Dan, Mana Etikamu?

Pelacur saja dibayar. Pelacur saja dapatkan sesuatu dari apa yang ia beri. Lalu aku apa? Apa nama untuk wanita yang melacur namun tak dibayar?

Aku lebih hina dari wanita yang tak dibayar, kau tahu?

Mereka bisa hidup dengan receh yang mereka dapat. Sedang aku tidak, malah sebaliknya. Menghabiskan uang untuk membeli rokok, lalu menghirupnya hingga mual… entah berapa tahun lagi aku akan hidup.

Bahkan jika aku mati pun aku tak punya bekal apapun selain dosa yang kutenteng di pundak. Mungkin di alam sana nanti dosaku akan menjelma parang yang menancap di kelamin saking dulu aku pernah menikmati batang selangkanganmu.

Bahkan untuk melupamu aku relakan kelaminku dimasuki oleh sembarang kelamin yang ada. Tak dapat aku bayangkan kalau penyakit mematikan datang padaku. Lagi-lagi aku tak punya bekal. Dan kau biarkan saja aku mati perlahan sedang aku selalu tak pernah siap untuk mati.

Abdan yang terhormat.

Aku membencimu demi apapun. Aku benci ketika kau hanya datang, dan dalam pesan itu yang kau tanya pertama kali adalah keberadaanku, seolah kakimu siap melangkah ke tempatku ada detik itu juga. Seolah keberadaanku dapat melemaskan kelaminmu yang tegang.

Lalu ketika jawaban tidak sesuai, kau menghilang lagi. Seolah mencari yang lebih potensial yang bisa kau setubuhi detik itu juga.

Di mana etikamu?

Kita sama-sama butuh kelamin, Abdan.

Maka gunakan etikamu–oke kecuali memang kau tak pernah diajarkan untuk itu. Pelacur pun dapat penghargaan. Ia dibayar. Sedang aku apa namanya?

Aku bukan wanita yang kau bayar untuk melemaskan kelaminmu, tapi kau perlakukan aku semaumu. Datang ketika butuh, pergi tanpa mengucap salam perpisahan, lalu menghilang. Lalu kau ulangi lagi bulan depannya.

Apa aku ini, Dan?

Aku pun membenci temanku, sahabatku sendiri yang tak punya etika begini. Datang ketika butuh, senang ia di tempat lain. Lalu aku bersusah payah terlepas dari rasa kecewa, hingga aku lakukan apa yang kusuka–menyakiti diri sendiri.

Apalagi pada kau, orang asing yang kubiarkan masuk. Aku membiarkan orang asing menghinaku. Kurang hina apa aku, Dan?

Abdan, aku merindukamu, demi apapun.

Aku rindukan malam-malam kita bersama, melakukan apa yang kita berdua suka. Aku rindu kecupanmu yang datang berkali-kali. Aku rindu kau belai rambutku yang tak panjang. Aku rindukan lenganmu yang kau serahkan begitu saja untuk jadi bantal malamku. Aku rindu ucapan selamat pagi darimu. Aku rindu kau panggil sayang.

Maka tak bisa kah kau menghargaiku sebagai orang yang menyayangimu?

Sampai aku mau mati, Abdan, aku merindukanmu dan menangis tiap malam berharap dikasihani bulan. Sampai aku mau mati, Dan, terisak di bawah bantal, sambil mengapit tanganku dengan selangkangan, berharap ditemani angin malam. an aku takut untuk itu.

Iya. Ada bulan dan angin. Namun aku tetap kesepian, Dan.

Maka tolong beretikalah sedikit. Sedikit, saja. Lakukan ini untukku.

Please, demi aku.

.

.

Dari wanita yang hampir mati diguyur rasa iba pada diri sendiri.

Advertisements

Mimpi (terlanjur) Basah

7808f4a5235a3dd62bcff70d020bcbf8

Source: pinterest.

Namaku rindu, yang berlabuh pada malam hari di kepala bocah yang lama tak diisi cinta. Maka ia sangat senang ketika aku datang dalam tidurnya yang damai. Silahkan rasakan nikmatnya bersetubuh dengan yang kau cinta, aku akan memberimu waktu barang satu malam–waktu untuk kau berdua dengannya.

Maka aku munculkan bayang lelaki terakhir yang ia setubuhi. Penuh dengan gurat bahagia, wajahnya di malam yang gelap itu. Gerakan di selangkangan membuat kelaminnya kedutan bukan main. Ia suka dirasuki kelamin lelaki.

Kemudian ia tersadar, bahwa wajah lelaki di atasnya telah berubah menjadi wajah datar lelaki berkacamata yang ia kenal. Tak lupa dengan kumis tipis dan gigi gingsulnya.

