Untuk Kau yang Tak Pernah Ingin Tahu Kabarku

Hai, apa kabar? Selamat dan selamat atas suksesmu hari ini.

Baru saja aku melihat pesan-pesan lamaku, dan ada namamu di sana. Waktu itu aku belum memasukkan namamu ke dalam daftar orang “yang tak bisa melihat instastory-ku”.

Dan di situ ada namamu. Aku mengucapkan selamat atas keberhasilanmu kala itu, dan kau balas dengan kata “terima kasih”. Itu saja. Cukup. Tak kurang tak lebih, yang membuatku tanpa ragu menghilangkan namamu dari daftar teman yang bisa melihat instastory-ku.

Kau melakukannya. Lanjutan perjuangan dari instastory-mu yang aku kometari itu. Kau berhasil hari ini. Selamat.

Ini sudah entah lelaki nomor berapa, dan rasa rinduku pada lelaki lain (yang pernah menjadi kekasihku) berhasil hilang seketika aku melihat wajahmu di instastory temanku. Ya. Aku tahu keberhasilanmu dari sana.

Lama aku tak mendengar kabarmu. Pun tak melihat-lihat jejakmu melalui akun media sosialmu. Tak membuka foto yang bertengger manis di profilmu. Pun tak mencari tahu apa kegiatanmu.

Aku melupakanmu sambil sibuk bercinta dengan lelaki yang kukira tepat. Ya. Kukira ia yang akan menggantimu. Yang akan menyembuhkan diriku dari angan-angan tentangmu. Yang kukira cerita baru dengan episode terpanjang. Nyatanya ia hanya lelaki yang datang lalu pergi kemudian setelah meikmati manisnya tubuhku. Perempuan yang akhirnya mencintainya –entah cinta macam apa.

Boleh aku bercerita?

Aku yang gagal untuk menepati janji pada diriku sendiri untuk tidak macam-macam dengan lelaki selain denganmu –yang aku tahu itu adalah harapan semu. Kau serupa bayangan yang tinggal kutiup maka hilang. Namun aku tak ingin membuatmu hilang. Maka kau ada terus, walau lelaki lain silih berganti datang.

Namamu ada selalu dalam impian. Setidaknya itu berhasil menyelamatkanku dari banyak hal. Hingga aku pikir dengan melanggar janji yang kubuat sendiri untuk diriku sendiri, itu dapat membuatku lupa padamu.

Benar memang aku lupa.

Dan sekarang aku ingat lagi. Betapa namamu tak pernah masuk dalam daftar orang yang menanyakan kabarku, apalagi merindukanku. Betapa namamu tak pernah masuk dalam daftar orang terdekatku yang ingin selalu kuberi kabar –ingin sebetulnya. namun aku menghindarinya. Betapa cerita perjalanan panjangmu yang tak pernah mampir ke telinga padahal aku begitu ingin mendengar pun memberi komentar.

Aku tak mengerti apa yang terjadi di saat aku sudah menghapus segala tentangmu dan memikirkan lelaki lain, dan kau masih bisa-bisanya masuk. Di saat paling bahagia aku dengan lelaki lain, pun di saat aku patah hati, dan kau masih bisa mampir melintas bahkan di jari-jariku yang selalu menghindar untuk menulis kisah tentangmu.

Hai, Tuan.

Maafkan aku yang belum bisa melupakanmu meski kau ingin sekali aku lupa –atau lebih tepatnya kau ingin sekali aku hilang. Segala kisah tentangku yang tak ingin kau tahu. Segala keinginanku yang bukan keinginanmu. Dan itu yang seharusnya meyakinkan diriku bahwa kau (sejak dulu) tak menginginkanku.

Maka bayanganmu harus aku tiup seketika –dan bayang-bayang lelaki lainnya.

Maafkan aku, Tuan. Jika memang sudah takdirku banyak mengecup bibir lelaki lain dan itu bukan kau sehingga tak akan pernah ada kesempatan untuk aku medapatkan dirimu, itu tak apa. Aku akan menikmati rasa sakitnya. Toh sudah berkali-kali hatiku disayat oleh kebahagiaan yang aku ciptakan sendiri bukan?

Selamat, sekali lagi, Tuan. Semoga lancar hari-harimu ke depan.

Dari yang susah mati melupakanmu.

Advertisements

Dan, Aku Rindu

28ad83fe35e56e3060650ef060d74d66

Source: pinterest.

Aku masih terjaga di tengah gelap malam yang menusuk. Bahwa di sebelahku terbaring nyawa yang sedang terlelap saking lelahnya.

