Minor Song of Mine

Fuck. Sejujurnya gue sedang tidak ingin menulis tentang kegalauan hati ini yang sudah berlipat menumpuk tertimbun di dalam tubuh gue yang berlemak… Tapi rasa-rasanya ingin menuliskan kebahagiaan pun gue tidak ada inspirasi.

Jadi… dari yang tadinya playlist gue set untuk lagu jepajep, langsung 180 derajat berubah jadi lagu dengan judul “Minor Song of Mine” dari Dini entahlah Dini siapa sih dia? Pokoknya barangkali penasaran, kalian bisa langsung cari aja di spotify namanya.

Gue ngga mau bahas lagunya si Teteh ini, gue cuma tiba-tiba kepikiran ingin menulis tulisan yang terinspirasi dari judul lagu ini aja. Begicuu…

As you know…. minor kan pedih ya. Lagu-lagu minor itu lagu-lagu yang bernada pelan selow melow bikin pen nangis atau se-nggak-parah-nggak-parahnya bikin ngantuk.

Dan itu yang sedang gue rasakan sekarang. 50% ngantuk, 50% pedih.

Ada apa denganmu Amelia? Weitss… pertanyaan ini yang pengen banget gue denger. Tapi karena ngga ada yang nanya, jadi gue nanya sendiri aja deh.

Ada apa denganmu, Amelia?

Hari ini, pagi ini gue tidak se-exited biasanya. Gue bangun dengan badan pegal dan super mengantuk lantaran baru tidur jam 12an malam atau jam 1 lebih gitu, dan harus bangun pagi demi “menjemput bola”. Re: jemput responden penelitian. yang ternyata dari perjuangan mengeluarkan duit lebih dan pengorbanan pagi-pagi itu gue cuma dapat satu orang. Alhamdulillah ya Rabb 🙂 Nikmatmu begitu nyata.

Sarkas banget gue tai.

Lalu, gue pun dan teman gue bergegas ke Jatinangor untuk makan, padahal saat itu gue belum laper-laper amat. Tapi gue beli makan nasi juga. Dan habis juga. Oqela.

Lalu menyusul teman gue yang lain beberapa saat kemudian dan mereka saling kenal ternyata…. dan kami ngobrol-ngobrol (actually si teman yang menemani gue ke puskesmas itu lagi pusing ngolah data penelitian dosen sih). Gue mah… sempat buka sebentar data skripsi… tapi yaudahlah… enakan ngobrol ngga sih dibanding ngerjain penelitian yang sedang tidak memberi gue semangat itu?

Sebetulnya gue sangat suka sih dengan penelitian gue. Tapi gue mulai ngerasa limitnya gue di sini. Pertama, mobilitas gue yang terbatas, sedangkan dengan tema yang gue ambil ini, respondennya lumayan sulit, di mana gue harus menjemput mereka untuk memperoleh data yang sebenar-benarnya.

Kedua, itu tubuh gue yang ringkih ini mula memperlihatkan sisi terlemahnya. Gue mulai cape gitu bangun pagi, mandi pagi dingin-dingin, nunggu bis, diemin pantat di angkot yang bisa sampe setengah jam lebih di jalan…. lelah dedek, Bang!

Tidur gue kurang… tidur di lantai beralas karpet keroppi yang gue suka tapi berhari-hari tidur di situ letih juga tulang-tulang gue… Bangun di saat gue belum puas tidur…. Ngga boker gegara kalau nunggu mules udah keburu kesiangan.

Hm. Serba ngga nyaman deh.

Tapi ini tantangan. Ini ujian, sodara. Gue harus bertahan setidaknya sampai mendapatkan banyak responden. Ya… minimal melampaui orang-orang di TO deh…. Which is… lebih dari 40 orang. Dan sekarang baru 15.

MAU NANGIS…..

Gue udah cerita belum sih kalau udah dua bulan ini gue ngga ngekos? Hidup nomaden dari satu kamar kos teman ke kamar kos teman lainnya. Naruh baju, bahkan sampai deodoran dengan ngga tahu malunya… tidur sok enak di lantai padahal…. dipikir-pikir pegel oge.

Nanti lah gue ceritakan. Dalam tulisan kali ini gue hanya ingin membahas hari ini.

.

.

Oke.

Lalu, beberapa jam setelah teman gue itu datang, kami bertiga makan dan ngobrol topik yang sangat menyenangkan. Apa lagi kalau bukan cinta dan gairah? Uh….

Sampai jam tiga sore, teman yang menghantarkan gue ke tempat penelitian pergi meninggalkan gue, teman gue yang satunya, dan dua bungkus rokok.

Sambil ngebul-ngebulan dan jujur… terngantuk-ngantuk juga terpegal-pegal… gue mendengarkan cerita gue. OMG. Itu sore hari terlelah gue nampaknya. Ingin pulang, tapi gue punya plan dengan teman gue yang kosannya menjadi target nginep gue malam ini untuk ketemu malam-malam dan pulang ke kosan dia bareng, karena gue ngga enak berdiam lama-lama di kosan dia tanpa dirinya di sisi gue. Gimana sih…. masa iya gue ngedoprok di kosan orang padahal orang itu ngga ada? Ya gapapa kalo kosannya kaga ada yang jaga. Lah ini……

Kami membincangkan banyak hal… sampai jam 7 lah kurang lebih datang teman gue yang lain yang memang teman kami kepanitiaan juga. Dan suasana makin mencair gitu aja. Kami punya pandangan yang sama tentang pernikahan. Bahwa menikah itu suatu momok yang….. please… jangan sekali-kali menikah hanya untuk mengikuti trend kids jaman now yang apa-apa tuh ngaitin tentang pernikahan seakan-akan menikah itu mudah.

Ngentotnya yang mudah. Mudah banget. Kehidupan di luar kamar lah yang susah.

Kayak misal nih…

Gimana pandangan tentang menikah muda? Taaruf… dan semacamnya… campaign-campaign daripada zinah mending nikah itu lah. Menurut gue sih… kalo nikah untuk menghindari zina… ya jauhin orang yang bikin lu sange ngga sih?

Ah. Kita akan bahas ini di postingan nanti deh gue buat khusus lagi.

Terus… perihal ciwi-ciwi galau (biasanya sih) yang bilang… “NJIR SKRIPSI… Daripada skripsi mending gue nikah dah..”

HELL!!! Kalau kalau nikah semudah itu sampai-sampai bisa menghilangkan segala kesulitan lu… kenapa ngga dari pas lu UN aja lu nikah? Alih-alih menghindari depresi ngerjain soal, terus lu nikah gitu, ita ngga sih?

Whatever gue lagi malas mikir.

Terus… sampai terakhir membahas film-film horror yang sukses membuat gue merinding alay. Kenapa gue bilang alay? Karena gue lebay pas lagi ketakutan. Demi apapun.