Maka aku biarkan ia terbangun, masih dengan nama lelaki yang ia sukai sejak hampir enam tahun terakhir, dan masih kubiarkan kelaminnya kedutan membuat ia memeluk tangannya sendiri di antara selangkangannya.

Ia tersadar. Kenyataan kembali. Bahwa yang tadi itu mimpi, dan tak pernah ada lelaki di atas ranjang yang ia tiduri. Ia bermimpi. Mimpi yang telanjur membasahi tubuh dan isi kepalanya denganku–rasa rindu.

Aku belum puas.

Dua malam setelahnya aku kembali merasuk ke dalam mimpi perempuan kasihan ini. Dengan bayang-bayang kehilangan yang lebih jelas. Aku membuatnya mendengar kabar bahwa kekasih hatinya –yang ia sukai sejak lima tahun terakhir- mati karena kelelahan.

Ia tak begitu percaya, namun ia sesak juga. Ia menangis ketika menemui kawan-kawannya yang mengatakan kebenaran kematian kekasih hatinya.

Ia bersedih, sesak, seperti ada benda yang menekan kerongkongannya. Dan ia terbangun, dengan mata terbuka lebar. Beberapa menit kemudian ia menyadari bahwa itu hanya mimpi. Kehilangan itu hanya bunga tidur.

Lagi-lagi aku berhasil datang menghantui kepala dan hatinya. Mau kau tolak pun, aku akan tetap datang, bahkan semakin menjadi. Karena aku adalah rindu yang tanpa kau sadari ada dalam benakmu. Maka mau kau usir aku dengan cara apapun, itu tak akan berhasil.

Selamat menikmati mimpi yang terlanjur membuatku datang, hai perempuan kasihan!

Dari rindu,

yang bergumul dalam benakmu sejak lama.

Hari Terakhir Di 2017

Gue kembali mengingat-ingat memori lampau yang mengesankan. Perihal hari terakhir di akhir tahun. Ya. Temanya agak nostalgia gitu, lah, mengingat hati sedang getir karena harus menghabiskan akhir tahun seorang diri–sama anak-anak sih sebetulnya. Ini sepertinya fix banget sih.

Gue tidak pulang ke rumah, melihat berbagai pertimbangan. Dan pertimbangan yang paling mendasar adalah karena bingung anak-anak mau dititip ke siapa. Fyi, gue punya dua anak yang masih kecil-kecil, namanya Kimi dan Tuma. Kimi baru berumur sekitar 3 bulan lebih, sedang Tuma masih lebih kecil lagi. Lain waktu gue akan cerita tentang mereka.

Oh, GOD gue menyesal tidak pulang.

Tadinya gue masih positif bahwa mungkin akan ada keajaiban di malam pergantian tahun ini karena yap… setelah nanya ke beberapa teman, ada yang ngga pulang dan sangat memungkinkan sekali janjian.

Ditambah, teman gue yang dari Kalimantan katanya akan merayakan tahun baru di Bandung. Eh, dia malah tobat–if you know what I mean.

Jadi intinya, setelah perencanaan yang tidak matang, karena hanya ada di kepala gue, namun sepertinya tidak selaras dengan isi kepala yang lain, beberapa planning–dengan orang-orang yang berbeda gagal.

HELL! This is the most. BAD. new years eve. ever. I swear.

Dua tahun lalu gue tidak pulang karena baru dapat tiket bis tanggal 2 januari, lalu h-2 sebelum malam tahun baru gue menulis perihal kegundahan, dan akhirnya ada teman yang baik hati, yang mengajak gue pergi ke Bukit Bintang bersama dia dan teman-temannya yang lain. Ya Allah baik banget kamu, ndak seperti teman-temanku yang kejam sekarang 🙂

Kalau ingat malam itu, gue amazed banget sumpah karena yay itu pengalaman melihat kembang api terindah DARI ATAS BUKIT tau nggak? Sumpah indah banget. Gue masih ingat betul pemandangan yang gue lihat dari sana. Dan seketika gue merasa mendapat berkah yang melimpah, demi apapun.

Tahun lalu gue merayakan tahun baru di rumah, bersama orang tua, adik, om dan tante, dengan bakar-bakaran kecil di teras rumah. Gue merasa dapat berkah juga, demi apapun, karena gue rasa itu moment pertama gue tahun baruan bareng keluarga di Pemalang, meski ya… ngga banyak dan ngga heboh juga. Tapi gue beruntung, karena bisa menghabiskan waktu bersama manusia lain.

Bertahun-tahun sebelumnya, lebih tepatnya ketika gue masih di Bekasi pun begitu menyenangkan. Gue lupa di tahun berapa, yang jelas gue sudah mulai pintar. Makan sendiri, berbicara, main games… dan bisa dengan jelasnya mengingat.