Entah ini akan menjadi apa. Aku dan dia.

Meski tubuh kami menyatu dan bergulat dalam atmosfer seindah apaun, tetap bukan dirinya yang kuingin.

Dan aku merindukamu.

Seperti malam yang sudah-sudah. Seperti ribuan langkah yang kita lewati tanpa bersama bergandengan tangan.

Aku merindukan pelukanmu. Pelukan yang tak mau lepas itu. Pelukan yang membawa serta napasmu masuk dari tengkuk hingga menghangatkan seluruh tubuhku.

Aku rindu kau kecup berkali-kali. Aku rindu hembusan asap rokokmu. Caramu memegang rokok lalu menyentilnya untuk memindahkan abu yang bertengger ke botol dengan lubang kecil.

Dan, aku merindukan segala tentangmu.

Bila bukan jarak dan ego diri, adakah hal yang dapat membuat kita bersama?

.

.

Malam ovulasi, 18 November 2017.

Menjadi Tak Berarti

Yang kemarin itu berbeda. Bahwa aku tak lagi melihat hal yang sama darimu, lelaki yang pernah menjadi kekasihku (oke setidaknya dua atau tiga hari, ah aku lupa. atau mungkin seminggu?). Bahwa kita akhirnya dipertemukan lagi. Tak diduga. Kau datang di waktu yang tak kumau. Tapi kuakui juga bahwa aku menginginkanmu –seperti malam-malam sebelum ini. Begitu caramu memberi kejutan? (Setidaknya itu bagiku. Mungkin bagimu pergi ke tempatku seperti wisata yang kau bisa  datang kapapun kau punya uang).

Tak ada kata sayang. Tak ada kata rindu. Tak ada marah dan benci yang menjadi bumbu keseharian kita di masa lalu. Pun tak ada cemburu. Tak ada tatapan yang intens. Tak ada setuhan pun ciuman di leher. Tak ada ucapan “good morning” di pagi itu. Tak ada belaian di rambut. Tak ada kecupan berkali-kali yang banyak di bibir. Tak ada tatapan di matamu yang berarti selain kesenangan bercumbu dengan jalang.

Yang ada adalah caramu memperlakukaku seperti kau memperlakukan perempuan yang punya kelamin. Sudah. Selebihnya kau lupakan kata-kata sayang di masa lalu itu. Kau lupakan semua cerita kita yang singkat yang tak berarti apa-apa buatmu.

Bagimu aku hanyalah alat pengasah kelamin. Tempat kau memuntahkan gairah yang kau bendung sejak lama –sejak sebulan tak bertemu dengan kelamin perempuan. Sejak kau bilang kau menginginkan perempuan lain yang ada di dekatmu. Sejak kelaminmu tak tahan berdiam diri bertegger di selangkanganmu tanpa bergesekan dengan kelamin wanita.

Dan aku hanyalah kayu yang sudah terbakar habis. Aku hanyalah kesia-siaan.

Bahwa kupikir kau adalah lelaki terakhir, tapi nyatanya bukan. Justru kau yang membuka jalan untuk kelamin lain masuk dengan mudahnya. Bahwa kau yang sudah tak menganggapku ada, bahkan merindukan aku pun tak ada dalam kamusmu. Oke. Kau merindukan kelaminku. Katamu kelaminku itu punyaku, dan aku tak berhak cemburu dengan apa yang memang sudah punyaku.

Tapi merindukan kelamin berbeda dengan merindukan seseorang, sayang.

Memori indah yang kita bangun memang baru sebatas memori di atas ranjang. Tak ada memori jalan berdua. Berkisah lewat foto. Bergadengan tangan di pinggir jalan. Membicarakan hal kesukaan masing-masing lalu tertawa. Kenangan itu tak ada dalam memori kita.

Maka aku paham betul mengapa kau merindukan kelaminku. Karena hanya itu momen terintim kita berdua. Setidaknya memori di tempat konser, tempat makan, pun di atas motor yang berusaha setengah mampus aku ukir  tak berarti apa-apa buatmu, iya kan?

Hanya tubuhku yang kau mau dariku.

Maka aku paham betul untuk apa kau datang sore itu dengan ransel besar di punggungmu: untuk kelaminku. Kau membayar separuh perjalananmu dari Solo, lalu sengaja mangkir ke Bandung demi kelaminku. Kau begitu merindukanya, huh?

