnya berbicara dengan rekannya –kukira ia rekan kerjanya, mungkin bosnya, karena ia lebih tua. Lalu ia diam sambil menggerakkan kepalanya menyesuaikan musik yang disajikan. Kemudian ia berbalik, dan menggerakkan tubuhnya.

Aku ingin menyentuh pundaknya yang setinggi kepalaku, lalu mengajaknya ke tengah lantai dansa, namun nampaknya kegilaan ini belum maksimal, maka aku mendapati diriku takut penolakan kemudian.

Dan aku terus berdansa. Entah jenis gerakan apa yang kulakukan, namun itu cukup membuat kepalaku basah, juga leher dan ketiakku. Aku berkeringat terlalu banyak malam ini.

Pelan-pelan, kudapati seorang lelaki dengan tinggi tak lebih dariku, berambut cepak, berkulit gelap dengan mata yang layu mendekatiku. Ia memasang senyum dan mata merajuk. Aku tahu ia sedang mengharapkanku kemudian.

Aku tersenyum balik ragu-ragu. Aku tak menginginkannya. Aku ingin lelaki bule bertopi hijau di sebelah sana. Dan untung saja, Kakak segera datang, memainkan tangan dan kakinya, bergoyang kemudian. Aku bersender di pundaknya, pundak Kakakku, dan lelaki itu pergi kemudian. Hah. Begitu mudah membuat lelaki ciut.

Beberapa kali aku kembali ke meja untuk meneguk minuman berwarna coklat transparan itu. Kali ini biarlah lebih banyak. Aku harus mengumpulkan nyali untuk mengajak lelaki bule itu berdansa bukan?

Entah kali ke berapa aku kembali ke lantai dansa yang penuh dengan kumpulan kepala dan tubuh bergoyang ini, dan aku kecewa karena mendapati lelaki bule itu sudah tidak ada di tempatnya. Ah. Aku kecewa setengah mampus, demi apapun.

Namun aku tidak kembali ke mejaku dan bertemu dengan teman-teman yang lain. Aku lanjutkan saja berdansa di sana. Lelaki yang melempar senyum tadi datang lagi, kali ini begitu terlihat antusias. Ya. Karena aku kembali seorang diri. Kawan-kawan yang membawaku ke tempat ini sibuk di meja.

Lelaki itu kini lebih berani. Mendekatkan tubuhnya pada tubuhku. Kali ini aku biarkan saja. Mungkin memang nasibku malam ini untuk berdansa dengannya, bukan dengan lelaki bule tadi. Kami berhadapan kemudian, dan mendekatkan diri satu sama lain. Ia mengajakku untuk pindah, ke tengah lantai dansa. Kemudian ia memberiku minuman berwarna transparan yang ia sebut wine. Setengah gelas yang langsung kuteguk tanpa malu.

Kami berdansa lagi kemudian. Ia memelukku dari belakang, kemudian menciumi tengkukku. Rasanya aneh, karena kumisnya yang baru tumbuh begitu menusuk. Aku teringat kumis di foto itu. Kumis yang kubayangkan akan menyapu tubuhku. Tapi tidak. Ah. Mungkin belum. Masih ada harapan untuk bertemu, bukan?

Perlahan-lahan kurasakan tangannya naik ke bagian atas tubuhku, yang langsung kupegang dan kuletakkan kembali di pinggangku. Beberapa kali ia memintaku berbalik. Sempat kulakukan, namun aku risih dengan kawan-kawannya yang menatap kami sambil bersiul riang.

Ia kembali ke mejanya, kemudian membawa segelas besar beer. Aku meneguknya dengan tak waras. Permainan ini kuprediksi akan semakin gila. Kepalaku semakin berat, maka sebisa mungkin kujaga ia agar tak menunduk terlalu lama.

Posisinya kini di depanku. Kami makin gila. Kami berpelukan di sana. Bibirnya meraba-raba leherku, dan aku diam saja mencoba menikmatinya. Sesekali ia melontarkan pertanyaan basa basi macam informasi demografi: tempat tinggal, cerita kuliah. Tapi aku tak tertarik menanyakan apapun padanya.

Ia bertanya, “Ngga ada yang marah?” aku menggeleng. Maka ia semakin gila meraba-raba tubuhku yang semakin basah. Malam yang panas, memang. Dan kami masih melakukan kegilaan itu di lantai dansa, tepat di depan meja DJ.

Beberapa kali ia mencoba untuk mencium bibirku, yang tentunya langsung kutolak lembut dengan memalingkan wajah. Belum, aku belum ingin dicium, tepatnya olehnya. Mungkin kalau ia bule tadi, aku akan lebih ganas dan mau-mau saja dicium bahkan lebih dari itu. Namun ia bukan.