Bahwa kurang lebih mungkin dua atau tiga tahun berturut-turut–waktu itu, gue menghabiskan pergantian tahun bersama sanak saudara dari papa. Di rumah bengkel di Bekasi. Bikin mie ayam bakso yang super enak dan bikin pengen nambah terus, makan rendang pedas yang super duper bikin bahagia… Main kartu, lalu yang kalah dikasih bedak di mukanya… main rugrats di PS. Menghitung mundur waktu, lalu tiup terompet bareng.

God. I missed that time.

Gue satu keluarga memang tidak terlalu suka jalan-jalan. Perjalanan terjauh kami pun sampai saat ini cuma sampai Pemalang aja. Semarang ngga pernah, jogja juga, bali apalagi. Kalau di Bekasi pun paling banter jalan-jalan ke Dufan.

Bukan apa-apa, mungkin kedua orang tua kami malas travelling mengingat perlu banyak yang dipersiapkan. Pun persoalan tahun baru, kami ngga pernah tuh rasa-rasanya keluar kandang. Papa hanya libur satu atau dua hari, lalu bengkel buka lagi.

Begitu terus.

Tapi gue ndak pernah protes. Gue menikmatinya. Gue pengen terus-terusan balik ke ancol, ke seaworld, pun mall-mall yang setiap minggu kita kunjungi. Gue tidak pernah ingin tahu, pun mencari tempat liburan lain.

Maka gue bahagia saja menikmati malam pergantian tahun baru sambil makan dan ngakak. Seriously. Demi apapun.

Fuck I missed that time so much. 

But everything has changed. Life was turned.

Dan di sini gue sekarang. Pagi-pagi buta menatap layar laptop sambil memencet tuts dan berdatanganlah perasaan-perasaan negatif–marah, sedih, menyesal, kesepian, like literally aaaalll oooff negative feelings.

Damn.

Yasudah. Mungkin memang ini takdir gue. Apa yang harus gue jalani. Dan kalau memang harus menghabiskan waktu sendirian–pada akhirnya, gue akan beli nasi kucing dan lauknya yang banyak, lalu makan tanpa dosa, setelah itu mengerjakan skripsi bagian pembahasan minimal sampai dapat tiga lembar!

I dare myself to do positive things in new year’s eve.

Bismillah…..

Rangkuman 30 Hari Patah Hati

8f08ce3e90657d096373ad1278eb67a3

Source: pinterest.

#30HariPatahHati

Tagar itu yang menjadi inspirasi, entah dari mana. Yang jelas, aku –dan sebetulnya teman dekatku bercita-cita ingin membuat sebuah proyek–yang sampai detik ini belum ada kelanjutannya karena sepertinya kami berdua tidak diciptakan untuk menjadi rekan kerja.

Jadi biarkanlah aku patenkan saja proyek ini–yang bertujuan sebagai cara untuk menyembuhkan diri dari luka- untuk diriku sendiri. Ah, sudah berapa kali kau terluka, Rana? 

Sudah lebih dari 30 hari, tepatnya–dan aku tahu ini bukan jawaban untuk pertanyaan di atas. Ketika hati itu benar-benar jatuh dan hancur, dan darah yang keluar bersama remukan-remukan kehancuran itu hilang seketika dibawa lalat yang terbang setelahnya. Bahwa patah hati itu tidak terasa, kecuali benar-benar sedang kosong. Dan hari-hari selama 30 hari (lebih) belakangan benar-benar kosong selayaknya popok bayi baru pakai–dan kau tahu betul bahwa kotoran bisa keluar kapan saja.

Itu yang aku rasakan beberapa waktu setelahnya.

Keadaan mendadak berubah. Kupu-kupu di perut mendadak melebur menjelma cuitan-cuitan yang memakan habis isi perut. Seutuhnya, hingga daging-daging yang bekerja di sana ikut tercubit dan berdarah.

Mudah sekali hati berlabuh, semudah itu pula jatuh. Bahwa yang dikira akan bertahan malah menjadi lawan yang datang jika ada keinginan.

Satu bulan lalu, di tanggal yang sama, ia perlakukan lagi tubuh ini bak pelacur yang ia beli di warung remang pinggir jalan. Tak ada rasa selain gairah di kelamin yang mudah bangun dan susah tidur lagi itu. Kelamin anak yang terlalu muda mempelajari cara bersetubuh yang benar.

Bersetubuh bukan hanya perihal aku, kau, dan kelamin kita, sayang. Tapi otak. Yang mengatur pergerakan selangkangan, hingga rasa yang keluar bersamaan isi tititmu itu.