Dan tak ada hal istimewa yang terjadi seperti pada hari sebelum ini, di mana kata sayang terdengar berkali-kali melayang-layang hingga membuat hatiku melambung. Kau menciumi tubuhku, lalu menatapku intens, lalu terseyum manis. Yang ada, kau hanya fokus pada kelamin kita yang saling bertautan. Tanpa sedikitpun pelukan. Tanpa ada kata-kata yang keluar.

Siapa yang kau setubuhi?

Boneka? Atau lubang tak berarti yang kau temukan di pinggir jalan?

Atau mantan kekasihmu?

Atau perempuan yang kau bodohi?

Aku merindukanmu setengah mampus. Sampai mampus pun yang kau ridukan tetap kelaminku, bukan aku sebagai wanita. Bukan aku sebagai wanita yang kau inginkan, seperti kata-katamu sebelumnya.

Dan yang aku rasakan hanyalah kehampaan. Sama dengan lelaki-lelaki sebelumnya. Yang kurasakan hanyalah keinginan untuk meyudahi persetubuhan segera, bukan menikmatinya. Yang aku rasakan hanyalah kebodohan.

Apalagi ketika kuingat kau pernah bilang, “Demi aku, please.” Saat kau minta aku untuk menyerahkan semua yang kau mau. Demi apapun aku merasa bodoh luar biasa. Seperti katamu di atas motor, malam itu, saat kau paksa aku mengocok tititmu di jalan.

Ya memang kenyataannya begitu. Aku hanya akan terus mejadi wanita konyol di matamu. Wanita konyol yang baru akan kau datangi ketika ia sedang tak datang bulan untuk kau ajak bersetubuh, bukan menikmati waktu sore di bioskop pun di tempat makan, apalagi di taman wisata.

Yang akan kau lupakan segera ketika kau tak butuh (atau setidaknya sehabis kau menuntaskan kebutuhanmu). Yang hanya akan menjadi simpananmu di Bandung mana tahu kau ada waktu atau pekerjaan di sana. Yang akan menjadi abu seketika kau dapatkan kelamin yang baru–yang bisa memuaskan kelaminmu, pun hari-harimu.

Kau tidak pernah baik, sayang. Yang kau pahami dari wanita hanyalah bahwa kelaminnya adalah tempat untuk kelaminmu keluar masuk sampai muntah. Kau tak pernah paham bahwa wanita butuh lebih dari pada kelamin lelaki yang selalu dibanggakan itu.

Dan, aku harap aku dapat melupakanmu segera. Mengingat rasa sakit ini hanya akan membuatku semakin merasa konyol. Kerinduanku padamu sampai kapanpun tak akan terbalaskan, kecuali aku membuka hatiku untuk lelaki baru. Tentunya yang tidak sepertimu, kuharap.

Selamat bertemu dengan kelamin wanita lainnya, Sayang.

Hati-hati kena HIV.

Salam,

Mantan Kekasihmu yang Tak Berarti.

Lelaki No. 9

Malam itu, tanpa ragu aku melambaikan tanganku padamu, lelaki nomor 9. Ah. Banyak juga lelakiku. Kalau sudah sampai ke angka 27 akan kubuat tulisan dengan judul “Daftar Lelaki Yang Pernah Mampir”. Masih lama nampaknya untuk sampai ke nomor 27. Mungkin dua tahunan lagi.

Kau bilang tak ingin membahas masa laluku, karena sudah jelas-jelas kubilang menceritakan lelaki-lelaki sebelum kau hanya membuka luka lama yang mengering pun enggan. Maka mereka masih ada di kepala, pun tulisan-tulisanku.

Aku menemukanmu di udara. Kita saling menemukan, saling memilih. Bahwa mungkin aku cukup tertarik dengan rupamu, kau pun begitu, mungkin. Kalau tidak, untuk apa kita saling memilih? Coba-coba berhadiah? Mungkin saja, sih.

Kita duduk bersama. Aku di kasur, kau di karpet. Aku mengesap kretek, kau garpit. Katamu, garpit yang dipadukan dengan anggur merah dapat menyembuhkan flu dan batuk yang sedang menyerang tubuhmu. Maka rokok, anggur merah, dan kacang yang kau bawa adalah perpaduan yang pas.

Kau terbiasa minum, katamu. Maka anggur merah yang kau letakkan di botol air mineral berukuran 300 ml tak akan memberatkanmu. Tapi tidak aku. Anggur merah kedua ini, meskipun bukan minuman terparah yang pernah kuminum, tetap membuatku… hm “merasa berbeda”.