Ia meminta nomor ponselku, dan aku berikan. Mungkin sewaktu-waktu kami dapat melakukan hal ini lagi, lalu bercinta kemudian. Atau mungkin malam ini? Boleh saja sebetulnya jika ia meminta. Tapi ia tidak. Ia bilang, “Mau? Kalo mau aku, ayo.” yang langsung kujawab, “Malam ini iya.” kemudian kami diam, dan aku melanjutkan, “Malam ini saja, ya.” Ia tersenyum.

Kami menikmati permainan itu. Aku memeluknya seolah-olah ini yang kuinginkan, dan memang iya. Bertemu lelaki kemudian bercumbu. Aku menginginkannya, demi apapun. Aku ingin lupa sejenak dari bayang-bayang seorang lelaki yang entah apa kabarnya hari ini.

Kawannya datang kemudian, memberikan kode untuknya berhenti. Kemudian ia pamit. Sambil berbisik ia kemudian menghirup lagi leherku seakan-akan ingin membawa aromanya turut bersamanya. Kami berciuman kemudian. Dua kecup saja. Itu ciuman pertama sekaligus tanda perpisahan yang tak ada artinya.

Lucky, you!

Dan sampai saat ini, aku belum menerima pesan darinya. Semoga memang tidak pernah ada. Aku berharap, semoga saja nomor yang kuberikan salah, dan tak ada cara untuk kami bertemu lagi, bahkan takdir Tuhan sekalipun.

Hanya dengannya? Malam itu?

Tidak.

Lelaki lain menghampiriku kemudian. Bocah. Berumur 18 tahun. Kami tak melakukan apapun selain berdansa. Aku tak ingin bercinta dengan bocah, yang bahkan mengingatkanku pada adikku. Maka kami harus mengakhiri ini segera.

Untung saja. Kawan-kawanku datang kemudian. Yang paling depan, Kakakku, paling buru-buru, menyapaku dan bilang, “Aku mabuk.” sambil tertawa. Aku ikut tertawa kemudian. Dua kawanku lainnya datang, mengajakku pulang. Aku turut kemudian.

Sambil menunggu kakakku yang sedang kencing, aku kemudian memeluk seorang kawanku, yang membuat keinginanku tercapai malam itu, “Thanks, kak.” Dan kami tertawa lepas, selepas anak kecil yang belum paham bahwa kehidupan itu sebegini menyedihkannya.

Kami berempat saling merangkul sama lain, menjaga keseimbangan tubuh kami. Ak paham betul bahwa kami memang sedang tidak waras. Kami tertawa menuju parkiran, dan menceritakan kisah masing-masing. Dan aku bilang, “FUCK! I got my really first kiss tonight, you know?” Dan mereka menimpali sambil terbahak.

Kuakui malam ini adalah malam terbaik. Aku tak ingin melupakannya, kecuali tragedi ciuman pertama sekaligus tanda perpisahan itu. Aku ingin melakukannya lagi, demi apapun. Tapi bukan dengan orang asing. Aku ingin melakukannya dengan seseorang yang beberapa hari ini muncul dalam pikiran.

Maka aku akan menunggu, dan sembari itu mungkin aku bisa mencoba lagi menjejal tubuh lelaki, maka aku akan lupa bayang-bayangnya sejenak, bukan?

Kuakui hidup yang singkat ini banyak membuatku belajar. Bahwa dibalik lampu kedap kedip itu, ada jiwa-jiwa yang ingin mengalahkan rasa terburuk mereka. Mungkin kesepian, mungkin kegagalan. Dan malam ini aku banyak belajar, tentunya untuk lebih berani lagi mengambil kesempatan. Well, kalau saja aku memanfaatkan waktu ketika bule itu masih disana, mungkin aku akan menemukan diriku telanang bulat di pagi harinya bukan?

Tapi tak apa. Aku tak ingin cepat-cepat meninggalkan dunia ini. Selamat datang dunia baru! Selamat datang lelaki-lelaki baru! Bantu aku melupakan sejenak rasa sepi ini, maka aku akan lupa lelaki yang baru kemarin bilang, “Intinya buat kali ini, silaturahmi kita tetap terjaga.”

Aku tak tahu masa depan akan seperti apa. Yang kutahu, aku hanya ingin menikmati malam seperti ini, bahkan di hari-hari selanjutnya.

.

.

Regards,

BAR.

Aku Sayang Kakak

01f6c95e8d4e2959a90788979713f1d1

Source: here.