.

.

Lalu gue berakhir juga di dunkin, yang niatnya gue habiskan waktu dari beberapa jam yang lalu sambil menunggu teman gue dari Bandung. Gue pikir, yaaa… dia ngga akan semalam ini lah pulangnya. Jadi balik dari tempat makan itu, gue langsung caw ke kosan dia bareng dia.

Ternyata….

Dua teman gue ini sudah harus pulang dan gue harus survive sendirian di Dunkin sambil menunggu. Hm. Gue lelah pemirsah.

GUE KANGEN ANAK GUE!!! GUE PENGEN PULANG!!!

😥

Udah ah. Gue lelah. Bye. Selamat pagi buta!

.

.

.

.

Minor song of mine = 

Ingin mengeluh tapi sadar bahwa pedih dan bahagia ada waktunya.

Advertisements

Cerita malam itu di pesta

Terima kasih, dua malam lalu!

Malam itu, aku kembali datang ke tempat yang menyenangkan. Musik keras (yang kurang kusuka karena diawali dengan musik yang ekstra mellow –hello! hari sudah terlampau malam. AH tapi tak apa. Kali ini aku datang bukan ke pestaku), lampu kecil-kecil berwarna kuning, makanan kecil yang enak, ditambah dua botol minuman berwarna coklat keemasan yang transparan dan beberapa gelas kecil serta satu tenteng keranjang es batu.

Tahu aku sedang berada di mana?

Di tempat elite. Tempat yang tak pernah kubayangkan aku dapat berada di sana sambil duduk dengan gerombolan yang kebanyakan baru kukenal dan menikmati hidangan bersama di dalamnya.

Bahwa aku beberapa menit sebelum sampai ke pesta sedang duduk diam tak tahu harus melakukan apa di remang-remang cahaya lilin yang hanya beberapa biji padahal lingkaran di luarnya berjumlah mungkin 8 orang atau lebih aku lupa –lebih tepatnya tak mau menghitung ulang lagi siapa saja yang sudi bergelap-gelapan dalam keasingan.

Aku hanya mengenal baik dua orang dalam lingkaran itu. Satu orang lainnya kukenal beberapa bulan lalu dan kami tak pernah membicarakan hal apapun. Satu lagi, aku baru kenal sebelum sampai ke tempat itu, sisanya…aku baru kenal di sana. Oh. Bahkan hanya seorang yang menyalamiku dan memberitahu namanya. Sisanya… aku hanya tahu dari teman-teman yang menyebut nama mereka ketika mereka saling melempar banyolan.

Gelap. Canggung bukan main. Aku mencoba menikmati mataku yang bergerak ke kanan dan kiri sambil melihat interaksi semua orang dalam lingkaran, sambil ikut tertawa. Kadang tertawa lepas, seringnya hanya sunggingan bibir untuk formalitas.

Bahwa aku sedang berada di tempat asing bersama kelompok asing.

Aku di bawa ke sana, diundang secara tidak langsung oleh orang yang sedang mengadakan pesta, yang dengannya aku baru bertemu satu kali sebelum pertemuan di pesta itu.

Susah mati aku mencoba menyamakan frekuensi dengan deretan-deretan kepala yang melingkar di sana. Pembicaraan mereka memang lekat, karena mereka berteman baik entah sejak kapan. Beberapa ada juga yang baru saling mengenal, tapi rupanya punya frekuensi yang sama, dan itu tak menyusahkan mereka sama sekali. Sedang aku… lebih sering celingak-celinguk, memindah-mindahkan bola mata pada siapa saja yang sedang bicara atau dibicarakan.

Lalu lampu menyala.

Heran. Tempat elite menyambut tamu dengan ruang yang gelap. Tapi tak masalah, itu bukan pestaku. Aku hanya teman tamunya yang tak secara langsung diundang.

Suasana lebih mendukung. Kami bisa saling tatap tanpa meyipitkan mata, apalagi malu –padahal mungkin hanya aku yang malu. Kau tahu? Lingkungan mereka adalah lingkungan yang selama ini belum pernah kukenal dan kumasuki dalamnya. Bahwa jarak usia kami pun berbeda jauh. Mungkin paling dekat 8 tahun. Maka aku sibuk menyamakan frekuensi di awal pertemuan.

Mereka terlihat rapih, dengan wajah mulus dan sedikit kerutan.

Tuhan kemudian menyelamatkanku. Ia mendatangkan kawanku yang sejauh ini kukenal baik –meski dibilang dekat tidak juga. Dia pelatih boxing, yang bulan lalu masih gencar kutemui saking aku ingin menghilangkan bulir-bulir lemak di perut ini.

Suasana semakin hangat. Aku mulai bisa membaur. Kau tahu? Orang-orang seperti ini yang nantinya ingin kujadikan tempat bersandar. Fleksibel, saling menanggapi, juga bisa menghargai keberadaan orang baru di depannya. Bukan semua, ada beberapa.

Ah.

Mungkin tidak bersandar juga. Aku lelah bersandar pada pundak manusia. Aku benci menyebut siapapun “teman dekat” atau “sahabat”, sebetulnya.

Lebih baik seperti itu. Bertemu karena kepentingan sama, dan berlalu saja.

Aku menikmati makan malamku ditemani candaan yang kini sudah mulai mengarah padaku, dan pada apa yang aku tahu. Dan aku merasa nyaman. Bahwa benar… aku memang tak bisa berdiam diri dalam kerumunan. Katanya aku ini extrovert. Begitu kah, Amelia?

.

.

Lalu aku melupakan banyak hal. Tugas akhir perkuliahan (re: skripsi), teman sepermainan yang sangat kurindukan, juga rumah. Rumah dalam arti sebenarnya.

Tiba-tiba kami sudah berpindah tempat. Di lantai atas, yang disetting bukan lagi seperti restoran, tapi benar-benar “private bar”. Awal aku menyusuri tempat itu… yang kuingat adalah mainan favorit-ku: The Sims. Persis seperti bar dalam permainan. Sorot lampu terbatas, meja DJ, sofa dan table yang nyaman….

Makanan kecil satu persatu datang… Juga minuman dalam botol besar itu yang baru kutahu kadar alkoholnya lebih dari 40% setelah tegukan pertama yang mengejutkan. Rasanya lebih tidak enak dibanding minuman sejenis itu yang pernah kuminum sebelumnya.

OH GOD!

Baru saja aku melihat-lihat hasil pencarianku tentang harga salah satu minuman itu. 3,5 jt untuk 1,5 liter. Sedang kemarin ada… mungkin hampir 10 botol untuk 3 meja?

Wah.

Luar biasa jadi orang hebat.

