Lelaki No. 9

Malam itu, tanpa ragu aku melambaikan tanganku padamu, lelaki nomor 9. Ah. Banyak juga lelakiku. Kalau sudah sampai ke angka 27 akan kubuat tulisan dengan judul “Daftar Lelaki Yang Pernah Mampir”. Masih lama nampaknya untuk sampai ke nomor 27. Mungkin dua tahunan lagi.

Kau bilang tak ingin membahas masa laluku, karena sudah jelas-jelas kubilang menceritakan lelaki-lelaki sebelum kau hanya membuka luka lama yang mengering pun enggan. Maka mereka masih ada di kepala, pun tulisan-tulisanku.

Aku menemukanmu di udara. Kita saling menemukan, saling memilih. Bahwa mungkin aku cukup tertarik dengan rupamu, kau pun begitu, mungkin. Kalau tidak, untuk apa kita saling memilih? Coba-coba berhadiah? Mungkin saja, sih.

Kita duduk bersama. Aku di kasur, kau di karpet. Aku mengesap kretek, kau garpit. Katamu, garpit yang dipadukan dengan anggur merah dapat menyembuhkan flu dan batuk yang sedang menyerang tubuhmu. Maka rokok, anggur merah, dan kacang yang kau bawa adalah perpaduan yang pas.

Kau terbiasa minum, katamu. Maka anggur merah yang kau letakkan di botol air mineral berukuran 300 ml tak akan memberatkanmu. Tapi tidak aku. Anggur merah kedua ini, meskipun bukan minuman terparah yang pernah kuminum, tetap membuatku… hm “merasa berbeda”.

Kita membicarakan banyak hal. Aku masih ingat, walau tidak detail. Bahwa kau mendengarkan kisahku yang membosankan perihal lelaki yang baru saja pergi –mantan kekasihku. Lalu kau meminta celana, dan segera saja kuberikan celana olahraga pendekku –celana perempuan. Dengan dadamu yang telanjang, kau pede saja dengan celana yang membuatku kehilangan fokus itu.

Kau membicarakan banyak hal. Perihal keyakinan dan jati diri. Kau bilang kau pernah bertemu seseorang yang mengajakmu berjalan di jalannya. Bahwa hal yang begitu tidaklah perlu. Jalanku jalanku, jalanmu jalanmu, kau bilang. Kau berperilaku buruk, kau tak meminta siapapun untuk turut melakukan kegiatan yang kau sukai, jika memang itu bukan yang mereka suka.

Kau bilang, jangan bingung. Berkali-kali kau tanya, “are you comfort with me?” yang selalu kubalas dengan anggukan. Kalau sama-sama nyaman, mari kita lakukan apa yang kita suka!

Dan kau menghampiriku, duduk di sisiku, lalu memutar lagu yang katamu cocok dengan isi hati kita –atau lebih tepatnya aku: kebingungan. Lagu kedua berputar, kau menatap mataku sambil berkata, “do you feel comfort with me?”, aku mengedipkan mata, dan saat itu pula bibirmu jatuh pada bibirku. Rasanya manis, dari rokok yang kita hisap sebelumnya.

Kau menghisap bibirku dengan sangat kuat. Namun itu tak menyakitiku sama sekali. Aku menikmati napasmu yang tenang –yang sekeras mungkin berusaha untuk tak kau muntahkan semuanya. Bahwa aku tahu saat itu kau sangat menginginkan tubuhku, dan mungkin aku pun begitu.

Aku cukup malu dengan tubuhku yang berlemak, dan kau tidak. Bahkan tinggimu tak lebih tinggi dari padaku. Badanmu pun tak lebih besar. Tubuhmu ramping, dengan otot-otot yang menyembul dipaksa keluar. Katamu kau suka pergi ke gym. Dan rupanya kau juga seorang atlet taekwondo.

Maka aku tahu mengapa orang dengan tubuh sekecil dirimu memiliki tenaga sebesar itu. Untuk menyedot bibirku kuat tanpa menyakitinya sedikitpun, lalu menarikku dalam pelukanmu, membiarkanku di atas tubuhmu tanpa kau merasa sakit saking beratnya menahan tubuhku.

Maka aku tahu mengapa benda kecil punyamu itu terlihat gagah.

Aku berkali-kali membenahi rambutku, lalu menenggelamkan wajah pada tangan sendiri, karena tubuhku begitu memalukan. Lebih tepatnya jika bersanding dengan tubuhmu. Alih-alih mabuk, aku sambil tertawa lalu bilang, “its so embarrassing!“, dan kau berkali-kali bilang,”are you ok? do you feel comfort? with this?” dan berkali-kali aku tertawa kecil.

Lalu kita melanjutkannya kembali. Jarimu kemudian bergerilya ke tengah selangkanganku, membuatku merinding. Kau mencium bibirku lagi, masih dengan hisapan kuat itu. Kau adalah lelaki dengan hisapan terkuat, hai lelaki nomor 9! Lalu lidahmu masuk sedalam-dalamnya bibirku.

Hingga itu semua terjadi.

Hingga kau selesai dengan urusan buah selangkanganmu.

Kita hanya melakukannya sekali.

Kau bergegas. Katamu pulang ke rumah, karena kau sudah janji pada ibumu untuk sampai rumah jam 2 pagi. Kau kenakan kembali pakaianmu, menyisir rambutmu, lalu berkata, “sisirnya bagus. enak dipake.”, dan pergi membawa kacang yang belum habis –yang kita makan tadi, juga sisirku –yang memang kuberikan padamu.

Kau berlalu seketika.

Kau bilang kau akan menghubungiku nanti. Dan benar saja. Satu jam kemudian pesan darimu datang. Berterima kasih, lalu bilang ingin mandi, dan meminta izin untuk tidur.

Sedang aku sudah kacau.