Kau masukkan saja barang busukmu tanpa tahu malu, sambil kau lihat pergerakannya seolah kelamin yang bertautan itu adalah objek utama. Lalu dimana aku? Oh. Lupa. Katamu aku tak boleh iri dengan tubuhku yang selalu kau ingat-ingat, pun kelaminku. Tapi aku sudah iri. Kau lebih menyukai mereka timbang aku.

Maka kau terus saja memaju-mundurkan pinggangmu padaku, tanpa menatap mataku, juga mencium bibirku. Kau lupakan arti kata “bersetubuh dengan benar”. Yang kau pahami saat itu hanya bagaimana kelaminmu muncrat maka kau akan tertidur segera.

Begitu kah, sayang?

Keluar sudah sisa-sisa kesenanganmu malam itu yang segera kau sapu pelan dengan tisu yang kubeli di supermarket. Kau memberiku dua lembar, maka seketika aku sapu juga cairan berbau pesing itu dari tubuhku.

Lalu kau berbaring di sebelahku, tanpa ciuman di kening pun di pipi. Kau berbaring begitu saja sambil mengecek gawaimu yang sudah kau beri kata sandi dengan rumus yang berbeda. Kau palingkan layar gawai dari mataku, lalu kau mulai sibuk sendiri.

Aku menyindirmu, dan kau pindahkan matamu pada mataku, kau letakkan gawaimu, dan kau buka laptopku yang sudah menyala. Kau putar film yang pada akhirnya tak kita berdua tonton juga, sambil kau makan mie remas, dan satu tanganku memelukmu.

Fuck, I miss you, Dan.

Pagi itu aku bangun beberapa menit sebelum kau. Lelah, rasanya. Aku menatap kau yang perlahan membukakan mata. Kemudian muncul senyuman tipis. Tanganmu bergerilya kemudian mencari gawai.

Tak ada ucapan selamat pagi, pagi itu.

Apalagi kecupan.

Yang ada, kau yang belum sadar penuh langsug memendamkan wajah pada leherku, dan mengecupnya pelan. Masih dengan kesadaran setengah-setengah, kau beranjak ke atasku, dan dengan sergap membuka celana dalamku, pun punyamu, lalu memasukkan isinya lagi pada punyaku–yang masih kering.

Tak ada kecupan pagi itu, yang ada hanya aku yang akhirnya terkulai lemas, dan kau yang perlahan bangun lalu pergi untuk membasuh seluruh tubuhmu, dan kembali lagi seperti aku hanyalah ornamen usang di atas kasur. Tak berarti.

Oh, ini rasa sakit ternyata. Setelah kemerdekaan diri diambil paksa oleh tubuh yang bahkan enggan memberi kecupan mesra, selain ucapan selamat pagi dari kelamin yang katanya gagah itu. Meski aku tak menghindar, bukankah tanpa persetujuan dariku, artinya kau mengambil dengan paksa apa yang kupunya? Jangan bangga pada tititmu yang lebih hina dibanding dengan titit-titit sebelumnya yang masih punya etika.

Apa yang kau rasakan?

Dosa?

Nikmati dosamu. Aku akan melupakanmu. Sedang bayang-bayang tubuhku akan ada terus berputar di kepalamu, hingga kau dapatkan tubuh lain yang dengan terpaksa mencintaimu. Kau akan jadi aku, ditemani jalang yang hilir mudik merasuk dalam tubuhmu. Ya. Karena kau takkan pernah puas, Dan.

Nikmati kelamin wanita barumu, dan aku akan menikmati punyaku.

Aku mengutukmu untuk pergi ke neraka segera. Itu tempat terbaik untuk kau, yang akan memberimu kepuasan lewat belaian dan jilatan-jilatan api di dalamnya.

Aku akan sembuh. Sudah lewat 30 hari, dan patahan-patahan dalam hatiku akan utuh segera.

Salam,

Perempuan yang kau setubuhi tanpa izin.

 

 

Makna Keperawanan (Opini)

6c254b8459a63a7d4decf16a1b361ecf

Source: pinterest.

Hello, readers!

Lama gue tidak posting pemikiran-pemikiran gue yang ngga bener-bener amat, karena based on opinion yang kamu tahu sendiri bahwa pemikiran gue kan terkadang seringnya ngaco –ya ngga ngaco juga sih tapi ya begitulah. Gue lebih sering memakai perasaan timbang logika. So, kadang gue ngga percaya sih sama logika gue, maka gue ngga pernah banyak menggunakan logika di manapun.