Halo, namaku… sebut saja Riko. Mungkin aku seorangg lelaki yang berusia… entah. Mungkin 15, mungkin 20, atau lebih. Aku menemukan diriku kembali terpaku pada layar gawai yang sehari-hari menjadi temanku. Bentuknya tentu sama seperti yang kalian punya. Persegi panjang, dengan tubuh yang ringan. Maka aku senang membawanya kemana-mana.

Namaku Riko, dan ini kisah pemburuanku.

Aku menemukannya berada di balik layar gawai, nama yang cukup menarik perhatian, entah mengapa. Ia terlihat mudah berbaur. Sedetik saja ada yang bertanya, sedetik pula ia menanggapi, memberikan jawaban.

Namanya Ara.

Ia seorang perempuan berkerudung biru, setidaknya itu yang sedang kulihat sekarang, melalui foto yang ia pasang di profilnya. Ia berusia 25 tahun, mungkin lebih tua dariku. Ia mudah dekat dengan banyak orang karena ia dapat dengan mudahnya menyesuaikan diri dan membuat orang nyaman.

Aku bertemu dengannya di salah satu grup di media sosial yang kumasuki. Entah untuk apa, aku berharap mendapatkan sesuatu dari grup dengan total penghuni lebih dari 40 orang itu. Dan aku menemukannya, sedang menjawab pertanyaan dari salah satu penghuni grup.

Singkat cerita, lalu aku berusaha mengambil hatinya. Aku menariknya ke dalam kehidupanku yang bahkan aku sendiri pun tak tahu seperti apa. Apa pekerjaanku, aku tak tahu pasti. Begitupun siapa orang tuaku. Apalagi informasi perihal kehidupanku yang lain? Aku tak tahu. Jangan kau tanya.

Yang kutahu hanya bagaimana cara mengambil hati Ara, yang kemudian kupanggil “Kak”. Aku mendengar suaranya kemudian, di malam itu. Suaranya terdengar asing, namun begitu ia sudah menunjukkan ketertarikannya padaku kala kubilang, “Aku suka kakak.”

Terlalu dini memang. Terlalu dini untuk mendefinisikan rasa ini. Tapi aku tak mau membuatnya salah sangka. Aku tak mau hal ini membuatnya kaget, maka aku samarkan saja pernyataan ini menjadi sebuah guyon. Tak berhasil. Ia dengan jelasnya mendengarkan apa yang kukatakan, dan ia akan memberiku jawaban kemudian.

Kak Ara, aku mengaguminya. Ia adalah sosok perempuan hebat, yang mampu membuatku dan orang sekitar nyaman di sisinya. Ia pintar, mungkin cocok untuk mendidik anak-anakku kelak. Apalagi mendidik otakku yang bebal, jujur saja.

Aku banyak tak mengerti apa yang ia maksud, meski sudah jelas ia katakan. Di hari kedua dekat dengannya pun aku sudah berdebat dengannya. Bebal memang aku. Aku merasa bahwa ia tak cukup memberiku perhatian, maka aku dengan mudahnya marah, pun berkata yang bukan-bukan padanya. Katanya, aku salah paham. Selalu saja begitu.

Aku menemukan diriku tidak benar, kemudian. Ini salah. Apa yang kukatakan pada dunia di luar sana keliru. Bahwa aku menemukan diriku bertelanjang dada, dan itu bukan aku. Aku menemukan diriku bukan aku, dibalik jemari yang kuketuk pada layar gawai yang menemaniku tiap saat.

Aku menemukan bahwa ada kejanggalan pada diriku. Lagi-lagi… bahwa diriku bukan aku. Bahwa yang Kak Ara kenal, dan beberapa orang yang tahu aku, mungkin aku adalah bukan aku yang sebenarnya.

Aku menemukan bahwa segala kata yang kuketik dan ucapkan hanya kosong belaka. Namun egoku tinggi. Tidak benar aku salah. Yang salah adalah mereka yang tak menghargaiku. Adalah mereka yang tak menghiraukanku. Adalah mereka yang meragukanku.

Maka aku terus memohon pada Kak Ara tercinta untuk memberiku kesempatan. Setidaknya biarlah waktu yang menjawab siapa aku sebenarnya. Biarlah waktu yang membuktikan kebenaran bahwa aku memanglah aku yang aku perkenalkan pada orang-orang di balik jemariku di sana.

Kak Ara, Riko sayang Kak Ara. Kak Ara tak tahu siapa sebenarnya Riko bukan? Maka bolehkan Riko esok hari menjemput Kak Ara, dan membuktikan bahwa mungkin Kak Ara yang salah. Bahwa ada Riko, dibalik jemari yang tiap waktu diketukkan atas nama yang Kak Ara tahu benar, di layar gawai Kak Ara.