Entah berapa gelas, yang jelas tidak banyak, karena selain rasanya tak enak, aku mulai bertingkah gila: menggerak-gerakkan tubuhku mengikuti musik yang mulai asik, mencoba membuat mataku terbuka lebar dengan sekuat tenaga karena aku sudah merasakan pusing dan mual… juga menahan untuk tidak kencing beberapa saat saking takut jatuh dan menindih orang di sebelahku yang kukenal sejak beberapa bulan.

Beberapa mulai menyuarakan lantunan sepinya yang mendadak ramai di tempat. Tepuk tangan, berkali-kali bersulang, terbahak, goyang kanan goyang kiri…

Aku mulai merasa mengantuk ketika itu, dan ditemukan oleh kawanku yang lain. Mata lain langsung bergumul menatapku sambil menyoraki. AH. Payah memang.

Aku bangun kemudian dan berlagak kuat –dan memang aku masih kuat, masih sadar betul situasi seperti apa. Aku masih sangat mengingat malam itu… bahkan kondisi di jalan pulang.

Entah di menit dan di tegukan ke berapa, aku merasakan kantung kemihku sudah sangat penuh dan tak mampu lagi menahan kencing. Aku bangun, dan masih merasakan jalanku terlalu normal untuk seorang wanita mabuk.

Teman perempuanku yang lain –yang sangat dekat dengan sang raja di pesta itu- kemudian menuntunku ke kamar mandi yang ternyata… tak bergender. Atau bergender tapi tak kulihat ya?

Dan kutemukan memang beberapa lelaki di sana. Bahkan seorang lelaki masuk setelah aku keluar menuntaskan keperluanku.

Aku duduk di atas toilet yang paling kubenci karena tidak ada keran airnya. Aku benci menyeka kemaluan hanya dengan tisu kering. Lalu kudengar dari luar percakapan temanku dengan lelaki berkemeja biru –yang kuprediksi umurnya di atas 35. Ia sudah beristri. Aku tahu lewat kata-katanya di awal pesta tadi yang bilang, “Anjiiirr! Lu gedean dah kayak istri gue!” pada temanku.

Temanku bilang, “dia mabuk ya?” yang dijawab segera oleh lelaki itu dengan persetujuan, “Iya, mabuk itu.”

Ah aku diam saja. Aku tak ingin hilang kendali seperti orang mabuk.

Kemudian aku keluar, ia langsung masuk menggantikan posisiku di dalam sana. Aku pergi ke depan kaca besar dengan dua wastafel, dan menemukan diriku dengan wajah yang masih sama. Aku masih sadar betul itu memang aku. Dan aku tak menemukan ekspresi yang aneh.

Lelaki beristri dengan kemeja biru itu datang. Aku lupa dia bilang apa. Yang jelas ia mendekatkan tubuhnya padaku, lalu bibirnya… di depan teman perempuanku yang langsung saja distop. Aku pun memalingkan wajahku. Aku tak ingin melakukannya dengan dia, apalagi karena dia sudah beristri.

Bahkan jujur… tanpa aku tahu statusnya pun aku tak tertarik dengannya. Lebih-lebih ia melakukannya di depan orang lain yang memang teman kami berdua. Terima kasih akal sehat!

Kemudian ia menarik diri setelah sebelumnya ia bilang, “sama pacar?” yang kujawab dengan gelengan dan kata seadanya. Ia menghampiri temanku kemudian, yang ia akui adalah sahabat terbaiknya. Mereka merangkul satu sama lain.

Pelatihku keluar dari kamar mandi kemudian, beralih ke wastafel, dan aku sambil tertawa ngeri langsung menceritakan keadian barusan: bahwa seorang lelaki beristri ingin menciumku. Aku begidik.

Kemudian pelatihku, teman perempuanku maju duluan, kembali ke tempat kami duduk. Aku dan lelaki berkemeja biru itu di belakang. Ia menawarkan lengannya untuk kupegang, dan aku tolak dengan senyuman.

Aku kembali ke meja dengan perasaan lebih bahagia, entah mengapa. Lalu ku menggerak-gerakkan kakiku ke kiri dan ke kanan bergoyang ala disco, juga kedua tanganku terangkat ke atas. Formasi di meja berubah, aku duduk dengan lega.

Sampai di sana, aku ditawari minum lagi oleh seseorang. Lelaki, suami dari teman perempuanku tadi. Ia mengiming-imingiku sambil berkata, “Kalo kata orang Jerman… kalo bersulang ngga dihabisin itu ngga sopan.”, yang kujawab dengan, “Oh harus satu shoot, ya? Ok. Yuk satu shoot lagi.” Kemudian aku menghabiskan sisa minuman di gelasku, dan mendapatkannya terisi lagi dalam waktu kurang dari satu menit.

Kami bersulang kemudian, dan aku langsung menegak habis minuman itu seketika. Luar biasa. Malam yang luar biasa.

Bahkan aku tak lagi memikirkan apapun perihal lelaki manapun.

Aku berdiri seorang diri, menuruni tangga sampai parkiran seorang diri, tidak berpegang tangan pada siapapun, seingatku. Aku seorang perempuan mandiri yang tak butuh lelaki, setidaknya untuk malam itu, dan mungkin beberapa malam lagi, meski aku sangat ingin.

Aku ingin memeluk lelaki. Siapapun. Aku ingin memiliki seseorang yang bisa kubawa ke pesta dan kuperkenalkan sebagai milikku pada siapapun yang kukenal. Bahwa hatiku sesepi ini memang betul.

Aku masuk ke mobil, masih merasa sempoyongan ketika menundukkan kepala. Di dalam, aku banyak bicara, seperti biasa, sehabis minum. Dan memang minuman yang kuminum jauh lebih berat, maka aku sedikit merasa….. aku sudah melewati limit yang kupunya.

Aku sampai di rumah temanku, dilanjut naik ke mobil temanku yang lain, untuk sampai ke rumah. Aku lupa membicarakan hal apa saja, jujur. Yang jelas, aku semakin merasa mual dan pusing. Perutku penuh, minta dikosongkan, namun aku tak mulas sama sekali. Kau tahu artinya? Aku ingin muntah.

Sampai di dalam, aku berjalan cepat ke kamar. Meletakkan barang bawaan, lalu pergi ke kamar mandi. Dan benar saja. Aku memuntahkan entah berapa banyak isi perutku, kemudian berpura-pura tabah dan kuat.

Aku kembali ke kasur, dan merebahkan tubuhku di sana. Temanku datang membawakan cangkir yang tak kusentuh sama sekali karena dengan cepat aku meluncur ke kamar mandi lagi dan memuntahkan sisa-sisa makanan di dalam perutku.

Dan aku pun terlelap. Bangun pukul 8 pagi dengan mata yang masih sangat mengantuk.

Satu jam kemudian aku memulai kegiatanku yang sudah direncanakan selanjutnya hingga malam hari.

Hm.