Aku teringat ketika dirimu masuk. Kubilang padamu, “ada satu lelaki yang muncul”. Kau bertanya siapa, kau menebak-nebak, dan aku masih menyimpan cerita itu sendiri –rencananya akan aku ceritakan di pertemuan kita yang selanjutnya. Namun sepertinya pertemuan itu takkan pernah terjadi.

Maka ketika sisa-sisa perjuanganmu keluar, aku menangis, dan kau panik.

Lalu aku tersenyum membahagiakan diri. Tentu ada sesuatu. Aku baru saja melakukannya dengan lelaki baru yang… yang sebelumnya kumaki. Aku bertemu denganmu karena rindu lelaki lain –bukan yang ada di bayangan saat tubuh kita menyatu. Aku melakukannya, bertemu denganmu demi melupakan lelaki yang baru seminggu lalu tidur bersamaku, bangun pagi-pagi dan bilang, “morning“.

Bahwa aku membutuhkan sosok, itu benar.

Maka kau tidak akan menjadi yang terakhir, hai lelaki nomor 9. Tak adanya balasan pesan darimu membuatku semakin yakin untuk segera menemukan yang baru. Bahwa cerita kita memang harusnya hanya kita yang tahu. Dan bahwa cerita kita memang pantas untuk berakhir.

Terima kasih, lelaki nomor 9!

Bayang-bayang diriku akan selalu muncul di kepalamu, ketika kau menggunakan sisir itu. Tak akan kubiarkan kau lupa. Kecuali kau buang sisir yang katamu “enak dipakai” itu jauh-jauh.

Dan aku tak akan melupakan hisapan bibirmu, meski nanti aku akan melupakanmu seiring aku bertemu dengan lelaki-lelaki setelahmu.

Regards,

Wanita yang rindu bercakap denganmu.

Advertisements

Hai, Nona!

Terima kasih atas tulisanmu, Nona. Aku jadi terinspirasi untuk menulis.

Meski tulisanku tidak semanis punyamu –kau tahu lah ya, kapan aku mau bilang titit ya aku akan bilang. Begitu pula anjing, tai, bangsat, dan kata-kata kasar lain yang tak indah. Aku tak suka mencari-cari diksi bagus, kata bisa muntah begitu saja dan aku tak ingin memaksa kehendak hatiku untuk mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih “layak baca”.

Menulis bukan sesuatu hal yang mudah, Nona. Setidaknya bagiku yang tak memiliki logika apapun kecuali perasaan. Maka yang aku tulis adalah sesuatu yang “mungkin tak berlogika”. Tapi ngga juga sih, sebetulnya.

Ah. Aku jadi teringat teman kita, yang malam itu memberiku kata baru: me-logika-kan perasaan. Tak pernah aku tahu nama perasaan itu sampai malam kemarin. Melogikakan perasaan. Bagaimana caranya? Kau dan aku sama-sama tahu.

Denial, denial, denial.

Mencari pembenaran untuk membuat diri tetap kuat dan bangkit dari kenyungsrukan kita. U know what I mean HAHA.

Mudahnya begini, ketika dalam diri kita bergulat dengan apa yang kita pikirkan dan rasakan sendiri. Kau tahu? Bicara dengan diri sendiri jauh lebih sulit timbang begini. Aku dan kamu yang begini. Saling berbicara lewat kata –yang benar-benar kata.

Tidaaaa. Aku tida suka dia karena dia hanya ingin seks saja. Seks tida butuh emosi. Dia hanya bekerja di kelamin, bukan di hati. Seks tida butuh status, seks tida butuh belaian di kepala, seks tida butuh tatapan mata yang intens. Seks hanya butuh dua kelamin yang bisa saling bergesek-gesekan.

Bahwa perasaan akan terbawa dari sebelum tidur hingga kita bangun lagi, itu pasti. Karena kau tahu sendiri. Kita sama-sama mudah merindu. Rindu sentuh dan tatap yang intens, rindu akan kata-kata manis yang membuat muka merona kemerahan –bahkan membuat kelamin kita nyut-nyutan, rindu akan masa lalu yang indah.

Perasaan akan selalu terbawa, bahkan di saat kita ingin lupa dan sudahi saja. Perasaan itu ada dalam asap rokok yang kita hirup lalu hembuskan, ada dalam cangkir kopimu dan gelas lemon tea dinginku, ada dalam kulit ayam cabai garam yang kita makan, ada dalam kartu tarot yang aku mainkan, ada dalam gawai kesayangan kita –yang kadang, sejujurnya aku lebih tidak menginginkannya, di saat-saat tertentu.

Rasa itu juga ada di tulisan-tulisan kita yang mungkin untuk orang lain tak berarti apa-apa.

Maka malam itu, malam dengan lelaki paling baru itu, aku yang menginginkannya untuk masuk. Ia tak merajuk, tak seperti lelaki sebelum-sebelumnya yang memohon seperti kucing minta makan.

Bahkan ia selalu menanyakan hal ini: perihal kenyamanan. “Kamu nyaman? Kalau engga kita bisa stop.” atau, “Aku nyakitin kamu?” yang selalu kubalas dengan gelengan. Aku menikmatinya seperti memang ini mauku sejak lama. Dimengerti. Tidak dipaksa melakukan apa yang tak aku inginkan.

Lelaki itu, kau tahu, lelaki yang beberapa jam lalu aku bicarakan dengan temanku, “Kayaknya gue ngga mungkin sama dia dah. Bukan tipe gue.” Dan memang. Yang di pikiranku saat itu adalah… oh my God. Ini tak mungkin berlanjut. Gue ngga suka dia, dan kayaknya ngga akan pernah deh.

Kenyataannya?

Beberapa jam kemudian malah bibirnya yang aku rindukan. Malah rambutnya yang selalu klimis itu yang kurindukan. Malah caranya menghisap rokok. Caranya meminum amer dari botol aqua. Caranya berbicara tentang keyakinannya. Caranya membuatku tenang.

Aku harus lebih menjaga kata-kataku nampaknya, Nona. Senjata makan Puan, ini namanya.