Postingan gue kali ini berasal dari salah satu artikel dari popbela.com yang berjudul Seberapa Penting Makna Keperawanan Bagi 10 Lelaki Ini? AND as you can read from the title, artikel itu isinya tentang pendapat lelaki tentang makna keperawanan. Apakah itu penting atau tidak? Apa yang akan dia lakukan ketika tahu wanita yang ingin dinikahinya sudah tidak perawan?

You can open the article before we discuss about it.

Well, tulisan ini memang dibuat kheuseus untuk lelaki yang berniat untuk menikah dengan wanita (yang dia idamkan). Or ya…. lelaki secara umum sih lah intinya. Atau buat perempuan juga deh.

.

.

((Mulai serius nih))

.

.

Gue sebagai perempuan ingin memberikan pandangan dulu tentang pertanyaan: penting atau engga sih keperawanan sebelum menikah? Apa makna keperawanan buat gue pribadi sebagai wanita?

Oh sebelumnya gue mau make sure kalau keperawanan yang dimaksud di sini itu bukan buat perempuan aja tapi lagi juga. Tapi ya.. dalam bahasa indonesia sendiri virginity buat perempuan sama laki-laki kan berbeda sebutannya ya. Mungkin tuisan ini akan lebih merujuk ke “keperawanan” bagi perempuan sih.

Yaudah deh baca ae lah. *bingung sendiri*

Bagi gue, keperawanan itu penting tapi bukan suatu indikator mutlak.

Keperawanan bagi gue adalah “dia” seutuhnya milik gue, yang mana segala resiko dan beban yang gue dapatkan dari apapun itu yang gue lakukan ke “dia” ya balik lagi ke gue. Sama persis dengan satu-satunya perempuan yang gue tanyai. Bagi dia, keperawanan adalah satu hal yang hak dan kewajibannya diserahkan kembali kepada “si pemilik”.

Menurutmu, ladies?

Mungkin bagi sebagian orang (terutama perempua), keperawanan adalah “pintu masuk ke jenjang yang lebih dalam” yang artinya ketika kamu sudah siap masuk dan dimasuki, ya harus ada komitmen berupa perjanjian pernikahan.

Belum tentu, sih menurut gueIt depends on you and him, girls. Kalau kalian punya cita-cita untuk menikah (membangun mahligai rumah tangga yang diakui agama dan sosial) ya bagus,. Tapi kalau kalian tidak punya rencana untuk menikah dan kalian saling cinta dan komitmen sehidup semati ya kenapa engga?

Tapinya tapinya tapinya….

Di Indonesia sendiri kental budaya adat istiadat pun agama, jadi semua hal termasuk lu mau tinggal serumah sama pacar lu ya harus ada surat nikahnya. Kecuali lu mau ngumpet-ngumpet atau masa bodo sama tetangga sebelah yang suka nyinyir. Parahnya lagi lu harus siap-siap digrebek.

Ditambah lagi… kampanye tentang “nikah muda”, “halal dulu baru pacaran”, “taaruf”, sudah banyak dimana-mana. Kenapa gue bilang kampanye? Ya bisa kamu lihat di media sosial sendiri aja begitu adanya. Dan memang fenomena menikah muda “based on religion” ya, bukan nikah di bawah umur, udah banyak banget bisa kita lihat, dan banyak contohnya.

Alasannya beragam, salah satunya (atau mungkin kebanyakan) untuk menghindari zina. Karena titit yang sudah baligh bahaya, katanya. Pun perempuan yang sudah tumbuh teteknya. Karena tetek yang tumbuh bertengger di dada perempuan baligh menggoda seperti mangga montong.

Juga… trend “hijrah”. Kalau berhasil, ya istiqamah, baik untuk sesama, menghargai perbedaan. Kalau tidak? Lepas hijab lagi… Tidak ada toleransi, tidak fleksibel.. Nyinyir orang terang-terangan… Ya gitu lah. Gue tidak tahu sih sesungguhnya arti istiqamah sendiri, jadi sorry kalau salah dan gue pun tidak akan membahasnya lebih.

Gue tidak menyalahkan hijrahnya (mungkin pemahaman gue terkait hirah bahkan sama sekali tidak ada), apalagi orang-orang yang berhijrah, apalagi agama gue. Ini hanya pendapat gue melihat apa yang terjadi di depan mata gue. Kapan-kapan mungkin nulis tentang ini ya?

Njoet lah.

Makna keperawanan sendiri bagi gue adalah sesuatu yang tidak absolute. Karena ya tadi. Hak dan kewajiban dibalikin lagi ke pemiliknya. Dia bukanlah takaran penilaian untuk dijadikan perempuan “ideal” yang harus dinikahi oleh laki-laki baik –eh atau segala jenis spesies lelaki di dunia.