Malam yang menyenangkan. Aku ingin mengulanginya lagi, tentu saja, jika ada kesempatan. Mungkin bulan depan, atau tahun depan, tak masalah. Aku siap kapanpun.

Terima kasih banyak, malam yang menyenangkan!

Terima kasih banyak pada kepala-kepala yang namanya tak ingin kusebut di sini. Terima kasih, aku banyak  belajar dari malam singkat itu.

 

Seni Menunggu

Sudah berapa lama aku di sini? Sambil menahan kencing dan kantuk.. Oh, dan juga lapar. Sambil duduk menatap layar yang selama mataku membuka selalu kutatap. Bahwa hidup sedang sebegitu menyedihkannya.

Menunggu apa yang mungkin belum pasti, tapi tentu saja harus kupastikan. Mungkin nanti, saat ketentuan yang belum pasti itu sudah mencapai waktunya.

Aku duduk dari sepi hingga beberapa kaki lewat, dan bising mulai memekakkan telingaku yang baru semalam kubersihkan. Sambil bolak-balik membuka tautan di internet, lalu memainkan permainan yang sudah mulai terasa membosankan, dan aku masih di sini, duduk dengan kelamin terhimpir saking tak tahan menahan kencing.

Bahwa aku tak bisa sendirian di tempat yang tak asing namun penuh dengan kepala-kepala baru yang tak kukenal. Maka aku merasa asing. Maka aku merasa ingin segera lari keluar dari kerumunan.

Tapi aku masih harus menunggu. Setidaknya tiga jam lagi. Agar aku dapat pulang dengan tenang, dan dapat melanjutkan kegiatan yang akan menentukan nasib kehidupanku kemudian.

Namun aku tetap sendiri, meski barusan kawan dekatku lewat, dan entah kemana sekarang. Yang kutahu, ia sedang memperjuangkan suatu hal yang penting baginya. Semoga jalanmu lancar, kawan!

Ini dia seni menunggu, aku sadar betul.

Bahwa aku akhirnya paham bahwa aku tak bisa sendiri. Aku selalu butuh seseorang untuk aku gantungkan, paling tidak untuk dapat membuat bibirku terbuka dan tidak diam. Diam itu menyebalkan, aku tak suka.

Bahwa aku akhirnya meyadari, aku sudah harus keluar dari lingkungan yang mulai menampakkan kekejamannya ini. Sendirian, dikelilingi orang yang tak dikenal begitu membuat diri ingin menghilang saja.

Oh, ini ya seni menunggu?

Bahwa menunggu itu membuat cabang di kepala bertambah banyak, maka aku harus mencari alat pemotong kemudian.

Sahabat: Dulu dan Sekarang.

Salam, fellas!

Gue ingin menulis dengan santai aja hari ini, sambil download film dan sesekali melirik tanaman gue. Yap. Tanaman. Gue sedang keranjingan game baru yang namanya Plant Tycoon. Aseli. Sebetulnya game ini biasa aja sih. Tapi ada kepuasan sendiri ketika berhasil nanam bunga terus dapet bijinya buat ditanem lagi, dan jual bunganya.

Plant Tycoon

Ini ceritanya lagi jualan bunganya gitu.

Plant Tycoon2

Nah, sebelum tanamannya dijual. Kita harus berkebun dulu. Basahin tanah, masukin biji, disiram, dikasih pupuk, dikasih obat bebas hama, vitamin.. Pokoknya harus tetap menjaga kesegaran dan kesehatan bunganya deh biar laku dijual.

Plant Tycoon3

Selain nanem bunga terus dijual, terus beli biji dan segala perlengkapan yang ada, kita juga bisa ngoleksi hewan-hewan kecil lucu nan ciamik!

So, gimana guys, mau coba permainan ini?

OKE.

Itu tidak penting.

Yang ingin gue ceritakan sejujurnya bukan mengenai permainan tanem-taneman ini. Tapi yang perlu kalian tahu adalah… permainan ini menggugah gue untuk nantinya bisnis jual beli tanaman. Jadi gue pengen punya rumah yang ada tamannya gitu. Isinya bunga warna-warni, yang mana tiap pagi habis subuh gue bangun terus ngurusin taneman, terus kalau udah berbunga diambil bijinya, dan dijualin deh. Menjanjikan banget yaaaa!

Woke. Nambah satu lagi mimpi gue.

Udah berapa banyak nih mimpi gue?

  1. Nikah sama bule terus tinggal di eropa, punya rumah yang bangunannya khas eropa banget. Semi modern semi vintage dengan dominasi wallpaper bunga-bunga. Kerjaan gue simple. Buat baju dan design-design flatcard warna-warni, yang nanti bakal gue muncul di pameran.
  2. Jadi announcer, of course gue masih mau jadi penyiar radio sekaligus selebgram dan youtuber juga. Dan gue mau bisnis di bidang fashion yang mana…. barangnya itu produksi sendiri. Gue bakal kursus DJ Arie sambil kursus jahit nanti.
  3. Kerja di BI atau Astra, dapet uang banyak. Beli mesin cuci dan mobil. Hura-hura.
  4. Jadi pengajar di Indonesia Mengajar. Benar-benar mengabdi di wilayah kecil Indonesia sambil menikmati alam.
  5. Jadi penulis yang nerbitin buku. Terkenal karena berhasil mengisahkan kisah-kisah nyata berbalut desiran di tubuh. Kemudian jadi produser teather atau film.

Rencananya sih begitu. Tapi entahlah. Sejauh ini sih gue paling benci yang namanya targetting terus harus bener-bener capai target, kalau engga gue menghukum diri gue, pun sebaliknya kalo iya gue kasih diri gue reward. Ngga. Gue ngga kayak gitu.

Karena sejujurnya… gue pun masih bingung ingin merealisasikan mimpi gue yang mana. Kalian tahu lah ya. Umur sekita lagi struggling banyak hal terkait diri sendiri. I mean, pertanyaan yang sering muncul adalah… Siapa aku? Mau jadi apa aku?

Dan dari situ kita perlahan membangun mimpi yang indah-indah, yang menyenangkan, yang membuat lebih percaya diri…..

Tapi hey! Kita lupa kalau empat dari kita belum lulus!

Empat dari kita masih pusing dengan skripsi dan kesibukan lain di luar itu. Padahal sih kalo diliat–liat kesibuan gue ya cuma gitu-gitu aja. Main game, nonton film, olahraga sesekali…. Udah.

Satu dari empat, punya kesibukan menitih karier di bidang yang disukai banget. Berawal dari tidak adanya perencanaan, tapi pecah telur juga. Kehidupan baru di luar yang pernah diimpikan, dan… di sela kehidupan baru itu masih punya tanggung jawab skripsi.

Satu dari empat yang lain sedang was-was menunggu jadwal untuk sidang hasil. Gue dan kalian paham betul rasa lelahnya menunggu dosen di lobby gedung 3, atau di manapun. Kalau ditinggal, bisi dosennya keluar ruangan, diem di situ pun bisa jamuran. Untung ada wifi.

