Alexandra

Hari ini, hari libur terakhir di sepanjang long weekend kemarin. Aku masih ndak enak badan, dan emosiku nano-nano—masih hari ke-4 menstruasi.

Mas, aku lagi suka lagunya Reality Club, berjudul “Alexandra”.

Ini bagian favoritku.

Aku tahu lagu mereka pertama kali waktu dengar yang judulnya, “Anything You Want”. Vibesnya lagu lama luar negeri. Kelas banget.

Sampai kudengar lagu si Alexandra ini, kupikir mereka masih band indie luar. Aku suka banget sampai mau nangis tiap dengar lirik favoritku itu. Aku ingin jadi Alexandra.

Ternyata, mereka Band Indonesia. Aku baru tahu! 😭 Bahkan mereka pernah manggung di Synchronizefest tahun 2019 (waktu ini aku belum tahu ada Synchronize). Aku berasa ketinggalan jauh.

Lagu ini vibesnya bikin aku bersedih yang terharu. Ndak, hatiku ndak sesedih itu, tapi aku sedih seperti ingin menangis di pangkuanmu.

Barangkali kau adalah Alexandra bagiku..

“I feel in love with Alexandra

Even though I barely meet her

Even though we’d break our hearts

Before we’d even start”

Lagu ini punya rasa sesaknya sendiri. Bagaimana mungkin seseorang punya rasa sedalam itu ke orang yang jarang atau bahkan belum pernah ia temui? Kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di depan—yang kita belum tahu apa tapi kita punya ketakutan sekaligus harapan di situ…

Mas, baca balasanmu tentang keluhanku hari ini, bikin mataku basah. Perasaanku lagi acak-acakan, seperti kamarku. Aku merasa tak berdaya. Kerapkali aku merasa waktuku di dunia sudah hampir habis. Aku takut Tuhan ambil aku—atau kamu, sebaliknya—sedang kita belum jumpa dan memulai apapun yang menjadi mimpi kita satu sama lain—yang tentunya masih ada di kepala masing-masing, karena seingatku kita belum pernah bahas ini, bukan?

Kemarin aku tanya, “Apa doa yang seringkali kau panjatkan untukku?”

Mas jawab, “Kalau berjodoh, semoga didekatkan, dimudahkan. Kalau engga, tolong dikasih tahu.”

Lalu aku masih sempat menanyakan kebenarannya padamu, sekali. Kau bilang betul, kau serius.

Aku sibuk bertanya di kepalaku, sebelum aku bertanya padamu, apa doa yang sering kau sebut sembari menyebut namaku di dalamnya.

Karena tiap harinya aku ingin menjadi lebih baik. Tiap harinya aku ingin menjadi diriku yang lebih baik dari sebelumnya. Tiap harinya aku ingin jadi lebih baik.

Dan di situ, di jawabanmu aku menemukan diriku sesak. Aku berdoa untuk hal yang sama. Untukmu, yang masih kubayangkan seberapa tinggi dan besar tubuhmu, seperti apa rasanya saatku raba-raba lekuk di wajahmu, sekasar apa rambutmu, dan lain-lain, dan lain-lainnya.

Mas, kuharap tubuh kita sama-sama kuat untuk sama-sama merealisasikan apa yang menjadi harapan-harapan kita.

Kuharap, apa yang kita panjatkan tiap harinya bisa dijawab Tuhan.

Aku berharap mas selalu sabar dan berlapang dada, dan aku selalu bisa belajar.

Semoga umur kita panjang, termasuk umur kebersamaan kita.

Andai Waktu dan Jarak Bisa Kubeli

Source: Pinterest.

Sejak kemarin malam, badanku aneh. Aku tahu ini pertanda buruk, dan benar saja. Aku meriang—bukan merindukan kasih sayang, meski iya juga.

Awalnya tenggorokan gatal, lalu terus-terusan sampai batuk kering yang bikin air mata jatuh dan oek oek a.k.a muntah. Ndak ena banget.