Aku melewati malam-malamku dengan rasa kesepian lagi. Maka aku ingin selalu bersama denganmu, Nona. Entah ngopi bersama –tentu aku es teh, atau nyeblak bersama, membicarakan orang lain lalu ngakak, juga membicarakan perasaan kita masing-masing. Aku tentang kelamin lelaki-lelakiku yang tak pernah kurasakan lebih dari empat pertemuan –paling sering satu atau dua pertemuan dan berakhir begitu saja. Lalu kau perihal yang sama, tapi mungkin dengan masa yang lebih panjang –setidaknya dengan lelakimu yang sekarang.

Meski sejujurnya tak aku pungkiri, hingga saat ini aku masih membencimu. Aku tak pernah mendengar lagu-lagumu selain di beberapa konsermu yang kudatangi. Aku tak pernah mau tahu instastorymu, aku malas membaca tulisanmu selain yang kau berikan linknya padaku…

Tapi aku senang bersamamu. Aku tak suka tiap kau bilang akan pergi ke Bandung untuk melakukan kegiatanmu, sedangkan di sini aku sedang kesepian. Kimi belum begitu mengerti keadaanku, Nona. Bahkan memeluk Kimi pun aku belum bisa. Fokusnya masih mencari tetek, maka aku suka begidik sendiri ketika dia mengendus-endus lalu mencakar dan menggigit bagian tubuhku.

Hm.

Kau benar. Meski tak ada kata yang keluar pun, aku dan kau tetap terhubung. Dari tulisanku yang selalu kau baca, update-mu yang selalu kuabaikan, bahkan dari rasa benciku kepadamu.

Aku tak akan berhenci mencari, Nona. Aku tahu yang kulakukan hanyalah ke-sia-sia-an. Tapi aku tak ingin berhenti lebih cepat. Dari deretan lelaki di belakang, aku banyak belajar, juga lelaki-lelaki yang ada di depan. Maka aku belum mau berhenti.

Biarkan saja sakit ini menumpuk, lalu hilang lagi, lelu menumpuk lagi, lalu lupa lagi, lalu ingat lagi. Karena aku sudah terlanjur, Nona. Berdiam diri tanpa mencari hanya akan menyakitiku dan membuatku berlarut.

Tak akan ada hal buruk yang akan terjadi padaku, bukan?

Kuharap iya.

Terima kasih, sekali lagi, Nona. Aku suka kau panggil Amelia.

.

.

Regards,

Amelia ❤

Lelaki Ke-sekian

Aku ingin berhenti menghitung waktu, bahkan apapun, termasuk lelaki mana –ke berapa yang berhasil masuk dalam hidupku. Entah ia datang lalu menetap –yang sejujurnya belum ada, atau yang ia datang lalu pergi begitu saja –ini banyak, walau kurang dari 10.

Dan benar saja.. seiring berjalannya waktu, aku melupakan juga lelaki pertama hingga lelaki sebelum ini. Maka aku tak tahu, yang akan kuceritakan ini lelaki ke-berapa. Nanti akan kuingat-ingat, tapi nanti.

Aku bertemu dengannya di ruang tamu yang hangat. Kami bertemu di hari pertama perkenalan di udara. Rupanya tidak buruk. Ia cukup tinggi, meski nampaknya lebih tinggi aku se-per-sekian senti. Tapi dia bocah. Umurnya 19, lebih satu tahun dari adikku di rumah.

Kami berbincang sedikit mengenai beberapa hal yang tak terlalu kuingat. Yang paling kuingat adalah: ia tak mengerti ketika aku bercerita tentang kegiatanku di tempat kuliah, maka aku bertanya berapa umurnya.

“19.” katanya.

“Hah? Ngga mungkin!” Aku menimpali.

Kemudian ia memberiku kartu identitasnya. Dan betul… ia lahir di tahun 1998. Setahun di atas adikku. Hah. Muda kali kau, Tong!

Aku tahu ia tertarik pada tubuhku, tepatnya setelah ia pindah duduk di sebelahku secara tiba-tiba dan lengannya menempel pada lenganku. Kami duduk berdua sambil menatap gambar bergerak dalam layar laptop. Aku sibuk dengan rasa takutku –karena film yang ditonton film horror (tepatnya Chucky si boneka iblis), dan ia sibuk menertawaiku, lalu melemparkan lelucon yang tak lucu, lalu mengomentari dada wanita di dalamnya. Itu tak perlu, boy. Norak!

Lalu kami berganti ke film yang lain –yang tidak ditonton dengan benar karena ia mulai sibuk mencari celah untuk memegang dadaku yang tak seberapa besar. Dimulai dari bersender di pundak, memegang tangan, menumpu sikut di pahaku, sampai akhirnya, tanpa malu-malu mencomot dadaku yang langsung saja kutepis. Depan rumah sedang ramai, Tong!

Ia sibuk mencari-cari kesempatan, malu-malu –entah ragu-ragu menimpali kata “sayang”, “i love you”, dan jelas bilang kalau sudah ada ketertarikan padaku. Kau pikir aku percaya? Nggak lah! Kau bilang aku lucu, enak diajak bicara, tapi fokusmu bukan pada lelucon yang aku keluarkan pun buah pikirku. Fokusmu ada pada dada dan bibirku, juga kelaminmu yang gatal minta dipegang. Begitu kah?

Tapi kau dapatkan setidaknya tiga kecup dari bibirku –atau lebih? di sela-sela takutku ketahuan orang-orang di luar yang sedang sibuk mondar-mandir di depan jalan. Pun aku takut Bibi di rumah akan memergoki tingkah kita yang tak sewajarnya.

Tapi kuberikan juga ciuman itu padamu, dan beberapa kali kutemukan celana dalamku basah di sore itu ketika aku beranjak untuk ke kamar mandi. Kau tahu artinya?

Bahwa aku menginginkan itu juga. Mungkin lebih.