Dua dari empat sisanya, sedang lelah berjuang bolak-balik tempat satu dan yang lainnya demi mengumpulkan data untuk keberhasilan skripsi.

Dua lagi, sisanya…. Yang sudah lebih maju dibanding keempat di atas, juga gue yakin lagii struggling. Yang paling kita dewakan, ibu semua umat, paling maju di antara kita berlima, sudah kerja di tempat yang menjanjikan. Dapat banyak kesempatan karena telah berhasil melewati yang namanya setan skripsi. Kehidupannya sudah lebih baik. Tapi masih bingung juga sebenernya yang diambil sekarang itu apa yang dimau atau bukan.

Satu lagi, yang wisuda november nanti.. lagi sibuk test masuk kerja. Hebat!

Njir… Gue bingung kalo udah gini. Mau memuji diri sendiri karena sudah berhasil menggaet hati kalian dan menguncinya untuk gue dengan nama “sahabat” atau… memuji kalian yang begitu hebatnya.

Dua-duanya sih haha.

Dari kita itu ngga ada yang kurang, guys. Enam dari kita punya kelebihan masing-masing yang ngga dipunyai satu sama lain. Sila nilai diri sendiri. Bahkan kalau gue mikir untuk coba-coba jadi kalian, gue ngga akan bisa. Yang ada gue stress berat. Mati muda gue.

Gue merindukan banyak hal, guys.

Masa-masa PMB yang full of NGAKAK. Gue lupa rasa lelahnya kayak gimana. Yang gue ingat hanya hal sekecil remah-remah rengginang tapi begitu berkesan buat gue. Pertama kali ketemu emak terus langsung nyambung, kenal Ser karena sebarisan (impresi pertama ke Ser yaitu: serius. Wah, susah nih menakhlukannya) tapi jadi segeng juga haha. Kenal Andari gatau dari kapan, pokoe temen jalan-jalan menakhlukan Jatos. Aida songek gue juga lupa gimana bisa kenal elu da hahaha. Fristaeni… hm.. satu-satunya manusia yang melihat gue menangis tersedu-sedu karena ulah duo lelaki haha. JADOEL!

Perjalanan kita luar bisa mengasyikkan. Ngobrol ngalor ngidul, slip of the tongue yang menular dan berkelanjutan. Anehnya…. kumat cuma kalo lagi bareng-bareng. Kalo lagi ngga bareng, bisa sembuh dan normal seketika.

Terus nginep-nginepan sambil nonton horror. Udah berapa kali ya? Dibilang sering kayaknya ngga sering juga iya ngga sih? Terus beberapa kali masak bareng. Koplak-koplakan bareng. Tahukah kalian? Mungkin kalian ngerasain juga sih.. akhir-akhir ini gue super takjub sama Seripah dan Taeni yang sudah mulai terbiasa ngelawak.

Gue inget banget ini anjir. Waktu lagi beli es kopi aceh. Gue pergi sama Andari dan Frista. Sampe sana, gue langsung pesen. Andari Frista nemenin aja kan. Terus kita duduk berjajar, gue di tengah. Frista teh ngelawak siah. Jadi lagi bahas apa ya anjir gue lupa. Pokoknya yang paling gue inget tuh Frista bilang sesuatu sambil praktekkin orang GAGAP! EPIK ANJIIRRR! Sayangnya Andari ngga lihat. Tapi gue begitu terkesima.

Mungkin Frista inget itu lagi praktekin apa Fris?

Terus Seripah… kemarin banget baru. Anjir tapi gue lupa lagi apa lucunya. Pokoknya gue lagi bilang apa… terus Ser nimpalin kocak-kocakan gitu. AAKKK KNP GW LUPAAKKK.

Gue terkesima banget pokoknya sama perubahan kalian berdua, Ser, Fris….

Apa lagi sih kegiatan kita selama ini?

Makan dinain, atau gak makan di pakilun. Kalo di Dinain yg paling gue inget tuh Aida yang suka banget makan ikan yang penuh effort makannya karena berduri. Terus Fristaeni yang suka beli mie rebus dimakan pake nasi. Terus emak yang super hemat makan isinya nasi, sayur sop banyak airnya, sama sate telor. Seripah sukanya makan yang berkelas sekelas soto kalo engga katsu atau sering ganti-ganti sih ser mah. Andari sukanya cumi kalo engga ikan filet. Kalo gue… sukanya yang berkuah kental kayak ayam kecap, tongkol balado, kikil balado…

Minumnyaaaa… FRISTA KAPUCINO!!! Gue es teh tawar. Sisanya suka ganti-ganti ke es teh manis atau es jeruk.

ANJAY KANGEN EMON WKWK :(((((

Terus ngapain lagi kita?

Duduk-duduk ngga faedah di gazebo… Mainan HP sendiri trs ngakak sendiri… lebih seringnya ngakak bareng sih.. Kentut Aida dan Andari… Aseli kalo kumpul pantat lu berdua anjir yang paling ngga bisa dijaga.

OOTD.

Main kata… yang menginspirasi salah satu tulisan gue di blog.

Jalan-jalan exploring Jatos bareng.. walaupun ngga selalu ber-6. Seringnya gue sama Andari. Cek-cek Guardian, Watson… My Style. Kemudian makan Clemmons atau Hokben. Atau beli cireng.

OMG KANGEN!

Itu dulu ya?

Sekarang?

Gazebo hanya masa lalu kita ber-6. Udah lamaaaa banget gue ngga menginjakkan kaki di sana. Gue yakin kalian pun. Dinain Pakilun juga sudah beda rasanya. Kalau sendirian teh gue lebih memilih untuk ngga makan di sana. Refill minum atau beli gorengan juga kagak. Pakilun jugaa… apalagi kantin BRI Faperta.

.

.

Gue sempat tidak bisa lepas dari kalian, guys. Ke mana-mana kalo sendirian teh lebih baik gue ngga pergi. Karena sudah terbiasa bareng kalian… atau ya minimalnya salah satu dari kalian lah.

Waktu kalian sibuk ambil matkul yang ngga gue ambil aja… kikuknya setengah mati gue kalo sendirian walaupun di kampus sendiri, demi apapun. Apalagi sekarang… di perpus sendirian.

Semester lalu… di depan gue masih ada Mboke dengan muka nekuk dan lipatan lehernya, lagi ngerjain skripsi. Sekarang gue literally sendirian. Di bagian C. Udah ada skripsi di sebelah laptop gue, tapi belum gue buka daritadi.