Agak gimana sih waktu baca komentar beberapa lelaki yang bilang, “Ya kalau saya tahu dia udah ngga perawan sebelum saya nikahin dia, mending batal nikah aja dan cari yang lain”. Hm. Gue menghargai pendapat ini, tapi sejujurnya menurut gue… ya kurang bijak aja sih. Seakan-akan “perawan” adalah indikator mutlak calon istri ideal. Ya ndak apa-apa sih kalau bagi sebagian orang begitu. Mungkin… memang dirinya masih perjaka. Jadi sayang aja kalo nerima perempuan yang udah jebol.

Di negara gue, pun agama gue, sudah tidak perawan sebelum menikah adalah hal yang mencurigakan. Jarang banget yang mikir kalau perempuan yang belum nikah dan udah ngga perawan itu disebabkan karena dia luka pas naik kuda atau sepeda (padahal ini bisa banget kan), pun selaput dara dia yang kuat banget yang ngga mudah ditembus di malam pertama (ini gue pernah baca artikel seputar seks gitu jaman SMP kalau keadaan selaput dara perempuan satu dan lainnya berbeda. Ada yang mudah sobek, ada yang harus beberapa kali ditembus dulu baru sobek).

Jadi ya kalau di saat malam pertama dia ngga mengeluarkan darah, belum tentu juga pengalaman dimasukin kelamin lelaki dia di malam itu  adalah pengalaman ke-sekiannya.

Sedikit mengutip kata-kata dari bukunya Simon De Beauvoir yang judulnya Second Sex: Kehidupan Perempuan, bahwa:

“Yang perempuan pahami dari cinta adalah penyerahan total akan tubuh dan jiwa, tanpa pamrih, tanpa harapan mendapat imbalan apapun. Sementara bagi lelaki, jika ia mencintai perempuan, apa yang ia inginkan hanyalah cinta dari perempuan.” —Page 521 dalam subbab Perempuan Dalam Cinta.

Maka perempuan sangat mungkin bodoh, dan lelaki bisa jadi sangat pintar. Tinggal bilang, “Kamu cinta sama aku? Sini kasih aku perawan kamu.” Dan terjadilah malam pergulatan tubuh yang membuat diri berkeringat itu. Jadi ngga perawan deh perempuannya. Jadi senang deh lakinya.

Jelas bedanya?

Kalau wanita sudah menyerahkan kelaminnya, itu artinya dia sudah menyerahkan total se-total-toalnya, seluruh-seluruhnya diri dia buat lelakinya. Jadi bego kan ya? Ngeseks alih-alih cinta padahal belum tentu dinikahin.

What we can learn from those words is… pahamilah bahwa perawan atau tidak perawan bukan suatu ukuran ideal yang harus dimiliki oleh wanita yang akan kau nikahi, wahai lelaki.

Karena wanita itu mahluk paling bodoh di dunia. Makhluk paling rentan jatuh pun patah hati. Hatinya itu terbuat dari kaca yang mudah goyang dan pecah barang disenggol sedikit.

Dan ngga perawan bukan berarti kamu bisa dengan mudahnya menurunkan derajat perempuan di matamu.

Mungkin ada alasan goblok nan lugu dibalik ke-tidak-perawanannya.

Mungkin aja dia khilaf sama mantan pacarnya dulu (dia lagi bego waktu itu, lalu tergoda oleh kata-kata lelaki yang super manis kalo udah sange), mungkin dia juga sange dan ada kesempatan, mungkin dia diperkosa, mungkin dia sudah pernah menikah sebelumnya lalu bercerai (ya ini jelas lah), mungkin dia hobi bersepeda atau olahraga berat dan selaput daranya terlalu rentan makanya sobek begitu saja, mungkin secara biologis mau diapain juga dia ngga akan berdarah, atau mungkin alasan lainnya yang ngga kepikiran sama gue.

Perempuan di mata sosial itu rentan terkena label negatif. Seperti: udah ngga perawan berarti bukan perempuan baik-baik. Jangan ke sesuatu yang ngga kelihatan dulu dah. Perempuan ngerokok juga dianggap perempuan begajulan. Mabok apalagi. Pake baju  seksi sedikit disalahin karena katanya menggugah titit lelaki untuk bangun segera. Nongkrong sama cowok dibilang “cewek nakal”. Ngga bisa masak, nyuci, ngurus anak, beberes kamar dikata cewek ngga becus.

Sedang lelaki?

Ngga ngerokok bukan laki, katanya. Belum pernah nyoba amer dibilang cupu. Belum pernah ngewe dibilang impoten. Ngga perlu lah belajar masak, ngurus rumah, ngurus anak. Kan ada istri.