Tapi otakku masih berjalan. Hatiku berhenti ketika kau memberi sentuhan-sentuhan –yang menyetrum saraf hingga ke otakku, maka aku tak mempan dengan kata-kata konyolmu. Sayang, I love you. Ah. Basi kau, le! Aku bukan lagi anak SMA yang mudah terbuai dengan kata macam itu.

.

.

Kau pun pulang sore-sore. Sejujurnya aku masih ingin kau berada di dekatku, bahwa aku sedang butuh juga orang sepetimu. Dan aku melihatmu pulang dengan perasaan bahagia, terlebih ketika Bibi bilang, “Bageur Neng. Sopan, deui.” Aku tersenyum, dan mengakui, dibalik kelakuan norakmu, kau tetap menarik meski sedikit. Jujur saja. Haha.

.

.

Pesan dari anak lelaki itu datang kemudian. Ia bilang ia telah sampai.

Terang-terangan ia meminta foto dadaku yang telanjang. Hei, tak sopan, tolol! Lalu aku menanggapi dengan santai, memang kau siapa? yang langsung ia tanggapi dengan, mau ngga jadi pacar gue?

Haha.

Aku tahu aku bodoh. Tapi aku akui bahwa aku sempat senang kau mengatakan itu, boy.

Ah. Baiknya langsung saja kutulis ini untukmu.

Aku bilang padamu, becanda mulu. Yang langsung kau balas dengan, aku serius.

Lalu kubilang padamu, kalau kau serius kau akan datang lagi atau menelponku. Dan benar. Namamu langsung masuk dalam daftar panggilan, dan aku mengangkatnya segera.

Singkatnya, pukul 7 kurang di malam itu, aku bilang bahwa aku mau jadi pacarmu. Entah apa yang kupikirkan. Mungkin sebuah harapan yang akhirnya tercapai? — bahwa aku ingin sekali ada lelaki yang mengatakan itu padaku, bukan karena ia ingin kelaminku, tapi seperti kebohongan yang kau katakan (bahwa kau menyukaiku).

Tapi kau terus memaksaku untuk mengikuti maumu. Memberimu foto dadaku, kemudian aku menolak dengan keras, dan kau memaksa lagi, lalu kita berdebat. Aku lelah. Oh. Ternyata kau memberiku kesempatan untuk mendengar seseorang menyatakan cinta hanya untuk foto dada.

Dan kau tak menyerah meski berkali-kali kutolak dengan sedikit rasa marah, pun setelah kau meminta maaf. Ah, bajingan juga kau!

.

.

Malam harinya, masih di hari yang sama, setelah pedebatan yang panjang antara kita berdua, kau mengajakku keluar. Malam itu, jam 12 malam. Kupikir kau akan mengajakku merayakan hari jadi kita dengan makan nasi goreng pinggir jalan atau minum jaesu. Nyatanya tidak.

Kau malah sibuk bersusah payah menggerayangi tubuhku dari atas kemudi motor yang tentu masih berjalan. Gila! Tolol! Demi apapun itu cara tergoblok dan aku tak pernah memikirkan untuk melakukan hal goblok itu dengan lelaki manapun. Kampungan!

Aku segera menepis tanganmu dan memindahkannya lagi ke depan, sambil kutahan di pahamu. Dan disitu aku sudah kehilangan rasaku. Ini tidak benar. Kata-katamu hanya bohong besar belaka. Dan detik itu juga aku ketakutan setengah mampus. Aku takut hari itu akan jadi hari terakhirku, dan esok hari aku akan ditemukan mati di tengah tumpukan sampah dan lalat yang berterbangan.

Bisa kau bayangkan mati di tangan orang yang baru kau kenal? Hih. Sia-sia aku hidup selama 22 tahun.

Kau tetap mengusahakan segala cara untuk menggapai dadaku. Fokusmu selalu pada dadaku yang rata, padahal… asal kau tahu, bukan bagian itu saja yang penting untuk disentuh saat naluri bersetubuhmu keluar. Dasar anak-anak!

Kau membawaku ke dua tempat untuk kau nikmati tubuhku. Pertama di balik semak-semak di sebrang pom bensin, kedua di jalan gelap di belokan jembatan. Oh, saat itu, saat kau membuka bra yang kupakai dan akhirnya mendapatkan isinya… sungguh tak ada kesenangan yang kudapat, malah sebaliknya.

Dan aku mendorongmu, lalu meletakkan isi bra-ku kembali dengan benar, dan meminta kau untuk menyudahi semua ini. Kau pun dengan wajah menyebalkan itu –menyatukan kedua alismu entah marah entah apa, membawaku kembali ke rumah.

Di perjalanan pulang, kita berdua diam. Rasanya tak ada satu kata pun dari bibirku mau keluar, pun dirimu. Rasa-rasanya aku mulai membencimu, ditambah kata-katamu sebelumnya yang bilang aku bodoh sudah mau menerimamu untuk menjadi pacarmu –yang sebetulnya hanya sebagai usaha kau untuk meraba-raba tubuhku untuk mencapai puasmu.

Esok harinya, kau bertanya padaku –setelah hari lalu kau bilang tak akan memutus hubungan kita apapun masalahnya- perihal, sebenarnya masihkah kita berpacaran.

Ah. Bagimu hubungan yang belum genap sehari kita jalani hanya lelucon bukan?

Iya kan?

Dan akhirnya keputusan dibuat. Kau bilang bahwa mungkin lebih baik kita berteman. HAHA. BULLSHIT KAN KAU?!

Brengsek!

Aku menyetujuinya. Dan memang betul rasa ini belum mengendap sebegitunya. Maka aku akan mudah melupakanmu segera, meski kata-katamu sempat membuatku terbuai. Membuatku berpikir bahwa memulai denganmu adalah sebuah kesempatan emas untuk mengukir cerita cinta yang tak biasa.

Kau lelaki termuda yang pernah mampir di bibirku.

.

.