Malam kemarin aku bilang ke Mas bahwa aku sedang lemah, dan benar, aku sedikit menangis karena rindu rumah. Rumah yang jaraknya sekitar 300an km. Meski dijanjikan makanan enak dan hangatnya ketek mamih, juga pijatan Mbak tukang pijat langganan, aku tetap tak bisa pulang. Beginilah menjadi dewasa: selalu dihadapkan pada pilihan.

Sudah berapa lama kita ndak bertemu di layar handphone? Tiga hari, kah? Atau lebih ya?

Aku rindu, Mas.

Terlebih kemarin. Aku cranky karena rindu. Nampaknya, itu cara ternyamanku di saat aku tak mampu membeli waktumu.

Tubuhku bekerja luar biasa, kemarin. Dan salahku juga karena malas makan siang, karena baru makan jam 9 pagi. Jam 4 sore perutku sudah lapar tak keruan, dan baru kuisi lagi dengan somay jam 5 lebih—yang setelahnya, jam 6 sore aku lanjut yoga 1 jam, dan lanjut gym lagi.

Di kelas yoga ndak maksimal. Mungkin karena dua minggu vakum, terlebih keadaan perut yang terisi beberapa menit sebelumnya. Begah. Tapi belum terasa apa-apa. Sampai aku menghabiskan waktu dua jam setelahnya di gym. Latihan kemarin seputar upper body lagi. Tanganku yang bergelambir ini memang butuh digarap agar lebih padat. 12kg, 18kg, sampai 24kg beban dengan ronde yang entah berapa banyak pun beberapa posisi kubabat. Luar biasa.

Aku tak sadar, sampai di 10 menit terakhir treadmil. Rasanya perutku diperas, kepalaku ditekan kanan kirinya. Aku berhenti, ndak sampai satu menit. Lalu melanjutkan 10 menit sisanya (target dari PT ku, minimal treadmil 30 menit setelah latihan).

Badanku basah oleh keringat. Aku datang sebelum jam 6, dan baru mandi hampir jam 9:30 malam. Seperti biasa, mandi air dingin dan enak banget rasannya.

Kubiarkan rambutku basah, sambil berjalan selangkah demi selangkah menuruni tangga… jalan keluar pintu menuju bus stop. Ngga berapa lama, angkot datang. Aku naik dan menempatkan diri di balik jendela yang terbuka lebar. Angin seketika meniup rambutku hingga setengah kering.

Sampai di halte busway transit, kakiku rasanya lemas. Pinggangku seperti ndak kuat menopang tubuhku. Perut bagian depanku ngga enak. Aku memangku tanganku di besi depan pintu busway, sambil setengah rukuk, menahan sakit di perut, juga hasrat ingin memuntahkan isinya.

Syukur… Bis ngga lama datang.

Aku berjalan pelan sekali, lalu mampir beli nasi goreng—yang sebetulnya ngga pengen-pengen banget, tapi barangkali rasa ndak ena ini karena asam lambung, maka aku harus mengisi perutku.

Aku makan buru-buru, ndak khitmad banget rasanya, tapi kupaksa. Dan benar saja lama-lama rasa mual itu hilang. Berganti rasa gatal di tenggorokan yang semakin menjadi. Aku tahu. Pasti ini karena minyak nasi goreng, dan pedasnya nasi goreng.

Aku menunggu Mas, tapi Mas Shift malam. Jadi kuputuskan untuk tidur saja, sambil berandai-andai…

Andai aku bisa beli waktu dan jarak,

Sudah pasti sekarang ini kita sedang duduk bersebelahan di beranda rumah sambil tersenyum

Mungkin sambil menatap malu mata satu sama lain

Mungkin kau pegang cerutu, sedang aku sibuk dengan buku

Jakarta, 18/01/2023.