Riko sayang Kak Ara. Perkenankan Riko untuk membuktikan bahwa kata-kata ini bukan kosong. Riko sayang Kak Ara. Malam nanti entah kapan, Riko akan datang. Mungkin dengan nama yang sama, mungkin tidak. Mungkin dengan sosok yang sama, mungkin tidak.

Riko sayang Kak Ara. Semangat S2-nya Kak!

.

.

Dari yang kau kenal dengan nama Riko.

I dont care if it hurts

Judul postingan kali ini gue ambil dari salah satu lagu yang sedang gue sukai akhir-akhir ini. Lagu Creep-nya Radiohead. Versi aslinya sih jujur aja gue ngga terlalu suka. Gue lebih suka versi akustikannya, which is lebih selow mellow gitu deh haha.

Gue tiba-tiba galau nih, jujur. Beberapa hari yang lalu gue (mungkin bisa dibilang) sedang dalam keadaan yang buruk, di mana tiap malam menggigil dan badan sakit dan tenggorokan sakit dan gigi juga sakit. Artinya gue sedang diuji, gue paham betul.

Banyak banget hal yang tidak serius gue lakukan. Salah satunya mengerjakan tugas akhir gue. Dan baru sekarang gue menyesal.

Well, gue jadi bingung sendiri.

Sebenarnya, gue sedang memasuki masa galau teramat lagi. Gue ngga tahu ini takdir macam apa, yang jelas ini cukup menyedihkan sih, bagi gue. Bahwa di saat gue ingin menyudahi segala permainan cinta bangsat busuk ini, lalu muncul lagi lelaki yang pada akhirnya jadi pikiran.

Kegalauan ini ngga lain karena gue over thinking banget sih orangnya, demi apapun. Gue kepikiran aja, padahal gue tahu, bahkan bisa mastiin kalau bukan gue yang ada di pikiran siapapun kecuali Mama Papa gue.

Gue mudah sekali menjatuhkan hati gue ke siapapun, apalagi kalau sudah dibarengi dengan kata busuk macam cinta, kasih, atau sekecil kata “tertarik”. Diri gue bilang, please, Amelia jangan luluh. Lu harus dapetin bukti kalau dia bener-bener cinta sama lu. Tapi nampaknya selalu tidak berhasil. Hati gue selalu saja terjerat.

Mungkin karena memang gue lagi kosong, mungkin karena gue butuh dikasihi, mungkin karena pola pikir gue cetek, mungkin karena gue belum berpengalaman untuk mengontrol hati gue yang rapuh ini.

Hvt.

Gue berharap lagi. Pada angin. Yang tak ada wujudnya, tapi dia bisa gue rasakan di sela-sela jari gue, di telinga gue, di pikiran gue, di hati gue.

Bahwa mungkin ujungnya akan sakit, sangat mungkin sekali demi apapun. Mungkin akan berakhir seperti sebelumnya, mungkin  banget.

Gue mau banget demi apapun untuk berpikiran positif, tapi please, tunjukkin. Bantu gue untuk melihat dan merasakan bahwa apa yang lu bilang itu benar.

Terkadang.. Masih sampai sekarang. Gue berpikir untuk, please Amelia, ngga apa-apa. Teruslah berjalan, teruslah selama kau yakin. Tapi selalu ada celah untuk bersedih, demi apapun. Selalu ada celah untuk curiga dan membenci.

I think that’s enough. At least for today. I dont care if it hurts… cause my heart already broke. As simple as your call, when you said, “Wait me. Im on the way.” And the fact.. you made me waiting till idk when.. till tomorrow, and the next days… Cause you never come. 

Aku masih berharap, dan aku masih menunggu, entah sampai kapan. Mungkin sampai aku benar-benar menemukan orang yang tak akan pernah sampai hati membuatku menunggu. Karena menunggu itu adalah hal yang paling kubenci. Bukan berarti aku tak percaya, bukan berarti aku ingin pergi… tapi aku benci menunggu, sama seperti rasa bencimu pada perempuan yang kau bilang bermuka dua, tidak menghargaimu.

Cukup ah, its so emotional for me. Idk hows your feeling, really.

Tapi aku sudah siap sakit, bahkan di hari pertama kau bilang, “Aku penasaran. Aku ingin bertemu denganmu.” Jadi, mari kita lanjutkan takdir yang tak sengaja kita buat ini.

🙂

Aku Merindu, Kau Membisu

Jalan nampak luas, meski ukurannya tak lebih lebar. Mungkin karena aku pulang di malam hari, entah mungkin karena aku sedang sendirian. Padahal dari dulu aku terbiasa sendiri. Dari awal sekolah dasar pun aku sudah dipercaya kedua orang tuaku untuk pesan makanan dan bayar di kasir sendiri.