Kau, lelaki 19 tahun adalah sebuah cerita. Maka silahkan kau baca dan renungkan apa tujuanmu mempermainkan dirimu sendiri, dan orang lain yang sesungguhya tak sulit untuk membuka hati demi kisah cinta baru.

Terima kasih, Tong! Atas pelajaran yang kau berikan padaku, bahwa ada lelaki konyol sepertimu yang “mempermainkan” kata “jadian” alih-alih untuk menikmati tubuh pacarmu sendiri.

Ah. Aku tak akan pernah lupa untuk mengajakmu bermalam di kostku. Nanti akan aku kabari jika sewaktu-waktu aku butuh, dan kuharap ciumanmu sudah benar. Haha. Mau kuajari cara berciuman yang benar?

Di pertemuan selanjutnya, oke?

 

 

Minor Song of Mine

Fuck. Sejujurnya gue sedang tidak ingin menulis tentang kegalauan hati ini yang sudah berlipat menumpuk tertimbun di dalam tubuh gue yang berlemak… Tapi rasa-rasanya ingin menuliskan kebahagiaan pun gue tidak ada inspirasi.

Jadi… dari yang tadinya playlist gue set untuk lagu jepajep, langsung 180 derajat berubah jadi lagu dengan judul “Minor Song of Mine” dari Dini entahlah Dini siapa sih dia? Pokoknya barangkali penasaran, kalian bisa langsung cari aja di spotify namanya.

Gue ngga mau bahas lagunya si Teteh ini, gue cuma tiba-tiba kepikiran ingin menulis tulisan yang terinspirasi dari judul lagu ini aja. Begicuu…

As you know…. minor kan pedih ya. Lagu-lagu minor itu lagu-lagu yang bernada pelan selow melow bikin pen nangis atau se-nggak-parah-nggak-parahnya bikin ngantuk.

Dan itu yang sedang gue rasakan sekarang. 50% ngantuk, 50% pedih.

Ada apa denganmu Amelia? Weitss… pertanyaan ini yang pengen banget gue denger. Tapi karena ngga ada yang nanya, jadi gue nanya sendiri aja deh.

Ada apa denganmu, Amelia?

Hari ini, pagi ini gue tidak se-exited biasanya. Gue bangun dengan badan pegal dan super mengantuk lantaran baru tidur jam 12an malam atau jam 1 lebih gitu, dan harus bangun pagi demi “menjemput bola”. Re: jemput responden penelitian. yang ternyata dari perjuangan mengeluarkan duit lebih dan pengorbanan pagi-pagi itu gue cuma dapat satu orang. Alhamdulillah ya Rabb 🙂 Nikmatmu begitu nyata.

Sarkas banget gue tai.

Lalu, gue pun dan teman gue bergegas ke Jatinangor untuk makan, padahal saat itu gue belum laper-laper amat. Tapi gue beli makan nasi juga. Dan habis juga. Oqela.

Lalu menyusul teman gue yang lain beberapa saat kemudian dan mereka saling kenal ternyata…. dan kami ngobrol-ngobrol (actually si teman yang menemani gue ke puskesmas itu lagi pusing ngolah data penelitian dosen sih). Gue mah… sempat buka sebentar data skripsi… tapi yaudahlah… enakan ngobrol ngga sih dibanding ngerjain penelitian yang sedang tidak memberi gue semangat itu?

Sebetulnya gue sangat suka sih dengan penelitian gue. Tapi gue mulai ngerasa limitnya gue di sini. Pertama, mobilitas gue yang terbatas, sedangkan dengan tema yang gue ambil ini, respondennya lumayan sulit, di mana gue harus menjemput mereka untuk memperoleh data yang sebenar-benarnya.

Kedua, itu tubuh gue yang ringkih ini mula memperlihatkan sisi terlemahnya. Gue mulai cape gitu bangun pagi, mandi pagi dingin-dingin, nunggu bis, diemin pantat di angkot yang bisa sampe setengah jam lebih di jalan…. lelah dedek, Bang!

Tidur gue kurang… tidur di lantai beralas karpet keroppi yang gue suka tapi berhari-hari tidur di situ letih juga tulang-tulang gue… Bangun di saat gue belum puas tidur…. Ngga boker gegara kalau nunggu mules udah keburu kesiangan.

Hm. Serba ngga nyaman deh.

Tapi ini tantangan. Ini ujian, sodara. Gue harus bertahan setidaknya sampai mendapatkan banyak responden. Ya… minimal melampaui orang-orang di TO deh…. Which is… lebih dari 40 orang. Dan sekarang baru 15.

MAU NANGIS…..

Gue udah cerita belum sih kalau udah dua bulan ini gue ngga ngekos? Hidup nomaden dari satu kamar kos teman ke kamar kos teman lainnya. Naruh baju, bahkan sampai deodoran dengan ngga tahu malunya… tidur sok enak di lantai padahal…. dipikir-pikir pegel oge.

Nanti lah gue ceritakan. Dalam tulisan kali ini gue hanya ingin membahas hari ini.

.

.

Oke.

Lalu, beberapa jam setelah teman gue itu datang, kami bertiga makan dan ngobrol topik yang sangat menyenangkan. Apa lagi kalau bukan cinta dan gairah? Uh….

Sampai jam tiga sore, teman yang menghantarkan gue ke tempat penelitian pergi meninggalkan gue, teman gue yang satunya, dan dua bungkus rokok.

Sambil ngebul-ngebulan dan jujur… terngantuk-ngantuk juga terpegal-pegal… gue mendengarkan cerita gue. OMG. Itu sore hari terlelah gue nampaknya. Ingin pulang, tapi gue punya plan dengan teman gue yang kosannya menjadi target nginep gue malam ini untuk ketemu malam-malam dan pulang ke kosan dia bareng, karena gue ngga enak berdiam lama-lama di kosan dia tanpa dirinya di sisi gue. Gimana sih…. masa iya gue ngedoprok di kosan orang padahal orang itu ngga ada? Ya gapapa kalo kosannya kaga ada yang jaga. Lah ini……

Kami membincangkan banyak hal… sampai jam 7 lah kurang lebih datang teman gue yang lain yang memang teman kami kepanitiaan juga. Dan suasana makin mencair gitu aja. Kami punya pandangan yang sama tentang pernikahan. Bahwa menikah itu suatu momok yang….. please… jangan sekali-kali menikah hanya untuk mengikuti trend kids jaman now yang apa-apa tuh ngaitin tentang pernikahan seakan-akan menikah itu mudah.