Paginya, tubuhku lemas. Tenggorokanku gatal tak keruan. Aku bawa lemon dan tolak angin, untuk diseduh di kantor pakai air panas. Sesampainya di kantor, aku langsung heboh potong dan peras lemon sampai mejaku basah terkena air asam. Sebelum meminumnya pelan-pelan, aku makan sandwich 10rban indomart yang enak.

Tenggorokanku lega seketika.

Menjelang siang, kepala dan tubuhku berat. Bagian atas tubuhku panas, namun kakiku dingin. Aku menangis, tak bisa berbuat apapun. Pun menyadari kesendirianku. Sampai kos, yang aku temui dua anabul yang suka ndusel dan ngendus. Mereka ngga bisa pijit badanku, pun siapkan makanan dan obat–tak seperti mantan suamiku.

Iya. Menyadari kesendirianku bikin aku jadi lemah. Bikin aku jadi melihat masa lalu dan kebaikan-kebaikannya–padahal keburukannya yang merugikanku juga banyak.

Aku benci sendirian, aku benci seorang diri, aku benci seorang diri di pojokan.

Mas, aku paham kau sibuk. Semoga aku bisa lebih memahamimu dan menerimamu, seperti yang engkau selalu bilang padaku, bahwa sejak awal kau sudah siap menerimaku seutuhnya diriku. Bedanya, mungkin, bedanya aku belum selesai. Aku tak sesabar Mas, aku tak sebaik Mas, aku tak… seindah Mas.

Semoga umur kita panjang.

Can I Leave?

I’ve been remenbered that.. this topic probably a fusty jokes ever since last year, cause… I’ve usually write and share stody about this but I still into this very ‘real dramatics problem’ of my life.

Can I just leave these shits around me?

I’m tired wasting my time to wait until I ready. Financially.

Someone told me that, “God will fix everything”. But it takes so much times I cant handle. Damn God, I cant wait please.

The only hard thing is that because we need to survive, so everything would be good to us. But Im thinking so many things to survive and… ok I realize what we did yesterday is the only one option we have.

“God will fix everything.”

Im tired of trying to be ok by doing things I won’t. I wanna be happy and be free from those kind of horror stories ever.

God, can I just leave?

God I don’t need strength I need Gold to pay everything.

Minta Diapain

Ada yang bertanya, di hampir seperempat abad hidupnya, “Mau jadi apa aku?

Menghabiskan waktu bermain gawai yang semakin hari semakin dekat dengan mata, membuat juling matanya yang minus hampir 3. Kadang di dapur, seringnya di kasur sambil berpikir besok mau masak apa. Begitu terus.

Bangun pagi hanya untuk berak 30 menit, dilanjut menatap gawai dan sesekali membuka layar laptop, atau TV—dan seringkali masih sambil memikirkan enaknya besok masak apa ya.

Malamnya, sambil menatap gawai yang dipakai untuk buka akun media sosial, lalu muncul pertanyaan, mau jadi apa. Yang lain berprogres dengan buku atau syair yang dinyanyikannya—yang dapat dengan mudah diakses lagi-lagi lewat media sosial. Ada pula yang selalu memberi kabar baik di kantor atau pekerjaannya.

Yang di sini masih santai—mencoba lupa pertanyaan besok mau masak apa.

Kapan akan bangun? Kau sibuk terlelap, sementara yang lain beranjak menggarap mimpi. Sedang kau dibayangi mimpi, tapi sibuk dengan eksistensi.

Menjawab siapa “dirimu” pun kau tak bisa.

Dear,

Kalau aku boleh minta, aku ingin kembali. Kembali membangun mimpi dan merangkainya satu per satu. Aku ingin seperti dulu saja. Duduk termenung di depan laptop, lagu galau, anak-anak kucing yang manis, menghisap rokok dalam-dalam, minum amer. Sendirian. Meskipun sepi, tapi aku merasa itulah duniaku—dunia yang kumau.

Lalu apa rencanamu?

Rebahan.

Dear

Welcome back to da cruel words which will be forgotten after you finish read cause maybe you’re not relate with this “things” I wanna show to you.