Aku jadi ingat malam itu, ketika mall hampir tutup. Papa, Mama, dan adikku keluar tempat parkir untuk menaruh belanjaan, lalu aku diminta pergi membeli ayam goreng dan soda. Aku dibebaskan untuk memilih, asalkan sesuai porsi kami. Karena terbiasa membeli makanan dengan menu sama, akhirnya aku membeli empat potong besar daging ayam pedas, ditambah empat gelas soda. Aku memesan makanan tanpa basa-basi apalagi terbata-bata. Sudah terlalu biasa memesan makanan dan membayar langsung di kasir sendiri, maka tanpa ada perintah kubilang, “…dibungkus.”

Kakak itu menyebutkan kembali pesananku, ditambah, “…dibawa pulang ya? Jadi….ribu.” Dan aku belajar satu hal. Berbeda tempat, berbeda pula bahasa yang kita gunakan. Aku sempat gengsi, dan itu yang membuatku belajar untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.

Lain waktu Papa memintaku untuk membeli minuman kaleng di warung di belakang rumah. Kali ini dengan adikku yang belum mengerti banyak hal. Tetap saja aku yang melakukannya sendiri bukan?

Maka aku sudah terlalu biasa melakukan hal apapun sendiri bukan?

Ah. Hanya ada satu hal yang Papa tak biarkan tumbuh di dalam diriku. Jiwa untuk bebas. Aku tak pernah dibiarkan untuk pergi les seorang diri. Pernah boleh. Tapi kau tahu apa yang terjadi? Aku malu setengah mampus dengan supir yang membawaku, karena karyawan Papa mengikuti angkot dari belakang. Sejak itu aku marah. Dan Papa mengerti.

Sampai sekarang pun begitu. Pergi jauh aku tak boleh, kecuali dengan orang yang kubilang teman. Maka aku tak pernah meminta izin Papa jika aku ingin pergi kemanapun, kecuali aku butuh uangnya.

Mungkin itu yang membuatku takut untuk mengeksplorasi hal-hal baru. Aku takut dengan suasana baru. Aku benci dikerubuti keramaian –kecuali keramaian itu untukku. Aku memilih-milih dengan siapa aku berbicara ketika sedang di transportasi umum. Aku memilih untuk pergi dengan temanku dibanding sendirian….

Ha. Jadi aku orang yang seperti apa?

Biasa sendiri, mandiri, tapi punya sisi penakut. Boleh lah kita sebut demikian.

Atau mungkin jalan di luar terasa lebih lebar karena aku sedang menantimu? Maka yang kulihat di jalan seperti kosong, karena itu bukan kau. Tapi faktanya kau belum datang. Kau bilang bokongmu seperti menempel pada serat-serat di ranjangmu bukan?

Tapi tak apa.

Mungkin aku hanya sedang rindu karena dua atau tiga hari ini kita tak berkicau kabar. Aku tak masalah. Kau punya urusan yang harus kau selesaikan, pun aku disibukkan oleh usahaku untuk sembuh dari sakit yang sembuh dengan resep dokter ini.

Maka sekali lagi, tak apa jika kau membisu. Nantinya pun kau akan membuka mulutmu dan mulai bercerita. Mungkin tidak sekarang. Atau tidak hingga kau kubuat bercerita.

Karena suatu hal tanpa rindu akan sangat membosankan bukan? Begitu pula dengan bisu. Namun apa jadinya bila rinduku ini karena bisumu?

Tenang saja, aku hanya merindu. Tak apa kau membisu. Mari kita saling. Saling bertahan pada rindu dan bisu masing-masing hingga kita sama-sama siap untuk melepasnya dan bercerita kemudian.

.

.

Sampai jumpa di percakapan keempat!

Hujan Datang Lagi

Beberapa hari yang lalu aku berpikir untuk membuang jauh-jauh perasaan pada seorang lelaki, kemudian aku bertekad untuk melanjutkan apa yang sudah aku mulai di awal tahun ini. Aku berjanji kemudian, bahwa sudahi saja semua permainan cinta busuk ini. Toh masa-masa berat sebagai seorang perempuan yang siap bereproduksi hanya datang satu bulan sekali. Toh beberapa kali menganalisis diri, kurasa aku belum membutuhkan seseorang lelaki dan kemudian membubuhkan status pada hati kami berdua.

Lalu aku duduk saja di kasur, sambil menunggu laptop menyala, aku lakukan hal itu juga: membuang segala berkas tentangnya yang tersisa di gawai. Berhasil.