Kita membicarakan banyak hal. Aku masih ingat, walau tidak detail. Bahwa kau mendengarkan kisahku yang membosankan perihal lelaki yang baru saja pergi –mantan kekasihku. Lalu kau meminta celana, dan segera saja kuberikan celana olahraga pendekku –celana perempuan. Dengan dadamu yang telanjang, kau pede saja dengan celana yang membuatku kehilangan fokus itu.

Kau membicarakan banyak hal. Perihal keyakinan dan jati diri. Kau bilang kau pernah bertemu seseorang yang mengajakmu berjalan di jalannya. Bahwa hal yang begitu tidaklah perlu. Jalanku jalanku, jalanmu jalanmu, kau bilang. Kau berperilaku buruk, kau tak meminta siapapun untuk turut melakukan kegiatan yang kau sukai, jika memang itu bukan yang mereka suka.

Kau bilang, jangan bingung. Berkali-kali kau tanya, “are you comfort with me?” yang selalu kubalas dengan anggukan. Kalau sama-sama nyaman, mari kita lakukan apa yang kita suka!

Dan kau menghampiriku, duduk di sisiku, lalu memutar lagu yang katamu cocok dengan isi hati kita –atau lebih tepatnya aku: kebingungan. Lagu kedua berputar, kau menatap mataku sambil berkata, “do you feel comfort with me?”, aku mengedipkan mata, dan saat itu pula bibirmu jatuh pada bibirku. Rasanya manis, dari rokok yang kita hisap sebelumnya.

Kau menghisap bibirku dengan sangat kuat. Namun itu tak menyakitiku sama sekali. Aku menikmati napasmu yang tenang –yang sekeras mungkin berusaha untuk tak kau muntahkan semuanya. Bahwa aku tahu saat itu kau sangat menginginkan tubuhku, dan mungkin aku pun begitu.

Aku cukup malu dengan tubuhku yang berlemak, dan kau tidak. Bahkan tinggimu tak lebih tinggi dari padaku. Badanmu pun tak lebih besar. Tubuhmu ramping, dengan otot-otot yang menyembul dipaksa keluar. Katamu kau suka pergi ke gym. Dan rupanya kau juga seorang atlet taekwondo.

Maka aku tahu mengapa orang dengan tubuh sekecil dirimu memiliki tenaga sebesar itu. Untuk menyedot bibirku kuat tanpa menyakitinya sedikitpun, lalu menarikku dalam pelukanmu, membiarkanku di atas tubuhmu tanpa kau merasa sakit saking beratnya menahan tubuhku.

Maka aku tahu mengapa benda kecil punyamu itu terlihat gagah.

Aku berkali-kali membenahi rambutku, lalu menenggelamkan wajah pada tangan sendiri, karena tubuhku begitu memalukan. Lebih tepatnya jika bersanding dengan tubuhmu. Alih-alih mabuk, aku sambil tertawa lalu bilang, “its so embarrassing!“, dan kau berkali-kali bilang,”are you ok? do you feel comfort? with this?” dan berkali-kali aku tertawa kecil.

Lalu kita melanjutkannya kembali. Jarimu kemudian bergerilya ke tengah selangkanganku, membuatku merinding. Kau mencium bibirku lagi, masih dengan hisapan kuat itu. Kau adalah lelaki dengan hisapan terkuat, hai lelaki nomor 9! Lalu lidahmu masuk sedalam-dalamnya bibirku.

Hingga itu semua terjadi.

Hingga kau selesai dengan urusan buah selangkanganmu.

Kita hanya melakukannya sekali.

Kau bergegas. Katamu pulang ke rumah, karena kau sudah janji pada ibumu untuk sampai rumah jam 2 pagi. Kau kenakan kembali pakaianmu, menyisir rambutmu, lalu berkata, “sisirnya bagus. enak dipake.”, dan pergi membawa kacang yang belum habis –yang kita makan tadi, juga sisirku –yang memang kuberikan padamu.

Kau berlalu seketika.

Kau bilang kau akan menghubungiku nanti. Dan benar saja. Satu jam kemudian pesan darimu datang. Berterima kasih, lalu bilang ingin mandi, dan meminta izin untuk tidur.

Sedang aku sudah kacau.

Aku teringat ketika dirimu masuk. Kubilang padamu, “ada satu lelaki yang muncul”. Kau bertanya siapa, kau menebak-nebak, dan aku masih menyimpan cerita itu sendiri –rencananya akan aku ceritakan di pertemuan kita yang selanjutnya. Namun sepertinya pertemuan itu takkan pernah terjadi.

Maka ketika sisa-sisa perjuanganmu keluar, aku menangis, dan kau panik.