Memories…

Thought I’ve remember that I ever wrote about this.. But this would be different and lil’ bit difficult for me to say. First… because I become emotionally affected by these. Second… fuck I wanna my life before I graduated BACK (Ok. Yang happy-happynya aja ya, bukan pas ujian atau pas galau gegara laki WK), and da laaasssttt…. for making this post, I already sacrified my assigment I have to finish at work–fck I don’t care.

Gue malas cari referensi, dan gue bertanya-tanya kenapa memori harus ada? Oh, mungkin itu kelebihan manusia timbang hewan atau makhluk hidup lainnya.

But sometimes, I think memory is BAD. It allows us to emotionally change: kalau memory buruk jadi bikin sedih, kalo memory happy jadi bikin kangen terus sedih pengen keulang lagi–and this happened to me. LOL.

Everything is become real now. Ok. Maybe I just realize, or I finally have my spirits at writing after a long time so these just the words which come suddenly–idk and idc.

.

.

Mungkin sebetulnya yang gue rindukan adalah suasananya–yang… kalau boleh dijabarin…. ya.. sebetulnya se-tenang dan se-NYAMAN mampus itu. Kayak… se-dikejar-kejarnya setan pun, tetap setannya lambat, alias gue selow ajasi. But now, setelah negara api bangsat menyerang, I feel like I lost everything on me. Surely. SURELY!

Gue ngga bisa berimajinasi lagi–even berimajinasi ter-bersih sekalipun (as you know, imajinasi gue kadang liar ya). Gue ngga bisa melakukan banyak hal, yang seharusnya gue bisa lakuin.

Contoh:

Stuck ngerjain ppt pesentasi dan penawaran, padahal nulis disini lantjar.

Gue bisa aja lanjutin tulisan gue, tapi malah gue ngelamun sambil duduk depan teve. Diem aja gitu. Yang di pikiran ada: how can face this life without any complains.

Life is hard. But even life is hard, I haven’t imagine this life before.

Oke, mungkin gue kurang bersyukur, maka dari itu gue menulis ini. Biar gue sadar bahwa gue ngga salah mendefinisikan rasa gue. EAK!

Bahwa gue sangat menyadari rasa rindu ini. Setelah sekian lama, gue akhirnya buka playlist lama–consist of lagu-lagunya payung teduh, danilla dan stars and rabbit. Dan gue bisa merasakan segala emosi dalam diri gue membuncah, dan memori di belakang muncul lagi.

Memori saat lagi sendirian di kosan (akhir masa kuliah)–oke ngga sendirian, tapi bareng anak-anak yang lagi pada tidur, lalu gue melamun, atau sekedar buka-buka tulisan lama, atau sekedar… berimajinasi…

Saat gue lagi skripshitan–padahal lebih banyak buka-buka websitenya, dan/atau nyanyi-nyanyi karokean ngga puguh… sambil menikmati angin Jatinangor yang sedikit tapi dingin dan memabukkan…

Saat lagi tidur-tiduran di kamar yang gelap–yang cuma ada cahaya lampu di luar kamar, dan itu nyenengin banget karena lampunya lampu orange, sambil menatap langit-langit, dan lagi….. berimajinasi.

Saat di pagi hari, dan (masih) malas-malasan gogoleran di kasur ditemani selimut dan dengkuran anak-anak… Sambil menikmati udara segar yang masuk lewat ventilasi seadanya tapi cukup membuat tubuh menggigil…

Bahwa rindu seberat ini. Dan kita tahu, gue tahu, bahwa hidup yang demikian itu ngga mungkin ada lagi–kecuali lu ambil kuliah S2 di Jatinangor dan kos di tempat yang sama. He he.

Gue rindu banget, sampai rasanya kelu dan lengan lemas buat ngetik (padahal emang lelah aja karena belum tidur, dan ni laptop suwe banget, lama ga dipake ngetik jadi keras keyboardnya).