Siapa sangka? Lelaki lain datang kemudian. Memberi hiburan yang saat itu sebenarnya tak butuh-butuh amat, tapi di akhir membuatku tersenyum juga.

Dan sekali lagi,

berharap.

Mungkin. Ah semakin kutepis, semakin terlihat bohongnya bukan?

Lalu aku dengan lelaki baru ini berbincang kemudian. Tetap, tubuhku dikawal oleh benteng besar. Benteng besar yang susah runtuh walaupun diserang dengan kata manis, pujian, kebanggaan… Benteng besar yang dalam kamus psikologi disebut: defense mechanism. 

Maka aku tak percaya akan semua yang ia katakan. Aku mengelak padahal jelas sudah pipiku memerah saat ia memujiku, saat ia bilang bahwa ia tak mungkin salah memilihku.

Ah. Mudah sekali memang membuatku merona.

Aku terlalu  banyak takut akan banyak hal, memang. Penolakan, terutama. Saat dunia di kelilingi tidak oleh siapa-siapa, di situ jiwaku terasa murung. Aku benci sendirian. Di kamar sambil menatap langit yang gelap dengan tak ada suara selain suara samar-samar hewan.

Ini hal yang baru saja aku alami.

Bahwa meski diri tak ingin percaya dan ingin masa bodoh saja, tetap aku terkecoh dengan rasa yang selalu tak ingin aku bilang. Entah aku kagum, entah menyukai, entah aku pun ingin dekat. Ah.

Ya. Dan hujan datang lagi.

Membuatku merasa menjadi orang paling konyol di muka bumi ini. Dengan apa yang kulakukan pada temanku. Sebut saja akarnya datang dari diriku yang tak mau percaya. Tak percaya bahwa dia dapat menyelesaikan masalahnya sendiri dengan kekasihnya. Tak percaya bahwa kekasihnya bukan penjahat dan pasti akan melindungi dirinya. Tak percaya bahwa dia akan tetap tinggal, meski tetap dia akan lebih memilih kekasihnya. Karena memang teman dan kekasih bukan hal yang bisa dipilih.

Lalu aku memperlakukan orang lain demikian pula. Orang yang belum kukenal, padahal mungkin aku yang nantinya akan menjadi orang yang paling mengenalnya, pun paling ia kenal. Namun aku memang konyol, membuatnya pergi berbalik arah.

Apa lagi?

Sebelum ini aku tak pernah menjadi manusia sesulit ini. Aku adalah mausia paling tak peduli dengan sekitarku. Aku adalah manusia palin tak takut ditolak dan dikucilkan, toh aku berdiri dengan kaki sendiri. Toh aku bisa mencari yang lain.

Tapi aku berubah entah sejak kapan.

Mungkin sejak kupikir bahwa dunia punya banyak blok. Ada blok pecinta Tuhan, ada blok berkulit putih berkulit hitam, blok orang kaya orang miskin, blok yang hanya mau berteman dengan orang yang itu-itu saja.

Maka aku kehilangan kepercayaan pada banyak hal.

Bantu aku untuk dapat fokus pada keputusanku kemarin untuk menyudahi kisah galau percintaan (dapat lelaki baru, baper lagi, ditinggal/meninggalkan lagi). Bantu aku untuk dapat belajar agar tak ada lagi pengulangan kisah pilu yang memang kubuat sendiri. Bantu aku untuk selalu dapat percaya.

Trims.

.

.

Regards,

BAR

 

Lelaki Berkelamin Mini

Hai, namaku Bianca. Panggil aku “B” (dibaca be). Umurku mungkin sama seperti kalian yang membaca. Ada di rentang usia 20 hingga 25 tahun. Sebut saja usia siap bercinta, namun belum matang. Mengapa kubilang begitu?

Karena aku belum ingin menikah. Aku belum bekerja, agamaku… entahlah. Dan aku tidak memiliki kekasih.

Namaku Bianca. Dan aku ingin bercerita. Perihal lelaki yang hampir meniduriku dari belakang namun tak jadi, karena kelaminnya yang tak dapat menjangkau punyaku.

Kami sengaja bertemu, di siang itu, untuk yang pertama kalinya lewat perkenalan di udara. Nama lelaki itu “G” (dibaca Ge). Tentu saja itu hanya nama panggilan. Nama panjangnya… hm lebih baik tak kuberi tahu. Usianya jauh lebih tua dariku, mungkin 10 tahun atau lebih. Tapi dia tak terlihat seperti om-om atau bapak-bapak. Bahkan awalnya kupikir usianya ada di rentang 25 hingga 28.

Kami berkenalan lewat udara. Aku merabanya lewat beberapa foto yang ia pasang di akun miliknya. “Lumayan”, satu kata yang berbunyi di dadaku kala itu, kala membaca pesannya untuk pertama kali, dan dengan sigap kubuka juga profilnya.