Ngentotnya yang mudah. Mudah banget. Kehidupan di luar kamar lah yang susah.

Kayak misal nih…

Gimana pandangan tentang menikah muda? Taaruf… dan semacamnya… campaign-campaign daripada zinah mending nikah itu lah. Menurut gue sih… kalo nikah untuk menghindari zina… ya jauhin orang yang bikin lu sange ngga sih?

Ah. Kita akan bahas ini di postingan nanti deh gue buat khusus lagi.

Terus… perihal ciwi-ciwi galau (biasanya sih) yang bilang… “NJIR SKRIPSI… Daripada skripsi mending gue nikah dah..”

HELL!!! Kalau kalau nikah semudah itu sampai-sampai bisa menghilangkan segala kesulitan lu… kenapa ngga dari pas lu UN aja lu nikah? Alih-alih menghindari depresi ngerjain soal, terus lu nikah gitu, ita ngga sih?

Whatever gue lagi malas mikir.

Terus… sampai terakhir membahas film-film horror yang sukses membuat gue merinding alay. Kenapa gue bilang alay? Karena gue lebay pas lagi ketakutan. Demi apapun.

.

.

Lalu gue berakhir juga di dunkin, yang niatnya gue habiskan waktu dari beberapa jam yang lalu sambil menunggu teman gue dari Bandung. Gue pikir, yaaa… dia ngga akan semalam ini lah pulangnya. Jadi balik dari tempat makan itu, gue langsung caw ke kosan dia bareng dia.

Ternyata….

Dua teman gue ini sudah harus pulang dan gue harus survive sendirian di Dunkin sambil menunggu. Hm. Gue lelah pemirsah.

GUE KANGEN ANAK GUE!!! GUE PENGEN PULANG!!!

😥

Udah ah. Gue lelah. Bye. Selamat pagi buta!

.

.

.

.

Minor song of mine = 

Ingin mengeluh tapi sadar bahwa pedih dan bahagia ada waktunya.

Cerita malam itu di pesta

Terima kasih, dua malam lalu!

Malam itu, aku kembali datang ke tempat yang menyenangkan. Musik keras (yang kurang kusuka karena diawali dengan musik yang ekstra mellow –hello! hari sudah terlampau malam. AH tapi tak apa. Kali ini aku datang bukan ke pestaku), lampu kecil-kecil berwarna kuning, makanan kecil yang enak, ditambah dua botol minuman berwarna coklat keemasan yang transparan dan beberapa gelas kecil serta satu tenteng keranjang es batu.

Tahu aku sedang berada di mana?

Di tempat elite. Tempat yang tak pernah kubayangkan aku dapat berada di sana sambil duduk dengan gerombolan yang kebanyakan baru kukenal dan menikmati hidangan bersama di dalamnya.

Bahwa aku beberapa menit sebelum sampai ke pesta sedang duduk diam tak tahu harus melakukan apa di remang-remang cahaya lilin yang hanya beberapa biji padahal lingkaran di luarnya berjumlah mungkin 8 orang atau lebih aku lupa –lebih tepatnya tak mau menghitung ulang lagi siapa saja yang sudi bergelap-gelapan dalam keasingan.

Aku hanya mengenal baik dua orang dalam lingkaran itu. Satu orang lainnya kukenal beberapa bulan lalu dan kami tak pernah membicarakan hal apapun. Satu lagi, aku baru kenal sebelum sampai ke tempat itu, sisanya…aku baru kenal di sana. Oh. Bahkan hanya seorang yang menyalamiku dan memberitahu namanya. Sisanya… aku hanya tahu dari teman-teman yang menyebut nama mereka ketika mereka saling melempar banyolan.

Gelap. Canggung bukan main. Aku mencoba menikmati mataku yang bergerak ke kanan dan kiri sambil melihat interaksi semua orang dalam lingkaran, sambil ikut tertawa. Kadang tertawa lepas, seringnya hanya sunggingan bibir untuk formalitas.

Bahwa aku sedang berada di tempat asing bersama kelompok asing.

Aku di bawa ke sana, diundang secara tidak langsung oleh orang yang sedang mengadakan pesta, yang dengannya aku baru bertemu satu kali sebelum pertemuan di pesta itu.

Susah mati aku mencoba menyamakan frekuensi dengan deretan-deretan kepala yang melingkar di sana. Pembicaraan mereka memang lekat, karena mereka berteman baik entah sejak kapan. Beberapa ada juga yang baru saling mengenal, tapi rupanya punya frekuensi yang sama, dan itu tak menyusahkan mereka sama sekali. Sedang aku… lebih sering celingak-celinguk, memindah-mindahkan bola mata pada siapa saja yang sedang bicara atau dibicarakan.

Lalu lampu menyala.

Heran. Tempat elite menyambut tamu dengan ruang yang gelap. Tapi tak masalah, itu bukan pestaku. Aku hanya teman tamunya yang tak secara langsung diundang.

Suasana lebih mendukung. Kami bisa saling tatap tanpa meyipitkan mata, apalagi malu –padahal mungkin hanya aku yang malu. Kau tahu? Lingkungan mereka adalah lingkungan yang selama ini belum pernah kukenal dan kumasuki dalamnya. Bahwa jarak usia kami pun berbeda jauh. Mungkin paling dekat 8 tahun. Maka aku sibuk menyamakan frekuensi di awal pertemuan.

Mereka terlihat rapih, dengan wajah mulus dan sedikit kerutan.