Meski tidak semua budaya di Indonesia bilang begitu, pun secara personal ada yang (mungkin) tidak berpikir seperti itu… tapi itulah ENDONESA. Yang kaya akan nyinyiran. 

Ditambah lagi… keperawanan itu bisa dibuktikan. I mean kelihatan lah. Kalo ngga berdarah langsung bisa dicap itu cewek udah ngga perawan. Dan image itu akan nempel terus di jidatnya dan akan memengaruhi dia secara sosial (balik lagi ini di Indonesia). Sedang lelaki, mau se-ngga-perjaka-apapun dia, image dia sebagai lelaki ngga perjaka ngga akan mengganggu dia, ngga akan memengaruhi apapun.

Kalau perempuan udah ngga perawan berubah kan struktur kelaminnya? —lets say jadi ngga rapet lagi. Sedang lelaki ngga perjaka kelaminnya mau diapain juga ya segitu-segitu aja. Dan semakin sempit kelamin wanita, semakin memberikan kepuasan, bukan begitu wahai lelaki?

Berat banget jadi perempuan memang.

Tapi gue tidak menyesal menjadi perempuan. Dan kalau gue ditanya mau jadi lelaki atau tetap menjadi perempuan kalau nanti dilahirkan kembali pun gue akan tetap memilih menjadi perempuan. Karena kalo jadi laki gue harus bertanggung jawab atas dosa istri dan anak gue. HE.

Tapi serius bagi gue menjadi perempuan adalah anugerah terindah. Seindah kalo sange dan lagi ngebayangin anatomi tubuh lelaki, celana dalam tidak akan berubah menjadi lebih ketat. You know what I mean. Hal ini akan sangat berguna ketika perempuan tidak sengaja bertemu cowok seksi di mall.

Bayangin kalo jadi laki. Ketemu cewek seksi di mall, terus belum crot seminggu, terus hari itu lagi hujan. HA. Ribet bos, harus ke wc dulu. Tapi oke, ini tergantung kontrol diri masing-masing sih, readers.

Gue harap sih, “menjadi tidak perawan” bukan lagi sebuah ketakutan bagi perempuan untuk maju ke depan. Bukan berarti kamu yang sudah tidak perawan sebelum menikah bernilai lebih rendah di mata siapapun.

Pun untuk yang masih perawan, jika itu adalah prinsip kamu untuk tidak bersetubuh sebelum halal, ya lanjutkan! Itu bagus. Seperti kata salah satu dosen gue di salah satu kajian terkait makna keperawanan, bahwa “kalau sudah tidak perawan, ngga akan ada lagi sensasi malam pertama. rasanya malam pertama tidak “spesial” lagi, karena hakikatnya ya… sudah bukan malam pertama. mungkin malam ke-sekian.”

Jadi pertahankan! Itu prinsip yang bagus!

Bukan berarti bagi yang sudah ngga perawan sebelum menikah ngga akan mendapatkan “sensasi” ya. Mungkin beda aja rasanya. Bebannya bisa jadi beda juga. Tapi kalau kamu menemukan lelaki yang tepat, itu ngga akan jadi masalah kok, ladies.

Ada salah satu teman gue, lelaki (yang setau gue) yang masih virgin, yang gue tanya “kalau perempuan yang kamu mau nikahi sudah ngga perawan gimana? masih mau?”, dia jawab, “Kenapa engga? Setiap pendosa punya masa depan, setiap orang baik punya masa lalu.”

Begitu.

Gue tidak tahu seberapa berpengaruhnya  tulisan ini bagi kamu yang baca. Gue harap sih tidak memunculkan asumsi apapun, dan bisa membuka mata kamu akan hal terkait keperawanan itu sendiri. Karena balik lagi, baik dan buruk kamu, itu semua pilihan kamu. Dan… definisi baik dan buruk pun masing-masing orang berbeda.

So, apa makna keperawanan buatmu?

Chat me if you wanna ask and/or discuss about this topic 🙂

BHABHAYYY!!

Untuk Kau yang Tak Pernah Ingin Tahu Kabarku

Hai, apa kabar? Selamat dan selamat atas suksesmu hari ini.

Baru saja aku melihat pesan-pesan lamaku, dan ada namamu di sana. Waktu itu aku belum memasukkan namamu ke dalam daftar orang “yang tak bisa melihat instastory-ku”.

Dan di situ ada namamu. Aku mengucapkan selamat atas keberhasilanmu kala itu, dan kau balas dengan kata “terima kasih”. Itu saja. Cukup. Tak kurang tak lebih, yang membuatku tanpa ragu menghilangkan namamu dari daftar teman yang bisa melihat instastory-ku.

Kau melakukannya. Lanjutan perjuangan dari instastory-mu yang aku kometari itu. Kau berhasil hari ini. Selamat.