Lalu aku tersenyum membahagiakan diri. Tentu ada sesuatu. Aku baru saja melakukannya dengan lelaki baru yang… yang sebelumnya kumaki. Aku bertemu denganmu karena rindu lelaki lain –bukan yang ada di bayangan saat tubuh kita menyatu. Aku melakukannya, bertemu denganmu demi melupakan lelaki yang baru seminggu lalu tidur bersamaku, bangun pagi-pagi dan bilang, “morning“.

Bahwa aku membutuhkan sosok, itu benar.

Maka kau tidak akan menjadi yang terakhir, hai lelaki nomor 9. Tak adanya balasan pesan darimu membuatku semakin yakin untuk segera menemukan yang baru. Bahwa cerita kita memang harusnya hanya kita yang tahu. Dan bahwa cerita kita memang pantas untuk berakhir.

Terima kasih, lelaki nomor 9!

Bayang-bayang diriku akan selalu muncul di kepalamu, ketika kau menggunakan sisir itu. Tak akan kubiarkan kau lupa. Kecuali kau buang sisir yang katamu “enak dipakai” itu jauh-jauh.

Dan aku tak akan melupakan hisapan bibirmu, meski nanti aku akan melupakanmu seiring aku bertemu dengan lelaki-lelaki setelahmu.

Regards,

Wanita yang rindu bercakap denganmu.

Hai, Nona!

Terima kasih atas tulisanmu, Nona. Aku jadi terinspirasi untuk menulis.

Meski tulisanku tidak semanis punyamu –kau tahu lah ya, kapan aku mau bilang titit ya aku akan bilang. Begitu pula anjing, tai, bangsat, dan kata-kata kasar lain yang tak indah. Aku tak suka mencari-cari diksi bagus, kata bisa muntah begitu saja dan aku tak ingin memaksa kehendak hatiku untuk mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih “layak baca”.

Menulis bukan sesuatu hal yang mudah, Nona. Setidaknya bagiku yang tak memiliki logika apapun kecuali perasaan. Maka yang aku tulis adalah sesuatu yang “mungkin tak berlogika”. Tapi ngga juga sih, sebetulnya.

Ah. Aku jadi teringat teman kita, yang malam itu memberiku kata baru: me-logika-kan perasaan. Tak pernah aku tahu nama perasaan itu sampai malam kemarin. Melogikakan perasaan. Bagaimana caranya? Kau dan aku sama-sama tahu.

Denial, denial, denial.

Mencari pembenaran untuk membuat diri tetap kuat dan bangkit dari kenyungsrukan kita. U know what I mean HAHA.

Mudahnya begini, ketika dalam diri kita bergulat dengan apa yang kita pikirkan dan rasakan sendiri. Kau tahu? Bicara dengan diri sendiri jauh lebih sulit timbang begini. Aku dan kamu yang begini. Saling berbicara lewat kata –yang benar-benar kata.

Tidaaaa. Aku tida suka dia karena dia hanya ingin seks saja. Seks tida butuh emosi. Dia hanya bekerja di kelamin, bukan di hati. Seks tida butuh status, seks tida butuh belaian di kepala, seks tida butuh tatapan mata yang intens. Seks hanya butuh dua kelamin yang bisa saling bergesek-gesekan.

Bahwa perasaan akan terbawa dari sebelum tidur hingga kita bangun lagi, itu pasti. Karena kau tahu sendiri. Kita sama-sama mudah merindu. Rindu sentuh dan tatap yang intens, rindu akan kata-kata manis yang membuat muka merona kemerahan –bahkan membuat kelamin kita nyut-nyutan, rindu akan masa lalu yang indah.

Perasaan akan selalu terbawa, bahkan di saat kita ingin lupa dan sudahi saja. Perasaan itu ada dalam asap rokok yang kita hirup lalu hembuskan, ada dalam cangkir kopimu dan gelas lemon tea dinginku, ada dalam kulit ayam cabai garam yang kita makan, ada dalam kartu tarot yang aku mainkan, ada dalam gawai kesayangan kita –yang kadang, sejujurnya aku lebih tidak menginginkannya, di saat-saat tertentu.

Rasa itu juga ada di tulisan-tulisan kita yang mungkin untuk orang lain tak berarti apa-apa.

Maka malam itu, malam dengan lelaki paling baru itu, aku yang menginginkannya untuk masuk. Ia tak merajuk, tak seperti lelaki sebelum-sebelumnya yang memohon seperti kucing minta makan.