Tuhan kemudian menyelamatkanku. Ia mendatangkan kawanku yang sejauh ini kukenal baik –meski dibilang dekat tidak juga. Dia pelatih boxing, yang bulan lalu masih gencar kutemui saking aku ingin menghilangkan bulir-bulir lemak di perut ini.

Suasana semakin hangat. Aku mulai bisa membaur. Kau tahu? Orang-orang seperti ini yang nantinya ingin kujadikan tempat bersandar. Fleksibel, saling menanggapi, juga bisa menghargai keberadaan orang baru di depannya. Bukan semua, ada beberapa.

Ah.

Mungkin tidak bersandar juga. Aku lelah bersandar pada pundak manusia. Aku benci menyebut siapapun “teman dekat” atau “sahabat”, sebetulnya.

Lebih baik seperti itu. Bertemu karena kepentingan sama, dan berlalu saja.

Aku menikmati makan malamku ditemani candaan yang kini sudah mulai mengarah padaku, dan pada apa yang aku tahu. Dan aku merasa nyaman. Bahwa benar… aku memang tak bisa berdiam diri dalam kerumunan. Katanya aku ini extrovert. Begitu kah, Amelia?

.

.

Lalu aku melupakan banyak hal. Tugas akhir perkuliahan (re: skripsi), teman sepermainan yang sangat kurindukan, juga rumah. Rumah dalam arti sebenarnya.

Tiba-tiba kami sudah berpindah tempat. Di lantai atas, yang disetting bukan lagi seperti restoran, tapi benar-benar “private bar”. Awal aku menyusuri tempat itu… yang kuingat adalah mainan favorit-ku: The Sims. Persis seperti bar dalam permainan. Sorot lampu terbatas, meja DJ, sofa dan table yang nyaman….

Makanan kecil satu persatu datang… Juga minuman dalam botol besar itu yang baru kutahu kadar alkoholnya lebih dari 40% setelah tegukan pertama yang mengejutkan. Rasanya lebih tidak enak dibanding minuman sejenis itu yang pernah kuminum sebelumnya.

OH GOD!

Baru saja aku melihat-lihat hasil pencarianku tentang harga salah satu minuman itu. 3,5 jt untuk 1,5 liter. Sedang kemarin ada… mungkin hampir 10 botol untuk 3 meja?

Wah.

Luar biasa jadi orang hebat.

Entah berapa gelas, yang jelas tidak banyak, karena selain rasanya tak enak, aku mulai bertingkah gila: menggerak-gerakkan tubuhku mengikuti musik yang mulai asik, mencoba membuat mataku terbuka lebar dengan sekuat tenaga karena aku sudah merasakan pusing dan mual… juga menahan untuk tidak kencing beberapa saat saking takut jatuh dan menindih orang di sebelahku yang kukenal sejak beberapa bulan.

Beberapa mulai menyuarakan lantunan sepinya yang mendadak ramai di tempat. Tepuk tangan, berkali-kali bersulang, terbahak, goyang kanan goyang kiri…

Aku mulai merasa mengantuk ketika itu, dan ditemukan oleh kawanku yang lain. Mata lain langsung bergumul menatapku sambil menyoraki. AH. Payah memang.

Aku bangun kemudian dan berlagak kuat –dan memang aku masih kuat, masih sadar betul situasi seperti apa. Aku masih sangat mengingat malam itu… bahkan kondisi di jalan pulang.

Entah di menit dan di tegukan ke berapa, aku merasakan kantung kemihku sudah sangat penuh dan tak mampu lagi menahan kencing. Aku bangun, dan masih merasakan jalanku terlalu normal untuk seorang wanita mabuk.

Teman perempuanku yang lain –yang sangat dekat dengan sang raja di pesta itu- kemudian menuntunku ke kamar mandi yang ternyata… tak bergender. Atau bergender tapi tak kulihat ya?

Dan kutemukan memang beberapa lelaki di sana. Bahkan seorang lelaki masuk setelah aku keluar menuntaskan keperluanku.

Aku duduk di atas toilet yang paling kubenci karena tidak ada keran airnya. Aku benci menyeka kemaluan hanya dengan tisu kering. Lalu kudengar dari luar percakapan temanku dengan lelaki berkemeja biru –yang kuprediksi umurnya di atas 35. Ia sudah beristri. Aku tahu lewat kata-katanya di awal pesta tadi yang bilang, “Anjiiirr! Lu gedean dah kayak istri gue!” pada temanku.

Temanku bilang, “dia mabuk ya?” yang dijawab segera oleh lelaki itu dengan persetujuan, “Iya, mabuk itu.”

Ah aku diam saja. Aku tak ingin hilang kendali seperti orang mabuk.

Kemudian aku keluar, ia langsung masuk menggantikan posisiku di dalam sana. Aku pergi ke depan kaca besar dengan dua wastafel, dan menemukan diriku dengan wajah yang masih sama. Aku masih sadar betul itu memang aku. Dan aku tak menemukan ekspresi yang aneh.

Lelaki beristri dengan kemeja biru itu datang. Aku lupa dia bilang apa. Yang jelas ia mendekatkan tubuhnya padaku, lalu bibirnya… di depan teman perempuanku yang langsung saja distop. Aku pun memalingkan wajahku. Aku tak ingin melakukannya dengan dia, apalagi karena dia sudah beristri.

Bahkan jujur… tanpa aku tahu statusnya pun aku tak tertarik dengannya. Lebih-lebih ia melakukannya di depan orang lain yang memang teman kami berdua. Terima kasih akal sehat!

Kemudian ia menarik diri setelah sebelumnya ia bilang, “sama pacar?” yang kujawab dengan gelengan dan kata seadanya. Ia menghampiri temanku kemudian, yang ia akui adalah sahabat terbaiknya. Mereka merangkul satu sama lain.

Pelatihku keluar dari kamar mandi kemudian, beralih ke wastafel, dan aku sambil tertawa ngeri langsung menceritakan keadian barusan: bahwa seorang lelaki beristri ingin menciumku. Aku begidik.