Meskipun gue sudah memutuskan untuk ngga lagi menjadi “kita”, karena jujur saja ego gue.. tapi gue merasa bahwa kalian itu masih jadi bagian utuh hidup gue. Meski kita udah ngga bareng. Emak udah kerja di Indramayu, gue nebeng di temen gue di Bandung, Ser udah ngga ngekos, Andari bolak-balik nangor bandung terus, Aida Frista juga udah ngga satu kos…. Gue masih mengharapkan kebersamaan kita.

Sebenci-bencinya gue ke kalian…

Ke Andari karena udah sibuk di kegiatan barunya, — oke ini versi halusnya wkwkw.

Ke Aida Frista yang susah banget diKONTAK. Karena jujur…. tiap gue ngontak kalian tiba-tiba teh… gue lagi butuh tumpangan kosan.

**OKE PAUSE DULU YAK MAU MAKAN GEPREK SAMA NDORO NDARI HEULA***

Oke mulai lagi ya. Sekarang gue sedang duduk manis di Dunkin sambil menikmati es lemon tea yang sebetulnya gue ngga pengen-pengen amat. Tapi ya… namanya juga hidup nomaden yah… Ketika ngga ada tempat kos yang bisa ditumpangin ya… gini deh.

Lanjut. Baru beberapa detik naruh pantat di bangku, gue dapat kabar bahwa geng kita, si anak paling bontot AIDA HARI RABU FORUM!! Yeah! Gila sih da, gue sebagai temen lu bangga banget banget! Anak bontot di geng kita ini UPnya paling terakhir.. tapi ngga salah emak lu ngelahirin elu da aseli. Lu bahkan bisa ngebalap kita-kita yang lebih dulu UP dibanding lu. PROUD SISTAAHHH!!

Dan lanjut perihal yang gue benci dari kita.

Ke Seripah yang susah dikontak dan diajak main juga… jaman dulu. Sekarang udah mendingan banget, walau masih jarang main juga.

HM. Aseli hampa banget hidup gue tanpa headset fckkk. Gue di dunkin sendirian

Lanjut.

Terakhir benci banget sama Emak kalo udah pusing sama tugasnya, yang sampe seringkali bikin emak jadi bukan emak.

Gue juga benci kalo gue udah badmood karena dapet penolakan dari kalian. Kayak… Cuy makan yuk. Ngga ada duit.. Cuy Jatos yuk. Mau ada something, Mel. Hm. GUe benci gue yang masih sering mengharapkan kita.

Ngga papa, sih. Gue yakin kita satu sama lain juga saling rindu kok.

Gue pernah mikir. Pengorbanan gue ke kalian teh besar banget. Sering banget gue batalin janji demi bisa bareng kalian atau salah satu dari kalian. Gue merasa mengorbankan waktu dan hati gue untuk kalian. Gue merasa kegiatan bareng kalian itu udah kayak cabe dalam ayam geprek gue. Tanpa cabe, naon sih ayam geprek. Kentaki biasa aja.

Bagi gue, kalian teh adalah ujung dari segala ingin gue.

Sedangkan kalian masih bisa memilih hal lain yang lebih penting dari gue. Tapi gue sekarang positive thinking sih. Mulai mencoba melakukan hal-hal yang biasa gue lakukan bareng kalian sendiri.

Ke Jatos sendiri (atau tempat manapun) seringkali nampak linglung karena seriusan… tiap gue jalan kemana-mana yang gue inget adalah kalian. Ketika kita bikin tugas managemen bareng… nonton bioskop bareng. Liat-liat lipstik di guardian bareng… Gitu deh.

Sekarang gue mulai belajar menanamkan pikiran bahwa “hidup itu sendiri.” Sampai akhirnya gue ketemu manusia baru yang jauh lebih hebat dibanding kalian –ya meskipun 10 orang hebat pun ngga bisa menggantikan satu dari kalian. Gue dapat banyak kesempatan, dan perlahan lupa sama kalian.

Tapi gue belum lupa juga. Malah makin rindu.

Rindu itu, yang ketika gue ketemu lagi sama kalian di minggu lalu…. yang membuat gue ngga segan lagi menyapa salah satu di antara kalian… yang membuat rasa bahagia gue meningkat drastis dan sepi gue menghilang seketika.

Sebenci-bencinya gue sama kalian, pun kalian sama gue, kalian itu tetap rumah terbaik gue. Kalian tetap manusia yang mau menerima gue gimana pun keadaan gue. So, gue harus begitu juga bukan?

Bahwa berapa lama pun kalian pergi dari sisi gue, lusa entah kapan, gue lah yang kalian cari. Begitu pun gue. Kita lah yang satu sama lain cari.

Nanti di saat sukses, saat kita jatuh… saat ngga ada satu pun manusia di bumi ini yang menerima kita.. di saat kita akan menikah… di saat anak-anak kita nanti lahir… di saat ada masalah rumah tangga, masalah sama kerjaan… gue berharap selalu ada kalian, pun gue berharap selalu kalian libatkan dalam segala kegiatan kalian.

HVT.

Jadi emosional.

Tadinya gue ingin membandingkan kita yang dulu dan sekarang. Literally perbedaan kita yang dulu dan sekarang dari mulai penampilan, sifat, nasib, dll wakakaka.

Tapi yaudahlah. Yang mau gue sampaikan sekarang segitu aja dulu. Tunggu sesi pembongkaran AIB kalian ya guyskuuuhhh! ❤

MWAH!

LUVVVV ❤ ❤ ❤

Analisis Kejombloan (Vol. 3)

Hello fellas!

Baru aja gue lihat-lihat postingan gue, dan nemu dua postingan dengan judul kurang lebih sama “Analisis Kejombloan”. Lalu gue ngakak. Bukan hanya karena dari SMA gue merasa ngenes banget karena punya dua sohib yang punya pacar di waktu yang samaan, terus gue jomblo sendiri. Terus mereka dua-duanya putus sama pacarnya, dan gue juga masih jomblo. Terus mereka berdua punya pacar lagi sampai sekarang, dan gue masih jomblo juga.

Begitulah.

Dan yang ngakak banget lagi adalah… terhitung dari tahun 2015 gue mulai bikin Analisis Kejombloan, dilanjut tahun 2016 Analisis Kejombloan (Vol. 2), dan sekarang di tahun 2017 gue juga masih nulis ini!!!! Analisis Kejombloan udah volume 3 tjuyy! WAKAKAKA. Ngenes ngga sih gue?

Tiap tahun bikin analisis kejombloan + resolusi buat dapet pacar di tahun berikutnya, tapi tetep aja sampe bervolume-volume gini kejombloan gue. Maka, untuk menaikkan rasa kepercayaan diri gue lagi, gue sajikan untuk pembaca jawaban dari: Kenapa Amelia jomblo terus?

***

Awalnya gue mau kasih judul ini “Evaluasi Kejombloan”. Karena seharusnya sih bukan saatnya lagi untuk analisis dan pada akhirnya gue ngga ngapa-ngapain. Dan ini dia penyebab utama gue jomblo kayaknya: karena gue ngga ngapai-ngapain. Ada analisis panjang lebar, tapi gue ngga nunjukin perbaikan signifikan. Panteus ae jomblo terus, Amelia!