Bahkan ia selalu menanyakan hal ini: perihal kenyamanan. “Kamu nyaman? Kalau engga kita bisa stop.” atau, “Aku nyakitin kamu?” yang selalu kubalas dengan gelengan. Aku menikmatinya seperti memang ini mauku sejak lama. Dimengerti. Tidak dipaksa melakukan apa yang tak aku inginkan.

Lelaki itu, kau tahu, lelaki yang beberapa jam lalu aku bicarakan dengan temanku, “Kayaknya gue ngga mungkin sama dia dah. Bukan tipe gue.” Dan memang. Yang di pikiranku saat itu adalah… oh my God. Ini tak mungkin berlanjut. Gue ngga suka dia, dan kayaknya ngga akan pernah deh.

Kenyataannya?

Beberapa jam kemudian malah bibirnya yang aku rindukan. Malah rambutnya yang selalu klimis itu yang kurindukan. Malah caranya menghisap rokok. Caranya meminum amer dari botol aqua. Caranya berbicara tentang keyakinannya. Caranya membuatku tenang.

Aku harus lebih menjaga kata-kataku nampaknya, Nona. Senjata makan Puan, ini namanya.

Aku melewati malam-malamku dengan rasa kesepian lagi. Maka aku ingin selalu bersama denganmu, Nona. Entah ngopi bersama –tentu aku es teh, atau nyeblak bersama, membicarakan orang lain lalu ngakak, juga membicarakan perasaan kita masing-masing. Aku tentang kelamin lelaki-lelakiku yang tak pernah kurasakan lebih dari empat pertemuan –paling sering satu atau dua pertemuan dan berakhir begitu saja. Lalu kau perihal yang sama, tapi mungkin dengan masa yang lebih panjang –setidaknya dengan lelakimu yang sekarang.

Meski sejujurnya tak aku pungkiri, hingga saat ini aku masih membencimu. Aku tak pernah mendengar lagu-lagumu selain di beberapa konsermu yang kudatangi. Aku tak pernah mau tahu instastorymu, aku malas membaca tulisanmu selain yang kau berikan linknya padaku…

Tapi aku senang bersamamu. Aku tak suka tiap kau bilang akan pergi ke Bandung untuk melakukan kegiatanmu, sedangkan di sini aku sedang kesepian. Kimi belum begitu mengerti keadaanku, Nona. Bahkan memeluk Kimi pun aku belum bisa. Fokusnya masih mencari tetek, maka aku suka begidik sendiri ketika dia mengendus-endus lalu mencakar dan menggigit bagian tubuhku.

Hm.

Kau benar. Meski tak ada kata yang keluar pun, aku dan kau tetap terhubung. Dari tulisanku yang selalu kau baca, update-mu yang selalu kuabaikan, bahkan dari rasa benciku kepadamu.

Aku tak akan berhenci mencari, Nona. Aku tahu yang kulakukan hanyalah ke-sia-sia-an. Tapi aku tak ingin berhenti lebih cepat. Dari deretan lelaki di belakang, aku banyak belajar, juga lelaki-lelaki yang ada di depan. Maka aku belum mau berhenti.

Biarkan saja sakit ini menumpuk, lalu hilang lagi, lelu menumpuk lagi, lalu lupa lagi, lalu ingat lagi. Karena aku sudah terlanjur, Nona. Berdiam diri tanpa mencari hanya akan menyakitiku dan membuatku berlarut.

Tak akan ada hal buruk yang akan terjadi padaku, bukan?

Kuharap iya.

Terima kasih, sekali lagi, Nona. Aku suka kau panggil Amelia.

.

.

Regards,

Amelia ❤

Lelaki Ke-sekian

Aku ingin berhenti menghitung waktu, bahkan apapun, termasuk lelaki mana –ke berapa yang berhasil masuk dalam hidupku. Entah ia datang lalu menetap –yang sejujurnya belum ada, atau yang ia datang lalu pergi begitu saja –ini banyak, walau kurang dari 10.

Dan benar saja.. seiring berjalannya waktu, aku melupakan juga lelaki pertama hingga lelaki sebelum ini. Maka aku tak tahu, yang akan kuceritakan ini lelaki ke-berapa. Nanti akan kuingat-ingat, tapi nanti.

Aku bertemu dengannya di ruang tamu yang hangat. Kami bertemu di hari pertama perkenalan di udara. Rupanya tidak buruk. Ia cukup tinggi, meski nampaknya lebih tinggi aku se-per-sekian senti. Tapi dia bocah. Umurnya 19, lebih satu tahun dari adikku di rumah.

Kami berbincang sedikit mengenai beberapa hal yang tak terlalu kuingat. Yang paling kuingat adalah: ia tak mengerti ketika aku bercerita tentang kegiatanku di tempat kuliah, maka aku bertanya berapa umurnya.