Kemudian pelatihku, teman perempuanku maju duluan, kembali ke tempat kami duduk. Aku dan lelaki berkemeja biru itu di belakang. Ia menawarkan lengannya untuk kupegang, dan aku tolak dengan senyuman.

Aku kembali ke meja dengan perasaan lebih bahagia, entah mengapa. Lalu ku menggerak-gerakkan kakiku ke kiri dan ke kanan bergoyang ala disco, juga kedua tanganku terangkat ke atas. Formasi di meja berubah, aku duduk dengan lega.

Sampai di sana, aku ditawari minum lagi oleh seseorang. Lelaki, suami dari teman perempuanku tadi. Ia mengiming-imingiku sambil berkata, “Kalo kata orang Jerman… kalo bersulang ngga dihabisin itu ngga sopan.”, yang kujawab dengan, “Oh harus satu shoot, ya? Ok. Yuk satu shoot lagi.” Kemudian aku menghabiskan sisa minuman di gelasku, dan mendapatkannya terisi lagi dalam waktu kurang dari satu menit.

Kami bersulang kemudian, dan aku langsung menegak habis minuman itu seketika. Luar biasa. Malam yang luar biasa.

Bahkan aku tak lagi memikirkan apapun perihal lelaki manapun.

Aku berdiri seorang diri, menuruni tangga sampai parkiran seorang diri, tidak berpegang tangan pada siapapun, seingatku. Aku seorang perempuan mandiri yang tak butuh lelaki, setidaknya untuk malam itu, dan mungkin beberapa malam lagi, meski aku sangat ingin.

Aku ingin memeluk lelaki. Siapapun. Aku ingin memiliki seseorang yang bisa kubawa ke pesta dan kuperkenalkan sebagai milikku pada siapapun yang kukenal. Bahwa hatiku sesepi ini memang betul.

Aku masuk ke mobil, masih merasa sempoyongan ketika menundukkan kepala. Di dalam, aku banyak bicara, seperti biasa, sehabis minum. Dan memang minuman yang kuminum jauh lebih berat, maka aku sedikit merasa….. aku sudah melewati limit yang kupunya.

Aku sampai di rumah temanku, dilanjut naik ke mobil temanku yang lain, untuk sampai ke rumah. Aku lupa membicarakan hal apa saja, jujur. Yang jelas, aku semakin merasa mual dan pusing. Perutku penuh, minta dikosongkan, namun aku tak mulas sama sekali. Kau tahu artinya? Aku ingin muntah.

Sampai di dalam, aku berjalan cepat ke kamar. Meletakkan barang bawaan, lalu pergi ke kamar mandi. Dan benar saja. Aku memuntahkan entah berapa banyak isi perutku, kemudian berpura-pura tabah dan kuat.

Aku kembali ke kasur, dan merebahkan tubuhku di sana. Temanku datang membawakan cangkir yang tak kusentuh sama sekali karena dengan cepat aku meluncur ke kamar mandi lagi dan memuntahkan sisa-sisa makanan di dalam perutku.

Dan aku pun terlelap. Bangun pukul 8 pagi dengan mata yang masih sangat mengantuk.

Satu jam kemudian aku memulai kegiatanku yang sudah direncanakan selanjutnya hingga malam hari.

Hm.

Malam yang menyenangkan. Aku ingin mengulanginya lagi, tentu saja, jika ada kesempatan. Mungkin bulan depan, atau tahun depan, tak masalah. Aku siap kapanpun.

Terima kasih banyak, malam yang menyenangkan!

Terima kasih banyak pada kepala-kepala yang namanya tak ingin kusebut di sini. Terima kasih, aku banyak  belajar dari malam singkat itu.

 

Seni Menunggu

Sudah berapa lama aku di sini? Sambil menahan kencing dan kantuk.. Oh, dan juga lapar. Sambil duduk menatap layar yang selama mataku membuka selalu kutatap. Bahwa hidup sedang sebegitu menyedihkannya.

Menunggu apa yang mungkin belum pasti, tapi tentu saja harus kupastikan. Mungkin nanti, saat ketentuan yang belum pasti itu sudah mencapai waktunya.

Aku duduk dari sepi hingga beberapa kaki lewat, dan bising mulai memekakkan telingaku yang baru semalam kubersihkan. Sambil bolak-balik membuka tautan di internet, lalu memainkan permainan yang sudah mulai terasa membosankan, dan aku masih di sini, duduk dengan kelamin terhimpir saking tak tahan menahan kencing.

Bahwa aku tak bisa sendirian di tempat yang tak asing namun penuh dengan kepala-kepala baru yang tak kukenal. Maka aku merasa asing. Maka aku merasa ingin segera lari keluar dari kerumunan.

Tapi aku masih harus menunggu. Setidaknya tiga jam lagi. Agar aku dapat pulang dengan tenang, dan dapat melanjutkan kegiatan yang akan menentukan nasib kehidupanku kemudian.

Namun aku tetap sendiri, meski barusan kawan dekatku lewat, dan entah kemana sekarang. Yang kutahu, ia sedang memperjuangkan suatu hal yang penting baginya. Semoga jalanmu lancar, kawan!

Ini dia seni menunggu, aku sadar betul.

Bahwa aku akhirnya paham bahwa aku tak bisa sendiri. Aku selalu butuh seseorang untuk aku gantungkan, paling tidak untuk dapat membuat bibirku terbuka dan tidak diam. Diam itu menyebalkan, aku tak suka.

Bahwa aku akhirnya meyadari, aku sudah harus keluar dari lingkungan yang mulai menampakkan kekejamannya ini. Sendirian, dikelilingi orang yang tak dikenal begitu membuat diri ingin menghilang saja.

Oh, ini ya seni menunggu?

Bahwa menunggu itu membuat cabang di kepala bertambah banyak, maka aku harus mencari alat pemotong kemudian.