Singkat cerita, aku bertemu dengannya, dan tak terjadi apa-apa hingga perjanjian di malam harinya, sehabis pertemuan pertama. Malam itu, setelah ia pulang membawa lebih dari seribu kesan positif, ia meminta tubuhku.

Katanya kelaminnya hampir keluar dari celana kalau saja celananya tak dikancing, kala matanya melihat bagian tubuhku yang berkelok. Aneh ya, lelaki. Yang lihat matanya, yang bangun bagian dalam celananya. Haha. Well, I know that biological effect too much. Karena G bukan lelaki pertama untukku. Kalau lelaki yang pada akhirnya masuk ke dalam hatiku lalu berusaha kubuang jauh, iya, mungkin ia yang pertama.

***

Perjanjian akhirnya disepakati. Kurang lebih aku meminta untuk kelaminnya jangan pernah masuk punyaku, karena aku belum yakin betul dengannya. Pun di pertemuan awal harusnya tak ada kontak fisik bukan? Apalagi kontak kelamin. Aku minta, permainan kita hanya di permukaan saja.

Dua hari kemudian kami berjumpa lagi.

Tatapannya masih sama, seperti pada pertemuan pertama. Bedanya, mungkin karena aku pun sedang ingin, tanpa berbasa-basi kami memulai. Tentu dia yang tak sabar akan tubuhku. Aku tak ingin memperlihatkan diri bahwa ini yang sedang kuingin juga.

Ia menciumku. Di bibir, yang cukup lama. Dan saat itu pula kurasakan bibirnya yang lembut. Bibirnya berwarna merah muda dan kenyal, tidak pecah-pecah, tidak bau.. Karena ia tidak merokok. Akunya, terakhir ia merokok yaitu ketika ia bekerja dulu sekali.

Ini yang paling kusuka darinya. Ciumannya basah. Ia menyapu bibirku dan dalam bibirku, lalu kedua pipiku, lalu leherku, dan membuatku seperti habis memakai krim pelembab wajah. Dan ia langsung tahu titik terlemahku: leher. Ketika sampai situ, aku tak berhenti berdesis, sungguh.

Perjanjian malam sebelumnya tak ada artinya, pada akhirnya. Ia membuat tanganku masuk ke dalam celananya, dan kudapati benda kecil yang meringkuk minta keluar. Coba kau kepal longgar tanganmu. Sebesar dalam kepalan itulah kelaminnya. Jari-jariku bahkan masih dapat menempel sempurna pada bantalan telapak tanganku saat mengenggamnya. Panjangnya pun tak lebih dari lima jariku, bahkan ketika dimasukkan ke mulut pun tak kurasakan ujungnya menempel pada dinding tenggorokanku.

Maka ia kusebut lelaki berkelamin mini.

Aku sempat kecewa. Bahkan daging mini itu tak menampakkan kegagahannya. Meringkuk saja di tempat. Lembek seperti daging ayam yang dibiarkan dua hari.

Tapi ia dapat memberiku sensasi yang berbeda, bukan dari kelamin mininya itu. Tapi perlakuannya yang lembut padaku. Kau tahu? Kami bercinta dengan kata. Ia menggodaku, sehabis lidahnya menyapu payudaraku, “enak ngga?”

Aku pun demikian. Membiarkan diriku berbicara sambil menggodanya dengan kerlingan mataku. Kata orang, aku memang pandai mengoda, maklum saja.

Ya. Di persetubuhan pertama, nikmat itu aku rasakan. Bahwa jika bersetubuh nikmat jika ada penghargaan. Dari nilai kepuasan yang dilontarkan, misalnya. Tak peduli ukuran kelamin, jika kau mencari rasa, kau aka temukan juga kepuasan pada kelamin mini lainnya –tentu saja kelamin mini satu ini milikku- asal kau tahu bagaimana menghargainya.

Ah! Aku jadi ingat hal pertama yang ia tayakan padaku, ketika dengan tidak tahu malunya ia mengeluarkan kelamin mininya itu. “Kecil, ya?”

Tentu aku punya penilaian, seperti yang kulontarkan sebelumnya. Tapi aku tak ingin membuat kelamin mini itu semakin meringkuk dalam, lalu kubilang, “Disyukuri aja.” sambil tersenyum padanya. Kemudian ia melanjutkan misinya: mengeluarkan maninya —yang pada akhirnya kutahu baunya seperti apa. Iya. Aku penasaran seperti apa mani itu, maka kuambil tissue bekas ia membersihkan kelaminnya yang sudah kering dan kekuningan warnanya beberapa jam kemudian. Pesing. Seperti bau kencing yang dibiarkan mengerak di tembok wc umum.