“19.” katanya.

“Hah? Ngga mungkin!” Aku menimpali.

Kemudian ia memberiku kartu identitasnya. Dan betul… ia lahir di tahun 1998. Setahun di atas adikku. Hah. Muda kali kau, Tong!

Aku tahu ia tertarik pada tubuhku, tepatnya setelah ia pindah duduk di sebelahku secara tiba-tiba dan lengannya menempel pada lenganku. Kami duduk berdua sambil menatap gambar bergerak dalam layar laptop. Aku sibuk dengan rasa takutku –karena film yang ditonton film horror (tepatnya Chucky si boneka iblis), dan ia sibuk menertawaiku, lalu melemparkan lelucon yang tak lucu, lalu mengomentari dada wanita di dalamnya. Itu tak perlu, boy. Norak!

Lalu kami berganti ke film yang lain –yang tidak ditonton dengan benar karena ia mulai sibuk mencari celah untuk memegang dadaku yang tak seberapa besar. Dimulai dari bersender di pundak, memegang tangan, menumpu sikut di pahaku, sampai akhirnya, tanpa malu-malu mencomot dadaku yang langsung saja kutepis. Depan rumah sedang ramai, Tong!

Ia sibuk mencari-cari kesempatan, malu-malu –entah ragu-ragu menimpali kata “sayang”, “i love you”, dan jelas bilang kalau sudah ada ketertarikan padaku. Kau pikir aku percaya? Nggak lah! Kau bilang aku lucu, enak diajak bicara, tapi fokusmu bukan pada lelucon yang aku keluarkan pun buah pikirku. Fokusmu ada pada dada dan bibirku, juga kelaminmu yang gatal minta dipegang. Begitu kah?

Tapi kau dapatkan setidaknya tiga kecup dari bibirku –atau lebih? di sela-sela takutku ketahuan orang-orang di luar yang sedang sibuk mondar-mandir di depan jalan. Pun aku takut Bibi di rumah akan memergoki tingkah kita yang tak sewajarnya.

Tapi kuberikan juga ciuman itu padamu, dan beberapa kali kutemukan celana dalamku basah di sore itu ketika aku beranjak untuk ke kamar mandi. Kau tahu artinya?

Bahwa aku menginginkan itu juga. Mungkin lebih.

Tapi otakku masih berjalan. Hatiku berhenti ketika kau memberi sentuhan-sentuhan –yang menyetrum saraf hingga ke otakku, maka aku tak mempan dengan kata-kata konyolmu. Sayang, I love you. Ah. Basi kau, le! Aku bukan lagi anak SMA yang mudah terbuai dengan kata macam itu.

.

.

Kau pun pulang sore-sore. Sejujurnya aku masih ingin kau berada di dekatku, bahwa aku sedang butuh juga orang sepetimu. Dan aku melihatmu pulang dengan perasaan bahagia, terlebih ketika Bibi bilang, “Bageur Neng. Sopan, deui.” Aku tersenyum, dan mengakui, dibalik kelakuan norakmu, kau tetap menarik meski sedikit. Jujur saja. Haha.

.

.

Pesan dari anak lelaki itu datang kemudian. Ia bilang ia telah sampai.

Terang-terangan ia meminta foto dadaku yang telanjang. Hei, tak sopan, tolol! Lalu aku menanggapi dengan santai, memang kau siapa? yang langsung ia tanggapi dengan, mau ngga jadi pacar gue?

Haha.

Aku tahu aku bodoh. Tapi aku akui bahwa aku sempat senang kau mengatakan itu, boy.

Ah. Baiknya langsung saja kutulis ini untukmu.

Aku bilang padamu, becanda mulu. Yang langsung kau balas dengan, aku serius.

Lalu kubilang padamu, kalau kau serius kau akan datang lagi atau menelponku. Dan benar. Namamu langsung masuk dalam daftar panggilan, dan aku mengangkatnya segera.

Singkatnya, pukul 7 kurang di malam itu, aku bilang bahwa aku mau jadi pacarmu. Entah apa yang kupikirkan. Mungkin sebuah harapan yang akhirnya tercapai? — bahwa aku ingin sekali ada lelaki yang mengatakan itu padaku, bukan karena ia ingin kelaminku, tapi seperti kebohongan yang kau katakan (bahwa kau menyukaiku).

