Hari ini, hari libur terakhir di sepanjang long weekend kemarin. Aku masih ndak enak badan, dan emosiku nano-nano—masih hari ke-4 menstruasi.
Mas, aku lagi suka lagunya Reality Club, berjudul “Alexandra”.

Aku tahu lagu mereka pertama kali waktu dengar yang judulnya, “Anything You Want”. Vibesnya lagu lama luar negeri. Kelas banget.
Sampai kudengar lagu si Alexandra ini, kupikir mereka masih band indie luar. Aku suka banget sampai mau nangis tiap dengar lirik favoritku itu. Aku ingin jadi Alexandra.
Ternyata, mereka Band Indonesia. Aku baru tahu! 😭 Bahkan mereka pernah manggung di Synchronizefest tahun 2019 (waktu ini aku belum tahu ada Synchronize). Aku berasa ketinggalan jauh.
Lagu ini vibesnya bikin aku bersedih yang terharu. Ndak, hatiku ndak sesedih itu, tapi aku sedih seperti ingin menangis di pangkuanmu.
Barangkali kau adalah Alexandra bagiku..
“I feel in love with Alexandra
Even though I barely meet her
Even though we’d break our hearts
Before we’d even start”
Lagu ini punya rasa sesaknya sendiri. Bagaimana mungkin seseorang punya rasa sedalam itu ke orang yang jarang atau bahkan belum pernah ia temui? Kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di depan—yang kita belum tahu apa tapi kita punya ketakutan sekaligus harapan di situ…
Mas, baca balasanmu tentang keluhanku hari ini, bikin mataku basah. Perasaanku lagi acak-acakan, seperti kamarku. Aku merasa tak berdaya. Kerapkali aku merasa waktuku di dunia sudah hampir habis. Aku takut Tuhan ambil aku—atau kamu, sebaliknya—sedang kita belum jumpa dan memulai apapun yang menjadi mimpi kita satu sama lain—yang tentunya masih ada di kepala masing-masing, karena seingatku kita belum pernah bahas ini, bukan?
Kemarin aku tanya, “Apa doa yang seringkali kau panjatkan untukku?”
Mas jawab, “Kalau berjodoh, semoga didekatkan, dimudahkan. Kalau engga, tolong dikasih tahu.”
Lalu aku masih sempat menanyakan kebenarannya padamu, sekali. Kau bilang betul, kau serius.
Aku sibuk bertanya di kepalaku, sebelum aku bertanya padamu, apa doa yang sering kau sebut sembari menyebut namaku di dalamnya.
Karena tiap harinya aku ingin menjadi lebih baik. Tiap harinya aku ingin menjadi diriku yang lebih baik dari sebelumnya. Tiap harinya aku ingin jadi lebih baik.
Dan di situ, di jawabanmu aku menemukan diriku sesak. Aku berdoa untuk hal yang sama. Untukmu, yang masih kubayangkan seberapa tinggi dan besar tubuhmu, seperti apa rasanya saatku raba-raba lekuk di wajahmu, sekasar apa rambutmu, dan lain-lain, dan lain-lainnya.
Mas, kuharap tubuh kita sama-sama kuat untuk sama-sama merealisasikan apa yang menjadi harapan-harapan kita.
Kuharap, apa yang kita panjatkan tiap harinya bisa dijawab Tuhan.
Aku berharap mas selalu sabar dan berlapang dada, dan aku selalu bisa belajar.
Semoga umur kita panjang, termasuk umur kebersamaan kita.