.

.

Gue sedih aja, sih. Gue ngerasa apa yang gue kerjakan sekarang meaningless aja gitu. Capek doang, happy engga.

For sure, I want to give up.

Regards,

Milla.

Kau Tahu Betul

Beberapa bulan yang lalu aku masih merenung meratapi kisah gelap yang tak kusangka akan membuatku sesakit ini–kala itu. Kau tahu betul kisahku.

Lelaki-lelaki kujejali kelaminya padaku, namun bukan atas dasar cinta (parahnya aku tahu dan sadar betul), dan dulu itu bukan masalah hingga aku dibuat perih. Bahwa beharap ternyata sesakit itu jika tak sampai. Kau tahu betul apa yang kurasakan.

Aku tak menyangka akan sebahagia ini memberikan seluruh raga dan ruh-ku padamu, lelaki yang tak pernah kuharapkan bahkan kurencanakan untuk masuk sedalam ini.

Kau masih senyata mimpi.

Hidupku tak pernah kubayangkan akan sebahagia ini–denganmu. Aku masih melihatmu serupa bayangan yang dulu tak pernah nyata ada–namun kau ada di sini menemaniku. Memelukku saat aku terisak, memanjakanku saat aku butuh dimanja, memberiku tatapan yang tak pernah kulihat dari mata siapapun yang menatapku.

Kau serupa nyanyian yang kulantunkan tiap malam dengan pelukmu yang nyaman, namun kini kulihat rupamu. Kuhirup harum tubuhmu. Kusentuh rambut-rambut di tubuhmu. Kuraba jemari dan punggungmu yang kuat itu. Kulukis alis, bibir, dan hidung pada wajahmu dengan ujung jemariku.

Lalu aku paham bahwa kau terlalu nyata.

Bahwa kau bukan lagi mimpi atau harapan. Kau memang ada dan cintamu padaku terlihat jelas. Lewat susu coklat panas itu, lewat indomie goreng itu, lewat air dingin itu, lewat usahamu membahagiakanku.

Aku bahagia, wahai lelakiku. Aku bahagia denganmu yang menjadikanku wanitamu. Aku bahagia di sepanjang akhir tahun kemarin, bercumbu dengan satu-satunya lelaki yang mampu membuatku lupa bahwa aku punya masa lalu.

Denganmu aku tak pernah bermimpi, namun berencana. Denganmu aku berencana untuk menghidupi hidupku–bersamamu. Denganmu aku berencana tak akan pernah mati membawa nestapa.

Lelakiku, teruslah ucap kata-kata cintamu untukku. Jangan biarkan aku pergi darimu dengan mudah. Bertahanlah dengan sikapku yang ceroboh dan selalu lupa.

Aku mencintaimu, lelakiku. Kau tahu betul itu. Kau bisa lihat lewat ayam kecap dan sup yang kumasak untukmu. Kau bisa lihat dari rambut-rambut putihmu yang kuambil dengan pinset di siang hari. Kau bisa lihat dari hatimu yang sudah terkunci padaku.

Mari kita hidup dengan damai, lelakiku. Mari kita bangun rumah kita bersama dengan dua kursi goyang di taman untuk kita nikmati di hari tua nanti.

Hiduplah hingga 70 tahun ke depan, sayang. Aku ingin menua bersamamu. Kau tahu betul itu.

Yang selalu kau bilang manis,

Amelia.

It might be broke. Will be repair soon.

“Maybe I have to stop. To fallin’. To hoping. To trust someone.

So I won’t get hurt again.’ 

It’s hurt. More than I can imagine cause this foolness. It’s hurt like I never fall before. It’s hurt because I already fall by hopes and dreams… That love finally came to my life. That I feel loved. I feel someone who care and miss me.

And I did wrong. For many times. I did wrong. Like I do wrong for all the time.

I feel hurt. I got wound in my heart and my mind.