Tapi kenapa akhirnya diganti jadi Analisis Kejombloan lagi? Karena biar kelihatan ini tuh cerita ngenes sequel gitu, sampe bervolum-volum. Meski sebenarnya gue ngga mau sih jomblo terus. Dan tetap. Harapan terbesar gue dari menganalisis kenapa gue jomblo adalah: gue akan punya pacar segera. Mana tahu habis gue posting ini ada yang menyadari bahwa ternyata gue menarique. EAK.

Oke langsung aja deh kita mulai menganalisa!

First, from question number one: 

Kenapa masih jomblo?

Because:

Gue masih belum punya pacar. HE.

Gue belum berhasil membuat seorang lelaki jatuh hati kepada gue. Gue masih terlihat kurang berkualitas. Kenapa?

  1. Karena kebaperan gue yang udah di tingkat parah. I have a mood disorder maybe or something like that yang membuat gue seringkali mendadak anti sosial. Ini sangat menyebalkan, beneran deh.
  2. Jorok. Gue masih saja jorok seperti biasanya. Kamar gue, fyi, sangat tidak terurus. DAN bahayanyaaaa gue nyaman-nyaman saja ngapain aja (makan, tidur, lari-larian bikin keringat, dll) di kamar gue.
  3. I’m not smart as a smartphone. I mean like you don’t know as much as you should have to know. Harusnya gue bisa tahu lebih banyak, nyatanya tidak. Ibarat jendela pengetahuan, jendela yang terbuka di kepala gue cuma yhaa 30% lah. Awalnya gue ngga masalah, karena pada dasarnya gue memang tidak akan menindaklanjuti segala hal yang ngga gue suka (pelajaran yang tidak gue suka, issue bahan pangan naik, politik, dan banyak. pokoknya yang ngga gue suka tuh gue males bahas). Tapi… semakin gue besar, semakin gue tahu bahwa pengetahuan umum sangat dibutuhkan untuk menjalin relasi, semakin gue merasa bodoh karena banyak banget hal yang tidak gue tahu di dunia ini.
  4. Gue gendats, tapi seharusnya bukan karena ini. Tapi mungkin karena ini. Gue belum terlihat seperti seseorang yang bangga pada dirinya sendiri sih, lebih tepatnya.
  5. Gue juga belum bisa mengurus diri sendiri, sesimple kalau mau tidur masih sering lupa untuk cuci muka, terus makan masih sembarangan (kadang ngga makan, eh sekalinya makan banyak bangets ngets ngets), tidur terlampau malam, bangun terlampau siang….. yaa gitu.
  6. Ini baru banget gue temui –lebih tepatnya gue sadari. Bahwa gue sulit banget percaya sama orang lain. Sekecil ketika gue ingin mendominasi saat masak bareng waktu kkn, terus juga hal yang akhirnya bikin gue dan temen gue berantem, terus juga hal yang membuat seorang pria berbalik arah yang tadinya mau deket malah jauh haha. Gitu deh.

Terus apa lagi ya? Banyak sih kekurangan gue. Dari mulai yang waras-waras aja sampai yang ngga waras tuh ada sifat gue. Sometimes I think thats no problem with these. Tapi seringkali justru sifat-sifat jelek gue menjadi boomerang buat gue.

Misalnya nih. Lagi happy-happy nih anak di kepanitiaan, lagi makan sambil mau nunggu rapat. Nah gue lagi lelah berats dan pusing abies. Diem aja kan gue tuh. Ngga kikuk guenya, tapi gue merasa bahwa ketika yang lain menyadari gue yang diem aja (kalo boleh dideskripsiin, diemnya gue tuh kayak orang lagi marah. nekuk muka gue sampek ngga keliatan lehernya, mata gue memicing, terus ngomong dilembut-lembutin karena kalo engga ketus banget) —well, teman-teman dekat gue paham deh kalo gue lagi bad mood gimana. Nah gue merasa ketika orang-orang menyadari gue yang udah gini, banyak yang ngga nerima, dengan bilang –dan ini parahnya di belakang gue, bilang gini “iya tuh si amel mah baper.” LHA. Ya baper lah aing diomongin dari belakang. But trust me! Ketika gue lagi diem bukan berarti gue lagi gimana-gimana. Tapi yaudah gitu lah. Daripada gue jelasin malah dibilang defense. Yekan?

Tapi gue ngga pantang menyerah. Jujur, gue berusaha untuk ngga jomblo terus demi apapun. Dengan membenahi diri gue lewat banyak hal. Berdoa, belajar healing (tapi untuk ini gue sepertinya butuh berguru), upgrading diri dengan mencoba melakukan hal yang gue bisa, bersosialisasi dengan orang-orang positif… tidak makan berlebihan dan mencoba sebisa mungkin untuk berolahraga… dan mencoba untuk bangun pagi biar sampai malam tetap bisa positif.

Tapi gue belum juga punya pacar, pemirsa.

Sampai sepertinya nih ya, keinginan untuk memiliki seseorang yang mengakui gue sebagai wanita spesialnya sudah mengendap di alam bawah sadar gue.

Akan langsung gue ceritakan saja.

Beberapa hari yang lalu, gue bertemu dengan seseorang, yang akhirnya gue panggil “Oom”. Kami sudah bertemu tiga kali, dan sampai terakhir ketemu pun gue tidak tahu namanya. Gue juga ngga pernah nanya. Yang ada dia yang nanya nama gue, kapan gue lahir… bahkan tanda tangan gue.

Yesh! He had a… spiritual power or something like that… So he can read person’s life… personalities, love, apapun.

You, guys, boleh percaya atau engga. Gue pun masih suka terbengong-bengong kalau dia sudah membaca gue. Pertemuan ini benar-benar ngga sengaja. Awalnya gue kaget, kenapa pula gue ketemu Oom semacam ini, yang tiba-tiba aja bilang.. “Lu tuh orangnya begini bla bla bla.” Dan memang betul, sih. Kenapa pake sih? Karena gue mendapati diri gue banyak denial nya pas dibaca dia. Banyak negatifnya bok diri gue! Hahaha.

Dia bilang, “Lu tuh bahaya lu. Lu tuh nafsuan. Tapi udah sekali doang, kesana-sananya engga lu.” Hah maksudnya begimana Oom? “Lu itu kalo udah suka, sukaa banget. Kalo udah engga suka ya lu tinggalin.”

Nah. Kok gue banget ya. Gue memang orang yang akan sangat menekuni apa yang gue sukai, tapi enggan tahu apa yang ngga gue suka.

Yaudah gue tanggepin aja apa adanya.