Tapi kau terus memaksaku untuk mengikuti maumu. Memberimu foto dadaku, kemudian aku menolak dengan keras, dan kau memaksa lagi, lalu kita berdebat. Aku lelah. Oh. Ternyata kau memberiku kesempatan untuk mendengar seseorang menyatakan cinta hanya untuk foto dada.

Dan kau tak menyerah meski berkali-kali kutolak dengan sedikit rasa marah, pun setelah kau meminta maaf. Ah, bajingan juga kau!

.

.

Malam harinya, masih di hari yang sama, setelah pedebatan yang panjang antara kita berdua, kau mengajakku keluar. Malam itu, jam 12 malam. Kupikir kau akan mengajakku merayakan hari jadi kita dengan makan nasi goreng pinggir jalan atau minum jaesu. Nyatanya tidak.

Kau malah sibuk bersusah payah menggerayangi tubuhku dari atas kemudi motor yang tentu masih berjalan. Gila! Tolol! Demi apapun itu cara tergoblok dan aku tak pernah memikirkan untuk melakukan hal goblok itu dengan lelaki manapun. Kampungan!

Aku segera menepis tanganmu dan memindahkannya lagi ke depan, sambil kutahan di pahamu. Dan disitu aku sudah kehilangan rasaku. Ini tidak benar. Kata-katamu hanya bohong besar belaka. Dan detik itu juga aku ketakutan setengah mampus. Aku takut hari itu akan jadi hari terakhirku, dan esok hari aku akan ditemukan mati di tengah tumpukan sampah dan lalat yang berterbangan.

Bisa kau bayangkan mati di tangan orang yang baru kau kenal? Hih. Sia-sia aku hidup selama 22 tahun.

Kau tetap mengusahakan segala cara untuk menggapai dadaku. Fokusmu selalu pada dadaku yang rata, padahal… asal kau tahu, bukan bagian itu saja yang penting untuk disentuh saat naluri bersetubuhmu keluar. Dasar anak-anak!

Kau membawaku ke dua tempat untuk kau nikmati tubuhku. Pertama di balik semak-semak di sebrang pom bensin, kedua di jalan gelap di belokan jembatan. Oh, saat itu, saat kau membuka bra yang kupakai dan akhirnya mendapatkan isinya… sungguh tak ada kesenangan yang kudapat, malah sebaliknya.

Dan aku mendorongmu, lalu meletakkan isi bra-ku kembali dengan benar, dan meminta kau untuk menyudahi semua ini. Kau pun dengan wajah menyebalkan itu –menyatukan kedua alismu entah marah entah apa, membawaku kembali ke rumah.

Di perjalanan pulang, kita berdua diam. Rasanya tak ada satu kata pun dari bibirku mau keluar, pun dirimu. Rasa-rasanya aku mulai membencimu, ditambah kata-katamu sebelumnya yang bilang aku bodoh sudah mau menerimamu untuk menjadi pacarmu –yang sebetulnya hanya sebagai usaha kau untuk meraba-raba tubuhku untuk mencapai puasmu.

Esok harinya, kau bertanya padaku –setelah hari lalu kau bilang tak akan memutus hubungan kita apapun masalahnya- perihal, sebenarnya masihkah kita berpacaran.

Ah. Bagimu hubungan yang belum genap sehari kita jalani hanya lelucon bukan?

Iya kan?

Dan akhirnya keputusan dibuat. Kau bilang bahwa mungkin lebih baik kita berteman. HAHA. BULLSHIT KAN KAU?!

Brengsek!

Aku menyetujuinya. Dan memang betul rasa ini belum mengendap sebegitunya. Maka aku akan mudah melupakanmu segera, meski kata-katamu sempat membuatku terbuai. Membuatku berpikir bahwa memulai denganmu adalah sebuah kesempatan emas untuk mengukir cerita cinta yang tak biasa.

Kau lelaki termuda yang pernah mampir di bibirku.

.

.

Kau, lelaki 19 tahun adalah sebuah cerita. Maka silahkan kau baca dan renungkan apa tujuanmu mempermainkan dirimu sendiri, dan orang lain yang sesungguhya tak sulit untuk membuka hati demi kisah cinta baru.

Terima kasih, Tong! Atas pelajaran yang kau berikan padaku, bahwa ada lelaki konyol sepertimu yang “mempermainkan” kata “jadian” alih-alih untuk menikmati tubuh pacarmu sendiri.

Ah. Aku tak akan pernah lupa untuk mengajakmu bermalam di kostku. Nanti akan aku kabari jika sewaktu-waktu aku butuh, dan kuharap ciumanmu sudah benar. Haha. Mau kuajari cara berciuman yang benar?

Di pertemuan selanjutnya, oke?