You killing me time by time. Every words you say was never right and honest. You never say the truth. You said that you won’t hurt me, but you already did. You said that you want to meet me, but you don’t. You said that you miss me, but you also said that you never think about me.

I felt so much in love, at that time when we were in my room, doing things we want–hugging, kissing…fucking. I felt so blessed because finally I get what I want–love and people who cares.

A man who always heard my stories as well. A man who knows what I feel, my wounds, my fucking stories about fucking man.

I told you everything–especially about man who hurts me. So you already knew “things make me hurts”. You know, right?

You knew all men who sucks. Who left me. Who fucked me and left me alone with wound in my heart. Who made me feels like a bad woman, a bitch…

You know what I want, and I tried too hard to fulfill what you need. And you said you feel satisfy so you wanna meet me again–and fuck. But you lied. You said “bye” easily and it hurts.

At that night when I said I drunk with my friend is true.

But you already wrong. You think that I slept with a man, huh? Why you think that? Are you jealous? Or you did that because you think that time is a time to you finally leave me, so you show me that responses–hates?

I want you, maybe not really but I want you. Because you made me feel this way. You broke a wall I made–to stay cool and calm and think that this kinda relationship is jus for fun, so as long as we feel satisfy, it will always good to us.

But I already fall…

With your words….

“I miss you.”

“Tbh I really miss you.”

“Can’t wait to see you again.”

I felt so much loved and I felt like “oh finally someone who want me is come”…. Oh, God, fool me!

Although I really don’t know the reasons why you did this to me… I will face it, dude. Thanks for making me feel this hurt and thanks for memories you gave to me–and I feel so much pain when I remember it.

Thank you for became friend I trust.

Thank you for your kisses, your hugs… even that things just for a while.

Thanks.

I’ll fix myself.

Whom I Missed

I turned crazy day by day eaten by “things” that I thought. Too much till I forget and walk through a way I choosed. And I already died. This good way made me feel so tiny, and I can’t change. I don’t have a chance to be a better me.

I’ve been tried. Too hard till the feeling goes wrong everyday.

And I am alone. Facing it alone like everything before this kinda fucking hard thing. Time goes slow, and I passed it with… kinda “trying to be good” thing–socialized, laughing, working a lot…

This isn’t me.

I wanna be free.

Free from shit I think everyday like… Fuck! How I missed someone… I don’t know who. Maybe my really first man, who left me with this wound in my heart… My mind. Also my “woman” thing.

I miss how you staring my eyes–although thats a lie. I miss your hugs… especially when we were slept at that night, I miss it, Dan. But what you did to me is more than enough to makes me hurt and unrespect to you.

And you brought me to another man. To not thinking about you I gave my body also my heart to another man and I knew–already knew that is wrong. That’s wrong, I knew that but I can’t turn back time. It’s hurt.

Time goes.

I don’t know what’s wrong with me so I always found a man who hurting me too fucking much. Am I too bad? In many ways?

Then I found many men after you, and I feel bad. Do you know how I feel like… my world already gone, cause I think I am carrying shit from a man I trust? And I am alone in my room?

You will never know how it feels.

Like you don’t know what I feel while you leave me. Cause you never look back. You walk through your way and never ask for my forgiveness–also anything.

Today is pretty bad.

I was thinking how feeling loved by someone is a thing I want so much. Maybe it’s more affect me than sex, or well dresses, or good meals and beverages. I want hugs. I miss your hugs. I miss someone hugs.

I wanna my life before I met the guy… the first guy whom pushed my pussy back.

Another Dirty Little Cock

Hey. How are you? How about your little drogo? Is it ok? Your little cock that you proud so much, cause when you got erection it will grow. Harder. Bigger. Massive. And so you can fuck a woman you wants.

I met you, for the first time, and yeah I feel comfort. You gave me things I want–hugs, forehead kisses.. You let my head lays on your chest. You touched me tender, slowly and soft… You made me feel loved.