Terus di sela obrolan kita yang kadang ngga gue ngerti apa… gue tiba-tiba nanya… “Oom, kok gue belum punya pacar ya sampe sekarang?” Mata doi memicing gitu, kan. “Iya. Gue udah lama banget Oom, jomblo.” Eh dia malah tanya nama gue. Gue jawab aja dengan benar, nama lengkap gue. Terus dia bilang, “Nah itu! Nama lu aja udah salah! Bingung kan lu?” Sambil ngakak tuh dia. IYALAH OM GUE BINGUNG AMA ELUUU!

Terus dia bilang, “Gini… intinya. Jadikan dirimu diriku, diriku dirimu.” Gue bingung banget dah itu. “Nah kalo dirimu sendiri aja belum kenal, apalagi diriku?”

EEK!!! Iya gue baru ngeh kan. Dodol bet emang gue masalah ginian.

Tapi benar kan, apa yang doi bilang? Gue pun menyebutkan kekurangan terbesar gue -entah di postingan mana– yaitu: belum mengenal diri gue sendiri. Gimana orang lain mau kenal gue? Duh Amelia….

Gue berpikir beberapa menit. Gue sudah mencoba sekuat tenaga gue untuk mengenal diri gue. Dengan melakukan banyak hal dari yang gue suka, sampai dari yang ngga gue suka terus jadi gue suka.

Pertama, menulis. Dari dulu memang gue suka menulis. Bagi gue, menulis itu merupakan salah satu cara untuk bicara dengan benar. Terus gue dulu sempat tergila-gila dengan menggambar dan mewarnai. Tapi berlalu begitu saja karena gue merasa gue ngga punya bakat di situ. Terus… fotografi sampe nyobain juga. Tapi gue jarang  berlatih karena keterbatasan device. Dan sekarang gue sedang belajar untuk menyukai olahraga… yang.. duhya… susah banget biar ngga malesnya tuh… Gue juga belajar announcing… lalu gue menyerah seketika gue gagal.

HVT.

Dan benar. Gue belum mengenal diri gue sendiri.

Lalu gue tanya lagi ke Oom itu. “Pertanyaan apa sih yang jawabannya itu… bikin gue tahu diri gue ini apa?”

Eh dia balik ngejelasin ke arah jiwa… raga… ruh… dan ujungnya Tuhan.

Usia gue memang belum seberapa. Banyak hal yang ngga gue tahu di dunia ini, terutama memang terkait apapun yang tidak gue suka. Dan ini dilema. Aishh…

Ah yasudah. Gue rasa memang analisis kejombloan mau sampai volume berapapun ngga akan bisa menjawab pertanyaan kenapa gue jomblo, karena jujur aja, meski gue tahu jawabannya, lebih baik tidak gue bagikan.

Gue ingin merahasiakannya saja.

So, yap, gue memutuskan ini akan menjadi sesuatu yang tidak ada jawabannya. Barangkali kalian yang membaca merasa kejombloan kalian sudah akut, kuyla kita bicara tentang jiwa dan raga. Manatahu… lewat perbincangan ala kadarnya, kita menemukan jawaban.

Thanks for reading!

Semoga….

Hm. Gue berharapnya sih ngga akan ada “Analisis Kejombloan Volume 4”.

This lonely time

Hallo! Gnight! Welcome back to my blog!

Although this blog is not important enough for you, but this blog is very very good to me. Thanks God for smart people You created who made these wordpress to fasilitate people who likes to write and feels lonely all day long like me haha. 

When I’m sad, I’ll make a post.

When I’m happy, I’ll make a post.

When I feel satisfy because of something pleasure, I’ll start to make a post.

I’m angry, frustated, uncomfort, dissapointed and wanna curse everyone also myself, I’ll start to make a post.

I feel lonely, and yey, I’ll make a post. 

Yah.. Now, I felt alone already. Idk. I have 1224 names in my contact list and 69 chat groups, but I feel alone. AAALLL the time. Really. Even though I have much people around my class nor my office nor my environtment, I still feel that I’m alone.

Then I started to looking for something ‘I dont know’ and yay, I found nothing.

I played with social media online, I wathing youtube for many times, I started to write a novel, I opened many fun website, and I found that all of those things I did are not exactly what I needed.

Why?

Because I felt so lonely. Like… you have many friends to talk with but no one understand you as you. As yourself. Why? I think its because my age. Maybe. Im 22th and i started. —–not realy started actually- to looking for myself. Who am I, what things I loved so much and I hated so much, what makes me happy. 

I dont have any words again, reader.

Hope you enjoy your life!

 

Perbincangan yang tak jadi

Kemarin, di siang hari, deretan nomor muncul pada layar gawaiOh. Aku lihat betul itu wajahmu, yang terpampang di sana. Wajah yang belum pernah kutatap dan kusentuh langsung.

Kau, lelaki nomor 6.

Buatku, kamu sudah pergi, meninggalkan pertanyaan mengenai apakah keputusan untuk pergi benar. Kuharap ya. Kau pun tak menanyakan perihal kepergianku. Kau tak muncul lewat kata di kotak pesan manapun, padahal kau sudah kubebaskan dari daftar orang yang kugembok.

Deringan itu aku abaikan. Sengaja. Aku ingin melihat apa tujuanmu. Hanya iseng, bukan? Kau hanya menelpon sekali. Kau hanya ingin memastikan apakah aku masih ingin menanggapimu atau tidak, betul kan?

Saat merasakan getaran di gawai, aku sempat merasakan janntungku berhenti sekian detik. Aku begitu terkejut, tidak menyangka. Dan coba-cobamu itu membuatku lemas. Oh, kupikir aku sudah lupa, ternyata belum. Maka aku hanya mendapati diriku diam sambil menatap layar, dan layar akhirnya meredup kembali. Satu detik, dua detik…. tak ada getaran apapun lagi.

Betul kau hanya coba-coba bukan?

Bahkan pesan pun tak ada yang masuk.

Apa jadinya kalau aku mengangkat telpon itu?

Tentu kau akan buka obrolan. Mungkin kau akan menanyakan apa kabarku, lalu aku bertanya balik. Lalu kau akan segera mengonfirmasi mengapa aku menghilang dan memutuskan untuk mengembok semua akun media sosialmu serta perempuan itu, yang kau bilang teman baikmu.

Lalu mungkin kita akan membicarakan kegiatan apa saja yang kita lakukan dalam satu bulan terakhir. Mungkin kau juga akan menanyakan kisahmu yang seharusnya kubuat demi memenuhi janjiku. Mungkin kau akan bercerita banyak tentang pekerjaanmu.

Mungkin kita akan merencanakan pertemuan.

Tapi tetap saja, tak ada perbincangan yang terjadi. Yang ada hanya… jujur saja, untuk beberapa saat aku menunggu deringan itu lagi.

Tak ada.

Terima kasih sudah mencoba 🙂