Pertemuan selanjutnya terjadi, dengan kisah yang semakin tak diduga. Dan aku baru menyadari bahwa ada yang kurang benar dari otak sang pemilik kelamin mini itu. Aku menemukannya menyukai persetubuhan yang penuh dengan ikat mengikat –yang sejujurnya ilmu ikat mengikat ini hanya kudapat dari pramuka saat sekolah  dulu, lalu pukulan dan pecutan, lalu menstimulasi kelamin perempuan dengan segala benda tak masuk akal –demi apapun aku melihat dalam file yang ia bawa, mic yang biasa kau lihat di genggaman penyanyi-penyanyi di televisi, masuk ke liang wanita. Bagaimana rasanya dapat kau bayangkan?

Aku baru ingat kemudian. Bahwa dalam persetubuhan kemarin –entah secara sadar atau tidak, beberapa kali ia mengayunkan tangannya pelan pada payudaraku. Lalu dia perlakukan payudaraku seperti saat kau mengeringkan pakaian yang baru kau cuci dengan memerasnya sampai tak ada sebutir air pun yang jatuh.

Dan kau tahu? Aku tiba–tiba mengingat wajah busuknya, sehabis perlakuan itu. Senyumnya seperti joker –atau apalah, badut mungkin? Menyeramkan. Seperti aku adalah makanannya, dan ia puas seketika melahap diriku. Lebih dari puas. Ia bangga melakukan itu padaku.

Di malam selanjutnya aku bertanya padanya, dan ia langsung mengakuinya. Ya. Dia senang memperlakukan wanita yang ia setubuhi dengan cara tak normal itu. Ia memintaku untuk menuruti permintaannya kemudian. Diikat di bagian tangan dan kaki, juga payudara –agar lebih menonjol katanya, juga menjepit payudara dengan jepit jemuran, dan membekap mulut dengan lakban.

Apa itu cara bersetubuh?

***

Aku menemukan diriku di tempat tidur kemudian. Lelaki itu sedang di kamar mandi, membersihkan tubuh kotornya. Bagaimana mungkin aku mau diperlakukan seperti itu? Menahan sakit ketika payudara sebelah kiriku dijepit –lebih sakit lagi saat penjepit dilepas kemudian payudara ditekan-tekan, lalu dicekik sambil ditunggangi. Sungguh ia lakukan itu padaku, meski tangan dan kakiku bebas tanpa diikat.

Ia lakukan itu sambil menggesek-gesekkan punyanya pada punyaku. Di luar, tidak pernah masuk. Meski aku tak yakin kelamin sekecil itu mampu menembus selaput daraku dan membuatnya berdarah, aku tak ingin lebih dalam melukai hatiku.

Sudah cukup aku menelan hinanya diri diperlakukan seperti karung beras yang bebas dilempar tanpa memikirkan berapa banyak air mata yang jatuh. Memang tidak di depannya, tidak juga di sela persetubuhan, tapi setelah tubuh ini bersih dan wangi.

***

Aku sudah meninggalkan dia sekarang. Aku pernah mencintainya, tentu saja. Bahkan aku mengatakan ini padanya. Bagaimanapun, kesan pertama aku padanya sangat baik. Namun pikirannya pasih terpaku saja pada kelaminku yang ia sukai saat sedang basah. Maka ia tak pernah memberi jawaban apapun terkait masa depan.

Kami berdua juga pernah makan dan nonton bersama. Bisa dihitung dengan jari, kami melakukan hal normal seperti orang yang sedang berkencan begini.

Tapi tetap, perjalanan kami menyelami diri masing-masing, selama aku mencoba untuk bertahan dan memperjuangkan rasaku, ia masih sama. Tidak peduli.

Terima kasih, hal itu amat memudahkanku, karena membuatku sadar bahwa kelaminmu mungkin terlalu mini maka ia tak pernah puas –saking susahnya bangun dan lekas tidur kemudian.

Kau tak pantas untukku, maka untuk apa aku bertahan?

Yang kau tanyakan selalu kan, “B di kos?” Dan aku tahu apa artinya itu.

Selamat jalan lelaki berkelamin mini! Semoga di ujung tahun nanti kau termukan orang lain yang bisa memuaskanmu dengan kelamin minimu itu, orang yang mau bertahan tanpa kepastian, orang yang mau bertahan ditunggangi di siang hari tapi bahkan kau tak mengerti cara menghargainya.

.

.

Terima kasih sudah membuatku belajar.

.

.

Wanita yang gagal kau setubuhi dari belakang,

Bianca.