And I gave you shits you wants. We fucked. Your drogo woke up for twice and I made it sleep again for twice too.

Thats a new things for me–when you touched and shaked my pussy with your gentle fingers. I love that, honestly–and everythings you gave to me. Even we met just for two or three hours. It doesn’t matter, although I want you longer, I let you go and I felt like hunger.

Shit happened. I miss you.

I need more.

Do not talk about feelings. I tried so hard to not put some feelings for you, on my head. I talk to myself like everytime to not put some hopes on this kinda win win relation-fucking-ship. Like you thought before, “I’ll stop give you fucking cuddles, besides you give me your fucking voices”.

And you said I didn’t treat you right?

We fucked and you said that just because I wont give you my voice?

Hey dude, what I gave to you is more. You know my shits stories as well, and you said that? And you stop this kinda relationship by yourself? Ck. You’re so selfish.

We have rules. To not put kinda feelings and I said OK, and I was never think about my feelings even it hurts while YOU KNOW A WAN WHO YOU FUCKED WAS NEVER LOVES YOU. Thats hurt. Don’t you ever think about that, dude?

And you force me to do things I wont. Thats my voice and I will never send that shitty voice to anyone. Same as photos. If you want me, just come on to me, fucking dude. I want your body too but I dont need your photos or virtually things. Cause you know? I will never trust anyone again. It hurts me too much while I trust people and I am hoping again.

That’s ok, if you choosed to make this game end too fucking fast, so you can find another girl who can fullfill your needs, but not me, if what you want is “virtual things”. You can looking for virtual things in many ways–porn videos, internet.

But I am real. For you. So you are. So, stop asking for that stupid things. If you wanna fuck, just fuck me hard, hey dirt little cock! Dont fuck with shadow.

We made a schedule, right?

If you don’t come, so maybe that day will be our first and last meeting. Thats up to you, dude. I’m not hoping, but if you wanna come, my pussy is ready.

Xoxo,

A woman who missed your “man” voice.

Making Love is about you and me, not your cock and my pussy

This post is dedicated to people who think that making love is all about pleasure of sex itself. Like I thought, sex is about your genital thing, but making love..  isn’t about that “genital” thing only. Making love is about “you” and “your partner”–about me and you.

If you think that your partner is happy enough to have sex with you just because he/she sexually arroused with your good smelly body or your heavy voice or your hands which touched her/his body, especially their sensitive parts… you are selfish.

Don’t you think that they’re not enjoy doing that things with you? Just because they got their climax? Do you ever think that they are hiding something? Do you ever ask him/her about what they feel?

No?

So, you are selfish. Kamu bangsat!

You put too much desires on your head, but you’ve been forgot the most important thing: feelings. How you both feel about each other–about the taste of your lips and body, what you and he/she wear before you two make a love, how you look each other…

Hey, men…

I got wet, and your cock worked in my pussy and my “naked” voice out from my mouth, thats all not a sign, that I want you to fucked me. At that night, and many nights before. So you’ve been failed to make me feel you.

Sometimes I did enjoy. But “no” in many times.

Cause you always put too much pressure to me and my pussy even its not ready yet. You let me drunk…. another let me telling my stories…. another gave me compliments… another pushed me to put trust on him…

And the end was same. You all gone.

You.. maybe you always think that “woman” likes that sexual thing. But honestly.. “NO”. Sex is not a thing. My pussy isn’t a thing that you can use all the time while you need. I don’t have such a big heart to give what I have to you who never understand that I don’t need your cock to makes me feel satisfy,

Don’t you understand what we need, hey, men?

We need affections. We need touches. We need kisses. We need cares.

So I never feel satisfied because you only treat my pussy, not me. I am a woman. I feel… Don’t be selfish because of your needs–your desires. Cause we don’t need that thing except you can give affections with your tender hands touches, sweet talk, hugs….

Do not ever think that I like it, when you fucked me. Cause making love is about you and me, not your cock which success entering my pussy.

Thanks, assholes!