Ini sudah entah lelaki nomor berapa, dan rasa rinduku pada lelaki lain (yang pernah menjadi kekasihku) berhasil hilang seketika aku melihat wajahmu di instastory temanku. Ya. Aku tahu keberhasilanmu dari sana.

Lama aku tak mendengar kabarmu. Pun tak melihat-lihat jejakmu melalui akun media sosialmu. Tak membuka foto yang bertengger manis di profilmu. Pun tak mencari tahu apa kegiatanmu.

Aku melupakanmu sambil sibuk bercinta dengan lelaki yang kukira tepat. Ya. Kukira ia yang akan menggantimu. Yang akan menyembuhkan diriku dari angan-angan tentangmu. Yang kukira cerita baru dengan episode terpanjang. Nyatanya ia hanya lelaki yang datang lalu pergi kemudian setelah meikmati manisnya tubuhku. Perempuan yang akhirnya mencintainya –entah cinta macam apa.

Boleh aku bercerita?

Aku yang gagal untuk menepati janji pada diriku sendiri untuk tidak macam-macam dengan lelaki selain denganmu –yang aku tahu itu adalah harapan semu. Kau serupa bayangan yang tinggal kutiup maka hilang. Namun aku tak ingin membuatmu hilang. Maka kau ada terus, walau lelaki lain silih berganti datang.

Namamu ada selalu dalam impian. Setidaknya itu berhasil menyelamatkanku dari banyak hal. Hingga aku pikir dengan melanggar janji yang kubuat sendiri untuk diriku sendiri, itu dapat membuatku lupa padamu.

Benar memang aku lupa.

Dan sekarang aku ingat lagi. Betapa namamu tak pernah masuk dalam daftar orang yang menanyakan kabarku, apalagi merindukanku. Betapa namamu tak pernah masuk dalam daftar orang terdekatku yang ingin selalu kuberi kabar –ingin sebetulnya. namun aku menghindarinya. Betapa cerita perjalanan panjangmu yang tak pernah mampir ke telinga padahal aku begitu ingin mendengar pun memberi komentar.

Aku tak mengerti apa yang terjadi di saat aku sudah menghapus segala tentangmu dan memikirkan lelaki lain, dan kau masih bisa-bisanya masuk. Di saat paling bahagia aku dengan lelaki lain, pun di saat aku patah hati, dan kau masih bisa mampir melintas bahkan di jari-jariku yang selalu menghindar untuk menulis kisah tentangmu.

Hai, Tuan.

Maafkan aku yang belum bisa melupakanmu meski kau ingin sekali aku lupa –atau lebih tepatnya kau ingin sekali aku hilang. Segala kisah tentangku yang tak ingin kau tahu. Segala keinginanku yang bukan keinginanmu. Dan itu yang seharusnya meyakinkan diriku bahwa kau (sejak dulu) tak menginginkanku.

Maka bayanganmu harus aku tiup seketika –dan bayang-bayang lelaki lainnya.

Maafkan aku, Tuan. Jika memang sudah takdirku banyak mengecup bibir lelaki lain dan itu bukan kau sehingga tak akan pernah ada kesempatan untuk aku medapatkan dirimu, itu tak apa. Aku akan menikmati rasa sakitnya. Toh sudah berkali-kali hatiku disayat oleh kebahagiaan yang aku ciptakan sendiri bukan?

Selamat, sekali lagi, Tuan. Semoga lancar hari-harimu ke depan.

Dari yang susah mati melupakanmu.

Dan, Aku Rindu

28ad83fe35e56e3060650ef060d74d66

Source: pinterest.

Aku masih terjaga di tengah gelap malam yang menusuk. Bahwa di sebelahku terbaring nyawa yang sedang terlelap saking lelahnya.

Entah ini akan menjadi apa. Aku dan dia.

Meski tubuh kami menyatu dan bergulat dalam atmosfer seindah apaun, tetap bukan dirinya yang kuingin.

Dan aku merindukamu.

Seperti malam yang sudah-sudah. Seperti ribuan langkah yang kita lewati tanpa bersama bergandengan tangan.

Aku merindukan pelukanmu. Pelukan yang tak mau lepas itu. Pelukan yang membawa serta napasmu masuk dari tengkuk hingga menghangatkan seluruh tubuhku.

Aku rindu kau kecup berkali-kali. Aku rindu hembusan asap rokokmu. Caramu memegang rokok lalu menyentilnya untuk memindahkan abu yang bertengger ke botol dengan lubang kecil.

Dan, aku merindukan segala tentangmu.

Bila bukan jarak dan ego diri, adakah hal yang dapat membuat kita bersama?

.

.

Malam ovulasi, 18 November 2017.